
"Gimana tadi perkenalan Om dan Tante sama Ela?" tanya Aril.
Romi menarik nafas panjang, wajahnya tiba - tiba tampak sendu.
"Mamaku tidak setuju dengan Ela" jawab Romi sedih.
"Tante gak suka? itu sebabnya kalian tidak jadi makan malam bersama kedua orang tua kamu?" tanya Aril.
Romi menganggukkan kepalanya.
"Apa alasannya?" tanya Aril.
"Menurut Mama, Ela tidak cocok denganku. Baik dari latar belakang keluarga, dari tampilan Ela dan yaaah... banyak deh alasan yang menurut aku dibuat - buat. Mama langsung membangun benteng tinggi antara dia dan Ela tanpa mau mencoba berdekatan dan mengenal pribadi Ela lebih dekat lagi" jawab Romi.
"Apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Bimo.
"Aku akan tetap pada keputusanku sebelumnya. Minggu depan aku tetap akan pergi bersama Ela ke Surabaya untuk bertemu dengan keluarganya sekaligus membicarakan niat baikku kepada kedua orang tua Ela" jawab Romi.
"Kamu yakin melangkah walau tanpa restu dari orang tua?" tanya Bimo lagi.
"Papaku menyuruh untuk tetap meneruskan rencanaku, dia setuju kalau aku menikah dengan Cishela. Biar urusan Mama, Papa yang ambil alih" jawab Romi.
"Syukurlah kalau Papa kamu setuju, setidaknya Papa kamu nanti bisa membantu kamu untuk memberikan tanggapan yang baik tentang Ela kepada Mama kamu. Kalau dia - duanya tidak setuju bahaya Rom. Nanti pernikahan kamu bisa seperti aku dan Refan dulu tanpa restu orang tua, pernikahan kalian tidak akan bahagia" pesan Bimo.
"Iya aku juga berpikiran seperti itu. Restu Papa setidaknya sudah bisa membuat aku bernafas lega. Nanti Papa yang akan membujuk Mama untuk menyetujui pilihan hatiku" sabut Romi.
"Setidaknya cinta kalian bersambut tidak seperti aku" ucap Aril, kali ini gilirannya yang curhat dengan wajah sedih.
"Kamu kenapa bisa makan diluar dengan Bela? Waktu kita ketemu di rumah Refan kamu gak cerita kalau mau datang ke rumahku?" tanya Bimo penasaran.
"Aku mendapat pesan dari Romi. Dia bilang Bela tinggal sendirian di rumah. Mana hari sudah semakin gelap karena hari mau hujan dan banyak petir. Pasti Bela ketakutan, makanya aku datang. Tapi aku tidak mau berdua - duaan di rumah kamu, bisa bahaya. Untuk menghindari fitnah aku ajak Bela makan di luar" ungkap Aril.
"Maksih Ril, kamu sudah menjaga adikku dengan baik. Maaf kalau Bela tidak bisa membalas perasaan kamu. Aku harap kamu tidak marah, aku tau kamu pasti kecewa tapi tolong hargai juga perasaan adikku" sambut Bimo.
Aril tersenyum perih.
"Kamu adalah sahabat aku Bim, tidak mungkin aku mencelakakan adik kamu. Lagian aku bukan pria picik yang suka memaksakan perasaan aku pada seorang wanita. Aku juga bukan pria berpikiran sempit, dimana saat cinta ditolak dukun bertindak. Mungkin Bela bukan jodohku" ungkap Aril.
"Btw gimana ceritanya kalian bisa datang kesini?" tanya Romi kepada Bimo.
"Sepertinya anakku memang membenciku dan menyukai kamu Ril" jawab Bimo.
Flashback On.
"Mas aku lapar" rengek Reni dari kursi penumpang di belakang.
"Iya sayang, kita makan ya. Kamu mau makan apa dan dimana?" tanya Bimo berusaha sabar.
"Aku mau makan di tempat Mas Aril makan" pinta Reni.
"Emangnya dari mana kamu tau kalau saat ini Aril sedang makan?" tanya Bimo bingung.
"Tadi kan Mas Aril telepon aku, katanya dia dirumah temani Bela sendirian. Pasti Mas Aril ngajak Bela makan diluar" jawab Reni.
"Kamu yakin yank?" tanya Bimo.
Reni menganggukkan kepalanya.
"Aku yakin, pasti Mas Aril ajak Bela keluar. Ini kan malam minggu Mas. Mas Aril juga pasti tidak akan mau berduaan di rumah sama Bela. Kamu belum kenal ya gimana sifat Mas Aril? Walau dia itu mantan playboy tapi dia kan sudah taubat lagian Bela adalah adik kamu Mas, Mas Aril tidak akan berani merusak persahabatan kalian" jawab Reni.
Bimo menarik nafas panjang.
"Baiklah coba aku telepon Aril dulu ya, mau tanya dimana mereka berada?" ujar Bimo.
"Mungkin karena aku sudah berjasa dalam proses pembibitannya. Kan aku yang buat kamu geregetan saat malam pertama hahaha" ujar Aril
Tawa Aril tak lagi membuat dua sahabatnya itu tertawa. Baik Romi dan Bimo sedang memikirkan langkah apa yang akan mereka lakukan untuk hari esok.
"Hei.. kenapa dengan wajah kalian. Mengapa jadi serius begini, bukannya kalian yang tadi siang memberiku kekuatan untuk semangat. Mengapa kalian yang berwajah seperti baru patah hati? Kamu Rom sudah dapat restu bokap tinggal nyokap aja. Dan kamu bisa udah mendapatkan kekasih hati dan sudah hamil tinggal bersabar untuk bisa berdekatan lagi dengan istri kamu.Diantara kita bertiga di sini, nasibku yang paling malang, jangankan restu perasaanku saja tidak berbalas" protes Aril.
Bimo dan Romi menatap wajah sahabat mereka itu seperti tersadar.
"Aku saja masih sangat jauh dari tahap percintaan kalian" sambung Aril.
"Kalau Bela menerima perasaan kamu, aku pastikan aku akan merestui hubungan kalian Ril" hibur Bimo.
"Aku juga akan membantu kamu" sambut Romi.
"Sudahlah.. Kita semua punya masalah masing - masing. Sebagai sahabat ya memang kita harus saling hibur, saling menasehati dan menguatkan. Untung kalian ada di sini malam ini, kalau tidak aku juga akan bingung mau bicara apa dengan Bela. Rasanya sudah habis bahan pembicaraan aku dengan dia" ujar Aril.
"Maafkan kelakukan adikku Ril" sambut Bimo.
"Dia tidak salah, cinta tak bisa dipaksakan. Kalau dia memang tidak menyukaiku aku bisa apa" balas Aril.
Tak lama pelayan datang membawa pesanan Bimo, Romi, Ela dan Reni dan menghidangkannya di meja mereka masing - masing. Mereka makan bersama sambil berbincang - bincang bersama.
Sementara di apartemen Riko. Dia barus saja selesai melaksanakan shalat Isya dan bersantai diatas tempat tidur. Sambil melihat email dan pesan - pesan di ponselnya sekalian melonggarkan sendi - sendi tubuhnya.
Tiba - tiba ponsel Riko berdering tanda pesan masuk. Alangkah terkejutnya Riko saat melihat nama siapa yang tertera di ponselnya.
Anita, ngapain dia telepon aku malam - malam begini? Apa terjadi sesuatu dengan Papanya? Atau terjadi sesuatu dengan Dini? tanya Riko dalam hati.
Riko langsung mengangkat telepon dari Anita.
"Assalamu'alaikum Nit" ucap Riko berusaha menenangkan jantungnya.
"Wa'alaikumsalam.. Mas Riko.. Dini Mas" jawab Anita.
Riko langsung berdiri dengan sigap begitu mendengar nama Dini disebut.
"Ada apa dengan Dini Nit?" tanya Riko khawatir.
"Dini ditemukan pingsan di kamar kosnya Mas. Saat ini sedang dibawa teman - temannya ke Rumah Sakit" jawab Anita.
"Ya Allah... kenapa Dini pingsan?" tanya Riko.
"Gak tau Mas apa sebabnya. Aku bersama Mas Galuh, Papa dan Mama langsung berangkat ke Bandung sebentar lagi. Aku kabari Mas Riko siapa tau mau ikutan" balas Anita.
"Iya Nit, aku ikut. Kita ketemu saja di rest area tol Jakarta - Bandung ya. Makan waktu kalau aku harus nyusul ke rumah kamu. Mending janjian ketemu di tengah perjalanan saja" ujar Riko.
"Iya Mas, sampai ketemu di rest area tol. Assalamu'alaikum" Anita menutup teleponnya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Riko.
Dengan tubuh bergetar Riko berusaha tenang dan menyusun semua barang - barang yang dia butuhkan selama di Bandung nanti.
Ya Tuhan... jangan ambil lagi orang - orang yang aku cintai.. Kalau Renita dulu, sudah lama aku ikhlaskan bahkan sejak dia menikah dengan Refan tapi Dini... aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Seandainya dia pergi juga, aku tidak tau bagaimana lagi akan menyusun masa depanku... Pinta Riko dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG