Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Empatpuluh Tujuh



"Bagaimana Pak, Bu?" tanya Romi.


Pak Budi dan Bu Budi menatap wajah putrinya. Kemudian Pak Budi mulai angkat bicara.


"Maaf Nak Romi, jujur kami sangat terkejut mendengar berita ini. Ela juga belum pernah membicarakan hal ini kepada kami" ungkap Pak Budi.


"Maaf Pak, akhir - akhir ini aku sangat sibuk mengurus pekerjaan aku yang baru. Sehingga memang aku belum sempat membicarakan hal ini kepada kalian" sambut Ela merasa bersalah.


"Kami memaklumi kegiatan kamu Nak, tapi kabar yang baru kalian sampaikan ini benar - benar mengejutkan kami. A.. apa Pak Romi bisa menerima keadaan Ela dan keluarga kami? Maklum kami hanya orang biasa, dari keluarga sederhana. Apa keluarga Pak Romi bisa menerimanya? Kami hanya punya dua orang putri, bagi kami anak - anak adalah harta kami yang paling berharga. Oleh sebab itu kami ingin mereka bahagia. Kalau mereka bahagia kami juga pasti akan lebih bahagia" ungkap Pak Budi.


Mata Ela tampak berkaca - kaca mendengar jawaban Bapaknya.


"Alhamdulillah Pak keluarga saya bisa menerima itu semua, bahkan kemarin Papa dan Mama saya mau ikut datang ke sini tapi aku dan Shela sepakat kalau kami saja dulu yang datang agar Bapak dan Ibu tidak terkejut. Nanti setelah itu baru di atur rencananya keluarga saya yang datang ke sini untuk melamar Shela secara reami" sambut Romi.


"Kamu bagaimana Nduk? Apa kamu bahagia dengan keputusan ini? Sudah kamu pikirkan semuanya?" tanya Pak Budi dengan penuh kasih sayang.


"InsyaAllah Ela sudah memikirkannya Pak dan Ela bahagia" jawab Ela sambil menangis haru.


"Jangan nangis Nduk... Kamu adalah putri bungsu kami. Walau kamu sudah sukses sampai seperti sekarang ini dihati kami, kamu tetap lah putri kami yang manja" ucap Bu Budi.


"Ini tangis bahagia Bu.. Aku mohon pada Bapak dan Ibu untuk memberikan restu hubungan kami ini. InsyaAllah kami berdua memang benar - benar serius ingin menikah" jawab Ela.


Pak Budi menarik nafas panjang.


"Kami merestuinya Nak. Asalkan kamu bahagia" sambut Pak Budi.


"Alhamdulillah... " sahut Romi.


"Nanti saat peresmian ruko sekalian syukuran, saya akan bawa kedua orang tua saya datang ke sini Pak. Gimana?" tanya Romi.


"Apa tidak terlalu cepat Nak Romi?" tanya Pak Budi khawatir. Sejujurnya dia masih ragu dengan keluarga Romi. Apakah orang tua Romi mau menerima keadaan keluarga mereka.


"Pak, usia saya sudah sangat cukup untuk menikah, ditambah kami berdua tinggal di kota besar yang pasti sangat banyak cobaannya. Saya juga takut kalau terlalu lama malah menambah dosa. Saya sangat berharap bisa disegerakan" pinta Romi tulus.


"Ya sudah Nak Romi, kalau memang itu yang terbaik" sahut Pak Budi.


"Alhamdulillah... " sambut Ela dan Romi berbarengan.


"Saya akan membantu Shela untuk mewujudkan impiannya selama ini. Membangun tempat usaha Bapak dan Ibu" ujar Romi.


"Jangan Mas, kalau masalah itu biar saya sendiri saja" tolak Ela lembut.


"Baiklah kalau itu mau kamu. Bu.. mulai hari ini panggil saya Romi ya atau Nak Romi sama seperti Bapak. Ibu jangan panggil saya dengan sebutan Bapak lagi. Karena sebentar lagi saya akan menjadi anak Bapak dan Ibu juga" pinta Romi kepada calon mertuanya.


"I.. iya Nak Romi" jawab Bu Budi canggung.


"Iya Pak, nanti akan saya bilang sama Mbak" sambut Ela.


"Syukurlah semua berjalan dengan baik, saya tadinya sangat takut Bapak dan Ibu akan menolak saya" ungkap Romi.


"Sebenarnya kalau pribadi Nak Romi tidak Bapak ragukan. Kita kan sudah saling kenal dari beberapa tahun yang lalu. Bapak sangat yakin Nak Romi pria yang baik, bertanggung jawab dan pekerja keras. Hanya saja Bapak merasa kalau keluarga kami ini tidak pantas jika disandingkan dengan keluarga Nak Romi" sambut Pak Budi.


"Alhamdulillah Pak, orang tua saya bisa menerimanya. Minggu lalu kami sudah bertemu dan kedua orang saya menerima Ela dengan baik. Bahkan mereka meminta setelah kami menikah, kami tinggal bersama dengan mereka. Karena katanya di rumah sepi" jawab Romi.


"Yah begitulah kalau sudah tua.. Pada saat anak - anak sudah cukup umur untuk menikah, mereka akan membangun rumah tangga masing-masing. Apalagi anak perempuan, akan ikut kemana pun suaminya membawa. Kami saja yang punya dua anak, kini hanya tinggal berdua" ucap Pak Budi.


"InsyaAllah kami akan sering - sering mengunjungi Bapak dan Ibu nantinya" balas Romi.


"Tidak apa, kami sangat mengerti kesibukan kalian di Jakarta. Kalian sehat - sehat dan hidup dengan bahagia, sudah merupakan kebahagiaan tersendiri bagi kami para orang tua. Eeel... nanti setelah menikah jadilah menantu yang baik ta Nduk. Anggap orang tua Romi seperti orang tua kamu sendiri. Pahalanya juga sama Nak, jika kamu berbakti kepada mertua" nasehat Pak Budi.


"Iya Pak" Ela meneteskan air mata, belum juga menikah tapi dia sudah merasa akan meninggalkan orang tuanya.


"Jangan menangis nduk... hari bahagia sambutlah dengan kebahagiaan juga. Kami ikhlas melepas kamu melangkah menuju masa depan kamu. Sebagai orang tua kami hanya bisa mendoakan semoga kamu mendapatkan suami yang menyayangi kamu dan mengasihi kamu seperti kami menyanyangi kamu" ucap Bu Budi.


Ela memeluk Ibunya dengan erat sambil menangis.


"InsyaAllah saya akan menyayangi Ela Bu, Pak. Saya tidak bisa berjanji dalam pernikahan tidak akan ada air mata. Karena sejatinya pernikahan adalah ibadah dan pembelajaran yang paling panjang bagi kami. Pasti akan banyak yang kami lalui baik sedih ataupun senang. Saya akan melindungi dan menyayangi Ela karena memang dialah wanita yang selama ini saya cari untuk menjadi pendamping hidup saya" janji Romi.


Pak Budi tersenyum mendengar jawaban Romi dan menepuk bahu nya lembut penuh kasih sayang.


"Bapak hanya bisa berpesan kepada kamu, tolong jaga anak Bapak. Jangan pernah sakiti dia. Kalau kamu tidak menginginkan dia lagi kelak jangan pernah pergunakan tangan dan kata - kata kamu untuk menyakitinya. Cukup kamu datang kepada Bapak dan kembalikan dia kepada kami. Kami akan menerimanya dengan tangan terbuka" ucap Pak Budi.


Ela semakin meneteskan air matanya mendengar pesan dari Bapaknya kepada Romi.


"InsyaAllah tidak akan pernah Pak. Saya ingin menua bersama Ela hingga maut memisahkan kami. Seperti Bapak dan Ibu disini, hidup dengan tenang dan bahagia berdua. Saya banyak belajar dari hidup Bapak dan Ibu di sini" jawab Romi.


"Sudah.. sudah.. jangan menangis lagi Nduk.. " Ucap Bu Budi menenangkan Ela.


"Sudah malam.. sebaiknya kalian istirahat. Besok kita akan bicarakan lagi niat kalian ini bersama Kakaknya Ela. Kita akan mulai mempersiapkan pernikahan kalian" sambung Pak Budi.


"Terimakasih Pak, terimakasih Bu... " jawab Romi bahagia. Kini dia bisa bernafas lega semua sudah bisa teratasi dengan baik.


.


.


BERSAMBUNG