Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Enam



"Aku kangen Riko yank, aku pengen ketemu Riko sekarang juga" jawab Aril.


"Ueeeek.. ueeeek... " Bela segera lari ke kamar mandi.


Aril juga ikutan mengejar Bela.


"Yank kamu kenapa?" tanya Aril bingung.


"Mungkin aku masuk angin Mas. Perutku sakit sekali, rasanya isi perutku seperti berputar dan aku mual sekali" jawab Bela.


Tiba - tiba Aril langsung bersedih.


"Ini pasti hukuman untukku yank karena jahat pada Riko dan Dini" jawab Aril.


Bela segera mencuci mulutnya dan keluar dari kamar mandi. Aril mengikutinya dari belakang.


"Hukuman bagaimana?" tanya Bela penasaran.


"Aku tau Dini alergi durian saat kita di kapal pesiar waktu Bimo dan Reni honeymoon. Waktu itu kan Mbak Jelita dan Bang Tagor bawa puncake durian. Ternyata Dini sangat tidak suka wangi durian, dia mual dan muntah - muntah ketika mencium baunya" ungkap Aril.


"Trus apa hubungannya dengan hukuman?" tanya Bela semakin bingung.


Mata Aril tiba - tiba berkaca - kaca karena sedih. Seketika mata Bela membesar karena dia mengingat sesuatu.


"Jangan bilang tadi malam Mas yang ajak Mas Riko makan durian?" tebak Bela.


"Iya yank aku mengajaknya makan durian di pinggir jalan tadi malam. Aku iseng yank pengen kerjain Riko biar malam pertama mereka gagal seperti kita" jawab Aril sangat sedih.


"Jahat banget kamu Mas. Dosa tauk ganguin mereka. Mas Riko kan sama seperti kamu mantan playboy yang sudah lama bertaubat dan berpuasa. Iih aku gak nyangka suami aku sejahat itu" ucap Bela marah.


Aril langsung menangis.


"Maafkan aku sayang aku memang salah tapi aku tidak jahat. Aku sayang Riko, aku kangen dia. Kita ke Mekkah yuk yank nyusul mereka. Aku mau minta maaf sama Riko. Aku kangen dia" rengek Aril.


Seketika bulu kuduk Bela berdiri melihat tingkah suaminya yang semakin aneh.


"Ma.. maaas apa yang kamu bilang? Kamu sayang Mas Riko? Kamu masih sehat kan Mas? Kamu gak jatuh cinta beneran kan sama Mas Riko?" tanya Bela penasaran


"Tidak yank.. aku hanya jatuh cinta kepada kamu. Kamulah cinta matiku tapi aku sayang sama Riko. A.. aku gak tau kenapa aku jadi seperti ini. Aku kangen Riko yank, aku ingin ketemu dia" ungkap Aril.


Aril segera meraih ponselnya dan menghubungi Riko. Tapi tidak tersambung karena ponsel Riko mati. Riko dan Dini sedang dalam perjalanan menuju tanah suci.


"Gak aktif yank" lapor Aril.


"Ya gak aktif donk Mas, mereka kan sedang dalam pesawat menuju Mekkah. Kamu ini semakin aneh ah. Aku pusing Mas, mual. Aku ingin istirahat" ujar Bela.


Bela segera berbaring diatas tempat tidur. Sedangkan Aril masih duduk di sofa dan sibuk menghubungi ponsel Riko.


Bela tidak ingin suaminya ini bertingkah hal aneh lagi sehingga mengganggu honeymoon dan ibadah umrohnya Riko dan Dini. Bela segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Bela.


Bela


Din tolong selama kamu dan Mas Riko disana kalian blokir saja nomor Mas Aril. Aku takut dia akan mengganggu ibadah kalian disana. Nanti setelah kalian pulang aku akan cerita semuanya pada kamu.


Keesokan harinya rasa mual Bela semakin parah, padahal dia sudah minum obat pusing, obat mual dan obat asam lambung tapi rasa mual nya tidak berkurang.


Sementara Aril terus merengek seperti anak kecil kepada Bela agar Bela mau berangkat umroh bersamanya menyusul Riko dan Dini. Bela jadi semakin pusing.


Tiba - tiba Bela ingat sesuatu dan langsung mengambil kalender untuk menghitung waktu. Harusnya dia haid lima hari yang lalu tapi sampai sekarang tidak juga kunjung tiba.


Dia tidak pernah mengalami hal seperti ini. Bela langsung menyuruh Aril pulang kantor singgah ke apotek untuk membeli test pack. Hari ini Bela tidak ke kantor karena sakit.


Sepulang kantor Aril langsung pulang karena mengingat istrinya sedang sakit. Tak lupa dia singgah ke apotek untuk membeli pesanan Bela. Dengan penuh suka cita Aril mengerahkan alat test kehamilan pada Bela.


Bela segera ke kamar mandi untuk mengetes nya. Lima menit kemudian Bela keluar sambil membawa alat tes kehamilan dengan penuh senyum bahagia.


"Gimana Yank?" tanya Arik tak sabar dan penasaran.


"Nih Mas lihat sendiri" Bela menyerahkan test pack kepada Aril.


"Apa maksudnya ini yank?" tanya Aril bingung.


Dia melihat ada garis dua berwarna merah di alat tes kehamilan itu.


"Benarkah yank?" tanya Aril tak percaya.


"Iya Mas" jawab Bela.


Aril langsung sujud syukur dilantai dan menangis haru.


"Alhamdulillah ya Allah.. KAU melihat kerja keras kami dan mengabulkan doa - doa kami" ucap Aril.


Bela langsung memeluk Aril penuh haru, mereka menangis bersama.


"Yank kita ke dokter yuk sekarang. Aku gak mau kamu sakit dan anak kita juga kurang gizi karena kamu muntah - muntah terus. Pasti kamu mual karena hamil muda kan? Dulu Refan juga begitu waktu Kinan hamil" ajak Aril.


"Iya Mas, yuk. Aku juga mau tau hasil dari dokter. Apakah anak kita sehat" sambut Bela.


Aril dan Bela langsung pergi ke dokter sore itu juga untuk memeriksakan kandungannya.


"Ibu Bela Akarsana" panggil perawat ketika mereka menunggu antrian di depan ruang praktek dokter kandungan.


"Iya, saya" sahut Bela.


Bela dan Aril masuk ke dalam ruangan dokter. Bela dipersilahkan naik keatas tempat tidur untuk melakukan pemeriksaan.


"Selamat Pak Bu.. Sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua" ucap sang dokter.


Bela dan Aril saling tatap bahagia.


"Alhamdulillah.. " jawab mereka.


"Dan sekali lagi selamat karena anak kalian kembar. Nih ada dua calon bayi yang ada di dalam kandungan Ibu" ucap Dokter sambil menunjukkan dua lingkaran di layar monitor.


"A.. apa Dok.. anak kami kembar?" tanya Aril tak percaya.


"Iya Pak. Apa antara Ibu dan Bapak ada keturunan kembar?" tanya Dokter.


"Ada Dok. Kakak kandung saya kembar" jawab Bela.


"Nah berarti emang sudah keturunannya Bu" sambut Dokter.


"Mas anak kita kembar" ucap Bela pada Aril.


"Iya sayang.. terimakasih ya Allah. Mama dan Papa pasti senang sekali dapat cucu langsung dua" sambut Aril haru.


Lagi - lagi Aril meneteskan air mata karenanya.


"Apa ada keluhan Bu?" tanya Dokter.


"Saya merasa mual Dok, terlebih pagi hari. Tidak ada makanan yang bisa masuk. Siang hari mulai reda, malam hari baru enak makannya" jawab Bela.


"Biasa itu Bu di trimester pertama. Apalagi pagi hari itu namanya morning sickness. Biasa dialami Ibu - ibu hamil usia kandungan seperti Ibu saat ini" ungkap Dokter.


Bela dan Aril mendengarkan penjelasan Dokter


"Bapak harus ektra sabar ya, biasanya kalau lagi hamil seperti ini Ibu jadi lebih sensitif. Suka ngambek, marah atau malah nangis" sambung dokter.


"Saya tidak ada merasa seperti itu Dokter. Perasaan saya biasa saja sejauh ini. Saya hanya mengeluh mual. Malah yang aneh suami saya yang jadi berubah sikapnya seperti yang dokter katakan tadi" ucap Bela.


"Oh ya?" tanya Dokter tak percaya.


"Dia dari kemarin aneh Dok, gampang banget nangis seperti anak - anak yang minta dibeliin permen. Tuh lihat, sekarang aja dia nangis dok karena tau saya hamil anak kembar" ungkap Bela sambil menunjuk ke arah Aril.


Dokter langsung tersenyum lebar saat melihat Aril yang sedang menangis.


"Berarti Bapak yang ngidam ya Bu" ujar Dokter merasa lucu.


.


.


BERSAMBUNG