Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Enampuluh Lima



Akhir pekan berikutnya Riko dan Dini akhirnya pindahan ke rumah keluarga Wardhana. Dengan bantuan asisten rumah tangga barang - barang yang diperlukan mereka dibawa semua ke rumah besar Wardhana.


Papa dan Mama Riko sangat senang atas kepulangan Riko kembali ke rumah mereka. Bukan hanya Riko saja tapi istri dan anaknya.


Keluarga Dini juga hadir untuk mengantarkan kepindahan Riko dan Dini. Papa, Mama dan Kakak Dini semuanya hadir.


Mereka berkumpul di ruang keluarga dan sedang ngobrol bersama. Menyambut gembira kabar kehamilan Dini.


"Mama lebih tenang kalau akhirnya kalian memutuskan tinggal di sini" ucap Mama Dini.


"Iya dek, Mbak yang meminta mereka pindah ke sini. Agar Mbak bisa mengurus Rihana dan Dini juga gak capek lagi karena sudah ada asisten rumah tangga yang memasak di sini" sambut Mama Riko.


"Iya tapi aku jadi malas dan manja di sini Ma" ucap Dini.


"Tidak apa sayang, yang penting kamu sehat agar cucu Mama nanti lahir dengan sehat" jawab Mama Riko.


"Kamu beruntung punya mertua yang baik dan sayang pada kamu" bisik Anita.


"Iya Mbak, Alhamdulillah" ucap Dini.


"Yank Rihana mana?" tanya Riko.


"Lagi main sama Yoga di belakang Mas" jawab Dini.


"Mana yang lainnya?" tanya Papa Riko.


"Yang lainnya siapa Pa?" tanya Dini.


"Teman - teman kalian?" Papa Riko tanya balik.


"Papa nyuruh aku ajak teman - teman ke sini. Sekalian katanya syukuran kamu hamil. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang" sambut Riko.


"Assalamu'alaikum... " ucap Refan beserta rombongan.


"Wa'alaikumsalam.. masuk Fan" sambut Riko.


Refan datang bersama istrinya Kinan, anaknya Salman, Naila yang kini sudah tinggal bersama mereka lagi setelah kematian Opa dan Omanya, juga dua anak kembar mereka.


"Rihana sini Naaak.. kamu ada teman baru" panggil Riko.


Rihana dan Yoga berlari dari arah belakang.


"Hai Sal" sapa Yoga.


"Yoga, kamu di sini juga rupanya" sambut Salman.


"Ayo kenalan sama Kak Salman dan Naila sayang" perintah Riko pada Rihana.


"Hai.. aku Linana" ucap Rihana.


"Hai juga Linana" balas Salman.


"Namanya Rihana Sal, maklum adiknya masih kecil belum bisa bicara dengan jelas" ungkap Riko.


"Oh Rihana rupanya, Nai kenalan sama Rihana" Ucap Salman pada Naila.


Naila dan Rihana saling berjabat tangah dengan lucu membuat semua orang dewasa di situ tertawa melihat mereka.


Tak lama datang keluarga Bagus dan Ayu juga Bayunl putra mereka.


"Nah nambah lagi temannya nih" ucap Dini.


Anak - anak langsung bermain bersama. Sedangkan para orang tua berkumpul di ruang keluarganya.


Terakhir datang pasangan Romi - Ela, Aril - Bela dan Bimo - Reni bawa anak mereka.


"Aduuuh gantengnya" puji Mama Riko yang langsung menyambut kedatangan Reni.


Reni memberikan putranya kepada Mama Riko yang sudah dia kenal sejak dulu.


"Putra Akarsana Tante" jawab Reni.


"Mmm.. Putra rupanya nama kamu, semoga Rihana juga dapat adek perempuan ya biar lengkap cucunya Oma" ucap Mama Riko.


"Aamiin.. " sambut yang lain.


"Kalau Bela sudah berapa bulan hamilnya?" tanya Papa Riko.


"Alhamdulillah sudah lima bulan Om" jawab Bela.


"Udah tau donk jenis kelaminnya?" tanya Mama Riko.


Bela dan Aril saling tatap..


"Kenapa kalian saling tatap seperti itu?" tanya Bimo heran.


"Ada yang kecewa soalnya Mas" ucap Bela sambil melirik Aril.


"Kecewa gimana?" tanya yang lain penasaran.


"Jadi begini ceritanya... " ungkap Bela.


Flashback On


"Mudah - mudahan bisa ya Pak" jawab Dokter.


"Kenapa pakai kata mudah - mudahan Dok?" tanya Aril penasaran.


"Kalau posisi anak Bapak menutupi, kita tidak bisa melihatnya secara jelas" jawab Dokter.


"Aku yakin anakku pasti akan memperlihatkan senjatanya" gumam Aril yakin.


Dokter mulai mengoleskan gel ke perut Bela dan mulai melihat di layar monitor. Lima menit sudah dilakukan tapi belum ada jawaban dari dokter.


"Gimana Dok?" tanya Aril.


"Sepertinya anak Bapak dan Ibu pada kompakan nih, mereka malu memperlihatkan status mereka. Gak seperti Papa nya nih" ucap Dokter.


"Justru saya sangat yakin mereka mirip Papanya Dok" potong Bela.


"Kenapa begitu Bu?" tanya Dokter penasaran.


"Papanya suka usil. Pasti anak - anaknya juga sekarang lagi ngusilin papanya. Biar Papanya bersabar menunggu sampai bulan depan" jawab Bela tersenyum.


Aril mendekat ke perut Bela dan berkata.


"Please donk anak - anak Papa.. tunjukkanlah kelihaian kalian pada dokter, biar Papa bisa sejak dini mempersiapkan warna kamar kalian. Ayo mau pink atau blue?" tanya Riko.


Dokter tertawa kecil melihat tingkah Aril. Dokter mencoba memutar alat untuk mencari posisi yang pas melihat jenis kelami* anak Aril dan Bela.


"Maaf Pak Aril sepertinya saat ini anda belum beruntung" ucap Dokter.


Aril menarik nafas panjang.


"Baiklah Dok saya terima, hari ini mungkin saya belum beruntung. Besok akan saya coba lagi" sambut Aril.


"Maaaas kalau besok gak bisa juga gimana?" tanya Bela


"Ya kita datang besoknya lagi" jawab Aril singkat.


"Kalau gak bisa juga?" tanya Bela lagi.


"Aku akan minta diajarin sama dokter gimana cara lihatnya. Aku akan beli alat ini dan periksa anak kita setiap hari sampai mereka mau menunjukkan senjata mereka" jawab Aril kesal.


Dokter semakin tertawa melihat tingkah absurd Aril.


"Pak Aril ini bisa aja" sambut Dokter.


Flashback Off


"Hahaha... " tawa semua yang mendengar cerita Bela.


"Kalau kamu jadi beli alatnya mulai bulan depan aku akan periksa di rumah kamu aja deh Ril" ledek Riko.


"Aku kan cuma bercanda Ko. Mana mungkin aku belajar kedokteran lagi, apalagi tentang kandungan. Aku gak pinter, aku cuma bisa buat Bela mengandung saja" jawab Aril pasrah.


"Jadi orang tua itu emang harus sabar Ril. Apalagi nanti anak kamu kembar, jaganya harus bergantian. Gak mungkin Bela terus" sambut Mama Riko.


"Iya Tante" jawab Aril.


Aril mencari seseorang yang sejak tadi ingin dia sapa.


"Linana mana?" tanya Aril.


"Dibelakang sama Naila, Yoga, Bayu dan Salman" jawab Dini.


Aril langsung berteriak memanggil.


"Linanaaaaaaaa" panggil Aril.


Rihana berlari menghampiri para orang tua.


"Papa panggiy aku?" tanya Rihana dengan wajah memerah karena baru berlari.


"Ada Om yang cariin kamu" Riko menunjuk ke arah Aril.


"Oh Om itu, biyan aja aku dak ada" jawab Rihana cuek dan tak suka kemudian menjauh.


Sontak yang lain tertawa melihat tingkah Rihana.


"Dasar kamu ya Linana... masih kecil sudah jual mahal. Baru Tante Bela lho yang jual mahal sama Om, tapi akhirnya dia menyesal dan menyerah. Kamu tidak boleh jadi Tante Bela" Aril langsung mengejar Rihana dan menangkapnya.


"Toyong aku Papaaaa ada mosteyyyyy... aku tatuuuuut dia geniiiiit" teriak Rihana.


"Hahahaha... " semua tertawa mendengar teriakan Rihana.


"Lihatlah kepintaran dan kelucuannya Dek, dia yang kini membuat rumah ini jadi tambah ramai" ucap Mama Riko kepada Mama Dini.


"Iya ya Mbaaak... Keputusan Riko dan Dini mengadopsi Rihana memang tidak salah. Anak itu sangatmenggemaskan" sambut Mama Dini.


.


.


BERSAMBUNG