
Beberapa hari kemudian dikantor Romi.
"Pagi Silva" ucap Bu Hidayat istri pemilik Perusahaan.
"Eh Ibu datang rupanya. Mau bertemu Pak Romi Bu?" tanya Silva terkejut ketika melihat Mamanya Romi sudah ada di hadapannya.
"Iya, Romi ada?" tanya Bu Hidayat.
"Pak Romi sedang keluar Bu" jawab Silva manja.
Silva merasa sudah sangat dekat dengan istri pemilik perusahaan ini.
"Ya sudah kalau begitu saya turun ke bawah saja. Saya mau ketemu Monic" ucap Bu Hidayat.
"Baik Bu, mari saya antar" sambut Silva.
"Gak usah, kamu jaga aja disini jangan melamun. Tadi kamu melamun kan makanya kamu gak sadar kalau saya datang" protes Bu Hidayat.
Mati aku, kenapa calon mertua ini tiba - tiba jadi galak? Biasanya dia ramah, tapi kali ini tidak seperti biasanya? Padahal kuman pengganggu sudah pergi dari perusahaan ini. Batin Silva.
"Ma.. Maaf Bu saya tadi tidak sadar kalau Ibu datang. Baiklah kalau begitu saya antar Ibu sampai lift saja" jawab Silva.
Bu Hidayat diiringi Silva berjalan menuju lift kemudian Ibu Hidayat turun ke lantai bawah ruangannya Bu Monic Manager Keuangan, sahabat lamanya Bu Hidayat sekaligus mantan sekretaris suaminya dulu.
"Hai Mon aku datang lagi" sapa Bu Hidayat menyapa Bu Monic.
"Eh Ibu, kapan sampainya?" sambut Bu Monic.
Mereka saling rangkul dan berpelukan.
"Baru, tadi aku ke ruangan Romi tapi ternyata Romi sedang keluar jadi aku turun ke sini" ungkap Bu Hidayat.
Bu Monic tersenyum ramah kepada istri Bosnya itu.
"Romi sedang menjaga pujaan hatinya biar gak disambar orang" ucap Bu Monic.
"Siapa?" tanya Bu Hidayat bingung.
"Cishela" jawab Bu Monic.
"Ngapain dijaga, dia kan ada di sini" ujar Bu Hidayat kesal.
"Lho Bu Hidayat gak dengar kabar terbaru?" tanya Bu Monic.
"Kabar apa?" tanya Bu Hidayat penasaran.
"Cishela sudah tidak bekerja di sini lagi" jawab Bu Monic.
"Benarkah?" tanya Bu Hidayat terkejut.
"Iya Bu. Romi tidak pernah cerita pada Ibu?" tanya Bu Monic.
"Anak itu kan lebih sering tinggal di apartemen. Apalagi sekarang udah jarang banget pulang ke rumah. Ditambah lagi saya tidak merestui hubungannya dengan gadis kampung itu, mana mungkin Romi mau cerita kepada saya" jawab Bu Hidayat.
Bu Monic tersenyum lembut kepada istri mantan Bosnya dulu. Ternyata pikiran wanita ini belum terbuka. Padahal di pertemuan terakhir mereka Bu Monic sudah habis - habisan memuji sifat dan kebaikan Ela agar pikiran Bu Hidayat terbuka dan mau menerima Ela sebagai menantunya.
Ternyata wanita dihadapannya ini masih dengan pemikiran yang sempit. Mengukur manusia dari sisi negatifnya saja.
"Kemana gadis kampung itu pergi? Dia dipecat? Buat kesalahan? Terbukti korupsi?" tanya Bu Hidayat dengan pandangan merendahkan.
"Manager Keuangan? Gadis masih bau kencur gitu dapat tawaran jadi Manager Keuangan, apa gak salah dengar saya?" tanya Bu Hidayat tidak percaya.
"Iya.. Saya kan sudah bilang pada Ibu kemarin. Cishela itu gadis yang pintar. Perusahaan Subrata kemarin mengalami krisis. Dia dapat tantangan untuk mengatur Keuangan Perusahaan itu. Dan yang saya dengar, dia berhasil mengatasi krisis diperusahaan itu. Bahkan informasi terbaru yang saya dengar beberapa hari yang lalu Cishela baru saja diangkat menjadi CEO di Perusahaan itu karena sudah berhasil memulihkan Perusahaan dari penyelewengan mantan CEO sebelumnya yang tak lain adalah keluarga dari Pak Reno Subrata sendiri" lanjut Bu Monic.
Seketika mata Bu Hidayat melotor bulat karena terkejut dan tak percaya dengan berita yang baru saja dia dengar.
"Apa kamu bilang? Apa berita ini benar? Bukan hanya gosip belaka?" tanya Bu Hidayat tak percaya.
"Setahu saya benar Bu. Tapi kalau Ibu ingin dapat informasi yang lebih jelas dan lebih akurat ada baiknya Ibu tanyakan langsung saja kepada Pak Romi. Dia pasti dengan bangga akan menyampaikan berita ini. Karena prestasi Cishela sangat luar biasa Bu. Anak kemarin sore sudah memiliki karier sebaik itu sangat langka lho. Saya aja jadi Manager Keuangan butuh perjuangan yang panjang, tapi Cishela bisa secepat ini meraih jabatan CEO di Perusahaan yang cukup besar" puji Bu Monic.
Bu Hidayat terdiam mendengar kata - kata mantan sekretaris suaminya dulu.
"Monic saya mau ke atas dulu ya.. Perut saya kok tiba - tiba gak enak. Lebih nyaman kalau saya istirahat di ruangan Romi saja" ucap Bu Hidayat pamit.
Bu Monic tersenyum mendengar alasan istri Bosnya. Dia sangat tau bahwa setelah mendengar berita darinya, Bu Hidayat pasti akan mencari tau kebenarannya. Pasti Bu Hidayat akan menunggu Romi di ruangannya dan akan bertanya langsung pada anaknya tentang kebenaran berita ini.
"Baik Bu, silahkan.. selamat beristirahat" sambut Bu Monic.
Bu Hidayat segera meninggalkan ruangan Keuangan dan kembali naik ke lantai atas. Begitu dia keluar lift dia langsung melihat pemandangan Silva sedang asik berdandan dan mengecat kuku jari tangannya dengan pewarna kuku.
Cih... wanita tak punya prestasi. Bisanya hanya jual diri saja berlenggak lenggok di depan pria mencari mangsa. Kamu dibayar anakku untuk bekerja bukan untuk bersolek. Batin Bu Hidayat.
"Ehm... Ehm... " sindir Bu Hidayat.
Silva tersentak dan sangat terkejut ketika melihat Bu Hidayat sudah berada di lantai yang sama dengan tempat dia bekerja.
"I.. Ibu sudah kembali. Pak Romi belum balik ke kantor Bu" ucap Silva sigap. Dia meninggalkan kegiatan sebelumnya dan berdiri menyambut kedatangan Mama Bosnya di kantor nya.
"Saya sudah tau, tadi Bu Monic sudah cerita kepada saya. Si gadis kampung itu sudah tidak bekerja lagi ya di perusahaan ini?" tanya Bu Hidayat kepada Silva.
"I.. Iya Bu" jawab Silva.
"Kamu tau apa alasan dia keluar dari Perusahaan ini?" selidik Bu Hidayat.
"Saya tidak tau pasti apa alasan dia berhenti dari Perusahaan ini Bu, tapi yang saya dengar kabarnya gadis itu tidak nyaman bekerja di sini karena seluruh karyawan di Perusahaan ini tau niat jeleknya untuk mendekati Pak Romi Bu" jawab Silva.
"Maksud kamu?" tanya Bu Hidayat terkejut.
"Maaf Bu.. saya berbicara begini bukan tanpa bukti. Saya mempunyai bukti - bukti gadis itu punya niat terselubung bekerja disini yaitu untuk mendekati Pak Romi" Silva meraih ponselnya dan membuka galeri ponselnya kemudian menunjukkan beberapa gambar kedekatan Ela dan Romi yang sempat Silva ambil di beberapa kesempatan.
Bu Hidayat terkejut melihat foto yang ditunjukkan Silva. Di situ terlihat Ela janjian bertemu dengan Romi di halte dan juga di basement. Dari foto - foto tersebut terlihat memang Ela dan Romi sepertinya menjalin hubungan diam - diam.
"Kamu kirimkan foto - foto itu kepada saya. Saya akan istirahat di dalam ruangan kerja Romi. Saya tunggu sekarang ya" perintah Bu Hidayat.
"Ba.. baik Bu" jawab Silva senang.
Bu Hidayat berjalan meninggalkan meja kerja Silva dan melangkah masuk ke dalam ruang kerja Romi. Sedangkan Silva tersenyum menang rencananya akan dimulai.
"Lihat saja gadis kampung, impian kamu untuk mendapatkan Pak Romi akan hancur. Cih.. enak saja mau merebut Pak Romi dari Silva... " gumam Silva dalam hati.
Silva langsung mengirim foto - foto Ela dan Romi ke nomor ponsel Bu Hidayat.
.
.
BERSAMBUNG