Playboy Insaf

Playboy Insaf
Empatpuluh Satu



Dua minggu kemudian


Setelah urusan Bapak dan Ibu Akasaana selesai di Jakarta, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang bersama Bela putri mereka.


Seperti biasa Aril akan mengantarkan mereka kemanapun mereka pergi. Karena itu adalah permintaan Aril pada Refan saat mereka datang ke Jakarta. Dengan alasan agar Aril bisa berdekatan dengan Bela.


Setelah selesai berpamitan dengan keluarga Refan, Aril di temani Bimo berangkat dari rumah Refan menuju Bandara untuk mengantarkan mereka.


Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Aril memarkirkan mobilnya tepat di parkiran terminal keberangkatan pesawat Bapak dan Ibu Akarsana. Setelah itu Aril membantu Bela menurunkan koper milik Bapak dan Ibu Akarsana.


"Aku jadi ingat kejadian dua minggu yang lalu saat nurunkan koper ini di rumah Mbak Kinan. Saat itu aku salah menduga siapa kamu" ucap Aril membuka pembicaraan.


Bapak, Ibu Akarsana dan Bimo sudah lebih dahulu jalan di depan meninggalkan Aril Bela yang berjalan di belakang sambil mendorong koper pakaian mereka.


Bela tersenyum mengingat kenangan itu. Jujur saat itu dia juga sangat terkejut ketika Aril mengatakan kalau dia adalah seorang pembantu di rumah orang tuanya.


"Sekali lagi aku minta maaf ya Bel. Aku sudah salah menduga sejak awal pertemuan kita" ungkap Aril.


"Tidak apa Mas, santai aja. Jangan sungkan begitu. Aku sudah menganggapnya sebagai gurauan Mas Aril saja" jawab Bela dengan senyum manisnya.


Duh Beeeel manisnya senyum kamu. Imron kenakalanku mulai berontak ingin keluar. Batin Aril.


"Aku tunggu lamaran kamu dua minggu lagi di kantorku. Aku sudah tidak sabar bekerja dengan gadis cantik yang fresh graduate seperti kamu. Pasti lebih enerjik dan cekatan dari pada sekretaris tua" ujar Aril.


"Tapi yang tua lebih berpengalaman Mas. Aku malah ragu apakah aku bisa bekerja dengan baik atau tidak" sambut Bela.


"Kamu pasti bisa. Aku tau kamu gadis yang pintar. Melihat latar belakang keluarga kamu saja aku sudah bisa menilai cara kerja kamu Bel" jawab Aril.


"Semoga Mas Aril tidak kecewa" balas Bela.


"Nanti saat kamu wisuda aku boleh datang kan?" tanya Aril.


"Kalau Mas Aril tidak sibuk silahkan saja datang. Aku punya banyak teman wanita yang cantik - cantik lho. Kan kata Reni Mas Aril suka lihat yang cantik - cantik" sambut Bela


"Siapa sih pria yang gak suka lihat cewek cantik Bel? Semua pasti suka tapi sekarang aku sudah berubah. Sekarang Mas lebih suka melihat wanita yang cantik dari dalam. Bukan hanya tampilan luarnya saja tapi hati dan imannya juga cantik" jawab Aril.


"Mmm... nanti aku kenalin sama teman aku yang sesuai dengan yang Mas Aril cari ya. Aku punya banyak stok di kampus" jawab Bela sambil bercanda.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan ruang tunggu. Bimo saling berpelukan dengan kedua orang tuanya dan adiknya untuk berpamitan.


"Hati - hati ya Pak, Bu. Bela jaga Bapak dan Ibu kita ya" pesan Bimo pada Bela.


"Oke Mas" jawab Bela ceria.


Aril tersenyum melihat senyuman Bela.


"Nak Aril terimakasih ya udah antarin kami sampai ke sini. Di tunggu kedatangannya dua minggu lagi di Surabaya" ujar Pak Akarsana.


"Iya Pak, sampai ketemu lagi di Surabaya" balas Aril.


Aril dan Bimo melambaikan tangan mereka sambil menatap kepergian Bapak, Ibu Akarsana dan juga Bela.


Tunggu aku dua minggu lagi Bel.. aku pasti sangat merindukan kamu. Teriak batin Aril.


******


Waktu yang dinanti - nantikan Aril telah tiba. Dia akan pergi ke Surabaya besok untuk urusan bisnis sekaligus melihat calon sekretarisnya wisuda. Aril rencananya akan mengajak serta Bimo.


Aril sudah sampai di rumah Refan. Tapi ternyata Bimo belum pulang jadi Aril hanya bicara dengan Refan saja sore itu.


"Aku dan Bimo mau ke Surabaya besok" ujar Aril pada Refan.


"Bela mau wisuda" jawab Aril.


"Trus apa hubungannya sama kamu? Kalau Bimo ya wajar dia pulang karena adiknya wisuda. Lah kalau kamu apa fungsinya di sana" sindir Refan.


"Jadi pendamping wisuda donk" ujar Aril penuh percaya diri.


"Terlalu percaya diri kamu" bantah Refan.


"Aku yakin Bimo pasti setuju, Bapak dan Ibu Akarsana juga. Selama ini mereka baik padaku" ujar Aril.


"Ya kan karena kamu itu teman aku. Tapi kalau mereka tau tujuan kamu baik pada mereka belum tentu mereka mau terima. Kamu lupa kisahnya Riko? lagian juga Bela belum tentu suka sama kamu" ucap Refan.


"Setidaknya aku berusaha Fan dari pada diam atau pasrah seperti Riko" balas Aril.


Refan terdiam mendengar alasan Aril. Aril benar, kisah percintaan tiap orang pasti berbeda - beda. Contohnya dia sendiri gak perlu usaha jodoh datang sendiri dari hasil perjodohan orang tuanya sedangkan Riko mendapat tantangan dan penolakan dari orang tua gadis yang dia inginkan.


Biarlah Aril mengukir kisah cintanya sendiri biar kelak tidak ada penyesalan di hatinya. Agar dia merasa puas, walau akhirnya belum jelas tapi setidaknya dia sudah berani berusaha.


Harusnya Refan mendukung niat Aril. Bagaimanapun Aril memang sudah berubah dan serius untuk mencari pendamping hidupnya seorang wanita yang baik - baik.


Dan Bela cukup baik untuk jadi pendamping Aril. Dia wanita solehah, cantik dan pintar. Semoga bisa menjadi penguat iman Aril kelak.


Refan menepuk bahu Aril dan mengalirkan semangat perjuangan kepada sahabatnya. Sambil menarik nafas panjang Refan memberikan dukungannya untuk Aril.


"Pergilah Ril perjuangkan masa depan kamu. Kamu berhak untuk bahagia, berhak untuk menginginkan siapapun yang diinginkan hati kamu. Aku tidak mau kamu pasrah seperti Riko dan menerima nasib seperti pernikahanku dulu dengan Kinan. Yah walau pada akhirnya memang aku bahagia menikah dengan Kinan, sangat bahagia. Silahkan kamu ukir sendiri kisah cinta kamu agar kelak kamu tidak merasa menyesal seperti yang aku rasakan karena dulu pernah menikah perjodohan dengan Kinan. Minta restu pada keluarga kamu dan keluarga Bela. Aku sahabat kamu mendukung penuh dan mendoakan usaha kamu semoga berhasil. Aku yakin niat yang baik akan menghasilkan akhir yang baik juga" ujar Refan.


Aril menatap mata Refan tak percaya. Dia pikir dia pasti akan di bully habis - habisan oleh Refan karena bersikap seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta. Ternyata Refan dengan sangat serius mendukung keputusannya.


"A.. aku sungguh terkejut mendengar sambutan kamu Fan. Terimakasih ternyata kamu mendukung keputusanku dan bukan mengejekku lebay" sambut Aril.


"Aku kan tidak seperti kamu Ril yang suka banget ngebully orang terlebih adikku itu" balas Refan.


"Masalah Reni.. aku sangat setuju kalau seandainya mereka menanggapi candaanku dengan serius. Menurut penilaianku Bimo juga bukan pria jahat dia hanya pernah tersesat karena cinta. Gak ada salahnya dia mencari cinta yang baru yang bisa kembali membantu untuk memperkuat imannya" jawab Aril.


"Masalah itu aku tidak bisa memaksa perasaan adikku Ril. Aku tau dulu bagaimana rasanya ketika hati harus dipaksakan. Tak semua perjodohan akan berakhir baik seperti pernikahanku. Banyak juga kisah perjodohan yang harus kandas karena hati mereka tidak saling terpaut. Aku tidak mau adikku mengalami hal seperti itu. Biarlah mereka yang menjalaninya. Kalau memang mereka saling suka aku tidak akan menghalanginya dan aku akan memberikan restuku kepada mereka" ungkap Refan.


"Kamu kakak yang baik ya dan bertanggung jawab" puji Aril.


"Papaku sudah tiada Ril. Saat ini akulah yang menjadi penggantinya melindungi Mama dan adikku. Aku akan mengambil alih tanggung jawab Papa untuk mereka" ujar Refan.


"Kamu benar - benar jauh berubah Fan. Sekarang kamu terlihat sangat dewasa" sambung Aril.


"Itu wajar Ril setelah lika - liku kehidupan yang aku jalani. Bodoh kalau aku tetap seperti Refan yang dulu yang selalu suka memaksakan kehendak dan meledak - ledak" ujar Refan.


"Terimakasih atas dukungan kamu Fan, kalau berhasil bersiaplah aku bukan hanya sebagai sahabatmu saja tapi sebentar lagi akan menjadi keluargamu" ungkap Aril.


"Betapa sempitnya dunia ini, aku akan semakin sering bertemu dan berhubungan dengan kamu" sambut Refan.


"Bersiaplah dan jangan sampai kamu bosan ya" ledek Aril.


"Sepertinya aku akan muak terlalu sering bertemu kamu saat ini saja aku sangat mual melihat wajah kamu" goda Refan.


"hahahaha" tawa Aril pecah.


.


.


BERSAMBUNG