
"Mas Bimo Bela teleponan sama cowok pakai baju sexy..... " teriak Ela.
Sontak Bela langsung menutup mulut Ela.
"Ssst kamu berisik banget sih. Aku teleponan sama Mas Aril, suami akuuuu" bisik Bela di telinga Ela.
Setelah Ela tenang baru Bela melepaskan tangannya dari mulut Ela.
"Ups... sorry Mas.. aku kelupaan kalau Bela sudah menikah dengan kamu" Ela melambaikan tangannya kearah HP Bela.
Anjiiiiiir... kenapa aku jadi serba salah dan malu seperti ini ya.. Seperti ketangkap sedang berbuat mesum sama cewek. Padahal itu kan istri aku sendiri. Umpat Aril dalam hati.
Aril hanya bisa melongo karena shock melihat Ela tiba - tiba masuk menerobos kamar Bela.
"Bel kamu ngapain pakai baju beginian sambil video call... Ih.. VCM ya?" goda Ela.
"Apa VCM?" tanya Bela polos.
"Video Call Mesu*" jawab Ela.
"Enak aja" elak Bela. Wajah sudah memerah karena menahan malu.
Bela langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Hei Elaaa... Kami itu sudah menjadi Pasutri. Pasangan Suami Istri, jadi suka - suka kami donk mau ngapain. Lebih dari itu juga udah boleh. Sudah halaaal" bela Aril.
"Ih tapi geli ah begituan" ujar Ela.
"Geli bagi kamu, kalau kamu yang beginian sama Romi itu baru bahaya. Belum saatnya dosaaaa, nah kalau aku dan Bela malah jadi pahala. Iri kan? Makanya nikahnya minta dipercepat biar bisa enak - enakan" sindir Aril.
"Ih Mas Aril ngomongnya begituan. Udah ah aku keluar aja, geli lihat kalian beginian" ujar Ela.
Ela segera keluar dari kamar Bela. Aril melihat tubuh Bela masih terdiam kaku. Mungkin sangkin shock dan malu dia jadi patung untuk sesaat.
"Sayaaaang... Bela saaaaaayang... " panggil Aril.
Bela tersadar dan langsung berlari menuju pintu dan menguncinya.
"Ih Mas Aril, tuh kan permintaannya aneh - aneh sih. Aku kan jadi malu. Kalau dia cerita sama Reni gimana coba?" tanya Bela.
"Halaaaaah Reni juga pasti punya baju dinas seperti kamu ini" jawab Aril cuek.
Iya benar juga Mas Aril, buktinya si Bibik kemarin mikirnya baju ini milik Reni.
"Udah cuek aja, wong kamu mau nyenangin suami sendiri kok takut sih? Kan bukan buat satu kesalahan dan dosa? Kamu malah berpahala sayang, melakukan sesuatu yang disukai suami. Berdandan untuk suami daaaaan... eh tunggu - tunggu... kapan jadwal kamu datang bulan lagi?" tanya Aril tiba - tiba ingat sesuatu.
"Emang kenapa nanya begituan?" tanya Bela curiga.
"Ya gak lucu donk sayang saat aku pulang kamu lagi datang bulan lagi? Kan udah tiga minggu kita berpisah dan sebulan umur Pernikahan kita?" tanya Aril putus asa.
"Iya ya Mas.. sepertinya saat itu aku masih datang bulan" jawab Bela merasa bersalah.
"Yaaaaaah puasa lagi donk" sambut Aril putus asa.
"Jadi kamu mau ketemu aku cuma untuk itu?" tanya Bela sedih.
Melihat perubahan wajah Bela seperti itu Aril langsung berubah sikap.
"Eh nggak.. nggak.. sayang. Aku pengen pulang dan ketemu kamu karena kangen. Pengen lihat wajah manis istri Mas dan pengen peluk kamu saat tidur" jawab Aril.
"Terus kalau aku datang bulan gimana?" tanya Bela.
"Ya gak apa - apa? aku puasa lagi. Demi kamu aku akan sabar sayang" bujuk Aril.
Bela menghitung - hitung siklus menstruas*nya. Minggu depan itu artinya tepat tiga minggu dia pulang dari honeymoon. Berarti dua puluh delapan hari dari tanggal datang bulannya. Biasanya siklus datang bulannya maju dua hari menjadi dua puluh delapan hari jaraknya.
Itu artinya saat Aril pulang memang jadwal dia datang bulan. Bela menarik nafas panjang. Kasihan banget suaminya itu harus puasa satu minggu lagi.
Seketika tubuh Bela menggigil kedinginan. Dia langsung rebahan di tempat tidur dan menarik selimutnya untuk menghangatkan badannya.
"Jangan donk sayang, seperti biasa aja kamu letakin HP kamu di depan kamu. Aku pengen lihat kamu tidur" balas Aril.
"Ya sudah, nih aku letak di sini ya... Mas bisa lihat aku kan?" tanya Bela sambil meletakkan hpnya bersandar di dekat bantal yang ada di sampingnya.
"Bisa sayang.. kamu tidur aja gih. Mas masih kangen kamu" ungkap Aril.
Bela mulai menutup matanya dan mencoba tidur. Sepertinya tubuhnya lagi tidak bisa diajak kompromi. Dia merasa gak enak badan dan sekitar perutnya nyeri.
Dua minggu ini memang terasa sangat berat karena harus berpisah dengan suami tercintanya. Akhirnya Bela bisa tertidur juga setelah beberapa menit.
****
Akhirnya hari Jumat telah tiba. Bimo, Reni dan Bela sedang bersiap - siap akan berangkat ke Bandara. Supir sudah menunggu mereka di mobil. Mereka akan terbang ke Surabaya hari ini untuk menghadiri pesta pernikahan sepupu Bimo dan Reni.
Mereka langsung naik ke mobil dan berjalan menuju Bandara.
"Aril jadi pulang besok Bel?" tanya Bimo.
"InsyaAllah jadi Mas" jawab Bela.
Reni tersenyum - senyum melirik adik iparnya itu.
"Kamu kenapa sih dari tadi senyum - senyum? Ada cabe di gigiku?" tanya Bela curiga.
"Nggak.. aku lucu aja ngebayangin kamu dan Mas Aril bertemu setelah tiga minggu berpisah dan gagal MP" bisik Reni di telinga Bela.
Seketika wajah Bela memerah karena malu.
"Btw.. datang bulan lagi gak nanti?" tanya Reni.
Bela menganggukkan kepalanya.
"Nih lagi datang bulan Ren. Gak tau kenapa kok datang bulannya malah lebih cepat dari biasanya" jawab Bela jujur.
"Hahahaha... kasiannya kalian. Mungkin karena kamu stres kali atau capek habis honeymoon kemarin" jawab Reni.
Walau lucu tapi Reni merasa kasihan juga melihat sahabatnya itu. Kalau ingat Aril sih Reni senang banget. Malah dia sudah berencana akan menertawakan Aril sampai dia puas nanti saat bertemu Aril.
Akhirnya mereka bertiga sampai Bandara dan langsung berangkat ke Surabaya. Tiga jam kemudian mereka sudah sampai di rumah Pak Akarsana.
"Aril jadi kan datang besok Bel?" tanya Pak Akarsana khawatir.
"InsyaAllah jadi Pak. Kenapa sih? tadi Mas Bimo juga nanyain gitu? Gak percaya banget sama suamiku?" tanya Bela sedih.
Bapak dan Ibu Akarsana mengerti apa yang sedang Bela rasakan saat ini. Pasti Bela sedih banget pisah sama suaminya setelah seminggu menikah. Dan tiga minggu tidak bertemu.
"Bukan begitu Nduk... Bapakmu cuma khawatir. Karena besok kan seluruh keluarga akan berkumpul. Bapak ingin memperkenalkan Aril kepada seluruh keluarga besar kita" sambut Bu Akarsana.
"Iya Bu, aku mengerti. InsyaAllah besok pagi Mas Aril sampai. Tapi sepertinya lewat acara ijab kabul. Karena waktunya gak terkejar" jawab Bela.
"Iya gak apa - apa. Eh iya besok kamu dan Aril diminta untuk jadi apa namanya? Ibu gak ngerti ungkapan sekarang. Bridesmaid ya? Itu lho pendamping pengantin" ungkap Bu Akarsana.
"Oh ya, kok Ibu baru bilang sekarang sih. Aku gak siapkan gaun yang pas untuk itu" sambut Bela kesal.
"Gak apa - apa? Kata Mbak Yu kamu, pakaian kamu dan Aril sudah disiapkan. Besok kan acaranya di Hotel, begitu Aril sampai kamu dan Aril langsung akan di rias oleh apalagi namanya sekarang. Mu.. mu.. " ujar Bu Akarsana.
"MUA Buuuu" potong Bela.
"Nah itu dia. Kalian tinggal Terima bersih deh" sambut Bu Akarsana.
"Baiklah.. Demi Mbak Yuli aku dan Mas Aril akan menjadi bridesmaid pernikahannya" jawab Bela.
.
.
BERSAMBUNG