
"Maaf ya Pak, Bu dan yang lainnya. Aku pergi dulu bersama Klara. Nanti setelah aku kembali aku akan jelaskan semuanya" ujar Romi pada semuanya.
Romi berjalan menghampiri Klara dan mengajaknya pergi. Mereka meninggalkan Ela dan yang lainnya dengan tatapan penuh tanya.
Bu Budi mendekati putrinya.
"Bu jangan bertanya apapun padaku dulu ya.. aku mohon. Aku pun tidak tau apa yang sedang terjadi dengan Mas Romi dan wanita itu. Maaf.. aku balik ke kamar saja ya Bu. Aku sedang ingin sendiri" Pamit Ela.
Bapak dan Ibu Budi tampak khawatir dengan keadaan Ela. Sebenarnya mereka sangat yakin kalau saat ini Romi sudah benar - benar bertaubat tapi apa yang berada di masa lalu calon menantunya itu tidak bisa dilupakan.
Mereka tidak mau berpikiran negatif dulu sebelum semuanya jelas. Mereka hanya bisa berdoa, semoga tidak ada apa - apa dan semoga pernikahan putri bungsu mereka lancar dan tidak ada permasalahan lagi dengan masa lalu Romi.
Kini Romi dan Klara sudah berada di dalam mobil. Mobil Hotel yang dipinjam Aril atas rekomendasi dari calon mertuanya.
"Sekarang kamu bisa cerita, apa sebenarnya yang terjadi Klara?" tanya Romi.
"A.. aku lari dari rumah orang tuaku Rom. Papa Mamaku melarang aku menikah dengan pria biasa. Padahal aku sudah memiliki anak" ungkap Klara sambil menangis dan tetap menggendong anaknya.
"Jadi kamu sudah menikah?" tanya Romi.
Klara menganggukan kepalanya.
"Aku menikah satu tahun yang lalu. Saat aku hamil, orang tuaku memaksaku untuk tinggal dengan mereka karena mereka melihat kehidupanku yang susah menurut pandangan mereka dan menahanku karena aku sedang hamil. Setelah aku melahirkan aku tak sanggup berpisah dengan suamiku. Aku lari dari rumah orang tuaku" ungkap Klara.
"Lantas dimana suami kamu saat ini?" tanya Romi.
"Itu dia Rom, aku datang ke rumah kontrakanku dulu waktu aku tinggal dengan suamiku. Tapi kata mereka suamiku sudah pindah" jawab Klara.
"Jadi kemana tujuan kita sekarang?" tanya Romi bingung.
"Aa.. aku bingung Rom" Klara meneteskan air matanya.
"Please Kla.. pikirkan langkah yang akan kamu pilih. Aku siap membantu kamu kapan saja. Tapi kalau tanpa tujuan seperti ini aku tidak bisa berlama - lama. Kamu lihat wanita yang tadi berbicara denganku?" tanya Romi.
"Ya" sahut Klara.
"Dia calon istriku. Kami akan menikah dua bulan lagi. Dan yang sedang bersama kami tadi itu adalah keluargaku. Aku tidak ingin mereka berpikir macam - macam. Kamu tau kan bagaimana kehidupan aku dulu? Ada kepercayaan mereka yang kini aku pegang. Aku tidak ingin menyakiti perasaan orang - orang yang aku sayangi" pinta Romi dengan penuh keyakinan.
Klara melihat wajah serius Romi.
"Ternyata kamu sudah berubah ya Rom. Kamu benar - benar bisa berubah karena wanita itu. Padahal aku tau dia bukan tipe wanita yang selama ini kamu sukai" ujar Klara.
"Justru itu yang membuat aku jatuh cinta karena dia berbeda dari wanita - wanita yang selama ini aku temui. Dia bisa membuat aku menjadi pria yang lebih baik" balas Romi.
"Aku turut bahagia Rom atas hidup kamu. Semoga pernikahan kamu lancar" doa Klara.
"Aamiin.. " sambut Romi.
"Eh Rom tolong antarin aku ke rumah teman suamiku. Aku ingin bertanya dimana keberadaan suamiku saat ini" pinta Klara.
"Baik, kalau begitu kamu tinggal tunjukkan arah ke rumah teman suami kamu itu" sambut Romi.
Mobil melaju menuju rumah yang dituju dan mereka bertemu dengan pria yang menjadi teman dari suami Klara. Berdasarkan informasi dari pria itu, mereka mendapatkan sebuah alamat yang menjadi tempat tinggal suami Klara saat ini.
Tok.. Tok..
Klara mengetuk pintu tersebut dengan tidak sabar. Tak lama kemudian pintu pun terbuka. Terlihat seorang pria yang sangat terkejut melihat kedatangan Romi dan Klara saat itu.
"Mas... " panggil Klara.
"Mau apa kamu datang ke sini? Kamu mau minta cerai dariku? Ternyata benar kata Ibumu. Kamu akan menikah dengan pilihan mereka" jawab pria itu marah.
"Maaas... ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Romi adalah temanku, dia bukan pria yang akan dijodohkan Mama kepadaku. Justru karena itulah aku lari dari rumah orang tuaku Mas" Klara mulai menangis.
Romi tak tega melihat temannya itu.
"Maaf bukannya aku ingin mencampuri urusan rumah tangga kalian. Tapi karena aku sudah terlibat di sini , rasanya ada yang perlu aku jelaskan. Tadi aku tidak sengaja bertemu Klara di Hotel. Dia meminta bantuanku untuk mencari keberadaan kamu. Benar apa yang Klara katakan tadi, aku dan Klara hanyalah teman. Kami tidak mempunyai hubungan apapun. Niatku tulus untuk membantu kalian. Apalagi aku lihat saat ini Klara sedang kesusahan sambil menggendong bayi kalian" ungkap Romi.
"Anak kita? Benar kah ini anak kita sayang?" tanya pria itu sedih. Dia mulai meneteskan air mata.
"Iya Mas, ini bayi kita" jawab Klara.
Mereka saling berpelukan.
"Terimakasih kamu sudah membantu istri dan anakku. Maaf kalau tadi di awal aku bersikap kasar kepada kamu" ucap suami Klara.
"Tidak apa, aku mengerti. Semoga rumah tangga kalian bahagia" jawab Romi.
"Rom, terimakasih ya kamu sudah menolong aku. Kalau kamu butuh bantuan aku bersedia menjelaskan kepada keluarga dan calon istri kamu kalau hubungan kita hanya teman" ujar Klara.
"Tidak perlu Klara, aku bisa mengatasinya. Kalau begitu aku pamit dulu ya. Aku mau balik ke Hotel. Aku harus segera menemui Cishela" ujar Romi.
"Ci.. Cishela? Apakah calon istri kamu bernama Cishela Budianto?" tanya suami Klara.
"Ya benar, apa kamu mengenalnya?" jawab Romi.
"Ya aku mengenalnya, di sini tak banyak gadis bernama Cishela. Makanya aku langsung spontan tadi bertanya. Shela adalah adik kelasku dulu saat kuliah. Dia sangat terkenal karena keberaniannya melawan dan menghabisi para preman kampus" ungkap Suami Klara.
Romo tersenyum mendengar cerita pria itu. Gadis pujaannya itu memang seorang pemberani. Romi ingat dia pernah ke Kantor Polisi bersama calon mertuanya untuk mencari Cici beberapa tahun yang lalu. Tapi mereka tidak menemukannya karena Cici sudah pergi dan saat itu polisi mengatakan kalau nama wanita yang baru saja bertarung melawan para preman bernama Shela.
Andai saja mereka bertemu lebih cepat dulu pasti saat ini mereka sudah menikah. Ah tapi sudah lah.. itu semua sudah takdir Allah. Allah Maha Tahu kapan waktu yang tepat untuk mereka bertemu dan Allah memberikan kenangan indah akan hal itu di dalam benak Romi.
Yang penting beberapa bulan lagi dia akan menikah dengan Ela. Tiba - tiba Romi tersadar. Hari sudah malam dia harus kembali ke Hotel. Romi tidak mau Ela menantinya di Hotel dengan pikiran yang sedang kacau balau.
Pasti saat ini pikiran Ela tidak tenang. Mengingat bagaimana tadi tatapan curiga dari Ela dan keluarga mereka saat melihat Klara begitu dekat dengan Romi tadi.
Romi pamit kepada Klara dan suaminya untuk kembali ke Hotel. Dengan perasaan lega Romi berangkat menuju hotel tempat mereka menginap.
.
.
BERSAMBUNG