
"Yes I Will" jawab Bela akhirnya.
Aril tersenyum bahagia dan hatinya sangat lega akhirnya lamarannya yang ke dua diterima. Impiannya selama ini menjadi kenyataan.
Aril mengeluarkan kotak perhiasan yang dia simpan di saku celananya. Dia membuka dan menyodorkannya ke arah Bela.
"Pasang sendiri ya.. nanti kalau kita menikah baru aku akan pasangkan cincin nikah kita" ucap Aril sambil tak putus tersenyum.
Bela jadi ikutan tersenyum mendengar kata - kata Aril.
"Mas Ariiiil..... " sambut Bela.
"Ya sayaaang" jawab Aril lembut.
"Tuh kaaaaan" wajah Bela terlihat merah merona.
Bela mengambil cincin di dalam kotak perhiasan dan memakainya sendiri. Aril berdiri dan kini mereka berdua berhadapan.
"Terimakasih ya kamu sudah menerima lamaran ku yang ke dua ini. Tadi pagi aku masih berpikir kalau kamu masih menolak lamaran ku yang kedua. Tapi pasti akan ada lamaran yang ke tiga, ke empat dan lainnya sampai kamu mau menerimaku. Ternyata aku di prank duluan, tadi di Tanah Lot kamu yang duluan mengutarakan perasaan kamu padaku. Sebagai mantan Casanova harga diriku merasa tersentil masak aku yang ditembak cewek duluan, harus aku donk yang lamar kamu duluan. Maaf ya kalau tadi kata - kataku di Tanah Lot udah buat kamu sedih dan menangis. Kamu pasti sakit banget, sudah mempertaruhkan harga diri buat ungkapin perasaan kamu tapi aku malah jawab begitu. Tapi semua itu aku lakukan demi rencana besar malam ini. Kamu tau rencana lamaran yang kamu dengar dalam pembicaraan aku dan Romi bukan untuk melamar Sintia tapi untuk melamar kamu. Aku dan Sintia hanya teman lama, kami tidak punya hubungan apapun. Kamu tidak mendengar dari awal pembicaraan kami sehingga kamu langsung ketakutan kalau aku akan melamar wanita lain. Tapi ada baiknya juga kamu mendengarnya cuma sedikit, dengan begitu aku bisa tau perasaan kamu tadi sehingga lamaran aku kali ini, aku sangat yakin akan diterima" ungkap Aril lega.
Bela memukul bahu Aril beberapa kali sambil menangis.
"Mas Aril jahat" ucap Bela.
"Awww... sakit Bel. Kamu jangan buat aku makin gemes donk pada kamu. Aku bisa gak kuat ni. Rasanya pengen peluk kamu aja saat ini" bisik Aril.
"Tuuuu kan jahaaaaat" teriak Bela manja.
"Tapi kamu suka kan?" goda Aril.
Bela menganggukkan kepalanya dengan wajah merah membara karena menahan malu.
"Jadi Mbak Sintia juga tau rencana Mas ini?" tanya Bela.
"Iya tanpa sengaja kehadiran Sintia di Bali dapat membuat kamu semakin ketakutan kalau aku direbut wanita lain. Kata orang bumbu cinta itu adalah cemburu. Rasanya semakin cinta karena sudah cemburu. Terbuktikan kamu cemburu sama Sintia sampai ngungkapin perasaan kamu padaku?" goda Aril.
"Udah ah Mas, aku malu banget ni" ujar Bela.
"Ehm... udah belum negosiasinya?" sindir Romi yang sudah bosan menunggu.
"Iya udah laper nih" sambut Sintia.
"Aku juga udah pegel banget nih pakai high heels" ujar Ela.
Aril dan Bela kini bisa tertawa lega.
"Hahaha.. iya udah selesai negosiasinya" jawab Bela.
Bela dan Aril berjalan menghampiri teman - temannya dan mereka duduk di depan satu meja. Malam ini mereka tetap akan makan malam bersama.
"Jadi kapan nih lamaran resminya?" tanya Romi.
"Nanti donk Rom dipikirin, kami kan sedang menikmati bersatunya dua hati. Besok - besok kan masih ada" jawab Aril.
"Jangan kalian duluan ya nikah dibanding kami" ujar Ela mengingatkan.
"Iya.. iya.. kami ikut antrian aja. Dini duluan, kalian baru kami" sambut Bela.
"Waaah aku terakhir donk" ujar Sintia.
Tak lama kemudian pelayan datang membawakan hidangan makan malam mereka berlima. Sambil berbincang - bincang ringan mereka menikmati makan malam dengan suasana pinggir pantai.
Sepertinya alam juga mendukung, langit tampak sangat cerah. Secerah hati Aril dan Bela malam ini. Bintang - bintang dengan terang bersinar menghiasi hati dia manusia yang sedang dilanda cinta.
Aril tak henti - hentinya memandang bidadari hatinya, begitu juga dengan Bela yang juga tak henti - hentinya bersyukur karena ternyata Aril belum melupakannya.
Aril masih setia mencintainya dan tidak tergoda dengan wanita lain. Ternyata selama ini Aril sengaja membuatnya cemburu agar Bela sadar dengan perasaannya sendiri.
Dan ternyata siasat Aril berhasil. Bela terbakar api cemburu bahkan sampai di galau berminggu - minggu dan akhirnya mengambil keputusan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Aril tanpa memikirkan harga dirinya sebagai wanita.
Tapi semua itu sudah berlalu kini dua hati mereka sudah saling berpaut dan cincin yang Bela pakai sudah mengikatkan janji mereka berdua untuk bersama - sama melangkah menuju jenjang pernikahan. Suatu hubungan yang halal dan mereka akan segera mengarungi bahtera rumah tangga bersama.
Setelah selesai makan malam, Sintia pamit lebih dulu. Karena dia sadar keberadaannya bisa saja mengganggu dua pasang manusia yang sedang dilanda cinta.
"Aku pamit duluan ke Hotel ya. Besok aku akan berangkat penerbangan pertama ke Jakarta" ucap Sintia.
"Oke Sin, terimakasih ya udah membantu aku dengan sangat totalitas. Bidadariku sampai galau dan manyun terus di kantor" ujar Aril.
"Seminggu ini bro melamun teruuuus" sambung Romi.
"Duh Mas Romi pakai acara ngadu segala" protes Bela.
"Aril ini harus di angetin Bel. Kalau aku gak bilang Rizal datang ke acara lamaran kami, mana bisa dia datang ke Surabaya. Dan kalau dia tidak datang pasti kejadian malam ini tidak akan pernah terjadi seumur hidup" jawab Romi.
"Iya deh.. aku juga sangat berterimakasih pada kamu dan Ela sudah bersedia membantu aku mewujudkan semua impian aku ini dan membantu menyadarkan Bela tentang perasaannya padaku" sambut Aril.
"Biasa aja Bro.. karena kamu sohib aku aja, kalau orang lain gak akan aku bantu" balas Romi.
"Oke ya.. aku balik. Selamat menikmati malam panjang ini. Hati - hati yang ke lima diantara kalian adalah setan" goda Sintia.
"Ya kamu setannya. Kan kamu yang kelima" potong Aril.
"Makanya aku gak mau lama - lama di sini. Bisa - bisa aku jadi setan beneran" sambut Sintia.
Sintia segera berdiri dari duduknya.
"Makasih atas makan malam yang nikmat ini, semoga kalian semua bahagia dan lancar - lancar sampai hari H ya" pesan Sintia.
"Aamin.. hati - hati ya Sin" sambut Aril.
"Selamat sampai tujuan" ujar Romi juga.
"Assalamu'alaikum... " ucap Sintia.
"Wa'alaikumsalam" jawab Romi, Aril, Bela dan Ela bersamaan.
Setelah itu Sintia berjalan kembali ke dalam hotel dan meninggalkan dua pasang manusia yang sedang bahagia.
"Kami jalan - jalan sebentar ya di pinggir pantai cari angin" ujar Romi sambil mengedipkan matanya kepada Ela.
Ela mengerti kode yang dilemparkan Romi. Mereka ingin memberikan waktu berdua untuk Aril dan Bela untuk merencanakan masa depan mereka setelah malam ini.
.
.
BERSAMBUNG