Playboy Insaf

Playboy Insaf
Empatpuluh Empat



"Apa ada masalah?" tanya Bimo kepada Aril.


Duh mati.. jangan sampai gelagatku ketahuan duluan sama calon kakak ipar. Aku memang cemburu melihat anak ingusan itu. Enak saja dia mau merebut bidadari surgaku. Batin Aril kesal.


"Ha.. eh nggak Bim. Aku hanya sedang membicarakan temanku pada Reni. Temanku itu sudah lama suka sama Reni dan dia sering kirim salam" jawab Aril.


Dari pada panas sendiri mending aku panasin nih dua orang yang ada di sebelahku. Batin Aril.


Bimo terdiam sesaat mendengar Aril bercerita. Dan diam - diam dia melirik ke arah Reni yang terlihat ceria.


Apakah Reni sesenang itu mendapat salam dari seorang pria? tanya Bimo dalam hati.


Diam - diam Aril juga melirik ke arah Bimo, dia tau kalau Bimo mencuri pandang kearah Reni.


Hahaha.. penasaran kan? Panas juga kan? Hahaha bukan aku sendiri yang sedang kepanasan. Aku punya teman sekarang. Tawa Aril dalam hati.


"Setelah tamat aku juga akan ke Jakarta. Omku kemarin sudah janji mau kasih aku pekerjaan" ujar Rizal.


"Wah enak banget kalian" sambut Ela.


"Kamu mau ikut ke Jakarta El, temannya Mas Aril banyak lho pengusaha mungkin bisa sekalian minta carikan kerja buat kamu" sambut Bela


"Benarkah?" tanya Ela


"Iya. Mas Aril bisa carikan Ela kerja juga gak?" tanya Bela.


"Mmm.. nanti coba aku tanya Romi dan Riko ya" jawab Aril.


"Kamu kerja dimana Ren?" tanya Ela.


"Aku masih magang di perusahaan Kakak aku. Aku juga kan baru wisuda beberapa bulan yang lalu" jawab Reni.


"Eh kita sebaya rupanya" sambut Rizal.


"Iya sebaya" balas Reni ceria.


Bimo masih tetap melirik ke arah Reni dan Aril mengetahui itu. Aril tersenyum dan sedang menyusun siasat.


"Eh Bim, besok kan minggu. Jalan kemana kita mumpung liburan?" tanya Aril.


"Aku sudah lama gak pulang jadi sudah gak tau lagi dimana tempat - tempat yang asik buat jalan. Tanya Bela aja" jawab Bimo.


"Gimana Bel?" Aril melirik ke arah Bela.


"Kalau be Bromo jauh gak? Aku pengen ke sana" pinta Reni.


"Gak jauh Ren, mumpung masih siang juga. Gimana Mas kita kesana aja kalau gak, Reni pengen tuh" ajak Bela.


"Boleh, Mas juga udah lama banget gak kesana" sambut Bimo.


"Ya sudah kita ke sana aja" ujar Aril.


"Kalian ikut yuk. Kan asik kalau kesana rame - rame" ajak Bela kepada dua temannya.


"Aku sih gak masalah, mulai hari ini kan resmi jadi pengangguran" sambut Ela.


"Iya benar juga kamu El" jawab Bela.


"Kamu gimana Zal?" tanya Ela.


"Gak masalah, aku juga masih santai. Minggu depan baru ke Jakarta. Ya sudah kita jalan ke sana aja" jawab Rizal.


Cih aku gak pengen ajak kamu. Umpat Aril dalam hati.


Tatapan Aril terlihat sinis ke arah Rizal dan Reni mengerti apa arti tatapannya.


"Ada yang panas" Bisik Reni mengejek.


"Dasar setan kecil" balas Aril.


"Aku punya kenalan Mas yang biasa urus Trip Surabaya - Bromo. Kita berangkat nanti malam aja sekitar jam sembilan malam" ujar Rizal.


"Boleh juga tuh. Gimana Ril?" tanya Bimo.


"Oke, aku gak masalah" jawab Aril.


"Ya sudah kalau begitu nanti malam kita kumpul di rumah aku aja ya Zal, La" ujar Bela.


"Oke Bel" sambut Ela.


"Eh setan kecil kesenangan" Aril mengelus lembut kepala Reni penuh kasih sayang membuat Bimo kembali melirik.


Panas gak? Panas gak? Ya panas donk pastinya. Hahahahaha.... tawa Aril dalam hati.


Aril mempunyai misi ke Surabaya ini. Selain ingin berdekatan dengan Bela dia juga ingin mendekatkan Bimo kepada Reni. Rencananya kalau berjalan lancar, Bimo naksir Reni dan dia membantunya penuh harapan Aril, Bimo akan mendukungnya untuk mendekati Bela. Dan Bimo rela dirinya menjadi adik ipar Bimo.


Aril tersenyum penuh siasat saat berdekatan dengan Bimo dan Reni setelah itu tatapannya terhenti karena melihat keakraban Bela dengan Rizal.


Huh anak kemarin sore, mau bersaing denganku. Kamu harus banyak - banyak berguru dulu baru kedudukan kita seimbang. Ujar Aril dalam hati.


******


Malam harinya sesuai dengan rencana, mereka akan berangkat menuju Bromo. Teman - teman Bela sudah berkumpul di rumah. Sebelum berangkat mereka berpamitan kepada Bapak dan Ibu Akarsana.


Selama di dalam perjalanan mereka asik berbincang - bincang. Ela dan Rizal bertanya tentang keberadaan Bimo selama ini karena dia sudah menghilang selama sepuluh tahun.


Saat Ela menanyakan apa sebabnya kepada Bimo. Bimo menjawabnya dengan jawaban kalau dulu dia adalah anak yang nakal.


"Tapi sekarang udah gak nakal lagi kan Mas?" tanya Rizal.


"Tergantung, kalau kamu punya niat buruk untuk menyakiti keluarga terlebih adiknya. Dia pasti tidak akan tinggal diam. Kamu pengen membuktikannya?" potong Aril.


Rizal menelan salivanya begitu mendengar jawaban Aril.


Mampu* lu anak tengil. Aku akan membuat kamu takut mendekati Bela. Batin Aril kesal.


"Hahaha.. kamu ada - ada aja Ril" sambut Bimo.


"Jadi Mas Bimo lari kemana? Pertanyaan aku tadi belum dijawab?" tanya Ela.


"Mas tinggal di Papua" jawab Bimo.


"Pantas saja kulit Mas Bimo tampak lebih hitam dari Mas Bima. Mungkin karena di sana lebih panas kali ya Mas" sambut Ela.


"Hahaha iya benar kamu" balas Bimo.


"Biar itam tapi manis, ya kan Ren?" ujar Aril.


"Yup" jawab Reni tanpa sadar.


"Cieee... Reni ngakuin tuh kalau Mas Bimo manis" goda Bela.


Hahaha jebakanku berhasil. Sorak Aril dalam hati.


Setelah mereka asik ngobrol akhirnya mobil sepi. Tidak ada suara - suara saling ledek dan bercanda lagi. Reni, Bimo, Ela dan Bela sudah tidur. Tinggal Aril dan Rizal yang tersisa selain supir.


"Sejak kapan kamu mulai dekat dan berteman dengan Bela?" tanya Aril.


"Kalau berteman sudah sejak kami mulai kuliah Mas. Tapi kalau dekat baru beberapa bulan ini saat kami sama - sama sedang menyusun skripsi. Ketepatan kami punya dosen pembimbing yang sama jadi kami sering janjian untuk datang konsultasi skripsi ke dosen pembimbing" jawab Rizal.


"Kamu menyukai Bela?" tebak Aril langsung.


Rizal tersenyum malu.


"Normal kan Mas kalau aku suka dia. Dia gadis yang cantik, santun, baik dan solehah" jawab Rizal jujur.


"Ya pasti normal. Aku rasa lelaki bodoh yang tidak suka dengan tipe wanita seperti dia" ujar Aril.


"Mas ini siapanya Bela, aku yakin bukan hanya sekedar calon Bosnya Bela setelah dia bekerja nanti?" tanya Rizal penasaran.


"Kamu hanya ingin tau apa benar - benar mau tau?" tanya Aril.


"Ya keduanya Mas" jawab Rizal polos.


"Aku adalah calon suaminya Bela, dan tugasku saat ini menjaganya agar tidak ada pria lain yang berani merebutnya dariku. Aku tidak melarang kamu untuk menyukainya tapi cukup hanya sekedar mengagumi jangan pernah kamu berniat ataupun berusaha untuk merebutnya dariku. Kamu mengerti kan?" tanya Aril.


Jawaban Aril langsung membuat Rizal terdiam. Untuk menelan salivanya saja terasa sangat berat setelah mendengar pengakuan Aril.


Rizal bisa melihat bagaimana kedekatan Aril dengan kedua orang tua Bela begitu juga dengan Kakaknya Bela. Aril tampak sangat lues berada di lingkungan keluarga Bela.


Rizal bisa menilai kalau Aril adalah pria sukses, mapan, tampan dan pintar. Dia kalah jauh kalau harus bersaing dengan Aril.


.


.


BERSAMBUNG