
"Bel tolong kamu atur ulang meeting dengan Perusahaan Permata ya, aku ada janji penting dengan Sintia" perintah Aril.
"Penting banget ya Mas? Soalnya meeting dengan Perusahaan Permata kan juga sangat penting. Sudah di jadwal dari minggu lalu?" tanya Bela.
"Iya penting banget, ini tentang masa depan jadi sangat penting. Tolong kamu hubungin pihak PT. Permata ya. Atur jadwal ulang dan batalkan meeting hari ini" jawab Aril.
"Baik Mas" jawab Bela dengan wajah yang bisa Aril artikan jengkel.
Apakah kamu marah Bel? Kenapa kamu marah? Marah karena aku ketemu Sintia atau karena meeting dibatalkan? Kalau soal meetint batalkan aku yang akan mendapatkan konsekuensinya. Paling perusahaanku tidak bisa mendapatkan proyek baru, itu tidak akan berpengaruh pada gaji kamu. Jadi kamu gak perlu takut. Batin Aril.
Ponsel Aril berdering dan nama Sintia tertera di layar ponsel. Aril tersenyum begitu membaca nama Sintia.
"Panjang umur, baru aja di ceritain malah telepon" gumam Aril dan terdengar jelas ditelinga Bela.
"Assalamu'alaikum Sin" ucap Aril dengan suara seriang mungkin.
Bela diam - diam melirik wajah Aril.
Terima telepon Mbak Sintia aja kamu sebahagia itu Mas? Apa secepat itu kamu move on? Apa aku memang hanya segitu saja artinya di hati kamu? Sehingga dengan cepat bisa kamu lupakan? Batin Bela kecewa.
"Iya jadi, kita ketemu saat makan siang nanti ya. Di tempat biasa aja, aku sudah pesan tempat. Aku sudah atur ulang jadwal kantorku. Baru aja aku suruh Bela undurin meeting hari ini. Kamu jangan telat datang ya... Okey aku tunggu di sana. Assalamu'alaikum" ucap Aril sambil menggenggam telepon genggamnya.
Aril tersenyum bahagia mengakhiri teleponnya sedangkan Bela masih memperhatikan sikap Aril. Aril menatap puas kearah Bela.
Sakit gak Bel? Kalau sakit artinya kamu punya rasa padaku. Tapi kalau nggak.... ah kalau melihat wajah kamu, sepertinya kamu marah. Kenapa kamu marah? Coba tanya hati kamu Bel? Apakah ada namaku disana? Tanya Aril dalam hati.
"Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" tanya Aril.
"Eh.. ng.. gak ada Mas" jawab Bela segera.
Aril masih tersenyum ramah kearah Bela.
"Kalau begitu kamu kembali ke meja kamu, aku mau menyiapkan semua pekerjaan aku agar aku bisa segera pergi nanti siang. Oh iya.. kamu gak usah tunggu aku ya, mungkin aku gak balik lagi ke kantor. Kalau sudah habis jam kerja, kamu bisa langsung pulang tanpa menunggu aku" pesan Aril.
"Ba.. baik Mas" jawab Bela.
Bela menarik nafas panjang, seperti sedang menanggung beban hidup yang sangat berat. Dia berbalik kemudian melangkah menuju keluar dari ruangan Aril.
Aril kembali menelepon Sintia.
"Halo.. " sapa Aril.
"Gimana sikap Bela Ril ya maksud aku wajahnya Bela gimana saat kamu perintahkan dia untuk mengundurkan meeting hari ini?" tanya Sintia penasaran.
"Hahaha... wajahnya langsung berubah gak suka gitu Sin, tapi mana dia berani protes" jawab Aril.
"Jelas banget kan kalau dia sebenarnya punya rasa sama kamu, tapi dia belum mau mengakui perasaannya sendiri. Kamu yang sabar dan terus berjuang. Aku doakan semoga Bela segera menyadari perasaannya kepada kamu sehingga cinta kalian saling bersambut" doa Sintia tulus.
"Aamin.. semoga saja terkabul Sin" sambut Ari.
"Ya sudah ya, aku tutup dulu teleponnya" ucap Sintia mengakhiri telepon mereka.
"Oke Sin, assalamu'alaikum" tutup Aril.
"Wa'alaikumsalam" sahut Sintia.
Telepon terputus dengan sangat semangat, Aril mulai mengerjakan semua tugas - tugasnya agar bisa segera bertemu dengan Sintia.
Tanpa terasa waktu berlalu, kini sudah hampir waktu makan siang. Aril segera merapikan meja kerjanya, kemudian dia memakai jasnya dan meraih tasnya lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Bel, aku pergi dulu ya" ucap Aril sambil berlalu dari hadapan Bela.
"Iya Mas" jawab Bela dengan tatapan sendu.
Bela terus menatap kepergian Aril hingga jauh, sampai tubuh Aril hilang dan masuk ke lift. Bela menarik nafas dengan berat.
Huf... mau ketemu Mbak Sintia aja kamu dandan setampan itu Mas. Kenapa akhir - akhir ini kamu sangat tampan? Apa karena kamu sedang jatuh cinta ya? Kata orang kalau sedang jatuh cinta auranya pasti keluar membuat wajah jadi semakin bersinar. Batin Bela sedih.
Bela duduk dengan tidak semangat di meja kerjanya. Tiba - tiba ponselnya bergetar tanda pesan masuk.
Reni
Girls.. makan bareng yuk. Aku pengen makan bareng kalian berdua. Demi ponakan kalian 😔
Ela
Oke Ren, aku dan Dini akan datang. Kamu mau makan dimana?
Bela
Reni
Kenapa Mas Aril tiba - tiba batalin? Seperti bukan Mas Aril? Mas Aril itu biasanya disiplin lho? Kayaknya gak pernah dia bersikap seperti ini?
Bela
Yah namanya lagi jatuh cinta, apapun akan dilakukan demi cintanya. Bahkan hanya mengundur atau merubah jadwal meeting bukan hal yang sulit baginya 😞
Dini
Emangnya Mas Aril ngapain sampai mundurin jadwal meeting?
Bela
Ketemu pujaan hatinya yang baru, Mbak Sintia.
Reni
Udah - udah gosipnya nanti saja saat kita sudah ketemu. Gak enak gosip di handphone. Buruan datang di Cafe XXX jalan XXX. Aku tunggu cepat ya.. aku udah laper banget.
Bela
Oke Kakak ipar.
Ela
Segera meluncur.
Dini
Aku bareng Ela.
Bela langsung merapikan meja kerjanya dan meraih tas sandangnya. Kemudian Bela memesan taxi online dan segera pergi meninggalkan kantornya untuk makan bersama para sahabatnya.
Sesampainya di Cafe, Bela segera menghampiri Reni yang sedang hamil dan ngidam makan makanan di Cafe ini. Ternyata Ela dan Dini juga sudah sampai lebih dulu.
"Wajah kamu kok merana gitu, kayak di tinggal kawin kekasih hati?" sindir Ela.
"Enak aja... aku belum punya kekasih hati" sahut Bela.
"Iya tapi sebentar lagi di tinggal kawin si Bos" goda Reni.
Bela menghempaskan panta*nya duduk di kursi yang kosong. Dia tampak sangat tak bersemangat.
"Beeel coba deh kamu pikir lagi. Seandainya Bos kamu itu bukan Mas Aril. Apa kamu akan sekecewa ini? Wajarkan seorang Bos membatalkan meetingnya karena urusan pribadi. Dan wajar juga kalau urusan pribadinya itu masalah hati" nasehat Dini.
Bela tampak sedang berpikir sejenak setelah mendengar ucapan Dini barusan.
"Mengapa kamu jadi sekesal ini?" tanya Ela lembut.
"Kamu terlihat seperti orang yang sedang patah hati Bel" sambut Reni.
Bela menutup wajahnya karena sedih.
"Aku gak tau kenapa aku jadi seperti ini. Aku bingung" ucap Bela.
"Kamu sudah mencintai Mas Aril sepertinya" sambut Reni.
"Aku butuh waktu berpikir Ren, aku bingung dengan perasaanku. Aku ingin cuti aja deh dan pergi kemana aja untuk menenangkan hatiku" jawab Bela.
"Minggu ini aku mau ke Surabaya Bel, mau lihat perkembangan pembangunan Ruko Bapak dan Ibu. Kita pulang ke Surabaya yuk? Nanti disana kamu bisa dengan tenang memikirkan bagaimana perasaan kamu sebenarnya dengan Mas Aril. Mudah - mudahan kamu menemukan jawaban" ucap Ela.
Bela sedang mempertimbangkan kata - kata Ela.
"Baiklah kalau begitu El, aku ikut pulang. Mudah - mudahan aku menemukan jawabnya" jawab Bela.
.
.
BERSAMBUNG