Playboy Insaf

Playboy Insaf
Delapanpuluh Lima



Ela muncul di ruang tamu tepat setelah Romi dan Pak Budi membahas tentang kisah dua tahun yang lalu.


Duh Cishela dengar gak ya kalau tadi aku ngobrol sama Bapaknya? Tanya Romi dalam hati.


Ela duduk di samping Bapaknya.


"Besok kita ketemuannya di Hotel Pak?" tanya Ela.


"Iya, selama kita di sini aku sudah booking Pak Budi lebih dulu jadi nanti kita akan diantar sama Pak Budi. Aku gak tau ternyata Pak Budi adalah Bapak kamu" jawab Romi.


"Kami tidur di rumah?" tanya Pak Budi.


"Iya Pak, awalnya karena ini tugas kantor aku harusnya tidur di hotel juga tapi aku sudah minta sama Pak Romi selama di Surabaya aku nginap di rumah saja dan Pak Romi mengizinkan" jawab Ela.


"Kalau begitu besok kita pergi bareng" sambut Pak Budi.


Tak lama Bu Budi keluar sambil membawa minuman untuk mereka. Saat Bu Budi sedang menghidangkan minuman tiba - tiba terdengat suara teriakan anak kecil.


"Eyaaaaang... " ucap seorang gadis kecil.


"Seli.... " panggil Ela.


"Bulek Elaaaa... " sambut Seli yang tak lain adalah ponakan Ela.


"Kamu sama siapa datang ke sini?" tanya Ela.


"Sama Mama" jawab Seli.


Tampak seorang wanita berhijab dan berpakaian PNS masuk ke dalam rumah orang tua Ela.


"Assalamu'alaikum" ucap Mamanya Seli.


"Wa'alaikumsalam" jawab mereka yang ada di dalam rumah.


"Elaaaa... kapan pulang?" tanya Kakanya Ela.


"Baru aja sampai Mbak" jawab Ela.


Mereka saling berpelukan karena sudah lama tidak bertemu.


"Kalian datang berdua saja?" tanya Pak Budi.


"Iya Pak, Mas Agung lagi kerja. Bapak kok tumben udah pulang jam segini?" tanya Kakaknya Ela.


Wanita dulu mencium tangan Bapak dan Ibu Budi.


"Bapak sebenarnya masih kerja sekarang, Pak mengantar tamu Hotel yaitu Pak Romi selama dia ada si Surabaya. Ternyata Pak Romi ini Bosnya Ela di Jakarta, jadi kami antar Ela dulu ke rumah, setelah itu baru Bapak akan antar beliau ke Hotel" jawab Pak Budi.


"Pak Romi jangan balik ke Hotel dulu ya.. makan siang di rumah kami ya, biar Ibu siapain makan siang untuk kita semua" pinta Bu Budi.


"Aduh Bu gak perlu repot - repot" jawab Romi sungkan.


"Tidak apa Pak Romi. Pak Romi kan tamunya Bapak dan juga bosnya Ela. Tamu di rumah kami ini juga. Kalau ada tamu kan harus di jamu Pak Romi. Jangan buru - buru balik ke Hotel" ujar Bu Budi.


"Iya deh Bu, tapi jangan repot - repot lho" balas Romi.


"Gak akan repot. Jangan sungkan dan santai aja dulu. Kalian ngobrol aja ya atau bawa Pak Romi El jalan - jalan ke sungai biar adem lihat pemandangan kampung" perintah Bu Budi.


"Ih malu ah Bu" elak Ela.


"Ya gak apa - apa toh, pasti Pak Romi bosan dengan suasana kota. Ya kan Pak Romi" sambut Bu Budi.


"Iya Bu, benar itu. Pasti mata saya lebih fresh melihat pemandangan kampung seperti yang ibu bilang tadi" jawab Romi.


"Yuk Ran bantu Ibu di dapur" Bu Budi mengajak kakaknya Ela untuk memasak di dapur.


Bu Budi dan Ranti kakaknya Ela berjalan ke dapur. Meninggalkan Pak Budi dan yang lainnya di ruang tamu.


"Udah sana El ajak Pak Budi jalan - jalan dekat sungai dan sawah" perintah Pak Budi.


Ela melirik ke arah Romi. Merasa malu malah mengajak Romi keliling kampung bukannya keliling kota.


"Yuk Cishela" ajak Romi.


"Bapak yakin?" tanya Ela.


Romi tersenyum tipis.


"Kalau gak yakin ngapain aku ajak kamu" balas Romi.


Ela dan Romi berjalan keluar rumah dan berkeliling kampung. Mereka melewati sawah untuk menuju sungai yang tak jauh dari rumah Ela.


"Enak ya tinggal di kampung kamu" ucap Romi.


"Enak kan karena Bapak datang sekali - sekali Pak ke sini? Bagi warga di sini, pemandangan ini adalah hal yang biasa. Mereka malah bercita - cita ingin jalan - jalan dan melihat kota Jakarta" jawab Ela.


"Termasuk kamu?" tanya Romi.


"Ya saya gak mau berbohong. Kata orang kalau bisa bekerja di Jakarta pasti nasibnya akan berubah. Walau kebanyakan dari warga di sini yang bekerja di Jakarta sebagai asisten rumah tangga seperti bulek saya. Saya termasuk lebih beruntung dari mereka bisa bekerja di kantor" jawab Ela.


"Karena kamu memang pintar Cishela.. Kalau otak kamu biasa - biasa saja mungkin akan bernasib sama" puji Romi.


"Saya hanya ingin merubah nasib keluarga Pak. Saya melihat perjuangan Bapak dan Ibu membesarkan dan menyekolah saya dan Mbak Ranti dengan kerja keras. Saya ingin membalas perjuangan mereka dengan membahagiakan mereka dihari tua" ungkap Ela.


"Contohnya seperti apa?" tanya Romi.


"Saya ingin membuatkan usaha buat Bapak dan Ibu seperti toko sembako. Jadi Bapak gak perlu kerja di Hotel lagi. Mengantar dan menjemput tamu tak kenal waktu. Terkadang pergi pagi - pagi sekali dan pulang sampai larut malam. Usia Bapak terus bertambah, fisiknya pasti tak sekuat dulu. Aku ingin Bapak pensiun dari Hotel Pak dan membuka toko sembako untuk hari tua mereka" jawab Ela.


"Niat yang bagus, aku yakin keinginan kamu itu akan terkabul" sambut Romi.


Apalagi kalau kamu mau menikah denganku Cishela.. jangankan satu toko sembako, sepuluh cabangnya pun bisa kita buatkan untuk Bapak kamu. Ujar Romi dalam hati.


"Makanya saya belum pindah dari rumah Mas Bimo Pak, saya masih menabung untuk cita - cita saya itu dan Bela mengetahuinya dan mengajak saya tinggal bersama" ungkap Ela.


"Eh iya jadi ingat, kemarin kamu udah janji tidak akan panggil Bapak lagi kalau kita sedang berduaan" ucap Romi.


"Tapi kan kita sedang dalam tugas kerja Pak?" elak Ela.


"Tapi kan gak ada yang tau kecuali keluarga kamu" jawab Romi.


"Justru itu Pak, aku gak mau dimarahin Bapak dan Ibu karena gak sopan sama Bapak. Bapak kan atasan saya, pemilik perusahaan tempat saya bekerja. Masak saya gak panggil Bapak. Gak sopan itu Pak, pasti Bapak dan Ibu marah" ungkap Ela.


Romi menarik nafas panjang..


"Baiklah tapi saya masih menunggu kamu memanggil saya Mas. Saya berasa tua banget dipanggil Bapak terus sama kamu. Sama Aril, Bimo dan Refan kamu panggil mereka Mas, giliran aku Bapak" ucap Romi pura - pura ngambek.


"I.. iya Pak.. saya akan belajar untuk merubah panggilan saya sama Bapak" jawab Ela.


Akhirnya mereka sampai juga di sungai dekat rumah Ela.


"Ela... kamu pulang?" sapa seorang pemuda.


"Iya Sep" jawab Ela ramah.


"Pulang selamanya?" tanya Asep teman Ela di kampung.


"Nggak, aku cuma ada tugas di sini. Mungkin beberapa hari lagi akan balik ke Jakarta" jawab Ela.


"Trus kamu lagi jalan sama siapa tuh?" selidik pria itu melihat sosok Romi yang ada disamping Ela.


"Oh ini Bos aku dari Jakarta. Kami lagi ada pekerjaan di sini" jawab Ela.


"Ih lihat tuh si Ela pulang - pulang bawa pria.. Baru aja beberapa bulan kerja di Jakarta udah bisa bawa pulang laki - laki" bisik seorang wanita yang tak jauh dari mereka. Tapi Ela bisa mendengar jelas obrolan mereka.


"Kerja apaan sih di Jakarta? Jangan - jangan jadi wanita gak bener" ucap yang lainnya.


"Eh tapi cowoknya ganteng ya, aku juga mau kalau sama pria ganteng itu" sambut yang satu lagi.


Wajah Ela memerah karena menahan emosi.


"Pak bisa kita segera balik ke rumah saya?" tanya Ela kepada Romi.


Romi yang juga mendengarkan pembicaraan tiga orang wanita yang tak jauh dari mereka langsung mengepalkan tangan karena emosi.


"Kamu gak mau membalas ucapan mereka? Kamu gak mau membersihkan nama kamu?" tanya Romi geram.


"Udah Pak gak ada gunanya juga. Nanti akan muncul masalah baru yang lebih mengerikan dari omongan mereka tadi. Mending didiamkan aja Pak, nanti juga akan berhenti sendiri" jawab Ela.


"Yuk Pak kita balik aja ke rumah saya" ajak Ela.


Romi mengikuti Ela berjalan menuju rumah orang tua Ela.


.


.


BERSAMBUNG