Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Dua



Sesuai pesan Riko sekitar jam tujuh pagi Dini membangunkannya.


"Maaas bangun sudah jam tujuh" ucap Dini.


Lagi - lagi Riko membuka mata dan memberi isyarat kepada Dini untuk menjauh. Dini mengikuti perintah suaminya.


"Kamu sudah siap?" tanya Riko.


"Sudah. Pakaian Mas juga sudah aku siapkan juga koper kita" jawab Dini.


"Baiklah kalau begitu aku cuci muka dulu dan gosok gigi lagi untuk menghilangkan aroma durian dari mulutku" ujar Riko.


"Aku rasa aromanya pasti sudah hilang Mas. Mas kan sudah berulang kali gosok gigi dari tadi malam" sambut Dini.


"Aku tidak mau ambil resiko kamu mual dan muntah - muntah lagi. Sebentar lagi kita akan berangkat. Biar nanti aku cari cara lain untuk menghilangkan aroma duriannya" balas Riko.


Riko segera ke kamar mandi mencuci muka karena tadi subuh dia sudah mandi. Riko menggosok giginya kembali. Baru setelah itu dia keluar dan memakai pakaiannya.


Setelah selesai dia segera mengajak Dini keluar kamar dan turun ke lantai dasar dimana Restoran Hotel berada. Ternyata mereka bertemu dengan Aril dan Bela yang juga sedang sarapan.


"Selamat pagi pengantin baru" sapa Aril tanpa merasa berdosa.


"Pagi" jawab Riko singkat dan dingin.


Bela merasa ada sesuatu yang tidak beres. Bela menatap wajah Dini dan memberi isyarat seolah - olah dia bertanya ada apa dengan mereka.


Dini hanya membalasnya dengan senyuman.


"Kita gak usah duduk bareng mereka yank. Sebaiknya kita menjauh saja" ajak Riko.


Riko sengaja mengambil meja yang berjarak dari meja Aril dan Bela.


"Ada apa dengan Mas Riko, Mas?" tanya Bela bingung.


Aril hanya mengangkat kedua bahunya, berpura - pura tidak tau.


"Bagaimana malam pengantinnya Mas?" tanya Aril.


Untung saja Dini mengerti situasi saat ini. Suaminya sedang kesal pada Aril karena gagal malam pertama. Sebagai istri Dini tidak mau membuat suaminya kecewa.


"Dahsyat Mas" jawab Dini memberanikan diri untuk menjawab. Sebenarnya dia sangat malu sekali berkata seperti itu tapi semua ini demi suaminya.


Mata Riko langsung melotot menatap Dini, seakan masih tidak percaya istrinya akan berkata seperti itu. Dini membalas tatapan Riko dengan senyuman menenangkan.


"Waaah aku kira bakalan batal" ujar Aril kecewa.


"Kalian sih Mas lama banget baliknya tadi malam. Hampir aja kamu mengganggu malam pertama mereka" bisik Bela kepada Aril.


"Aku yakin yank malam pertama mereka pasti gagal" ucap Aril ikutan berbisik.


"Kenapa kamu sangat yakin?" tanya Bela penasaran.


"Nanti deh aku ceritain sama kamu" jawab Aril dengan senyuman jahilnya.


"Sudah yank jangan pedulikan mereka, lebih baik kita pesan sarapan kita" ajak Riko.


Dini dan Riko memilih menu makanan untuk sarapan mereka pagi ini. Dini dan Riko memilih nasi goreng. Minumnya Dini memilih hot coklat sedangkan Riko memilih kopi.


Tak lama kemudian pelayan datang membawa menu yang mereka pesan. Dini dan Riko segera menikmatinya. Sedangkan Aril baru saja menyelesaikan sarapan mereka.


"Kita pulang yuk Mas, gak enak gangguin mereka terus. Lagian sebentar lagi mereka akan berangkat honeymoon" ajak Bela.


"Ya sudah siapa juga yang mau gangguin mereka. Kita di sini kan karena ingin menikmati honeymoon kita yang kedua" ujar Aril.


Saat melewati meja Riko dan Dini, Aril berhenti sebentar.


"Selamat honeymoon sobat.. Aku yakin tadi malam kamu pasti merasakan dahsyatnya buah durian kan? Nikmati bulan madu kalian ya. Daaaa" ucap Aril dengan senyuman kemenangan.


Wajah Riko terlihat sangat kesal tapi Dini langsung menenangkannya.


"Maaas udah ah.. Kayak gak kenal Mas Aril aja. Dia kan emang iseng banget orangnya" ujar Dini.


"Untung ada kamu yank di sini kalau nggak udah aku hajar si Aril itu" sambut Riko geram.


"Sudah.. waktu kita masih panjang. Gagal satu malam kan bisa digantikan dengan waktu seminggu honeymoon kita" hibur Dini.


Tiba - tiba saja semangat Riko kembali setelah mendengar perkataan Dini yang menghiburnya. Riko langsung tersenyum lepas.


"Yuk yank cepetin makannya, kita harus segera pergi menuju Bandara" ajak Riko.


Riko dan Dini menyudahi sarapan pagi mereka dan segera meninggalkan hotel. Mereka dijemput oleh supir pribadi Riko dan diantarkan menuju Bandara.


"Kita mau kemana Mas?" tanya Dini.


"Kamu tenang saja dan nikmatilah" jawab Riko.


"Kamu barusan benci banget Mas sama Mas Aril tapi apa yang kamu lakukan saat ini persis banget Mas Aril. Sebenarnya kalian itu tidak bisa dipisahkan. Seperti kacang dan kulit saling melengkapi" gumam Dini.


Riko terdiam sesaat mendengar ucapan Dini.


Sial.. benar juga kata Dini. Huh.. bisa - bisanya saat seperti ini aku juga ikut cara Aril. Gumam Riko menyesali diri.


Dini sangat yakin mereka honeymoon tetap di Indonesia karena Riko tidak meminta paspor Dini. Dini tidak akan kecewa karena itu, kemana saja Riko membawa dia pasti sangat senang.


Karena bukan tujuan lah yang menjadi utama saat ini tapi kebersamaan mereka yang kini sudah halal. Mulai hari ini mereka akan memulai perjalanan hidup berumah tangga bersama.


Akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Riko dan Dini sudah turun dari pesawat dan berjalan di Bandara. Alangkah terkejutnya Dini saat melihat dan membawa tulisan - tulisan yang ada di Bandara.


"Ma.. Maaaas... ki.. kita?" ucap Dini terkejut dan tak percaya.


"Ya kamu tidak salah dengan apa yang kamu lihat sayang. Kita ada di Mekah, kamu ingin umroh kan? Aku sudah mengatur semuanya, tentunya dengan bantuan Anita" ujar Riko.


"Ya Allah Maaas... terimakasih ya sayaaaang. Aku sudah lama memimpikan datang ke tempat ini" Dini langsung memeluk Riko sangkin senangnya.


Riko benar - benar sudah berhasil membuat kejutan untuknya. Semua seperti mimpi, bahkan dia harus mencubit pipinya sendiri untuk memastikan kalau dia tidak sedang bermimpi.


"Kenapa kamu cubit pipi kamu seperti itu sayang?" tanya Riko bingung.


"Aku hanya ingin memastikan kalau aku sedang tidak bermimpi Mas. Semuanya nyata dan aku semakin bahagia karena datang ke sini bersama suamiku. Sekali lagi makasih Mas" ungkap Dini bahagian.


Riko tersenyum lebar. Untung saja Anita membocorkan kepadanya tempat yang ingin sekali Dini datangi. Yang sampai sekarang belum terwujud. Dini ingin sekali umroh.


Akhirnya Riko menyusun semuanya untuk honeymoon mereka. Dan Riko juga sudah meminta izin Ela untuk cuti Dini selama dua minggu.


Ela memberi izin walau Ela juga tidak tau kemana Dini dan Riko akan pergi. Tapi setidaknya sebagai sahabat pasti sangat senang jika melihat sahabatnya bahagia.


Lagipula Ela juga menikah sebulan lagi. Nanti tiba giliran Ela yang akan cuti honeymoon bersama Romi dan Dini yang mengurus kantor sendiri.


Riko menggenggam tangan Dini erat, mereka jalan sambil bergandengan tangan mesra keluar dari Bandara dan langsung menuju hotel tempat mereka menginap di kota ini.


.


.


BERSAMBUNG