Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Tigapuluh Delapan



"Jangan sungkan kepada Mas ya.. tetaplah bersikap seperti dulu. Panggil Mas lagi jangan Bapak. Mas tidak mau hubungan kita jadi memburuk. Walau kamu sudah menolak cinta Mas, tapi setidaknya kita masih bisa berteman kan? Mas akan belajar memperlakukan kamu sama seperti Reni dan Ela. Kamu adalah adik dari sahabat Mas. Bukan sebagai sekretaris atau karyawan Mas. Kita mulai hubungan kita dari awal ya.. Sekarang kita berteman" sambung Aril.


Nyeeees....


Dada Bela kembali perih... rasanya jantungnya seperti tertusuk sesuatu yang tajam dan menyisakan rasa sakit.


Aril menjulurkan tangannya ke arah Bela. Dengan ragu - ragu Bela menyambut uluran tangan Aril. Kini mereka saling berjabat tangan.


"Aaah lega rasanya aku, ya sudah Bel kamu lanjut kerja lagi. Aku cuma mau bilang itu saja" ujar Aril ceria.


"Iya Paak.. eh Mas" jawab Bela.


Bela hendak berdiri dan keluar dari tempat duduknya.


"Eh Bel.. gimana pendapat kamu tentang Sintia?" tanya Aril


Duaaaar... jantung Bela rasanya mau meledak mendengar pertanyaan Aril.


"Mbak Sintia Mas?" tanya Bela.


"Iya" jawab Aril pura - pura bodoh.


"M.. Mbak Sintia baik, cantik dan dewasa" jawab Bela.


"Makasih atas jawaban kamu" sambut Aril sambil tersenyum.


"Aku boleh kembali ke mejaku Mas?" tanya Bela.


"Boleh, silahkan... " jawab Aril.


Diam - diam Aril melirik ke arah Bela yang sedang berjalan keluar ruang kerjanya. Aril tersenyum menang.


Ternyata benar apa yang Sintia katakan. Kamu harus diperlakukan seperti itu baru bisa tersentuh. Apa kamu sudah merasa keberadaanku berarti Bel? Setidaknya kamu sudah mulai merasa kehilangan aku, semoga rasa itu terus berkembang sehingga kamu takut aku jauh darimu. Batin Aril.


Bela kembali duduk di meja kerjanya dengan wajah cemberut campur sedih.


Mengapa kamu tega sekali Mas? Bela meraba dadanya yang terasa semakin sesak menahan emosi.


*****


Sore harinya Aril pulang kerja.


"Ya Sin, oke kita ketemu di tempat itu ya.. oke.. oke.. aku udah jalan. Kamu tunggu di situ sebentar ya.. aku akan segera sampai" ucap Aril sambil berjalan melewati meja kerja Bela.


Bela mendengar pembicaraan Aril.


Sepertinya Mas Aril memang sedang pendekatan dengan Mbak Sintia. Lagi - lagi bukan hanya ketemuan, pergi bareng, sekarang malah rutin teleponan. Batin Bela.


Bela melirik Aril yang berjalan tanpa menghiraukan keberadaannya di depan meja kerjanya. Wajah Bela tampak sedih.


Tiba - tiba Aril mundur dan berhenti di depan meja Bela.


"Bel" panggil Aril.


Bela terkejut dan terdiam terpaku. Dia tidak menyangka Aril akan kembali menghampiri mejanya.


"Ya Mas" jawab Bela.


"Aku pulang ya, kamu sudah bisa siap - siap pulang. Oh iya kamu pulang sama siapa?" tanya Aril.


"Aa.. aku pulang naik taxi aja Mas" jawab Bela.


"Ya sudah hati - hati. Sampai ketemu besok. Assalamu'alaikum" ujar Aril.


"Iya Mas. Wa'alaikumsalam" balas Bela.


"Ya Allah kok sakit banget ya rasanya" gumam Bela pelan sambil menghapus air matanya.


Bela merapikan meja kerjanya kemudian dia mematikan layar ponsel dan mengambil tasnya. Setelah itu Bela berjalan turun ke lantai dasar. Di luar kantor sudah menunggu taxi yang akan membawa Bela pulang.


Bela naik ke dalam taxi dan berlalu dari area kantor. Taxi mulai berjalan, tanpa disadari di belakang ada sebuah mobil yang mengikuti taxi tersebut.


"Maaf Bel, aku harus berbohong di hadapan kamu. Aku harap semua yang aku lakukan pada kamu bisa membuat kamu menyadari dan membalas perasaanku. Aku tidak akan bisa berpaling pada wanita lain karena hanya kamu satu - satunya wanita yang aku cintai. Aku harus memastikan kamu pulang dengan selamat sampai ke rumah" ucap Aril di dalam mobilnya.


Ya.. Aril mengikuti taxi yang membawa Bela pulang menuju rumahnya. Dia harus memastikan Bela sampai ke rumah dengan selamat. Agar hatinya bisa tenang.


*********


Seminggu kemudian di rumah keluarga Dharmawan.


"Maaf Mas kedatangan kami ke rumah Mas yang berbahagia ini adalah untuk menyambung silaturahmi antara dua keluarga yang sebelumnya tidak saling berhubungan dan tidak saling kenal. Tapi Allah bermaksud lain melalui perantara anak - anak kita, akhirnya kita bisa saling berkenalan dan kami harap hubungan ini bisa lebih berkembang. Mudah - mudah kita bisa menjadi keluarga " ungkap Papa Riko.


"Kami sangat senang sekali menyambut kedatangan keluarga Mas Ekaputra dan juga dengan tangan terbuka menerima niat baik dari keluarga Mas. Kami juga sangat senang jika kelak kita bisa menjadi keluarga" sambut Pak Dharmawan, Papanya Dini.


"Riko sudah berbicara terbuka kepada saya dan istri tentang keinginannya untuk melamar putri Mas Dharmawan yaitu Dini. Kami juga sudah berkenalan langsung dengan Dini dan tidak keberatan bahkan sangat mendukung jika anak kami Riko melanjutkan hubungan yang lebih serius dengan Dini" lanjut Pak Ekaputra.


"Kami juga menyetujui niat baik mereka. Riko juga sudah melamar Dini dan kami juga tidak keberatan akan hal itu" balas Pak Dharmawan.


"Jadi kapan kita akan menentukan hari untuk kunjungan keluarga yang lebih serius lagi. Kami akan datang bersama keluarga besar kami untuk melamar Dini secara resmi sekalian nanti kita akan menentukan tanggal pernikahan mereka?" tanya Papa Riko.


Riko dan Dini saling lirik dan tersenyum bahagia. Akhirnya perjuangan cinta mereka sebentar lagi akan berakhir dengan indah.


"Terserah Mas Ekaputra. Pintu rumah kamu sealu terbuka lebar untuk menyambut kedatangan keluarga besar Mas" jawab Pak Dharmawan.


"Baiklah. Kalau begitu dua minggu sejak hari ini kami akan datang kembali bersama kelurga besar kami untuk melamar Dini" ujar Papa Riko.


"Kami akan menyambut kedatangan keluarga Mas dengan senang hati" sambut Papa Dini.


"Ayo Pa ajak keluarga Nak Riko makan dulu" ajak Mama Dini.


"Mari Mas kita makan dulu" ajak Papa Dini kepada keluarga Riko.


Dua keluarga kini sudah mulai menyatu dengan tujuan yang sama yaitu kebahagiaan kedua putra putri mereka yang sebentar lagi akan menjalani kehidupan berumah tangga.


Proses demi proses akan segera dihadapi menjelang hari bahagia mereka.


"Siapa yang masak ini Mbak?" tanya Mama Riko.


"Saya dan Dini" jawab Mama Dini.


"Waaah Dini pinter juga bantuin Mbak di dapur?" tanya Mama Riko.


"Alhamdulillah walau anak bungsu tapi Dini tidak manja orangnya. Jarak usai dia dengan Anita jauh. Jadi dulu waktu Anita kuliah dan kemudian menikah, Dini yang selalu membantu saya di dapur" jawab Mama Dini.


"Waaah saya sudah gak sabar punya anak perempuan di rumah. Nanti kalau Dini menikah dengan Riko saya akan sangat senang sekali punya teman di rumah. Selama ini saya kesepian, dua lelaki ini bisanya hanya main berdua saja" ungkap Mama Riko.


Mama Dini dan Mama Riko saling melempar senyum dan ngobrol dengan akrab. Kini dua keluarga sudah mulai membaur dengan baik.


.


.


BERSAMBUNG


Hai readers.... Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.


Maaf saya sibuk dengan kehidupan nyata saya sebagai seorang wanita, istri, ibu dan anak. Menjelang ramadhan banyak banget kegiatan sehingga update novel terbengkalai.


Saya harap para pembaca tidak kecewa dan selalu setia membaca semua novel saya. Terimakasih.