
Rihana duduk didalam pangkuan Dini. Mereka sedang dalam perjalanan menuju apartemen Riko.
"Sayang siapa nama kamu?" tanya Dini lembut.
"Linana Ante" jawab Rihana bijak dengan ocehan anak - anak.
"Rihanaaaa.. bagus banget nama kamu sayang" puji Dini.
"Iya donk, Mama yang kasih" jawab Rihana lucu.
Anak dengan kulit putih mulus dan pipi gembul yang merah merona membuat Dini gemas dan ingin mencubitnya.
Riko memperhatikan sikap Dini dan Rihana. Mereka terlihat langsung akrab dan dekat. Seperti sudah lama kenal, langsung nyambung. Rihana tidak terlihat malu apa lagi takut. Dia terlihat sangat nyaman berada di dalam pangkuan Dini.
"Kamu sudah makan?" tanya Dini.
Rihana menggelengkan kepalanya.
"Beyum" jawab Rihana.
Dini melirik Riko yang lagi serius menyetir.
"Lapar gak?" tanya Dini.
Rihana menganggukkan kepalanya membiar rambutnya yang di ikat dua kanan dan kiri seperti pohon kelapa jadi bergoyang - goyang.
Dini tersenyum gemas melihat tingkah Rihana.
"Kalau begitu kita makan yuk" ajak Dini.
Wajah Rihana lansung cerah dan tersenyum lebar.
"Ayo.. ayo... aku mau mamaaaam" teriak Rihana.
Tawa Dini pecah dan membuat Riko tanpa sadar tersenyum melihat tawa manis Dini.
Ya Allah sayang lihatlah kamu sudah terlihat sangat bahagia, padahal status anak itu belum jelas siapa? Dan kalau memang anak itu terbukti anakku, tidak kah kamu sakit hati dan membenci anak itu? tanya Riko dalam hati.
"Kamu mau makan dimana?" tanya Dini.
"KF*" jawab Rihana cepat dengan suara yang sangat kuat.
"Mau makan ayam goreng?" tanya Dini.
"Mau.. mau.. entang oyeng dan es kyim ya Ante" sambut Rihana senang.
"Boleeeh" jawab Dini senang.
"Hoyee.. Ante baik. Tapi Omnya kok jaat si?" tanya Rihana sambil berbisik ke telinga Dini.
Riko melirik tingkah gadis kecil itu.
Apa yang sedang dia bisikkan pada istriku? tanya Riko dalam hati.
"Oooh.. Omnya lagi sakit gigi sayang makanya gak bisa buka mulut" jawab Dini.
"Beyayti dak bisa mamam ya?" tanya Rihana polos.
"Hahaha.. kamu pintar rupanya ya" puji Dini sambil mencubit lembut hidung Rihana.
"Kalau makan Om tetap bisa sayang tapi pelan - pelan" jawab Dini sambil melirik ke arah Riko.
Riko menatap Dini dengan tatapan terkejut dan kesal. Tapi Dini membalasnya dengan senyuman.
"Gitu ya.. kayau atit gigi hayus mamam peyan - peyan" oceh gadis kecil itu.
"Iya sayang.. ih gemes deh lihat kamu" Dibi mencubit gemas pipi gembul Rihana.
Dini melirik ke arah Riko.
"Mas mampir ke KF* ya, Rihana mau makan ayam goreng, kenyang goreng dan es krim katanya" pinta Dini.
"Banyak amat makannya, masih kecil makannya sebanyak itu pantas saja badan kamu gembul" ucap Riko kesal.
"Tuh kan Tante... omnya seyaam, linana atut" bisik Rihana lagi kepada Dini.
"Maaaas... " Dini mencubit lengan kiri Riko.
"Oke.. Oke.. kita mampir di KFC. Makan tuh sampai puas, jangan sampai kelaparan di rumah" ancam Riko kesal.
"Maaas jangan gitu ngomong nya, Rihana masih kecil. Jangan lampiaskan amarah kamu padanya. Dia tidak tau apa - apa Mas. Dia hanya korban di sini" ucap Dini mengingatkan.
Astaghfirullah... aku sudah salah ya Allah.. Ucap Riko dalam hati.
"Baiklah sayang aku akan mencoba memperbaiki diri" jawab Riko.
Mereka duduk bertiga seperti keluarga yang lengkap. Ada Ibu, Bapak dan anak. Dini dengan penuh kesabaran membantu Rihana makan.
"Wah hebat banget kamu sayang, makan banyak" puji Dini.
"Iya donk Ante, kata Mama aku hayus mamam banyak biay sehat" jawab Rihana.
Riko hanya diam dan terus memperhatikan interaksi Dini dan Rihana. Setelah Rihana selesai makan baru Dini menyantap makanannya.
"Om aku mau es kyimnya donk" pinta Rihana.
Karena melihat Dini sedang makan, Riko tak tega mengganggunya. Akhirnya Riko menyuapi Rihana es krim. Dengan telaten Riko memberikan suapan demi suapan es krim memakai sendok kecil khusus untuk ea krim.
Dini tersenyum melirik aktivitas Riko saat ini.
"Ehmm... udah pantes banget Mas" ujar Dini.
Riko langsung diam dan memberikan es krim nya kepada Rihana.
"Sekarang kamu suap sendiri ya.. bisa kan?" tanya Riko.
Wajah Rihana seketika takut dan menganggukkan kepalanya patuh.
"Mas jangan begitu Rihana takut tauuuk" ucap Dini.
Tentu saja Rihana tidak bisa makan es krim dengan baik karena usianya yang masih sangat kecil. Dini segera mempercepat makannya kemudian membantu Rihana memakan es krim.
Setelah selesai memakan semua pesanan mereka, Riko dan lainnya segera melanjutkan perjalanan menuju apartemen nya.
Sesampainya di apartemen Riko.
"Waaaah antik ante" ucap Rihana saat melihat foto pernikahan Riko dan Dini.
"Tante cantik?" tanya Dini lembut.
Rihana menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih sayang" ucap Dini sambil mengecup pipi Rihana.
"Kamu sudah mandi kan?" tanya Dini.
"Udah" jawab Rihana.
"Kalau begitu kamu ganti baju dulu ya baru setelah itu kamu nonton TV aja dulu. Tante mau mandi dulu. Yuk kita ke kamar" ajak Dini.
"Ayuuuuk" sahur Rihana denga ceria.
Dini melirik Riko.
"Mas mau mandi juga?" tanya Dini.
"Kamu aja duluan. Mas mau santai dulu di sini" jawab Riko sambil duduk di ruang TV apartemen nya.
Dini membawa Rihana ke kamar mereka kemudian mengganti baju Rihana dengan baju tidur. Setelah itu Dini masuk ke kamar mandi dan membersihkan tuhuhnya.
Rihana duduk patuh di atas tempat tidur sambil menonton kartun. Riko masuk ke kamar dan memperhatikan gerak gerik Rihana.
Apa iya anak ini mirip denganku? Tanya Riko dalam hati.
Riko duduk tepat disamping Rihana. Rihana yang dari tadi tertawa lucu karena tontonannya seketika terdiam dan tegang. Dia merasa tidak nyaman karena hanya tinggal berdua dengan Riko tidak ada Dini diantara mereka yang selalu membelanya.
"Kamu tidak perlu takut. Om tidak akan marah kepada kamu. Asalkan kamu baik budi selama di rumah Om. Kamu mau kan?" tanya Riko.
Dengan patuh Rihana menganggukkan kepalanya.
"Mau Om" jawab Rihana cepat.
Sebelum masuk ke kamar tadi Riko sudah mempertimbangkan semuanya. Dia berusaha berdamai dengan keadaan. Benar kata Dini, gadis kecil ini tidak punya salah apapun. Dia hanyalah korban keegoisan orang dewasa yang terlalu mementingkan nafs*nya dari pada akal dan pikirannya.
Dini saja yang harusnya paling dirugikan disini bisa menerima gadis kecil ini dengan baik. Masak dia tidak, apalagi kalau nanti memang terbukti gadis kecil ini putrinya.
Seandainya Gadis kecil ini memang putri kandungnya dia memang harus menyayangi dan mengasuh anak ini dengan baik. Tidak mungkin dia menyiksa darah dagingnya sendiri.
Mungkin kedua orang tuanya akan senang mendapat kabar kalau mereka sudah mempunyai cucu, apalagi melihat wajah Rihana yang lucu, cantik dan gembul. Tapi bagaimana dengan keluarga Dini?
Ya Allah kuatkan aku dalam menjalani semua ini. Aku terima semua yang KAU gariskan untukku karena ini semua memang karena kesalahanku di masa lalu. Doa Riko dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG