Playboy Insaf

Playboy Insaf
Tujuh puluh Lima



Keesokan harinya Romi sudah tidak sabar untuk makan siang bersama Ela berdua saja tanpa ada gangguan dari karyawan perusahaannya. Sambil terus tersenyum bahagia Romi bekerja dengan sangat semangat hari ini membuat Silva keheranan dengan tingkah atasannya itu.


"Bapak gembira banget hari ini?" tanya Silva penasaran.


"Harus donk Silva, hari ini kan cerah jadi aku harus menjalaninya dengan bahagia juga" jawab Romi..


"Seperti menang undian aja ya Pak" sindir Silva.


"Yah anggap saja begitu. Oh iya apa pekerjaan saya sudah selesai semua?" tanya Romi pada sekretarisnya.


"Sudah Pak. Nanti siang mau makan siang apa Pak biar saya pesankan?" tanya Silva penuh perhatian.


"Gak usah, saya mau makan siang di luar" balas Romi.


"Baiklah kalau begitu sama kembali ke meja saya dulu Pak" ujar Silva.


Silva balik ke meja kerjanya dengan wajah yang penuh curiga.


Apakah Pak Romi beneran mau pergi sama karyawan keuangan yang baru itu? Masak iya Pak Romi beneran minta traktir sama gadis kampung itu? Kalau memang benar, hebat benar tuh gadis. Pasti dia pakai ilmu pelet dari kampungnya? Ucap Silva kesal di dalam hati.


Sementara Romi di ruangannya sedang sibuk memperhatikan CCTV di ruangan Ela. Terlihat Ela sedang serius bekerja dan menatap layar komputernya.


Ah pantas saja semua laporan keuangan yang kamu susun tidak ada yang salah. Kamu terlalu bekerja keras. Aku tidak akan gulung tikar hanya karena kamu salah sedikit saja menulis laporan. Tapi kamu memang hebat bidadari surgaku. Batin Romi.


Romi segera meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Ela.


Romi


Jam setengah dua belas aku tunggu di basement kantor.


Bidadari Surga


Baik Pak. Kemana rencananya kita pergi makan Pak?


Romi


Soal itu kamu tidak perlu pikirkan biar aku saja yang urus kamu tinggal siapkan kartu ATM kamu untuk membayar tagihannya.


Romi melihat dari layar komputernya Ela tampak menarik nafas panjang dan pasrah dengan isi pesan Romi. Romi tersenyum nakal.


Bidadari Surga


Baiklah Pak


Hahaha... kamu pasti sangat takut isi ATM kamu aku kuras hari ini. Gumam Romi.


Ela melanjutkan pekerjaannya dengan sangat cepat dan serius.


"El nanti kita makan di kantin yuk" ajak Mery.


"Sorry Mer aku ada janji dengan seseorang makan diluar" jawab Ela.


"Pacar?" tanya Mery penasaran.


"Ah tidak. Aku tidak punya pacar Mer" jawab Ela.


"Cari donk El. Kamu kan cantik dan smart lagi pasti banyak cowok yang suka" balas Mery.


"Ah kamu Mer bisa aja. Mana ada yang suka aku, aku kan cewek kampung" ucap Ela merendah.


"Eh jangan salah... kampung itu kan bukan berarti kampungan. Buktinya kualitas otak kamu ngalah - ngalahin orang kota" hibur Mery.


Ela hanya tersenyum ramah kepada Mery teman satu timnya. Dari layar komputer Romi juga ikut tersenyum menatap senyum manis Ela.


Waktu tanpa terasa bergulir cepat. Jam sebelas lewat Romi sudah siap - siap hendak turun ke bawah. Agar tidak terkesan makan siang formal Romi sengaja membuka jasnya dan menggulung lengan kemejanya sampai siku.


Romi meraih kunci mobil, handphone dan tas jinjingnya kemudian pergi meninggalkan ruangannya.


"Sil aku pergi dulu" ujar Romi ketika melewati meja sekretarisnya.


"Baik Pak" jawab Silva sigap melihat atasannya lewat.


Dengan antusias Silva segera menyusun rencana untuk melihat Romi pergi makan siang dengan siapa. Silva meraih ponselnya dan menyusul Romi dari lift umum.


Romi keluar dari lift khusus pejabat perusahaan menuju basement dan masuk ke dalam mobilnya. Kemudian dia meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Ela.


Romi


Cishela saya sudah menunggu di mobil.


Bidadari Surga


Baik Pak, saya akan segera turun


Romi


Aku tunggu


Ela langsung terburu - buru meraih tas dan ponselnya dan berjalan menuju lift. Kemudian Ela turun ke lantai basement tapi dia bingung dan lupa tadi menanyakan kepada Romi yang mana mobilnya.


Bidadari Surga


Maaf Pak, mobil Bapak yang mana?


Romi


Mobil warna biru tepat menghadap pintu lift basement.


Begitu membaca pesan Romi, Ela segera mencari mobil sesuai intruksi Romi.


Romi menyalakan klaksonnya untuk memberi kode kepada Ela. Ela langsung berjalan menuju ke mobil Romi yang tak jauh dari pintu lift basement.


Dari balik pintu keluar lantai basement ada seorang wanita yang mengintip kegiatan Romi dengan karyawan baru di perusahaannya bekerja.


Wanita itu mengaktifkan kamera ponselnya dan segera mengambil beberapa foto bukti karyawan baru itu ada main dengan pemilik perusahaan tempat dia bekerja.


Walau sangat kesal tapi Silva tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah mereka pergi. Silva hanya bisa mengambil beberapa foto mereka yang mungkin suatu saat akan sangat dia perlukan.


Ela masuk ke dalam mobil Romi.


"Maaf Pak, lama menunggu" ucal Ela sungkan.


"Tidak masalah, saya juga baru turun kok" jawab Romi.


Romi segera menyalakan mobilnya dan mulai menjalankannya meninggalkan kantor mereka. Romi menjalankan mobil dengan kecepatan sedang menuju tempat yang dia inginkan.


Mobil bergerak menuju MD Place Bulding, Lantai 6, Jl. Setiabudi Selatan No. 7, Kuningan, Jakarta. Dan tak memakan waktu lama mereka sudah sampai di Restoran House Rooftop.


Ela gemetar melihat bagunan mewah itu.


Ya Tuhan... mungkin makan di sini akan menghabiskan sebulan gajiku. Duh bagaimana ini? Tapi tak mungkin aku menolak permintaan pria yang memberiku pekerjaan di perusahaannya. Batin Ela.


Romi tersenyum tipis melihat wajah Ela yang tampak semakin khawatir.


"Yuk masuk" ajak Romi.


"Ba.. baik Pak" jawab Ela.


Hebat juga nyali kamu, walau aku tau kamu sangat ketakutan aku bawa ke sini tapi kamu tetap tidak membatalkan ajakanku. Puji Romi dalam hati.


Mereka naik ke lantai enam dimana Restoran itu berada. Pelayan langsung menyambut kedatangan mereka.


"Sudah pesan Pak?" tanya pelayan itu ramah.


"Sudah, atas nama Romi Hidayat" jawab Romi.


"Baik Pak Romi, silahkan ikuti saya" sambut pelayan itu.


Romi dan Ela berjalan mengikuti pelayan itu sampai ke ruangan tertutup yang khusus di pesan Romi untuk mereka.


"Silahkan masuk" ucap pelayan itu.


Romi dan Ela masuk ke dalam ruangan private. Dimana di sana hanya ada satu meja dan lantunan piano yang dimainkan seorang pianis dari sudut ruangan itu.


Ela menelan salivanya dengan berat.


Ya Tuhaaan.. seumur hidup baru kali ini aku makan di sini. Tapi yang paling aku sayangkan tabunganku harus berakhir di Restoran ini. Tangis Ela dalam hati.


Pelayan menarik kursi untuk Romi dan Ela duduk.


"Silahkan duduk Pak, Bu" perintah karyawan itu.


"Terimakasih" sambut Romi.


Romi dan Ela duduk berhadapan. Ela semakin tampak gugup dan dahinya berkeringat karena hal itu.


Pelayan datang membawa menu makanan di Restoran itu dan bertanya kepada mereka makanan apa yang akan mereka pesan.


"Mau pesan apa Pak, Bu?" tanya Pelayan itu.


Ela segera membuka buku menu makanan di Restoran itu.


Ya Tuhan.. benar tebakanku. Makanan di sini mahal - mahal semua. Apa tabunganku cukup untuk membayar makan kami berdua? Tanya Ela dalam hati.


"Saya pesan steek andalan Restoran di sini" pesan Romi.


Ela langsung membuka meny steak dan melihat menu yang paling mahal.


Ya Tuhan satu hidangan saja harganya hampir tiga ratus ribu. Bisa belanja Ibu di rumah untuk beberapa hari. Tangis Ela nelangsa.


"Itu saja Pak?" tanya pelayan.


"Sweet potato price minumnya affogato with milk" pinta Romi.


Ela sangat sulit menelan salivanya saat ini.


"Kalau Mbak ini?" tanya pelayan kepada Ela.


"Saya spaghetti aglio" jawab Ela.


"Minumnya?" tanya Pelayan itu lagi.


Ela melihat harga air mineral.


Ya Tuhan air mineral aja harganya tiga puluh lima ribu. Mulai besok aku tidak akan membuang - buang air mineral kalau tau begini mahalnya harga air putih disini. Ucap Ela dalam hati.


"Air mineral saja, tenggorokan saya lagi gak enak" jawab Ela.


"Baik tunggu sebentar" ucap pelayan itu.


Kemudian pelayan itu pergi meninggalkan Romi dan Ela yang sedang dilema.


.


.


BERSAMBUNG