
Sudah beberapa hari berlalu setelah pertemuan Riko dan Hana di Restoran sepulang Riko dan Dini honeymoon ke dua. Hari ini jadwal pengajian di kantor Refan.
Seperti biasa setelah selesai pengajian mereka tak langsung pulang. Mereka mengobrol dulu.
"Fan berapa lama tes DNA?" tanya Riko pada Refan.
"Kemarin waktu aku tes DNA Naila dan aku sekitar satu bulan" jawab Refan.
"Tidak bisa lebih cepat?" tanya Riko penasaran.
"Saat itu aku mau hasil yang benar - benar akurat. Biarlah pemeriksaannya berjalan dengan normal agar hasilnya lebih pasti. Emang kenapa? Siapa yang mau tes DNA?" tanya Refan.
Riko terlihat sedang berpikir keras.
"Ada apa bro?" tanya Romi.
"Kalian ingat Hana?" tanya Riko pada Aril dan Romi.
"Hana? Hana yang dulu pernah jalan sama kamu kan?" tanya Aril.
"Giliran wanita langsung ingat ya?" sindir Bimo.
"Sorry Kakak ipar ingatanku memang rada kuat kalau ingat wanita" jawab Aril tersenyum.
"Dasaaar" umpat Bimo.
"Ada apa dengan Hana Ko?" tanya Romi penasaran.
"Kemarin waktu pulang dari Ambon, sampai Jakarta aku dan Dini mampir di restoran. Di sana aku bertemu Hana, lebih tepatnya Hana yang memanggil aku saat aku dan Dini mau pulang. Dia menggendong seorang anak perempuan kecil yang aku prediksi umurnya sekitar satu setengah atau dua tahun. Terus dia mengatakan kalau anak itu adalah anakku" ungkap Riko dengan wajah murung.
"Waduuuuh gawat" sambung Bagus.
Romi dan Aril saling pandang.
"Hal seperti itu juga sering menghantuiku Ko. Setiap mengingat masa lalu aku selalu merasa menyesal. Mengapa dulu kita terperosok sampai dalam di kawah kemaksiatan" ungkap Romi.
"Aku juga sering berpikiran seperti itu. Apa iya dulu aku selalu bermain bersih. Kalau ternyata aku lalai atau terjadi kecelakaan yang tidak kita duga bagaimana? Apakah pasangan kita bisa menerimanya?" sambut Aril.
"Kamu percaya begitu saja?" tanya Bimo.
"Sebenarnya aku gak percaya Bim, tapi hubunganku dengan Hana memang tidak sekali saja. Aku pernah beberapa kali bersamanya. Itu yang membuat aku sangsi dan seperti yang Romi dan Aril katakan tadi. Beberapa hari ini aku selalu berpikir apa iya yang aku lakukan selama ini benar - benar aman. Kalau terjadi kebocoran bagaimana?" tanya Riko.
"Bro alat keamanan itu sebelum dijual sudah di uji lebih dulu" potong Aril.
"Kecuali kalau kita salah pemakaian" sambut Romi.
"Salah pemakaian bagaimana?" tanya Bimo bingung.
"Kelamaan cabut Kakak ipaaaaar.. ih polos amat sih" ucap Aril.
"Hahahah geli aku" tawa Bagus pecah melihat Aril dan Bimo.
"Huuss... ini saatnya serius, jangan ketawa" ucap Aril.
Bagus berhenti tertawa tapi dia masih tersenyum karena menahan lucu.
"Bagaimana tanggapan Dini?" tanya Refan.
"Dia gak marah" jawab Riko.
"Kalau Ela mungkin aku sudah habis di karate" sambung Romi lagi.
"Kalau aku mungkin sudah mati di bunuuuuh... Bimooo" ucap Aril sambil melirik Bimo.
Refan dan Bagus tersenyum melihat Aril dan Bimo yang saling tatap.
"Dini bilang kalau yang terjadi karena dampak masa lalu dia sudah siap menerima. Asalkan aku tidak melakukan kesalahan setelah aku menikah dengannya. Dia mau menerima anak itu, kalau memang terbukti anakku. Kami akan berbagi waktu dengan Hana untuk mengasuh anak itu" sambung Riko.
"Iya kalau cuma minta pengakuan anak. Kalau dia minta dinikahi juga bagaimana?" tanya Bagus.
"Aku tidak mau, tidak ada hak dia untuk menuntutku menikahinya. Kejadian itu sudah masa lalu dan saat ini aku sudah menikah. Aku akan bertanggung jawab pada anak itu kalau memang terbukti dia anakku tapi hanya sampai di situ saja. Selebihnya aku tidak mau meladeni Hana untuk tuntutan apapun" tegas Riko.
"Ya mana tau bro Hana serakah, lihat kamu dan Dini bahagia. Dia ingin juga jadi istri kamu meskipun yang ke dua" sambung Aril.
"Aku tidak bisa menduakan Dini. Hanya dia satu - satunya istri yang aku inginkan. Aku tidak butuh orang lain. Kalau masalah anak, aku juga yakin Dini akan menyayangi anak itu karena sejatinya Dini memang sangat menyukai dan menyayangi anak - anak. Pasti dengan mudah dia bisa menyayangi anak itu dan mau mengasuhnya. Aku sudah memikirkan jika hal terburuk yang terjadi" ungkap Riko.
"Apa keluarga Dini sudah tau Ko? Aku takut nanti Papa Dini jadi menilai jelek kamu lagi soalnya dulu kan Papa Dini gak setuju sama kamu ya karena itu alasannya?" tanya Refan.
"Belum.. belum ada. Aku juga belum bicara sama Galuh" jawab Riko.
"Menurut aku, kamu harus cerita sama Galuh Ko. Selain Galuh pria yang baik dan dewasa dia juga menantu pertama di rumah mertua kamu. Dia pasti sangat mengenal watak mertua kamu. Mungkin kami bisa mendapat wejangan dari dia gimana cara menghadapi keluarga Dini" ujar Bimo.
"Iya benar itu" sambut Bagus.
"Selain itu kamu harus selidiki betul Ko, apa benar anaknya Hana itu memang anak kamu? Biar semua jelas. Kalau Hana sudah berkata seperti itu kamu harus perjelas sampai tuntas. Itu akan berdampak buruk pada keluarga kamu kelak. Jika anak itu memang putri kamu dan kamu tidak tau, kelak kamu punya anak laki - laki bisa saja menikah dengan anak itu. Bisa jadi kawin saudara Ko. Dosanya sangat besar" pesan Bimo.
"Iya benar, makanya saat hasil DNA Naila jelas bahwa dia bukan anakku, disatu sisi aku bersyukur bisa mengetahuinya lebih awal. Jadi nanti kalau aku ketemu Naila aku bisa menentukan sikap dan jaga jarak. Karena dia bukan mahromku. Itu sangat penting Ko" sambung Refan.
"Aku semakin merasa berdosa telah melakukan banyak dosa dulu. Aku sangat menyesal sekali. Dulu hal seperti ini tidak pernah aku pikirkan" ucap Riko.
"Kamu benar Ko, dulu kita merasa di atas angin. Bangga karena posisi kita saat itu di puja banyak wanita. Mereka malah saling bersainh untuk bisa menjadi teman kita walau semalam" sambut Aril.
"Astaghfirullah ya Allah.. ampuni dosa - dosa kami dulu" ucap Romi berdoa.
"Aamiin... " jawab semuanya.
"Apa langkah kamu selanjutnya?" tanya Bimo.
"Cari Hana Ko, selesaikan sampai tuntas biar semua jelas. Dari pada semua ambigu dan abu - abu. Dan juga agar tidak ada rasa penasaran" pesan Refan.
"Benar Fan, aku setuju banget" sambut Bagus.
"Kamu minta sisir anaknya Hana atau sikat giginya lalu kamu lakukan tes DNA agar semuanya jelas" perintah Refan.
"Baik Fan, aku akan segera menjalankan perintah kamu. Malam ini akan aku bicarakan rencana ini kepada Dini. Besok aku akan mencari Hana dan meminta alat bukti untuk tes DNA" jawab Riko.
"Kamu harus kuat Ko. Apa yang telah kita lakukan dulu memang harus kita pertanggung jawabkan. Kali ini kamu yang mengalami masalah ini. Kelak di depan bisa saja kami" ucap Romi memberi semangat.
"Aku jadi merinding mengingat wanita - wanita yang dulu sempat menjadi teman bermain kita. Mudah - mudahan tidak terjadi hal seperti ini lagi Rom. Bisa mati aku ditembak Bimo" sambut Aril.
Bimo melirik ke arah Aril sedangkan Aril semakin merinding karena tatapan Bimo Kakak iparnya.
.
.
BERSAMBUNG