
Riko
Jam berapa aku bisa menjemput Rihana?
Hana
Besok aku berangkat pagi Ko. Bagaimana kalau sore ini aja kamu jemput?
Riko
Kamu bisa tenang meninggalkannya kepada kamu yang belum pernah dia kenal sama sekali?
Hana
Kamu adalah Papanya, semua hanya masalah waktu Ko. Aku yakin dia pasti mau aku tinggal bersama kalian. Rihana anak yang baik dan manis. Kalian pasti akan menyukainya. Aku tunggu nanti sore ya di rumahku
Riko
Aku akan datang bersama istriku.
Hana
Tidak masalah, silahkan kamu bawa istri kamu. Dia juga akan belajar jadi Ibu sambung untuk Rihana. Nanti juga semua akan terbiasa dengan keadaan ini.
Riko memandangi ponselnya. Dia ingat perkataan Dini kemarin sore yang dengan tulusnya bersedia mengasuh Rihana, jika memang anak itu terbukti anak kandung Riko.
Rasanya tak adil untuk Dini tapi Riko tidak tau harus berkata apa. Dua minggu lagi setelah hasil tes DNA yang dia tes sendiri keluar baru dia akan mengabari keluarganya.
Sebelum itu terjadi biarlah seperti ini dulu. Di lubuk hati Riko yang paling dalam dia masih berharap hasil tesnya negatif. Rihana bukan anak kandungnya.
Tiba-tiba Riko tersentak dengan suara deringan ponselnya sendiri. Riko melirik nama yang tertera di layar ponselnya. Ternyata Dini yang menghubunginya.
"Assalamu'alaikum sayang" ucap Riko memulai pembicaraan mereka.
"Wa'alaikumsalam Mas. Gimana Mas, udah jadi hubungi Mbak Hana?" tanya Dini.
"Sudah, aku sudah kirim pesan padanya. Dia meminta sore nanti kita jemput Rihana ke rumahnya" jawab Riko.
"Ya sudah kalau begitu sore pulang kerja Mas jemput aku baru kita jemput Rihana" Sambut Dini.
"Mobil kamu sayang?" tanya Riko.
"Nanti aku suruh supir antar ke rumah saja" jawab Dini.
"Baiklah, nanti sore pulang kerja aku jemput kamu" sambut Riko.
"Oke Mas aku tunggu ya. Udah dulu ya.. Assalamu'alaikum" ucap Dini pamit.
"Wa'alaikumsalam" jawab Riko.
Riko menutup teleponnya. Tak lama kemudian seorang pria masuk ke dalam ruang kerja Riko. Pria itu tak lain adalah orang kepercayaan Riko yang Riko tugaskan untuk mencari informasi tentang Hana.
"Pagi Pak Riko" sapa pria itu.
"Pagi, silahkan duduk" perintah Riko.
Pria itu duduk di depan meja kerja Rikiy kemudian dia menyerahkan map berwarna merah tua.
"Ini Pak data - data wanita yang Bapak cari. Tak banyak yang didapatkan karena sepertinya wanita itu sepertinya menutupi memang sengaja menutupi data dirinya" ungkap pria itu.
Riko meraih map yang diberikan pria itu dan membukanya.
Nama : Hanafiah Pratiwi
Usia : 29 tahun
TTL : Jabar, 17 maret 1993
Pekerjaan : Karyawan PT. XXX, Jakarta
Status : Belum menikah
Alamat : Perum. XX, JL.XX (Ngontrak)
Asal : Jawa Barat, tidak diketahui dimana kampungnya.
Pendidikan : SDN di Kota X, Jawa Barat
SMPN di Kota Y, Jawa Barat
SMUN di Kota Z, Jawa Barat
Kuliah di Bandung, Jabar
Orang tua : Ibu meninggal di Kota Y
Bapak meninggal di Kota Z
keluarga : Tidak ada
Riko menarik nafas panjang.
"Selama ini dia hidup berpindah - pindah ternyata dari satu kota ke kota lain. Sejak SD sampai Kuliah dan sekarang dia bekerja di Jakarta" gumam Riko.
Riko menatap pria yang ada di hadapannya.
"Jadi dia hanya tinggal sendirian tidak punya keluarga?" tanya Riko.
"Begitulah Pak" jawab Pria itu.
Pantas saja dia ingin menitipkan anak itu padaku dan Dini saat dia pergi keluar kota. Batin Riko.
"Dimana dia titipkan anaknya selama ini?" tanya Riko.
"Siapa ayah anak itu?" tanya Riko.
"Bapak. Bukannya kemarin Bapak sudah suruh saya tanya kejelasan hasil tes DNA di rumah sakit?" tanya pria itu balik.
"Maksudku di data anaknya siapa yang dia tulis ayah dari anak itu?" tanya Riko penasaran.
"Tidak ada Pak, selama ini tidak ada tertera kalau anak itu anak siapa. Melihat data anak itu di Penitipan Anak Kencana, hanya tertera nama wanita itu saya Pak sebagai orang tuanya" jawab sang Pria.
"Kamu sudah cek siapa pria yang pernah dekat dengan dia?" tanya Riko.
"Sekitar tiga tahun ini dia tidak pernah dekat dengan pria manapun Pak. Kalau saya hitung sejak dia hamil anak Bapak. Sebelum itu saya mendapatkan data kalau dia pernah dekat dengan beberapa pria tapi yang paling banyak dan lama pria itu adalah Bapak" jawab Pria itu.
Gubrak....
Riko mengepalkan tangannya dan memukuk meja kerjanya.
"Sial" umpat Riko kesal.
"Jadi apa kesimpulan kamu?" tanya Riko.
"Anak itu memang anak Bapak" jawab pria itu dengan tegas.
Riko kembali beberapa kali memukul meja dengan keras.
"Kenapa aku bisa seceroboh ini. Mengapa dulu aku tidak pernah menyelidiki setiap wanita yang jalan bersamaku" ucap Riko kesal.
Pria yang ada di hadapan Riko hanya diam.
"Kamu terus kawal hasil tes DNA yang sama buat di RS. XXX jangan sampai bocor dan dimanipulasi" perintah Riko.
"Baik Pak" jawab Pria itu.
"Cek juga kemana dia pergi besok. Kota mana yang dia tuju, untuk tujuan apa dan apa yang dia lakukan di sana?" perintah Riko.
"Siap Pak" jawab Pria itu cepat.
"Kalau begitu kamu bisa pergi" ujar Riko.
"Baik Pak" jawab Pria itu sambil berdiri.
"Uang kamu sudah saya transfer, berikan saya informasi yang saya inginkan tadi. Saya akan transfer uang lagi pada kamu" ungkap Riko.
"Siap Pak, terimakasih" sambut Pria itu.
Pria itu segera berlalu dari hadapan Riko dan berjalan keluar ruang kerjanya.
"Sial.. Sial.. Sial... semuanya memang mengarah padaku. Tidak ada data yang bisa aku dapatkan dari Hana. Kalau dia masih hidup sendiri, tidak punya teman pria selama itu dan tidak menuntut pernikahan padaku. Apa yang sedang dia rencanakan? Apa benar kamu hanya ingin aku mengakui anak itu sebagai anakku Han?" tanya Riko.
"Aaaakh.... " teriak Riko sambil mengacak - acak rambutnya karena kesal.
"Baiklah untuk sementara aku ikuti permainan kamu. Aku dan Dini akan jaga anak itu. Karena memang tidak ada orang yang bisa kamu percaya. Aku rasa Dini pasti akan menyukai anak itu karena dia memang sangat sayang dengan anak - anak. Tapi kalau anak itu bukan anakku aku tidak akan mau kamu manfaatkan seperti ini Hana. Lihatlah.. aku akan buat perhitungan pada kamu" umpat Riko sambil berbicara sendiri.
Sore harinya seperti rencana Riko dan Dini. Sepulang kerja Riko menjemput Dini ke kantor lalu melaju menuju rumah kontarakan Hana.
"Kamu ikut masuk ya yank" punya Riko.
"Iya Mas" jawab Dini.
"Ayo kita turun" ajak Riko.
Dini dan Riko turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah Hana. Ternyata Hana sudah menunggu kedatangan mereka.
"Maaf Mbaaaaak.... " ucap Hana terputus.
"Dini" jawab Dini.
"Eh iya. Maaf Mbak Dini, Riko pasti sudah cerita semuanya pada Mbak kan? Saya tegaskan pada Mbak, saya tidak akan mengganggu rumah tangga kalian. Saya hanya ingin Rihana punya Papa. Dia tau siapa Papanya dan mendapatkan kasih sayang dari Papanya. Saya dan Riko sudah sepakat untuk menjaga Rihana sama - sama" ungkap Hana.
"Kita belum sepakat Han" protes Riko.
"Baik.. baik.. setelah hasil tes kamu keluar kita akan buat kesepakatan lagi. Tapi kali ini saya mohon pertolot kalian. Tolong jagain Rihana selama dua hari saja. Setelah saya pulang dari luar kota saya akan jemput dia kembali" pinta Hana.
"Baiklah Mbak" jawab Dini.
"Ingat Han, kami hanya membantu kali ini. Setelah hasil tes DNA ku baru kita bicarakan lagi semuanya" tegas Riko.
"Oke Ko, aku terima. Tolong jagain Rihana ya. Aku titip anak kita" ucap Hana.
"Dia belum pasti anakku Han" bantah Riko.
"Baik.. baik.. titip anakku. Tolong ya Mbak" ucap Hana pada Dini.
"Iya Mbak" jawab Dini.
Hana menyerahkan Rihana kepada Hana. Benar kata Hana, Rihana anak yang cantik dan baik budi. Dengan mudahnya dia mau berpisah dengan ibunya.
"Sayang kamu jangan nakal ya di rumah Tante dan Om. Nanti kalau Mama sudah pulang kamu Mama jemput" ucap Hana.
"Iya Mama" jawab Rihana patuh.
"Anak manis" Hana mengecup lembut pipi Rihana.
"Kalau begitu kami pamit ya Mbak. Assalamu'alaikum" ucap Dini.
Dini, Riko dan Rihana keluar dari rumah Hana dan berjalan menuju mobil. Kemudian melaju menuju apartemen Riko.
.
.
BERSAMBUNG