
"Lho kalian sudah sampai rupanya?" tanya seseorang yang sangat Romi kenali suaranya.
"Ka.. kamu.....?" ucap Romi.
Romi menatap wajah pria yang ada di depannya dengan tatapan tak percaya.
"Ups... jangan tegang gitu bro. Kedatangan kami ke sini emang murni ingin honeymoon yang kedua. Dulu waktu kami ke Raja Ampat kan gagal. Kami ingin mengulanginya lagi. Kamu gak perlu takut kalau aku akan mengganggu malam pertama kalian. Silahkan kalian nikmati indahnya malam ini. Aku dan Bela juga akan menuju kamar kami" ucap Aril.
"Mengapa kalian bisa tau kalau kami akan honeymoon ke sini?" tanya Romi.
"Kamu lupa kalau istri kamu itu sahabatnya Bela. Bela sudah tau dari dulu impian Ela saat dia menikah. Dan setelah aku cari tau mengenai tempat ini aku setuju dengan Ela. Tempat ini memang sangat indah" jawab Aril tanpa rasa bersalah.
"Be.. Bel?? tega benar kamu mau kerjasama dengan suami kamu ini? Dulu waktu Riko honeymoon kamu mau berpihak pada Riko dan Dini tapi pada kami?" ucap Romi.
"Maaf Mas aku punya hutang janji pada Mas Aril. Aku akan mengabulkan apapun permintaannya. Dia bertanya padaku apakah aku tau kemana tempat kalian honeymoon. Dia butuh pengalihan pikiran untuk melupakan ngidamnya kepada Mas Riko. Mas Aril mengajakku jalan - jalan ke tempat kalian honeymoon. Tapi dia janji kok tidak akan mengganggu malam kalian" jawab Bela merasa bersalah.
"Kamu tidak percaya padaku Rom? Aku memang sedang ingin liburan. Sebulan ini aku sudah pusing dengan pikiranku yang selalu memikirkan Riko. Aku ingin melepaskan semua penat di kepalaku" Sambut Aril.
Ela menyentuh tangah Romi dengan lembut.
"Sudah Mas gak apa - apa. Toh kamar kita kan sedikit berjauhan. Tidak akan ada apa - apa, kamu tenang saja. Yuk kita ke kamar, aku sudah sangat gerah dan ingin istirahat" ajak Ela.
Wajah Romi langsung melemah dan kembali melembut karena ucapan istrinya.
"Kami ke kamar ya.. ingat jangan kamu ganggu. Awas kalau kamu ganggu malam pertamaku" ancam Romi.
"Santai bro" sambut Aril.
Romi dan Ela berjalan menuju kamar mereka. Sedangkan Aril dan Bela sedang berjalan menuju Restoran hotel dan sedang memesan aneka ragam menu laut.
"Mas mau makan apa?" tanya Bela.
"Ini apa?" tanya Aril kepada salah satu pelayan Hotel.
"Ini sate gurita Pak" jawab pelayan.
"Mmm.. boleh deh saya pengen coba. Belum pernah makan makanan jenis ini. Kamu mau pesan apa yank?" tanya Aril.
"Aku aneka seafood saus tiram aja" pinta Bela.
"Baik Bu" jawab sang pelayan sambil menulis pesanan Bela dan Aril.
"Tolong menu makanan kami ke kamar ya.. E. eeh sekalian minumnya saya mau jus jeruk" pinta Aril.
"Sama Mas aku juga mau itu, pasti segar" sambut Bela.
"Baik Pak" jawab pria muda itu.
"Eh sayang kamu pilihin gih makan malam untuk Romi dan Ela. Mereka pasti gak mau keluar kamar malam ini" perintah Aril.
"Iya ya Mas. Baiklah kalau begitu saya pesan menu spesial untuk diantar ke kamar milik Bapak Romi Hidayat. Hidangan yang paling enak dan jangan lupa juga minumannya ya" pinta Bela.
"Baik Bu" sambut Pelayan.
Bela dan Aril kembali menuju kamar mereka. Mereka sudah sampai di sini satu jam yang lalu. Aril dan Bela pamit kepada Bapak dan Ibu Akarsana untuk melanjutkan liburan mereka ke luar kota
Tentu saja Bapak dan Ibu Akarsana tidak melarang mereka. Karena Aril dan Bela sudah sah menjadi pasangan suami istri. Jadi kemanapun mereka pergi berdua tidak ada dosanya lagi.
Aril dan Bela merahasiakan kepergian mereka dari teman - teman. Satu jam sebelum pesta resepsi pernikahan Romi dan Ela selesai mereka sudah sampai di Bandara untuk terbang ke Gorontalo.
Oleh sebab itu mereka lebih dulu sampai ke pulau cinta ini dibandingkan dengan kedatangan Romi dan Ela.
"Yuk yank kita ke kamar" ajak Aril.
Aril menggandeng mesra tangan Bela dan mereka berjalan bersama.
Di kamar Romi dan Ela.
"Dasar anak itu, senang banget usilin orang" ucap Romi dengan kesalnya.
"Maaas... udah ah. Mas Aril dan Bela kan gak ganggu kita. Mereka hanya pergi ke tempat yang sama dengan tempat honeymoon kita. Lagian kan seru kalau liburan kita tidak cuma berdua aja. Besok kita bisa jalan bareng mereka mengelilingi pantai ini" sambut Ela.
"Awas saja kalau dia ganggu kita malam ini" umpat Romi.
"Dari tadi marah - marah melulu. Bukan Mas Aril yang ngerusak hari kita, tapi malah kamu sendiri" bujuk Romi.
Seketika Romi sadar kalau sekarang mereka sudah sampai di kamar mereka dan hanya berdua saja. Romo segera menarik Ela mendekat dengannya.
Seketika wajah Ela bersemu merah.
"A.. aku bersih - bersih dulu ya Mas" ucap Ela mengalihkan pembicaraan mereka karena saat ini dia sangat malu sekali.
Romi tersenyum penuh bahagia.
"Iya sayang, kamu bersih - bersih duluan ya. Aku ingin ngecek sekeliling kamar kita" jawab Romi.
Ela segera membuka kopernya dan mengambil pakaiannya, setelah itu dia berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Romi keluar dari kamarnya dan berkeliling disekitar kamarnya yang dikelilingi oleh laut.
"Bro... ngapain keluar? Harusnya kamu dikamar saja" teriak Aril dari kamar sebelah.
Ternyata Aril sedang mencari angin sambil merokok di luar.
"Kamu tuh ngapain keluar? Ingat Bela lagi hamil harusnya kamu jangan merokok lagi" sambut Romi.
"Hahaha.... semua pakai proses bro.. sama seperti kisah lama kita dulu. Kita juga bertaubat kan gak bisa langsung. Perlahan - lahan semua pasti bisa diatasi. Sudah masuk sana.. nikmatilah malam pertama kamu. Malam panjang bersama pasangan halalmu" ujar Aril.
Tumben dia baik, aku malah serem melihat dia yang seperti ini. Batin Romi.
Tapi Romi tidak mau terlalu lama berpikir, sebelum Aril melakukan sesuatu untuk menggagalkan malam pertamanya lebih baik dia segera masuk ke kamar.
Tak lama kemudian Ela selesai mandi, giliran Romi yang masuk ke kamar mandi. Pelayan datang membawa makan malam mereka. Saat Romi keluar dari kamar mandi dia melihat hidangan sudah tersedia.
"Lho sudah ada makanan, siapa yang pesan, kamu?" tanya Romi keheranan.
"Nggak Mas, kata pelayan tadi Mas Aril di kamar sebelah yang pesan" jawab Ela.
"Jangan dimakan... jangan... pasti Aril menaruh sesuatu di makanan kita untuk mengerjaij kita" cegah Romi dengan penuh rasa curiga.
"Maaas kenapa sih kamu suudzon banget sama Mas Aril? Mereka sudah berbaik hati lho pesanin makanan untuk kita" sambut Ela kesal.
"Kamu gak tau aja gimana Aril. Isengnya kelewatan, dia sudah berhasil ganggu malam pertama Riko, pasti dia merencanakan sesuatu pada kita juga malam ini" jawab Romi.
Ela menarik nafas panjang.
"Sudah aku duga, Mas pasti akan berpikiran seperti itu. Aku sudah tanya Bela dan dia bilang, dia yang memilih semua menu ini untuk kita" jawab Ela.
Romi sekarang bisa bernafas lega.
"Baiklah kalah begitu, berarti aman. Yuk kita makan" ajak Romi.
Mereka duduk di sofa dan mulai menikmati makan malam mereka. Setelah selesai makan Romi membawa Ela untuk mulai bermesraan.
Romi manarik tangan Ela dan membawanya ke tempat tidur. Dia memandangi wajah Ela tanpa jilbab. Romi kembali teringat pertemuan mereka pertama beberapa tahun lalu. Saat itu Ela belum memakai hijab.
"Kamu masih seperti dulu saat pertama kali kita bertemu" ucap Romi.
Ela tertunduk malu dengan wajah merah merona. Romi mendekatkan wajahnya kepada Ela. Ela menahan nafas sesaat dan memejamkan mata.
Triiing... Tring...
Bunyi ponsel Ela. Konsentrasi Ela langsung buyar, dia memalingkan wajahnya dan melirik ke ponselnya.
"Mas Bela" ucap Ela
Romi menarik nafas kesal. Ini pasti ulahnya Aril.
"Sudah yank.. biarin aja. Itu pasti ulah Aril" cegah Romi.
Ela akhirnya menghiraukan bunyi ponselnya. Tapi ponsel Ela terus saja berdering membuat suasana romantis di kamar Romi buyar.
"Maas diangkat aja ya.. siapa tau penting" ucap Ela.
Dengan berat hati akhirnya Romi menganggukan kepalanya. Ela segera meraih ponselnya dan menjawan panggilan Bela.
"Halo Bel" ucap Ela membuka suara.
"Eeeel... tolong El. Tolong Mas Aril Eeel" ucap Bela sambil menangis.
.
.
BERSAMBUNG