
Di mobil saat Romi dan Ela jalan pulang ke rumah.
"Yank kamu dengarkan tadi ucapan Dokter" ucap Romi.
"Yang mana? Tentang Cantika?" tebak Ela langsung.
"Yank pleaseee... kamu jangan cemburu lagi ya" ujar Romi memohon.
"Ngapain aku cemburu sama orang yang sudah meninggal Mas" jawab Ela sambil tersenyum.
Romi menarik nafas lega.
"Syukurlah, aku kira kamu marah lagi padaku" ungkap Romi.
"Mas... Mas. aku kan sudah tau semua masa lalu kamu. Aku hanya tidak ingin kamu menyembunyikan sesuatu. Jujur aja padaku insyaallah aku akan menerimanya. Sebelum menikah dengan kamu kan aku sudah tau kalau kamu itu memang player" sambung Ela.
"Bagus deh kalau kamu gak cemburu. Kalau begitu kembali ke perkataan Shelly tadi ya" ucap Romi balik.
"Yang mana?" tanya Ela bingung.
"Itu lho tentang aku mmm.. gak harus puasa" jawab Romi.
"Ooh itu" sambut Ela.
"Haaa... cuma itu ucapan kamu?" tanya Romi tak percaya. Dia menganggap hal itu tidak menjadi masalah bagi Ela. Sedangkan dia dua minggu ini sudah sengsara sekali.
"Jadi aku harus berkata apa Maaaaas?" tanya Ela semakin bingung.
"Kamu mau kan?" tanya Romi.
"Mau apa, puasa? Bukannya kita sudah puasa selama dua minggu ini?" tanya Ela.
Romi menggaruk kepalanya yang tak gatal karena salah tingkah. Istrinya tidak mengerti apa yang saat ini sedang dia pikirkan.
"Bukan sayaaang.. aku malah mau ajak kamu berbuka nanti malam" jawab Romi.
"Oooo aku kira mau puasa lagi. Ya sudah kalau begitu, asal Mas Romi janji main lembut" tuntut Ela.
Romi langsung bersemangat.
"Aku janji yank, aku akan melakukannya dengan sangat lembut sekali" tegas Romi.
"Hahaha Maaaas... Maaaas... itu toh yang kamu pikirkan dari tadi" tawa Ela pecah.
Dia baru mengerti kalau suaminya itu emang udah omesh selama dua minggu ini. Bahkan kalau Ela mau dekat - dekat aja Romi langsung menjauh karena pikirannya tidak sejalan dengan hatinya.
Pikirannya di ranjang tapi hatinya tetap memikirkan keadaan Ela dan calon anak mereka di dalam perut.
"Yaaah yaaank aku kan sudah puasa selama setahun lebih dan baru berbuka sebulan, masak harus puasa dalam waktu lama lagi. Kamu kan gak hamil anak kembar seperti Bela dan aku yakin fisik kamu lebih kuat dari Bela. Kamu kan pahlawan di hatiku" puji Romi.
Tangan Romi mulai beraksi, dia menggapai tangan Ela dan menggenggamnya erat menarik tangan itu ke sisinya lalu menciumnya.
"Ada maunya, modus gombalannya" ledek Ela.
"Ya aku kan mau buat kamu rileks sejak dini, biar nanti saat kita olahraga gak perlu banyak - banyak pemanasan. Takut anakku di dalam kontraksi" ungkap Romi.
Ela tersenyum melihat tingkah mesum suaminya.
"Mas kita cari makan dulu yuk, aku udah lapar banget" pinta Ela.
"Siaaap sayang" sambut Romi cepat.
Romi memperhatikan jalanan dengan serius sesekali melirik ke pinggir jalan.
"Mau makan dimana?" tanya Romi.
"Aku kangen makanan kaki lima" jawab Ela.
"Kamu yakin mau makan di pinggir jalan sayang?" tanya Romi.
"Yakin, itu sering aku lakukan dulu Mas di Surabaya. Dan aku tidak akan lupa dari mana asalku. Aku selalu bersyukur Allah beri kehidupan yang lebih baik lagi saat ini tapi aku tidak boleh sombong. Terkadang aku kangen Mas mengenang masa lalu. Mau ya.. aku mau makan pecel lele" pinta Ela.
"Terimakasih Mas" jawab Ela gembira.
Romi menepikan mobilnya di dekat penjual pecel lele kaki lima. Di sana memang tampak ramai pengunjungnya. Ela dan Romi turun dari mobil dan masuk ke dalam warung.
Kemudian Ela memesan makanan yang dia inginkan begitu juga untuk Romi. Tak lama kemudian mereka masak dengan lahap hingga hidangan mereka habis.
Setelah aelet makan baru Ela dan Romi melanjutkan perjalanan mereka. Tidak memakan waktu lama mereka sudah sampai di rumah orang tua Romi.
Papa dan Mama Romo sudah tidak sabar menunggu kedatangan mereka. Kedua orang tua itu sudah menunggu di ruang keluarga.
"Gimana El?" tanya Bu Hidayat.
"Ini Ma hasil pemeriksaannya" Ela menunjukkan hasil USG nya tadi kepada mertuanya.
"Alhamdulillah sudah kelihatan Pa. Cucuku kita sebentar lagi akan lahir ke dunia ini" sambut Mama Romi dengan gembira.
Romi merangkul bahu Ela dengan mesra.
"Kamu makan yang banyak ya dan harus makanan yang sehat. Mama akan menyiapkan semua kebutuhan kamu. Agar cucu Mama lahir jadi anak yang pintar, sejak dalam kandungan harus diperhatikan gizinya. Ingat jangan pulang telat lagi dari kantor. Romi kamu harus antar jemput Ela setiap hari. Mama gak mau dia mengendarai mobil sendiri lagi. Kalau kamu tidak bisa Ela bisa diantar supir" perintah Mama Romi.
"Iya Mamaaaaa" jawab Romi patuh.
"Dan yang terpenting kamu jangan ganggu Ela dulu untuk sementara di malam hari. Mama tau apa yang ada di kepala kamu saat ini. Kamu harus puasa sentuh - sentuh Ela. Mama gak mau Ela merasakan kontraksi atau kram perut karena ulah kamu" pesan Mama Romi.
Sontak Romi terkejut mendengar pesan Mamanya.
"Ma dokter tidak melarang lho asalkan aku melakukannya pelan - pelan" protes Romi.
"Tidak boleh... Dokter kan tidak tau kamu itu seperti apa. Mama tau gimana sifat anak Mama. Kalau tidak dilarang kamu akan mengajak Ela olahraga di ranjang setiap malam. Mama tidak mau terjadi sesuatu pada Ela dan calon cucu Mama. Mama yang melarang kamu melakukannya. Kamu harus puasa" tegas Mama Romi.
"Ma dokternya kenal kok padaku dan dia juga tau bagaimana sifat aku" sambut Romi.
"Oh ya, siapa Dokter nya? Salah satu wanita dari masa lalu kamu? Kok bisa - bisanya El kamu mau di bawa Romi periksa kandungan ke salah satu wanita masa lalunya?" tanya Mama Romi kesal.
"Tidak Ma, Dokter Shelly bukan salah satu wanita dari masa lalu Mas Romi tapi teman dari temannya Mas Romi dulu" bela Ela.
"Nah sama saja, nanti dokter itu akan mulai mendekatkan Romi kembali pada wanita masa lalunya" sambut Mama Romi.
"Wanita masa lalu Mas Romi sudah meninggal Ma karena sakit jadi gak mungkin Mas Romi kembali dekat dengan wanita itu" ungkap Ela.
Seketika Mama Romi terdiam, tapi setelah itu dia kembali bersuara.
"Pokoknya Mama gak mau ambil resiko. Mama tidak mau gagal menjadi seorang Nenek. Kamu mau ikuti perintah Mama atau Mama akan pisahkan kamar kalian selama beberapa bulan ini. Ayo pilih mana?" tanya Mama Romi.
"Pa.. " Romi meminta pembelaan Papanya.
"Apa yang dikatakan Mama kamu benar Rom. Kamu harus puasa dulu sementara waktu. Kalau Papa sih memandang makna puasa kamu untuk melatih kesabaran kamu. Sebentar lagi kamu akan jadi orang tua. Kesabaran kamu harus dilatih sejak dini" sambut Papa Romi.
"Ya Tuhaaaan... " ucap Romi frustasi.
"Cepat katakan apa pilihan kamu?" desa Mama Romi.
Dengan berat hati akhirnya Romi memilih pilihan yang sangat berat.
"Iya deh Ma, aku akan puasa dari pada pisah kamar dari istriku. Mana bisa aku tidur tanpa memeluknya" jawab Romi.
"Naaah gitu donk.. El kamu laporin Mama ya kalau Romi bujuk - bujuk kamu untuk anu - anuan" ujar Mama Romi.
Ela tersenyum menatap wajah mertuanya lalu melirik suaminya.
"Iya Ma" jawab Ela.
Mati aku.. sabar ya Ron... kamu harus puasa lagi. Apes deeeh... tangis Romi dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG