Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Tigapuluh Empat



Gleeeg.. mati aku yank.. kamu sudah membangunkan imron ku. Batin Romi.


Romi langsung menjauh dari Ela membuat Ela terkejut mengapa suaminya menjaga jarak.


"Ada apa Mas? Kamu gak suka kalau aku peluk?" tanya Ela bingung


"Bu.. bukan gak suka yank, suka banget malah. Tapi ada yang marah dibawah sana. Katanya aku harus puasa, nanti kalau dia brontak gimana donk" jawab Romi pasrah.


Ela langsung mengerti dan tersenyum menatap wajah suaminya yang nelangsa antara ingin dipeluk dengan ingin memeluk.


"Cuma peluk doank" gumam Ela.


"Kamunya yang cuma mau peluk doank, lah kalau aku minta lebih gimana?" tanya Romi.


"Boleh, mau cium?" tantang Ela.


"Kamu malah nawarin lebih sayang, kalau keterusan gimana?" tanya Romi semakin tersiksa.


"Oke deh kalau begitu aku peluk bantal guling aja" Ela mengelus lembut perutnya yang masih rata.


"Papa kamu gak mau dipeluk" gumam Ela sendiri.


Romi merasa bersalah ketika Ela berkata seperti itu.


"Oke.. Oke.. kamu boleh peluk. Tapi peluk aja ya yank, tangannya jangan nakal kemana - mana" ujar Romi.


"Ye.. gak salah tuh. Bukannya Mas Romi yang suka tangannya keluyuran sampai begadang" sambut Ela.


Romi kembali berbaring di samping Ela.


"Aku cuma mau peluk Mas Romi" ucap Ela manja.


Romi hanya bisa pasrah dan tak berdaya. Sebenarnya dia sangat gemas melihat Ela semanja ini. Jarang banget Ela bertingkah seperti ini. Bahkan bisa dibilang belum pernah.


Baru kali ini Ela bersikap seperti ini. Mungkin karena bawaan hamilnya kali ya suka bertingkah aneh. Buktinya Aril pernah lebih aneh dari ini. Pikir Romi.


"Ya sudah kamu bebas peluk aku sesuka kamu. Aku akan berusaha jaga Imron ku" ungkap Romi.


"Gitu donk" sambut Ela.


Dengan senang hati Ela langsung memeluk tubuh Romi dan mulai memejamkan mata. Sebentar saja Ela sudah tidur lelap dalam pelukan Romi.


Ya Tuhan... apakah seperti ini cobaan yang Aril alami. Duh tak pernah terpikirkan olehku cobaan ini begitu berat.


Akhirnya dengan susah payah Romi berhasil menahan imronnya. Romi memilih memejamkan matanya juga. Dari pada dia terus menatap wajah Ela bisa - bisa ada yang bangun dan sangat berbahaya.


Malam harinya Romi dan Ela kembali datang ke praktek kandungan Dokter Shelly.


"Waah kalian datang lagi. Itu artinya kabar gembira" sambut Dokter Shelly.


"Iya Dok, tadi pagi saya melakukan tes kehamilan dan hasilnya positif" ungkap Ela.


"Alhamdulillah, selamat akhirnya kalian menjadi seorang Mama dan Papa. Mari kita periksa keadaan janinnya" ajak Dokter Shelly.


Ela langsung naik ke atas tempat tidur untuk diperiksa. Dengan bantuan perawat perut Ela langsung diperiksa.


"Nah lihat ke monitor. Ini dia sudah kelihatan rahimnya sudah ada isinya. Masih terlalu kecil karena baru berumur lima minggu" ungkap Dokter Shelly.


"Kok sudah lima minggu?" tanya Romi bingung. Bukannya dua minggu yang lalu belum ada. Tanyanya dalam hati.


"Iya lima minggu, di hitung dari hari datang bulan terkahir" jawab Dokter Shelly.


"Ooo.. begitu" sambut Romi lega.


Dokter Shelly tersenyum melihat tingkah Romi.


"Ada berapa dedek bayinya?" tanya Romi.


"Mmm... satu. Kenapa? Kamu berharap dapat kembar?" tanya Dokter Shelly.


"Yaaah siapa tau" jawab Romi.


"Apa kalian ada keturunan keluarga kembar?" tanya Dokter Shelly.


"Tidak ada" jawab Romi dan Ela.


"Pantas Aril punya anak kembar, karena Bela punya Kakak yang kembar" ujar Romi.


"Aril Ekaputra teman kamu Rom?" tanya Dokter Shelly.


"Iya Aril sahabatku" jawab Romi tegas.


"Dia sudah menikah juga dan punya anak kembar?" tanya Shelly terkejut.


"Iya ada menikah dua bulan sebelum kami menikah dan saat ini istrinya sedang hamil tiga bulan" jawab Romi.


"Siapa teman kamu yang satu lagi? Kalian kan paling terkenal dulu tiga cowok player" tanya Dokter Shelly.


"Riko, dia juga sudah menikah" jawab Romi.


"Oh sudah menikah semua. Riko juga sudah punya anak?" tanya Shelly ramah.


"Riko belum, sedang usaha katanya" jawab Romi.


"Ooo... hebat ya kalian semua ternyata bisa berubah. Aku kira sampai tua akan jadi player terus" ujar Shelly.


"Ya nggak lah Shell, hidayah bisa datang kapan saja. Gak mungkin kami terus - terusan seperti itu. Kami juga takut dosa. Kamu sudah menikah?" tanya Romi balik.


"Sudah, aku sudah punya dua anak" jawab Shelly.


"Waaah hebat kamu" sambut Romi.


"Kamu gak tanya kabar Cantika?" tanya Shelly.


Ela terdiam mendengar pembicaraan Romi dan Shelly yang semakin dalam, perlahan - lahan membuka masa lalu Romi.


"Pastinya sudah menikah donk" ujar Romi.


"Cantika sudah meninggal Rom. Dia ternyata mengidap leukimia" sambut Shelly.


"Oh ya, Innalillahi.. semoga Cantika diberi tempat di sisi Allah yang paling baik. Aamiin" jawab Romi.


Walau tampak terkejut tapi sikap Romi biasa saja. Hampir saja Ela cemburu lagi, tapi yang mereka bicarakan juga sudah meninggal. Untuk apa di cemburui lagi. Toh semua juga sudah jadi masa lalu, pikir Ela.


"Jadi kepanjangan ceritanya ya.. Udah selesai Mbak pemeriksaannya ya. Aku panggil Mbak aja ya, kan Mbak istrinya Romi" ucap Dokter Shelly ramah.


"Eh iya gak apa - apa Dok" sambut Ela cepat.


Shelly dan Ela kembali ke tempat duduk mereka semula. Shelly terlihat sedang sibuk menulis resep obat.


"Mmm... Shell apa benar kalah lagi hamil muda suaminya harus puasa?" tanya Romi, sebenarnya dia sangat sungkan menanyakannya tapi karena harus mengingat masa depan imronnya selama Ela hamil.


"Mmmm sebenarnya setiap orang beda - beda Rom kondisinya. Kalau untuk wanita yang rentan, kandungannya lemah dan beresiko disarankan memang seperti itu. Suaminya harus berpuasa dulu. Tapi ada wanita yang kondisi kandungannya kuat tidak harus berpuasa asalkan dilakukan dengan lembut dan juga jangan terlalu sering. Kalau kamu mau mengikuti kata - kata aku tadi kamu boleh melakukannya asal dengan lembut ya. Nanti Mbak Ela nya coba perhatikan apakah ada kontrakai, flek atau sakit dibagian bawah perut. Kalau merasa takut aku saranin puasa dulu satu bulan ini. Tapi semua tergantung kalian kok. Kalau Mbak Ela nya rileks dan nyaman aku rasa semua akan baik - baik saja" jawab Dokter.


"Terimakasih Shel" jawab Romi lega.


Alhamdulillah aku gak diharuskan puasa, nanti aku kan bisa negosiasi dengan Ela. Dan soal kenyamanan Ela aku paling tau caranya hahahaha. Tawa Romi dalam hati.


"Nih aku kasih obat penguat kandungan dan juga vitamin untuk Mbak Ela. Kalau kamu, apa rasa mual dan sikap aneh kamu masih berlanjut?" tanya Dokter Shelly.


"Mmm... masih sesekali. Tapi kalau minum obat dari kamu rada berkurang. Biasanya aku sering mengalaminya saat pagi hari" ungkap Romi.


Dokter Shelly tersenyum mendengar jawaban Romi.


"Kamu sepertinya mengalami sindrom kehamilan simpatik. Mengalami apa yang dirasakan Ibu hamil muda. Morning sickness, biasanya dialami setiap pagi. Rasa mual dan penciuman lebih berasa" ucap dokter Shelly.


"Iya benar" sambut Romi cepat.


"Ya sudah kalau begitu aku kasih kamu resep juga ya. Mudah - mudahan tidak begitu parah ya.. Tapi beruntung si Mbaknya ya gak merasakan apa - apa. Biarin aja Mbak, Romi yang rasain ngidam. Biar dia tau rasa, gimana sakitnya wanita hamil muda. Mbak pasti sudah tau kan senakal apa dia dulu saat muda?" tanya Dokter Shelly.


"Iya dok saya sudah tau" jawab Ela sambil tersenyum.


.


.


BERSAMBUNG