Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Tigabelas



Akhirnya dua minggu berlalu. Bagi Romi, Aril dan Riko dua minggu ini terasa berat.


Romi sudah tidak sabar untuk menikah, sedangkan Riko tidak kuat dengan serangan Aril yang datang setiap hari ke kantornya sehingga dia selalu mencari jalan untuk bisa lari dari pelukan Aril.


Begitu juga Aril yang selalu kewalahan mencari Riko yang selalu ngumpet setiap kali Aril datang. Kelakuan mereka udah seperti Tom and Jerry.


Aira sekretaris Riko akhirnya tau apa yang terjadi dengan Bos dan sahabatnya itu. Saat dia mengetahui ceritanya Aira tak berhenti tertawa melihat sikap Bosnya yang jijik dengan sahabatnya sendiri.


Tak jarang Aira juga membantu Riko untuk menghindar dari kejaran Aril. Ujung - ujungnya Romi ikutan pusing karena menjadi tempat Aril menangis karena kesal tidak bisa bertemu Riko.


Hubungan mereka sudah seperti segitiga bermuda yang sulit untuk mencari titik terang dimana keberadaan letaknya.


Refan, Bagus dan Bimo sering tertawa kalau mendengar curhatan Romi dan Riko yang kesulitan menghadapi ngidamnya Aril.


Sementara tampang Aril terlihat mengenaskan. Antara ingin melawan hasrat tapi tak mampu. Sekuat apapun dia ingin melawan keinginan hatinya untuk bertemu Riko. Akhirnya dia harus menyerah dan tetap berada di kantor Riko atau Romi setiap harinya.


Reni si Setan Kecil mengatakan kalau itu adalah hukuman bagi para sang mantan Casanova untuk menebus kesalahan mereka selama ini. Selama ini mereka selalu mempermainkan perasaan wanita.


Pertikaian mereka bertiga bermula dari seorang wanita hamil. Sungguh tragis hidup mereka selama dua minggu ini.


Kini sudah tiba saatnya Romi beserta rombongan keluarganya dan juga Ela berangkat menuju Surabaya. Seperti kesepakatan awal Bela ikut berangkat bersama mereka.


Sedangkan Aril dan teman - temannya yang lain menyusul esok paginya ke Surabaya. Aril dengan wajah lesunya mengantarkan Bela ke Bandara.


"Kamu kenapa Ril?" tanya Pak Hidayat, Papanya Romi.


"Aku? Ah tidak apa - apa Om" jawab Aril.


"Tidak apa - apa bagaimana. Kamu sepertinya sedang sakit Ril?" tanya Pak Hidayat lagi.


"Hahaha dia ngidam Pa" jawab Romi.


"Ngidam bagaiamana?" tanya Pak Hidayat bingung.


"Tuh Bela lagi hamil anak kembar. Si kunyuk ini kebagian ngidamnya" jawab Romi.


"Aril ngidam? hebat kamu Ril. Kamu diberi kehormatan untuk merasakan apa yang wanita rasakan saat hamil" puji Mama Romi.


"Benarkah Tante?" tanya Aril mulai bangga karena pujian.


"Iya, langka lho seorang pria bisa ngidam seperti Aril" sambut Bu Hidayat.


"Kalau aku sih mending gak pernah Ma ketimbang ngidam seperti Aril" potong Romi.


"Emang ngidam Aril seperti apa?" tanya Pak Hidayat penasaran.


"Kangen Riko. Setiap hari ngejar - ngejar Riko untuk bertemu. Pusing aku karena mereka" jawab Romi.


"Aril ngidam kangen Riko, maksudnya gimana?" tanya Pak Hidayat semakin bingung.


"Setiap hari Aril harus melihat wajah Riko. Lumayan kalau hanya lihat wajah doank Pa. Terkadang dia pengen pegang dan peluk. Untung aja gak pengen cium, iiiih geli aku" jawab Romi.


"Hahahaha... ada - ada saja ngidam kamu Ril" tawa Bapak dan Ibu Hidayat pecah.


Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Yah mau gimana lagi Om. Keinginan ini sangat sulit dikendalikan. Aku tak habis pikir, mungkin anakku jatuh cinta pada Riko sejak dalam kandungan" ujar Aril.


"Mending kalau anak kamu cewek. Gimana coba kalau yang lahir cowok, iiiiiiiiih... " Jawab Romi. Romi merasa geli dan merinding.


"Tuh dia yang selalu aku khawatirkan" sambut Aril.


"Sudah.. sudah.. gak usah dipikirkan. Ngidam itu ya memang gitu suka yang aneh. Ada lho teman Mama yang selama hamil gak pernah minum air putih. Setiap kali dia minum selalu mual. Ada juga yang suka makan balsem" ungkap Bu Hidayat.


"Ah yang betul Ma?" tanya Romi terkejut.


"Idiiiih serem banget. Apa gak berbuih tuh lambung" potong Romi.


"Trus gimana Tante? Apa teman Tante itu masih hidup sampai sekarang?" tanya Aril penasaran.


"Ya hidup, wong dia lawan rasa ingin icip sabun colek nya. Kalau beneran dia icip ya mati dia keracunan" jawab Bu Hidayat.


"Bisa di lawan Tante?" tanya Aril ingin tau.


"Bisa donk, kalau ngidamnya mematikan seperti itu ya harus di lawan. Taruhannya nyawa" jawab Mama Romi.


"Lah aku taruhannya harga diri Tante. Malu banget ngejar - ngejar Riko udah kayak hom*, hancur sudah harga diriku" potong Aril sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal.


Tingkahnya membuat Romi dan Papanya tertawa. Wajah Aril sungguh sangat mengenaskan.


"Gimana sih cara ngatasinnya Tante?" desak Aril.


"Ya kamu coba saja alihkan pikiran kamu. Konsentrasi dan cari kesibukan agar kamu lupa" jawab Bu Hidayat.


"Susah banget Tante, pekerjaanku sampai terbengkalai gara - gara ngidam aneh" sambut Aril.


"Coba saja dengan niat yang kuat. Seperti niat puasa pada anak - anak, kalau dari awal niatnya kuat pasti gak kerasa menjalaninya sampai tiba waktu berbuka. Tapi kalau niatnya lemah, siang hari ya udah kelaparan" ujar Mama Romi.


"Iya juga ya Tante.. Aku akan mencoba mengalihkan pikiranku pada hal - hal yang lain dan melupakan ngidamku yang ingin melihat Riko. Lihatlah Riko aku akan bisa melupakanmu" ucap Aril penuh semangat.


Romi menepuk bahu sahabatnya untuk memberikan semangat.


"Goodluck bro... semoga kamu berhasil" ujar Romi.


Bela sedang asik ngobrol bareng Ela di kursi ruangan tunggu. Mereka sepertinya sedang membicarakan hal yang serius.


"Beruntung banget kamu ya Ril, Bela bisa secepat itu hamil. Dan langsung dapat bayi kembar. Papa dan Mama kamu pasti senang banget dapat cucu langsung dua" ucap Mama Romi.


"Alhamdulillah Tante, rezekinya begitu. Allah sayang banget padaku dan keluargaku. Mama dan Papa ya senang banget. Mama aja sampai tiap hari lho datang ke apartemen untuk menjaga Bela yang mabuk hamil muda" sambut Aril.


"Oh mabuk juga Bela? Tante kira kamu kebagian mabuk nya juga, Bela hanya bertugas mengandung?" tanya Bu Hidayat.


"Nggak Tante, Bela yang mabuk. Kasihan terkadang melihat dia lemah tak berdaya. Perutnya gampang laper tapi begitu makanan masuk langsung dimuntahkan. Aku sering nangis melihatnya" ungkap Aril.


"Kamu nangis?" tanya Pak Hidayat tak percaya.


"Hati Aril lembut banget Pa sejak Bela hamil. Alias cengeng, pantang tersentuh dikit melow deh seharian. Papa pasti geli melihat tingkah anehnya setiap hari. Terkadang nangis - nangis udah kayak anak kecil minta permen" jawab Romi.


"Hahaha... kamu lucu sekali Ril. Aneh ngidam kamu" sambung Pak Hidayat.


Panggilan untuk para penumpan yang akan terbang ke Surabaya. Rombongan bersiap - siap untuk berangkat. Aril mengelus lembut perut istrinya untuk perpisahan.


"Baik - baik ya sayang di dalam perut Mama.. Papa akan merindukan kalian" ucap Aril sedih.


"Mas juga hati - hati ya.. aku pergi dulu. Jaga diri Mas" balas Bela.


Aril memeluk Bela dengan erat, perpisahan mereka ini mengingatkan Aril saat mereka harus berpisah setelah honeymoon mereka karena Aril harus terbang ke Singapura mengurus pabriknya yang terbakar.


Aril merasa sedih sekali berpisah dengan Bela. Sehingga dia tidak bisa menahan tetes air matanya mengalir deras.


Bapak Ibu Hidayat dan Romi tertawa melihat perpisahan Aril dan Bela.


"Udah kayak anak TK ditinggal emaknya pergi" gumam Romi.


.


.


BERSAMBUNG