Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Limapuluh Satu



Pagi di Surabaya...


Bela sudah mandi mandi hendak pergi berbelanja bersama Ibunya.


"Nduk kamu sudah siap?" tanya Mama Bela.


"Sudah Buk" jawab Bela.


Bela sudah berpakaian lengkap dengan jilbabnya.


"Yuk kita berangkat" ajak Bu Akarsana.


Bela mengeluarkan sepeda motornya, Ibunya naik dan duduk di belakangnya. Ini adalah pekerjaan yang rutin Bela kerjakan dulu setiap minggunya. Menemani Ibunya berbelanja ke pasar tradisional setiap hari minggu. Tapi karena Bela baru sampai kemarin akhirnya Bela dan Ibunya berbelanja hari ini.


Seperti biasa hari senin, jalanan padat karena ramai dengan orang - orang yang ingin berangkat kerja dan anak - anak yang akan pergi sekolah.


Bela mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang cenderung pelan. Karena disamping ramai dan macet, Bela juga sudah lama gak mengendarai sepeda motor.


Untung saja jarak pasar tak jauh dari rumah mereka. Sekitar tiga puluh menit mereka sudah sampai di pasar tradisional. Bela memarkirkan sepeda motornya dan menguncinya dengan baik. Kemudian dia berjalan menyusul Ibunya mulai masuk kedalam pasar.


"Kamu mau dimasakin apa?" tanya Bu Akarsana.


Inilah yang paling dia rindukan saat pulang kampung. Ibunya pasti akan memasak makanan yang dia inginkan. Bahkan dari jauh - jauh hari Bela sudah buat daftar makanan yang akan dimasaj Ibunya karena dia ingin memakannya.


"Mmm.. sayur asem Bu, sama ikan sambel.. mmmm pasti enak banget. Air liurku rasanya sudah mau keluar" jawab Bela.


"Dasar kamu" sambut Bu Akarsana sambil memukul lembut bahu Bela.


Bu Akarsana mulai memilih bahan - bahan masakan untuk sayur asem yang diinginkan Bela.


"Kamu ingat bahannya apa - apa saja. Nanti kalau kamu menikah, kamu kan harus masak untuk keluarga kamu. Ela saja sudah mau dilamar, kamu kapan lagi Bel" oceh Bu Akarsana.


"Belum laku Bu" jawab Bela.


"Kamunya aja yang banyak pilih, pilih sana pilih sini nanti dapatnya malah tong kosong" ujar Ibunya.


"Namanya untuk masa depan Bu, aku kan ingin mencari yang terbaik dan seseorang yang memang benar - benar aku inginkan" sambut.


"Kalau wanita itu cari yang nyaman hidup aja Bel. Jangan kita sebagai wanita yang sibuk mengejar pasti nanti akan lelah. Pria itu berbeda dengan wanita. Kalau wanita dapat perhatian terus menerus lama - lama akan jatuh cinta. Tapi kalau pria, jika perasaannya mengatakan tidak, sangat sulit untuk suka. Jadi dengar pesan Ibu. Carilah pria yang tepat, yang bisa memperlakukan kamu seperti sebuah perhiasan di dalam rumahnya. Kamu pasti akan dijaga dan dirawat dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Segala kebutuhan kamu akan dipenuhi. Dia juga akan sangat hati - hati menjaga kamu, memperhatikan kamu dan membahagiakan kamu. Lebih baik cari pria yang sangat mencintai kita dari pada kita yang mengejar cintanya" nasehat Bu Akarsana.


Bela terdiam dan tiba - tiba ingatannya kembali teringat kepada Aril. Dulu Aril sangat menghargainya, sangat sabar dan perhatian padanya. Aril sangat menjaganya dan sangat pintar membuat suasana nyaman dan hangat.


"Bu, ada kata terlambat gak untuk sebuah cinta?" tanya Bela.


"Tidak... kalau kamu suka pada seseorang katakan saja dari pada di pendam. Jangan kamu simpan dalam hati. Dulu Siti Khadijah juga seperti itu kepada Rasulullah. Melalui perantara dia melamar Rasulullah dan alhamdulillah disambut baik sama Nabi Muhammad. Setidaknya kamu sudah berjuang untuk hati kamu biar gak penasaran, setelah itu diterima atau tidak itu ya tergantung jodoh Bel. Kalau dia memang jodoh kamu, Allah pasti akan beri jalan" sambung Bu Akarsana.


"Tapi aku sudah melewatkan satu kesempatan Bu" ungkap Bela.


"Sekarang emangnya dia gimana?" tanya Bu Akarsana.


"Dia sudah berubah, tidak seperti dulu. Bahkan yang aku dengar dia sedang dekat dengan gadis lain yang jauh lebih baik segalanya dibanding aku Bu" jawab Bela.


Bu Akarsana menatap putri semata wayangnya. Dia melihat aura sendu dari putrinya.


"Apa yang kamu maksud itu Nak Aril?" tanya Bu Akarsana.


Bela menganggukkan kepala.


"Kok Ibu tau?" tanya Bela penasaran.


"Ibu kan dengar dulu dia sempat lamar kamu, tapi kamu tolak. Lagian siapa lagi pria yang dekat dengan kamu selain Nak Aril" jawab Bu Akarsana.


"Emangnya Nak Aril sudah punya calon yang baru?" tanya Bu Akarsana.


Bela menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca - kaca.


"Terus gimana sikapnya kepada kamu?" tanya Bu Akarsana.


"Masih tetap baik Bu, tapi tidak seramah dulu" jawab Belabb .


"Sekarang gimana perasaan kamu kepadanya?" tanya Bu Akarsana.


"Sepi Bu, sku kehilangan dia yang dulu selalu ceria menyambutku di ruangannya. Dia selalu mengajakku bercanda dan ngobrol panjang tentang segala hal. Sekarang dia hanya bicara seperlunya saja, walau tetap ramah" ungkap Bela sedih.


"Sikap kamu padanya gimana?" selidik BU Akarsana.


"Ya seperti biasa, sebagai seorang sekretaris kepada atasannya" jawab Bela.


"Kamu tidak tunjukkan perasan kamu padanya?" tanya Bu Akarsana.


"Gimana caranya Bu?" tanya Bela bingung.


"Ya kasih perhatian lebih dari biasanya Bela. Buatin dia minum atau makanan, bila perlu kamu buat sendiri biar terlihat spesial" jawab Bu Akarsana mengajari putrinya untuk mengejar cintanya.


"Gitu ya Bu?" tanya Bela.


"Iya donk, Ibu juga dulu pernah muda Bapak kamu yang keras kepala itu selalu bersikap dingin tapi saat dia sudah mencintai Ibu dia berubah jadi pria paling hangat yang pernah Ibu kenal" ungkap Bu Akarsana.


Bela hanya diam dan mendengarkan pesan - pesan dari Ibunya


"Mungkin sifat mereka berbeda. Kalau Nak Aril cenderung lebih ceria dan suka bercanda. Sedangkan Bapak pendiam. Menurut Ibu akan lebih mudah mendekati Nak Aril ketimbang pria seperti Bapak" sambung Bu Akarsana.


"Gimana caranya Bu?" tanya Bela putus asa.


"Ya yang Ibu ajari tadi Belaaa... Aril itu kan suka makan, kamu mulai dari situ aja" jawab Bu Akarsana.


Mereka bejalan mengelilingi pasar sambil berjalan dan berbelanja.


"Kamu berapa hari cuti?" tanya Bu Akarsana.


"Seminggu Bu" jawab Bela.


"Nah selama seminggu ini kamu mulai belajar masak. Coba ingat - ingat apa makanan yang Nak Aril suka. Kamu coba buat sendirian, nanti sekalian Ibu ajarin kamu" ujar Bu Akarsana.


"Beneran ya Bu" desak Bela.


Bu Akarsana tersenyum melihat wajah putrinya yang mulai ceria tidak segalau tadi.


"Iya beneran.. Haaaah ternyata putri Ibu sudah dewasa sekarang. Ibu kira kamu akan tetap menjadi putri manja kamu tapi ternyata kamu sudah mulai tumbuh menjadi wanita dewasa. Tapi satu pesan Ibu ya Nduk... secinta apapun kamu pada Aril jangan pernah rendahkan diri kamu kepadanya. Jangan pernah serahkan diri kamu sehingga tidak ada harganya di matanya. Wanita itu akan sangat berharga kalau dia bisa menjaga harga dirinya. Pria juga tidak akan berbuat sesuka hati mereka kepada kita" pesan Bu Akarsana.


"Iya Bu, aku akan ingat pesan Ibu" jawab Bela.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk berbelanja bahan makanan yang akan mereka masak hari ini. Sambil Bela mendapatkan satu pembelajaran yang sangat berharga dalam hidupnya dan itu dia dapatkan dari Ibunya sendiri, bukan dari orang lain.


.


.


BERSAMBUNG