Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Duapuluh Tujuh



"Maaaas... bangun Mas. Sudah pagi, kamu gak kerja" ucap Ela.


Ela yang sudah siap dengan pakaian kerjanya membangunkan suaminya yang kembali tidur setelah shalat subuh tadi pagi.


"Hemmm.. kepalaku pusing sekali sayang" sahut Romi lemah.


"Kalau begitu kamu jangan ke kantor dulu. Libur aja, tapi kamu harus tetap bangun dan kita sarapan ya. Setelah itu baru minum obat dan kembali istirahat" bujuk Ela.


Ela membantu Romi bangun dan berjalan keluar kamar. Kedua mertuanya merasa heran melihat Romi masih memakai baju rumah dan belum bersiap - siap hendak pergi ke kantor.


"Kamu gak ke kantor Rom?" tanya Pak Hidayat.


"Nggak Pa, aku lagi gak enak badan. Kepalaku pusing sekali dari tadi subuh" jawab Romi.


Ela membantu Romi menghidangkan sarapan paginya.


"Nih Mas sarapan dulu baru nanti minum obat" ucap Ela lembut.


"Terimakasih yank" jawab Romi.


Romi, Ela dan kedua orang tuanya mulai sarapan. Saat sudah hampir habis makanan Romi dia buru - buru pergi ke kamar mandi.


"Ueeeek.. ueeeek... " Romi muntah - muntah.


Ela segera berlari menghampiri Romi dan memijat punggung belakang Romi.


"Kamu sepertinya masuk angin Mas. Pasti kemarin telat makan siang kan di kantor?" tanya Ela.


"I.. iya yank.. meetingnya udah nanggung banget, jadi aku selesaikan dulu meeting baru makan siang" jawab Romi lemas.


"Ya sudah balik ke kamar yuk biar aku pijitin dan minum obat" ajak Ela.


"Tapi kamu mau ke kantor yank" ujar Romi.


"Aku bisa datang siangan dikit atau kalau nggak aku nanti izin sama Dini gak datang ke kantor karena kamu lagi sakit" Jawab Ela.


Ela membantu Romi kembali ke kamar.


"Ma, Pa aku bawa Mas Romi ke kamar aja ya. Sepertinya Mas Romi masuk angin biar aku pijitin dulu" ujar Ela.


"Iya bawa ke kamar sana, biar Mama masakin bubur aja untuk Romi. Pasti isi perutnya sudah kosong itu habis keluar semua" sahut Mama Romi.


Romi dan Ela berlalu dari ruang makan. Kedua orang tua Romi menatap kepergian mereka dengan gembira.


"Lihat Ma putra kita sudah ada yang ngurusin. Coba dulu sebelum dia menikah, setiap kali dia sakit pasti pulang ke rumah dan kamu yang repot urusin dia" ujar Papa Romi.


"Iya Pa, alhamdulillah sepertinya Ela pinter ngurus suami. Hidup Romi lebih teratur sekarang" jawab Mama Romi.


"Tuh untung kamu setuju dia menikah dengan Ela coba kalau dia menikah dengan perempuan - perempuan yang selalu bersamanya dulu. Pasti kita tidak akan pernah melihat pemandangan seperti ini sekarang" sambung Papa Romi.


"Iya Pa, Mama dulu memang salah menilai Ela. Untung ada mantan sekretaris kesayangan kamu dulu yang mengingatkan Mama" balas Mama Romi.


Papa dan Mama Romi melanjutkan sarapan pagi mereka berdua. Sedangkan Ela membantu Romi kembali berbaring di atas tempat tidur. Setelah itu Ela kembali mengganti pakaian kerjanya dengan baju rumahan.


Sebelum memijit suaminya Ela terlebih dahulu mengirim pesan kepada Dini.


Ela


Din Mas Romi lagi sakit, aku sedang ngurusin dia dulu ya. Mungkin aku agaj siangan datangnya. Tapi lihat kondisi selanjutnya kalau lebih parah mungkin aku gak datang.


Dini


Oke El, semoga Mas Romi lekas sembuh ya.


Ela


Makasih Din


Setelah mengirim pesan Ela berjalan ke arah tempat tidur dan menghampiri Romi.


"Mas telungkup gih tidurnya biar aku pijitin punggung Mas" perintah Ela.


Romi mengikuti perintah Ela dan merubah posisi berbaringnya. Dengan telaten Ela mulai memijit tubuh Romi.


"Lihat nih Mas tubuh kamu keringat dingin" ujar Ela.


"Uuuh yank enak sekali di pijit bagian itu" sambut Romi.


"Tubuh kamu juga hangat nih" sambung Ela.


"Iya sepertinya aku mau demam juga nih yank" jawab Romi.


Ela memijit seluruh tubuh Romi dengan menggunakan minyak zaitun di campur dengan minyak kayu putih agar tubuh Romi hangat dengan tujuan seluruh angin di tubuh Romi hilang.


"Beruntung banget ya aku dapatin kamu" ujar Romi yang mulai keenakan di pijit Ela.


"Enggak donk yank. Beruntung karena kamu sempurna sayang, pintar, cantik, solehah, baik hati, pinter masak dan urus suami plus pintar pijit. Nanti kalau aku sudah sehat kamu tambahin ya pikirannya" pinta Romi.


"Tambahin apa Mas?" tanya Ela bingung.


"Tambahin pijitan plus - plusnya" jawab Romi.


"Yeeee... emangnya aku tukang pijit plus - plus" protes Ela.


"Ya gak apa - apa donk yank untuk suaminya. Kan katanya mau dapat pahala yang banyak" ucap Romi.


"Lagi sakit masih aja mikirin yang begituan ya Mas" Ela mencubit pinggang Romi tanpa sadar.


"Aaww.. aaaw... sakit yank" teriak Romi.


"Ehm.. Ehm.. " terdengar suara lain di kamar mereka.


Romi dan Ela berhenti sesaat dan mencari sumber suara.


"Eeeh.. eeh.. Mama" ucap Ela malu.


Ela mencubit sekali lagi pinggang Romi tapi tidak kuat.


"Udah yank santai aja, Mama kan pernah muda juga dulu. Lagian Mama pasti setuju, kan mau cepat dapat cucu" ujar Romi.


"Katanya sakit tapi masih bisa bercanda ya" ucap Mama Romi.


"Mas Romi nih Ma bandel kalau diingatkan. Suka makan telat makanya masuk angin" jawab Ela mengalihkan pembicaraan.


Romi tertawa kecil mendengar jawaban istrinya. Diliriknya istrinya dan benar saja seperti yang dia duga, wajah Ela saat ini sangat merah karena malu.


"Dia emang gitu, paling suka telat makan. Kalau sudah sakit manjanya minta ampun. Kamu harus bersiap - siap El" ujar Mama Romi memberi peringatan.


Ela menatap wajah suaminya dengan seksama.


Bukan manja Ma tapi modus. Batin Ela.


Mama Romi meletakkan semangkuk bubur yang baru saja siap dia masak.


"Nih bubur kamu, makan lagi setelah itu minum obat" tegas Mama Romi.


"Terimakasih Mamaku sayaaang" jawab Romi.


"Sepertinya dia sudah sembuh El, kamu sudah bisa pergi ke kantor. Biarkan saja dia sendirian istirahat di kamar" ujar Mama Romi.


"Ja.. jangan Ma.. Aku kan belum makan. Aku mau makan disuapin Ela" protes Romi cepat.


"Mulai deh manjanya" komentar Mama Romi.


Mama Romi menatap menantunya.


"Kamu dengar itu permintaan suami kamu. Nanti kalau dia nakal potong aja jatanya nanti malam" Mama Romi mendukung Ela.


"I.. iya Ma" jawab Ela malu. Dia tidak menyangka mertua nya akan berkata seperti itu.


Mama Romi keluar dari kamar Romi dan Ela meninggalkan anak dan menantunya berdua di kamar.


"Yank suapin donk, aku udah lapar nih" pinta Romi.


Ela segera meraih mangkuk bubur dan duduk disamping Romi. Romi bersandar di dinding tempat tidur. Ela mulai menyuapi bubur kepada Romi sampai habis tak bersisa.


"Udah kenyang yank" ujar Romi.


"Sekarang minum obat ya" sambut Ela.


Ela memberikan obat dan segelas air untuk diminum Romi.


"Aaah... alhamdulillah nikmat sekali ternyata punya istri. Tau gitu kenapa gak dari dulu kita ketemuannya yank. Coba kalau pertama ketemu kamu gak lari yank, pasti dari dulu kita sudah nikah" ucap Ela.


"Kamu yakin kalau dulu aku akan menerima lamaran kamu Mas? Dulu aku kan masih kuliah dan tampilan kamu waktu itu persis om - om yang sedang mencari mangsa. Ditambah lagi saat itu Mas masih jadi playboy ulung, fix pasti aku akan tolak saat itu" tegas Ela.


"Iya juga ya, Allah memang tau kapan waktu yang tepat. Seperti saat ini tiba - tiba aku ingin honeymoon dikamar saja" Romi segera menyerang Ela.


"Ma... Maaas.. kamu kan lagi sakit" elak Ela sambil teriak.


"Udah sembuh yank, kepalaku sudah gak pusing lagi gantian kepala bawah yang saat ini pusing" ujar Romi langsung memeluk Ela.


"Ya ampun Maaaaas" balas Ela.


.


.


BERSAMBUNG