
Aril makan malam setelah diambilkan dan dihidangkan makanan dari Bela.
"Kok gak kasih kabar Mas mau datang, biar dijemput?" tanya Bela.
"Aku buru - buru sampai lupa ngabarin kamu" jawab Aril.
Ini apa makanannya emang enak, apa aku yang laper banget ya? Atau karena disampingku ada Bela makanya makanan ini tambah enak. Emangnya Bela micin apa? Batin Aril.
"Emangnya apa yang buat Mas Aril buru - buru?" tanya Bela.
"Ya mau menghadiri lamaran Romi ini tapi ternyata aku tetap saja terlambat" jawab Aril sambil melanjutkan makannya.
Duh hampir aja aku keceplosan. Aku gak mau ah gagal kedua kalinya. Aku harus benar - benar memastikan kalau apa yang Romi katakan memang benar. Perang batin Aril.
Tiba - tiba ponsel Aril berbunyi dan dia segera mengangkat teleponnya.
"Assalamu'alaikum Sin" ucap Aril memulai pembicaraan.
Begitu mendengar Aril menyapa Sintia wajah Bela langsung sendu.
"Ya.. aku sudah sampai. Baru aja, nih lagi makan. Oh iya nanti salam kamu aku sampaikan sama Romi ya.." ucap Aril lagi.
Bela melirik Aril sambil merema* - rema* tangannya. Rasa hatinya sangat galau mendengar Aril berbicara selembut itu dengan Sintia.
Aril menutup teleponnya.
"Rom, Sintia titip salam. Dia mengucapkan selamat atas lamaran kalian malam ini" ucap Aril.
"Terimakasih, salam balik ya sama Sintia" balas Romi.
"Kamu nginap di mana?" tanya Aril.
"Malam ini di hotel bareng Papa dan Mama. Tapi besok mereka pulang, setelah itu belum tau tidur dimana" jawab Romi.
"Lho kok belum tau? Kamu kan masih lamaran belum menikah. Sudah pasti bukan tidur di sini kan?" tanya Aril iri.
Romi tersenyum, lucu melihat wajah sahabatnya itu.
"Hahaha... ya nggak lah Ril. Aku, Ela dan Bela berencana mau jalan ke Bali lewat jalan darat" ungkap Romi.
"Wah seru itu, aku ikut ya" sambut Aril senang.
"Kalau kamu sudah ada di sini mana mungkin kamu gak ikut. Ya sudah besok setelah Papa dan Mama aku pulang ke Jakarta kita langsung berangkat ke Bali. Nanti kita balik ke Jakartanya dari Bali, biar mobil kita dijemput supir aja" ujar Romi.
"Ternyata gak sia - sia aku datang ke sini, walaupun datang terlambat tapi aku tidak melewatkan bagian yang paling penting. Bisa jalan - jalan bareng Bela" bisik Aril ke telinga Romi.
"Dasar" umpat Romi.
Aril tertawa senang menerima umpatan sahabatnya itu membuat Ela dan Bela saling pandang karena tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Romi dan Aril.
"Malam ini aku ikut kamu ke hotel ya" ucap Aril.
"Ya sudah kamu siap - siap aja. Aku mau ajak Papa dan Mama balik ke Hotel" sambut Romi.
Romi mendekati kedua orang tuanya yang sedang asik ngobrol dengan Bapak dan Ibu Budi juga Bapak dan Ibu Akarsana.
"Pa, Ma kita balik ke Hotel yuk, sudah malam. Besok pagi Papa dan Mama kan mau balik ke Jakarta dengan penerbangan pagi" ucap Romi mengingatkan kedua orang tuanya.
"Eh iya keasikan ngobrol sampai lupa waktu" sambut Papa Romi.
Papa dan Mama Romi berdiri kemudian saling berjabat tangan untuk berpamitan.
"Kami kembali ke Hotel dulu sekalian pamit besok pagi kami akan pulang ke Jakarta" ucap Papa Romi.
"Iya Mas, hati - hati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan" sambut Pak Budi.
Romi dan Aril juga ikut berpamitan kepada semua orang yang ada di rumah Ela.
"Pak, Bu saya pamit dulu ya" ucap Aril kepada Bapak dan Ibu Akarsana.
"Lho Nak Aril bareng Romi? Gak mampir ke rumah? Jangan sungkan, di rumah juga sepi kok. Kalau mau nginap juga boleh" sambut Bu Akarsana.
"Iya Bu, InsyaAllah nanti kalau Papa dan Mamanya Romi sudah pulang saya dan Romi akan mampir ke rumah" jawab Aril ramah.
"Hati - hati ya" pesan Pak Akarsana.
"Baik Pak" sambut Aril.
Romi, Aril dan kedua orang tua Romi masuk ke dalam mobil kemudian berjalan menuju hotel tempat mereka menginap.
Keluarga Akarsana juga berpamitan pada keluarga Pak Budi. Mereka juga pulang ke rumah.
"Assalamu'alaikum... " ucap mereka saat masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam" sahut Bapak dan Ibu Akarsana.
"Orang tua kamu sudah berangkat Rom?" tanya Pak Akarsana Bapaknya Bela.
"Sudah Pak, kami baru pulang dari Bandara setelah mengantar Papa dan Mama saya" jawab Romi.
"Silahkan duduk, Bu panggilin Bela" pertintah Papa Bela.
"Bela sudah tau kalau Nak Aril dan Romi mau datang Pak. Dia lagi di belakang buatin minum" jawab istri Pak Akarsana.
Tak lama kemudian Bela keluar dengan membawa minuman untuk Romi dan Aril dan menghidangkannya.
"Silahkan diminum Mas" ucap Bela lembut.
"Iya Bel, terimakasih" sahut Romi dan Aril.
"Aku ambil barang - barang dulu ya" pamit Bela.
Romi hanya menganggukkan kepalanya sambil menikmati minumannya sedangkan Aril tak bisa melepaskan pandangannya dari Bela.
Bela berjalan menuju kamarnya untuk mengambil barang - barangnya. Setelah itu dia keluar kamar dengan membawa koper yang berisi pakaiannya dan siap untuk pergi ke Bali bersama Romi, Aril dan Ela.
"Sudah siap?" tanya Aril.
"Sudah Mas" jawab Bela.
"Kami gak bisa lama - lama ya Pak Bu, dari sini mau jemput Ela dulu dan langsung berangkat ke Bali" ucap Romi.
"Hati - hati Nak Romi" sahut Pak Akarsana.
"Iya Pak" jawab Aril.
"Kami permisi dulu ya Pak" ucap Aril.
"Iya, titip Bela ya Nak Aril" jawab Pak Akarsana.
"Baik Pak" sahut Aril.
Mereka saling berpamitan, setelah itu mereka berangkat menuju rumah Ela. Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di rumah Ela.
Ela sudah menunggu mereka di depan rumahnya. Dia berdiri bersama Bapak dan Ibu Budi. Romi, Aril dan Bela kembali pamitan kepada Bapak dan Ibu Ela.
Saat hendak mengiringi mereka jalan menuju rumah Bu Budi berbisik kepada Bela.
"Kalian serasi kok Bel" ucap Bu Budi dengan suara yang pelan.
Bela langsung melirik Bu Budi.
"Ma.. maksud Ibu?" tanya Bela tidak mengerti.
"Ya kalian. Ibu bisa melihat dan merasakannya. Biasanya perasaan Ibu jarang banget meleset. Ibu doain semua Bela dan Nak Aril berjodoh ya" lanjut Bu Budi.
Aamiin.... Sahut Bela dalam hati.
"Ah Ibu bisa saja" jawab Bela malu - malu. Bela melirik sebentar ke arah Aril yang berjalan lebih dulu dari mereka.
"Dulu waktu melihat Nak Romi datang ke sini sebagai Bosnya Ela. Entah mengapa hati Ibu ingin sekali punya menantu seperti dia. Tapi Ibu sadar dengan keadaan kami seperti ini itu hal yang mustahil. Tapi ternyata Allah mendengarkan suara hati Ibu dan mengabulkannya. Apalagi kamu, Ibu melihat jelas kalau Nak Aril itu menyukai kamu" lanjut Bu Budi.
"Tapi aku sudah pernah menolak lamarannya dulu Bu. Waktu itu aku belum menyadari perasaanku" sahut Bela.
"Nah udah lebih mudah tinggal di sambung" sambung Bu Budi.
"Tidak semudah itu Bu, sekarang Mas Aril sedang dekat dengan teman lamanya dan sepertinya mereka menjalin hubungan" jawab Bela.
"Selama belum ada ikatan diantara mereka, Nak Aril itu masih bebas Bela. Mungkin saat inilah waktunya kamu tunjukin perasaan kamu yang sebenarnya kepada Nak Aril. Pelan - pelan dan dengan cara yang terhormat. Walau status kita dibawah mereka, kita sebagai wanita harus punya harga diri. Jangan karena kita suka, dengan mudahnya kita serahkan semua yang berharga " pesan Bu Budi.
"Iya Bu, terimakasih atas nasehatnya" jawab Bela.
Bela dan Ela masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Romi dan Aril. Mereka kemudian melanjutkan liburan mereka ke Bali.
.
.
BERSAMBUNG