Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Tujuhpuluh Dua



Sudah lima hari Aril dan Bela menghabiskan waktu mereka berkeliling kota dan pulau. Mereka melakukan semua aktivitas itu dengan sukacita sambil berpacaran ala Aril dan Bela.


Tentu saja pacaran nakal karena Aril memberikan berbagai pelajaran kepada Bela yang masih polos. Aril bebas menyentuh Bela apa saja kecuali bagian terlarang.


Keduanya selalu panas dingin melewati malam - malam indah mereka di kamar. Yang satu menahan rasa malu sedangkan yang satu lagi menahan hawa nafs*.


Pagi ini mereka rencana akan berjalan ke Bukit Pianemo. Rencananya mereka akan mendaki ratusan anak tangga. Oleh sebab itu mereka harus pergi pagi - pagi sekali.


Sebelum berangkat berpetualang terlebih dahulu mereka sarapan pagi di Hotel. Aril dan Bela sudah siap dengan pakaian santai mereka yang nyaman untuk mendaki.


Keduanya menggunakan baju kaos couple berwarna putih dan memakai celana jeans biru muda. Bela terlihat sangat cantik dan segar sedangkan Aril terlihat sangat tampan dan gagah.


Saat sedang menikmati sarapan pagi mereka tiba-tiba ponsel Aril berdering. Aril melirik dan melihat ke ponselnya, tertera nama Dedi di sana. Aril melanjutkan makannya tanpa menghiraukan telepon yang terus berdering. Dia hanya mengecilkan volume suara ponselnya.


"Siapa Mas?" tanya Bela penasaran.


"Dedi. Dia cuma mau mengganggu honeymoon kita saja" jawab Aril cuek.


"Mas di sini sudah jam delapan berarti di sana jam enam Mas. Pasti ada hal yang sangat penting. Kalau tidak penting mana mungkin dia telepon sepagi itu" ujar Bela.


"Sudah biarkan saja. Dia pasti bisa menyelesaikannya" balas Aril.


Namun telepon Aril terus berdering dan sepertinya Aril memang tidak berniat mengangkatnya. Feeling Bela mengatakan pasti ada sesuatu yang penting. Kalau tidak mana mungkin Dedi menelepon pagi - pagi dan menganggu waktu honeymoon mereka.


Bela langsung meraih ponsel Aril dan mengangkatnya. Aril tidak marah sama sekali dia melanjutkan makannya.


"Assalamu'alaikum" ucap Bela.


"Wa'alaikumsalam. Bel suami kamu ada?" tanya Dedi.


"Ada, nih lagi di depanku sarapan pagi" jawab Bela.


"Tolong Bel berikan ponselnya pada dia. Aku mau bicara sama si Bos. Ada kabar penting" pinta Dedi.


"Tunggu sebentar ya Ded" balas Bela.


Bela memberikan ponsel yang dia pegang kepada Aril.


"Mas, Dedi mau bicara. Ada hal penting katanya" ucap Bela.


"Apa sih si Dedi" sambut Aril.


Dengan kesal akhirnya Aril meraih ponselnya.


"Halo Ded, kamu mengganggu honeymoonku saja" ucap Aril kesal.


"Bos pabrik kita di Singapura terbakar" lapor Dedi.


"Apa? Kapan kejadiannya?" tanya Aril dengan nada terkejut.


Bela terus menatap Aril dengan tatapan penasaran.


"Tadi malam Bos" jawab Dedi


"Baik.. Baik.. kalau begitu kami akan pulang hari ini. Kamu siapkan semuanya termasuk tiket kita. Begitu sampai Jakarta kita langsung berangkat" perintah Aril.


"Baik Bos" balas Dedi.


Telepon terputus. Aril segera menyelesaikan sarapan paginya dengan tergesa-gesa.


"Ada apa Mas?" tanya Bela penasaran.


"Yank maaf kalau waktu honeymoon kita terpotong dua hari. Tadi malam pabrik di Singapura terbakar. Aku dan Dedi harus segera berangkat ke sana. Kita bersiap - siap untuk balik ke Jakarta pagi ini, setelah itu aku dan Dedi langsung berangkat ke Singapura" jawab Aril.


"Oke Mas. Kalau begitu kita harus kembali ke kamar untuk packing" sambut Bela.


"Yuk, kamu sudah siapkan sarapannya?" tanya Aril.


"Sudah, yuk Mas" balas Bela.


Aril dan Bela kembali ke kamar merek dan packing semua barang - barang mereka. Satu jam kemudian mereka sudah dalam perjalanan menuju bandara dan akan berangkat ke Sorong. Baru setelah itu lanjut ke Jakarta.


Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di terminal keberangkatan luar negeri.


"Yank maaf ya aku harus berangkat ke Singapura. Kamu gak apa - apa kan aku tinggal sendiri. Nanti kamu diantar supir ke apartemen" ujar Aril.


"Mas.. aku boleh gak tinggal di rumah Mas Bimo aja selama kamu di Singapura?" tanya Bela.


"Mm... boleh deh, lagian kasihan kamu sendirian di apartemen" jawab Aril.


Bela mencium tangan Aril dengan takjim untuk perpisahan. Aril membalasnya dengan kecu*an di kening untuk berpamitan.


Mengapa Bela jadi merasa sedih ya.. belum seminggu menikah sudah di tinggal. Pikir Bela.


"Titip perusahaan ya sayank soalnya aku dan Dedi pergi. Kamu cek semua pekerjaan. Apalagi seminggu kita sudah tinggalkan kantor" pesan Aril.


"Iya Mas" jawab Bela.


"Jaga diri kamu ya.. aku pasti akan merindukan kamu" bisik Aril.


Aril juga sebenarnya sangat berat berpisah dengan Bela tapi apa boleh buat ini sangat penting. Dan tidak mungkin meninggalkan kantor kosong tanpa Aril dan Dedi. Makanya Bela tidak bisa ikut ke Singapura.


Aril turun dari mobil bersama Dedi.


"Pak antarkan istri saya dengan selamat sampai tujuan ya" perintah Aril kepada supirnya.


"Baik Pak, perintah akan saya laksanakan" Jawab sang supir.


Bela melambaikan tangan untuk berpisah dengan Aril. Rasanya berat sekali berpisah dengan Bela saat sedang nafs* - nafs*nya seperti ini. Teriak batin Aril.


Yaaaah... ditunda lagi belah durennya. Tangis Aril dalam hati.


Aril melangkah masuk ke dalam Bandara dan Bela pulang kembali ke rumah Bimo.


Ting... Tong...


Bela menekan bel rumah Bimo. Tak lama kemudian pintu dibuka oleh asisten rumah tangga Bimo.


"Lho Non Bela kok sudah pulang?" tanya Bibik terkejut.


"Iya Bi, Mas Aril harus ke Singapura ada uruasan penting. Ada orang di rumah Bik?" tanya Bela.


"Ada Non Reni, Den Bimo masih di kantor" jawab Bibik.


Bela masuk ke dalam rumah dan mendapati Reni sedang santai nonton TV di ruang keluarga.


"Lho Bel kamu sudah pulang?" tanya Reni terkejut.


Bela langsung duduk disamping Reni dengan kesalnya.


"Iya" jawab Bela.


"Mas Aril mana? Kalian gak bertengkar kan? Kamu kok pulang sendiri?" tanya Reni penasaran.


"Mas Aril ke Singapura setelah kami pulang dari Raja Ampat. Pabriknya di sana kebakaran" jawab Bela.


"Innalillahi.. semoga semua baik - baik saja ya Bel. Tapi honeymoon kalian terpotong donk.. Sayang banget. Eh kemana tadi honeymoonnya, Raja Ampat? Waaaw keren banget tuh di sana. Seru gak Bel, pasti seru lah ya?" tanya Reni antusias.


"Seru Ren, disana pemandangannya cantik banget. Pokoknya semuanya indah" jawab Bela mulai semangat.


"Indah donk apalagi cuma pergi berdua bisa bebas manja - manjaan. Pasti kamu dikurung Mas Aril terus di kamar kan? Secara kan Mas Aril udah ngebet banget minta cepat - cepat nikah. Pasti mau ajak kamu enak - enak. Ya kan?" goda Reni sambil menyenggol lengan Bela.


"Apaan enak - enak. Aku langsung datang bulan. Malam pertamanya gagal" jawab Bela kesal.


"Apaaaaa? Jadi kamu masih perawaaaaa*?" tanya Reni terkejut.


.


.


BERSAMBUNG