Playboy Insaf

Playboy Insaf
Enampuluh Empat



Tidak sampai satu jam CCTV Departemen Keuangan sudah bisa terkoneksi di komputer Romi sang CEO. Tentu saja tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali Pak Agus dan Departemen IT.


Mereka menganggap hal itu wajar karena itu adalah Departemen terpenting di Perusahaan. Wajar kalau Romi meminta hal itu. Mungkin ada yang sedang dicurigai Romi atau sedang dalam pemeriksaan, pikir mereka.


Romi mulai mencari keberadaan Ela. Akhirnya ketemu, Ela duduk di dekat jendela.


Wah pas banget nih meja Ela tepat di depan kamera. Aku jadi bisa lihat wajah Ela setiap hari. Batin Romi senang.


Satu harian ini Romi tidak kerja apa - apa, dia hanya sibuk memperhatikan tingkah laku dan gerak - gerik Ela selama dia bekerja di kantor.


Romi jadi tau kalau Ela bekerja dengan sangat serius dan disiplin. Kalau tiba waktu shalat Ela langsung pergi ke mushala dan saat istirahat makan siang dia hanya makan di kantin.


Tanpa terasa sudah satu minggu Romi memperhatikan gerak - gerik Ela dari layar monitor komputernya. Romi merasa perjuangannya untuk mendekati Ela belum ada kemajuan sama sekali.


Hari ini Romi berencana untuk memulai pendekatan yang tidak di sengaja kepada Ela. Tapi bagaimana caranya? Romi tampak sedang berpikir.


Romi melirik jam makan siang. Romi segera bergerak dan melangkah pergi menuju kantin di kantornya di lantai paling bawah.


"Silva tolong batalkan jadwal makan siang saya hari ini, saya sedang tidak ingin keluar kantor. Saya ingin sidak kekantin di lantai satu" perintah Romi kepada sekretarisnya.


"Baik Pak, apakah Bapak mau saya temani?" tanya Silva.


"Boleh, ayo kita ke lantai satu" ajak Romi.


Waaah pucuk dicinta ulampun tiba.. aku tidak perlu lagi bercerita tentang kedekatan aku dengan si Bos pada teman - teman kerjaku. Mereka bisa melihat sendiri hari ini aku makan bareng dengan si Bos di kantin. Mimpi apa aku tadi malam bisa mendapatkan jackpot. Batin Silva.


Silva sehera mengikuti Romi dari belakang. Mereka masuk ke dalam lift dan turun ke lantai paling bawah kemudian berjalan menuju kantin.


Melihat kedatangan Bos besar yang tidak biasa sontak membuat seisi kantin jadi ramai. Para karyawan sibuk kasak kusuk membicarakan tentang atasan mereka itu.


Ada yang memuji ketampanan Romi, ingin menjadi pendamping Romi tapi ada juga yang takut dengan Romi karena beredar kabar kalau Romi itu kejam.


Di meja yang paling sudut Ela dan Mery sedang asik makan sambil ngobrol berdua. Romi melihat dan mencari keberadaan Ela.


Ketepan kantin memang sedang ramai saat ini dan tidak ada meja yang kosong.


"Kamu pesan makan siang untuk saya" perintah Romi kepada Silva.


"Baik Pak. Bapak mau menu apa?" tanya Silva.


"Ada apa saja menu dikantin kita?" tanya Romi balik.


"Ada soto, sop, nasi padang dan yang lainnya Pak" jawab Silva.


"Saya minta soto saja" jawab Romi.


"Baik Pak, kalau begitu akan segera saya pesan" balas Silva.


Romi berjalan menuju meja Ela. Ela dan Mery tidak mengetahui kalau ada orang paling penting yang datang mendekati meja mereka.


"Maaf apakah saya bisa ikut bergabung makan di meja kalian?" tanya Romi dengan sok wibawa.


"Eeh... silahkan Pak" jawab Mery langsung. Ela melirik takut ke arah Romi.


Sudah hampir dua bulan aku bekerja di sini tapi aku belum pernah melihat dia makan di kantin. Tumben seorang CEO mau makan di kantin kantornya.


Mery langsung pindah tempat duduk disamping Ela dan mempersilahkan Romi duduk di kursinya semula.


"Silahkan duduk Pak" ucap Mery.


Romi hanya diam dan duduk tepat di hadapan Ela.


"Kamu Cishela dari Departemen Keuangan kan?" tanya Romi.


"I.. Iya Pak. Bagaimana tugas yang saya berikan kepada kamu?" tanya Romi.


"Se.. sedang saya kerjakan Pak" jawab Ela.


"Kalau ada yang tidak beres segera laporkan kepada Bu Monic" perintah Romi.


"Ba.. baik Pak" jawab Ela.


"Ini Pak pesanan Bapak" ucap Silva dengan gaya manjanya.


Membuat Ela dan Mery saling lirik. Mereka sangat muak dengan sikap Silva yang sok manja dan dekat dengan Bos mereka. Sudah menjadi rahasia umum kalau Silva menyukai CEO Perusahaan ini.


Silva selalu memamerkan foto - foto kebersamaan dia dan CEO saat sedang makan diluar atau sedang menemani CEO meeting di luar. Padahal semua tau kalau Romi dan Silva tidak pernah ada hubungan apapun. Bahkan seting terlihat Romu menegur atau marah kepada Silva kalau dia melakukan kesalahan.


Tapi sepertinya Silva pantang menyerah. Dia tetap melayani Romi sekaligus berharap hatinya akan berbalas.


"Terimakasih" jawab Romi datar.


"Mari makan" ajak Romi sambil menatap ke arah Ela dan Mery.


"I.. Iya Pak, silahkan" jawab Mery dan Ela kompakan.


Sejujurnya selera makan mereka sudah hilang ketika Romi menghampiri mereka tadi. Tapi sayang bagi mereka untuk menyisakan makanan. Walau dengan berat hati akhirnya mereka tetap menyantap hidangan makan siang mereka.


"Saya sedang sidak dengan keadaan kantin kantor. Menurut kalian apakah kantin ini sudah menyediakan makanan yang sehat untuk para karyawan? Soalnya saya tidak mau para karyawan saya kurang gizi karena dikantor harus bekerja dengan keras jadi harus diimbangi dengan gizi makanan. Saya tidak mau banyak yang sakit yang berakibat terhadap kurangnya kinerja karyawan " tanya Romi.


"Sudah Pak" jawab Mery dan Ela bersamaan.


"Lalu bagaimana dengan harga makanan di kantin ini? Apakah terlalu mahal?" tanya Romi lagi.


"Standart Pak, dari pada makan di luar, selain memakan waktu karena terkena macet lebih baik makan di kantin kantor saja" jawab Ela.


Romi menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Apakah masih ada yang ingin Bapak pesan lagi?" tanya Silva sok perhatian.


"Tidak.. Eh apa nama minuman kamu ini?" tanya Romi kepada Ela.


"Jus pelangi Pak" jawab Ela.


"Silva tolong pesankan saya minuman seperti ini. Saya ingin minuman yang seperti ini" perintah Romi.


"Baik Pak" Silva segera berdiri dan memesan minuman kepada karyawan kantin.


Tak lama kemudian minuman yang diminta Romi segera datang. Mungkin karena yang memesan adalah pemilik gedung ini sehingga pihak kantin segera menghidangkannya.


Romi makan dengan sangat lahapnya. Membuat Ela yang ada di hadapannya merasa aneh.


Kalau dilihat - lihat lagi dia tidak kejam. Malah dia bersikap baik sebagai atasan. Dia mesih memikirkan kesehatan para karyawannya. Dia hanya bersikap tegas. Seorang pemimpinkan wajar bersikap tegas pada bawahannya. Dulu juga waktu pertama kali aku bertemu dengannya tidak ada tanda - tanda kalau dia pria yang kejam dan jahat. Dia malah membantuku dari gangguan dua pria jahat itu. Dia mentraktirku makan dan mengantarkanku pulang. Apa aku sudah salah sangka ya dengan dirinya? Hanya karena omongan orang - orang aku percaya begitu saja dan salah menilainya? Batin Ela.


Setelah selesai makan Romi segera meninggalkan mejanya. Sebagai seorang atasan dia harus menjaga wibawanya di depan para karyawannya. Tak mungkin dia berlama - lama menggoda karyawannya.


Walau dalam hati dia ingin sekali berlama - lama menatap wajah Ela secara langsung seperti ini.


"Silva bilang pada pihak kantin, hari ini aku yang bayar semua makan siang mereka" perintah Romi kepada Silva di hadapan Ela dan Meru.


Sontak Mery dan Ela terkejut tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh atasan mereka.


"Terimakasih Pak" ucap mereka berbarengan.


Romi segera meninggalkan Siilva di kantin perusahaannya.


"Perhatian semua.. makan siang hari ini semua akan dibayar oleh Bos besar" ucap Silva.


"Horeeee...... " seketika kantin menjadi riuh karena mendapat kabar gembira di siang hari.


Ela menatap kepergian Romi sampai jauh bahkan sampai bayangan Romi hilang dari pandangan Ela.


Apakah seperti ini dirinya yang sesungguhnya?...


.


.


BERSAMBUNG