Playboy Insaf

Playboy Insaf
Tujuhpuluh Tiga



Rapat tahunan baru saja selesai, satu persatu anggota rapat sudah mulai bubar. Begitu juga dengan Bu Monic, Mery dan Ela. Saat mereka hendak keluar tiba - tiba Romi memanggil.


"Cishela tolong ke rumahan saya dan bawa semua laporan tahunan yang kamu susun itu" perintah Romi.


Ela yang masih melamun membayangkan wajah kedua orang tuanya yang akan kesenangan ketika dia kirimin uang bonus miliknya tiba - tiba tersentak karena tangannya disenggol Mery.


"El, kamu di panggil Pak Bos tuh" bisik Mery.


"Eh.. ba.. baik Pak" jawab Ela segera sambil menundukkan wajahnya sambil memberi hormat.


Ela berbisik kepada Mery.


"Tadi si Bos bilang apa?" tanya Ela dengan suara pelan.


"Kamu disuruh keruangannya membawa semua laporan yang kamu susun itu" jawab Mery.


"A.. aku?" tanya Ela tak percaya.


"Iya kamu, siapa lagi" balas Mery


"Kalau begitu saya ke ruangan Bos dulu ga Bu" pamit Ela kepada Bu Monic.


"Iya, hati - hati kamu El kalau diminta untuk menjelaskan kembali isi laporan kamu. Bos bisa saja melakukan itu untuk mengorek laporan lebih dalam lagi" ujar Bu Monic.


"Ba.. Baik Bu" jawab Ela patuh.


Ela menunggu pintu lift, tak lama Romi keluar dari ruang meeting bersama asistennya. Sekretaris Romi berjalan di belakangan mereka.


Akhirnya Ela, Romi dan yang lainnya satu lift naik ke lantai paling atas tempat ruangan CEO.


"Kamu tunggu apa, ayo naik bareng" ajak Romi.


"Ba.. baik Pak" Ela menunduk hormat dan masuk ke dalam lift.


Silva sekretaris Romi merasa tidak suka dengan kehadiran Ela bersama mereka.


"Boy proyek dengan PT. ABC coba kamu cek lagi isi kerjasamanya. Minta sama Silva data - datanya" perintah Romi.


"Baik Pak" jawab Boy asisten pribadi Romi.


Ting...


Mereka sudah sampai di lantai paling atas. Romi dan yang lainnya keluar dari lift bersama. Boy dan Silva langsung sibuk mencari data yang disuruh Romi tadi.


"Ayo masuk ke ruangan saya" ajak Romi.


"Baik Pak" jawab Ela dengan santun.


Ela berjalan di belakang Romi dan masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Silahkan duduk" perintah Romi.


Romi duduk di belakang meja kerjanya sedangkan Ela duduk di seberang meja menunggu perintah dari Romi. Romi masih sibuk membereskan berkas - berkas hasil dari laporan rapat tadi.


Dia membuka laporan keuangan yang di susun Ela dan membacanya ulang.


Benar kata Bu Monic, apakah Pak Romi ingin membahas lagi laporan keuangan yang sudah aku susun? Dasar gak rela amat kalau aku naik gaji. Apa dia mau menarik kata - katanya? tanya Ela dalam hati.


"Minggu depan saya ada pertemuan dengan client saya di Surabaya. Saya butuh satu karyawan dari Departemen Keuangan untuk menghitung segala sesuatu dana yang dibutuhkan untuk pembangunan proyek. Jadi saya mengajak kamu karena proyek tersebut. Kamu kan orang Surabaya jadi bisa tugas sekalian jenguk orang tua kan?" tanya Romi.


"Benarkah Pak, serius?" tnya Ela tak percaya.


"Benar tapi kita hanya dua hari saja di sana, gimana kamu mau ikut?" Romi memberikan penawaran.


"Mau Pak, saya mau ikut" jawab Ela segera.


"Kalau begitu kamu siapkan kerjaan kamu sehingga saat kita di Surabaya tugas kamu gak numpuk. Nanti saya akan hubungi Pak Agus bagian HRD biar dia buat surat tugas kamu. Saya juga sudah minta izin sama Bu Monic untuk bawa kamu dan dia sudah acc" ungkap Romi.


"Iya Pak, saya akan siapkan semua tugas saya" balas Ela.


"Ya sudah kalai begitu kamu bisa kembali ke ruangan kamu. Eh tapi sudah waktu makan siang nih" Romi melirik ke arah jam tangannya.


"Ah Iya Pak" sambut Ela.


"Kamu mau makan siang?" tanya Romi.


"Iya Pak" jawab Ela.


"Makan dimana?" tanya Romi.


"Di kantin Pak" jawab Ela.


"Makan bareng aku saja hari ini aku tidak punya teman makan. Kita makan di luar" ajak Romi.


"Maaf Pak bukannya saya tidak tau diri menolak ajakan Bapak. Tapi saya memang sangat tidak enak untuk menerimanya Pak. Saya tidak mau semua pegawai di gedung ini mengira kalau saya ada maksud - maksud tertentu untuk mendekati Bapak. Lebih baik saya makan di kantin kantor aja Pak lantai satu dan bergabung bersama teman - teman saya " tolak Ela.


"Jadi kamu menolak ajakan saya?" tanya Romi lagi.


"Maaf Pak, saya benar - benar minta maaf" jawab Ela segera.


"Jadi kamu tetap mau makan di kantin?" tanya Romi.


"Iya Pak" jawab Ela sungkan.


"Ya sudah kalau begitu kita makan di kantin aja" balas Romi.


"Lho bukannya Bapak biasa makan di luar?" tanya Ela bingung.


"Ya sesekali bisa donk makan di kantin sekalian mau lihat kesejahteraan karyawan. Apakah nutrisi dan gizi mereka terpenuhi di kantin perusahaan saya" jawab Romi mencari alasan.


"Ta.. tapi lebih bahaya Pak kalau saya yang temani Bapak makan, gak nyambung gitu" elak Ela.


"Gak nyambung gimana?" tanya Romi.


"Ya saya kan anak Departemen Keuangan Pak, kalau saya makan siang bareng Bapak di Kantin apa kata karyawan yang lain? Saya kan bukan sekretaris Bapak" jawab Ela.


"Emangnya yang temani saya makan di kantor ini harus sekretaris? Ada peraturannya gitu?" tanya Romi.


"Ya gak ada sih Pak, ta.. piiii... " Ela berusaha keras menolak.


"Sudaaah.. yuk kita ke bawah" ajak Romi.


Romi berjalan menuju pintu keluar.


"Tapi Paaaaak... " Ela berusaha mencegah tiba - tiba Ela kesandung kakinya sendiri dan jatuh ke depan.


Untung saja Romi sigap dan langsung menangkap Ela. Di saat yang bersamaan Silva sekretaris Romi masuk dan melihat kalau Romi sedang memeluk Ela.


"Ehm... ehm... " sindir Silva


"Eh maaf Pak saya tidak sengaja tadi hampir jatuh" ucap Ela dan berdiri dengan normal.


Semua terjadi begitu cepat, jantung Ela rasanya berdetak kencang. Mungkin karena dia masih terkejut tadi hampir jatuh mencium lantai.


"Bapak makan siang dimana? Mau saya pesankan?" tanya Silva dengan genit dan penuh perhatian.


Sambil melirik tajam ke arah Ela seolah - oleh memberi isyarat, jangan ganggu target gue..


"Saya mau makan siang di kantin saja bareng Ela" jawab Romi.


"Ah sekalian aja Pak ajak Mbak Silva. Makin rame kan makin seru" sambut Ela.


Sial... aku pengennya makan bareng kamu aja El, ngapain juga ajak Silva. Tapi gak mungkin tolak dia secara terang - terangan. Nanti ketahuan banget kalau aku punya perhatian khusus kepada kamu. Batin Romi.


"Ya sudah yuk Sil, makan bareng kami di kantin" ajak Romi.


"Baik Pak" jawab Silva sigap.


Romi berbalik badan dan keluar dari ruangannya disusul Silva dan Ela di belakangnya. Saat hendak berjalan menyusul Romi, Silva melirik tajam ke arah Ela.


Tatapannya sangat tajam dan menunjukkan kebencian kepada Ela. Ela berusaha cuek dan tidak menanggapi sikap Silva kepadanya. Toh dia dan Romi memang tidak ada hubungan apapun.


Dan apa yang tadi Silva lihat di ruangan Romi itu adalah ketidaksengajaan. Karena Ela hampir terjatuh makanya Romi menangkapnya.


.


.


BERSAMBUNG