
"Hei Mbak, tau diri donk jadi wanita. Punya harga diri jangan murahan gitu. Kalau calon suami saya sudah nolak kamu terima donk, jangan gangguin urusan orang lain. Mbak mau jadi pelakor?" Bela mencoba membantu Aril.
Aril tersenyum tipis tapi dalam hatinya sudah bersorak senang karena ucapan Bela.
Pinter kamu Bel... Akhirnya kamu mau juga bekerja sama denganku untuk membantuku mengusir drakula ini. Batin Aril bersorak.
"Ih tampang aja yang sok lugu dan alim ternyata mulut kamu pedas juga ya kayak bon cabe" ujar wanita itu.
"Wajar kan mempertahankan apa yang sudah menjadi hak milik. Bukan seperti Mbak ingin merebut milik orang lain" sambut Bela.
"Sudah sayang gak usah ditanggapin wanita seperti ini. Gak penting banget bagiku" Aril mengajak Bela mencari tempat untuk mereka makan.
Tinggallah wanita itu sendiri dengan wajah penuh emosi.
"Awas kamu Ril... Kamu akan menjadi milikku" gumam wanita.
Sementara Aril dan Bela sudah duduk di ruangan private karena memang sudah dipesan untuk meeting mereka siang ini dengan client. Berhubung meetingnya batal, Aril memanfaatkannya untuk makan siang bersama dengan Bela sang pujaan hati.
"Makasih ya Bel kamu udah mau bantuin Mas" ucap Aril dengan nada yang serius dan benar-benar tulus. Tidak ada tatapan ingin menggoda Bela.
"Kan perintah Bapak tadi begitu, makanya saya bantuin" sambut Bela.
Aril merasa kecewa dengan jawaban Bela. Ternyata karena perintah makanya Bela membantunya.
"Bel please... tolong saat ini kita hanya berdua saja. Jangan panggil Bapak padaku. Panggil Mas saja seperti biasanya kalau kita sedang di rumah" pinta Aril dengan tampang serius.
"Aku takut kebiasaan Pak dan gak mau teman - teman di kantor mendengarnya" jawab Bela.
"Aku tidak peduli dengan omongan mereka. Kita kan memang sudah kenal sejak kamu belum bekerja di kantorku. Biarkan saja mereka ngomongin apapun tentang kita atau tentang kamu. Kalau mereka tau kamu diterima bekerja karena merupakan kenalanku laporkan padaku siapa yang bilang begitu. Biar aku tes kerjanya sudah bagus atau tidak. Kamu kerja jadi sekretarisku kan karena memang kamu mampu dan baik bekerja" perintah Aril.
"Tapi Pak, semua kan gak semudah yang Bapak ucapkan. Aku juga bukan anak kecil yang selalu mengadu kalau ada orang yang ingin menjahatiku" balas Bela.
Aril semakin kesal karena Bela tetap bersikeras dengan pendiriannya. Bela tidak mau memanggik Aril dengan panggilan Mas walau mereka hanya berdua saja. Aril jadi malas bicara lagi kepada Bela. Segala cara sudah dia lakukan tapi Bela seperti terhalang dinding besi yang sangat sulit untuk Aril masuki
Tak lama pelayan datang membawa makanan yang mereka pesan dan menghidangkannya di depan mereka. Aril dan Bela makan dengan diam. Selama makan siang mereka ini tak seperti biasanya Aril jadi lebih pendiam.
Biasanya Aril suka mengajak Bela bercanda bahkan terkadang menggodanya. Tapi kali ini Aril sedang badmood karena Bela tidak mau menuruti permintaannya. Akhirnya makan siang mereka selesai dengan cepat.
"Setelah ini kita kemana Pak?" tanya Bela.
"Balik ke kantor saja. Tiba - tiba saya gak enak badan" jawab Aril.
"Bapak sakit apa? Demam, sakit kepala atau sakit perut?" tanya Bela.
Hatiku yang sakit Bel karena kamu sulit sekali untuk di dekati. Kamu tidak memberikan celah padaku untuk masuk ke hati kamu. Batin Aril.
"Aku hanya sedikit merasa pusing dan mual" jawab Aril berbohong.
"Kita singgah ke apotik dulu kalau begitu Pak" pinta Bela.
"Untuk apa?" tanya Aril bingung.
"Beli obat, kan Bapak bilang Bapak sakit" jawab Bela.
Jangan terlalu perhatian dan mengkhawatirkan aku Bel kalau semua itu hanya sebatas perhatian bawahan dan atasannya. Aku hanya butuh perhatian tulus dari kamu sebagai seorang wanita kepada pria. Ucap Aril sedih di dalam hatinya.
"Nggak perlu, aku hanya butuh istirahat. Setelah kita kembali ke kantor tolong handle semua yang datang ke kantor. Jangan ganggu aku hari ini" ujar Aril.
"Baik Pak" jawab Bela patuh.
Duh kepalaku jadi semakin pusing mendengar kamu memanggilku Bapak. Batin Aril.
Aril membayar tagihan mereka dan kembali ke mobilnya diikuti Bela di belakangnya. Mereka masuk ke dalam mobil dan bergerak kembali menuju kantor.
Sepanjang perjalanan pulang Aril juga tak banyak bicara. Dia hanya lebih banyak diam. Membuat suasana di mobil menjadi canggung. Bela jadi merasa kalau ada yang salah antara dia dan Aril.
"Hemm.... " jawab Aril seadanya saja.
"Paaaak" panggil Bela lagi.
"Ya" jawab Aril singkat.
"Masih sakit? Kita singgah aja yuk ke apotik. Biar aku beliin obat" ajak Bela.
"Gak Bel gak perlu" tolak Aril.
Setelah itu sampai ke kantor Aril dan Bela tetap saling diam. Sesampainya di kantor, Aril langsung masuk ke dalam ruangannya.
Kepalanya jadi benar - benar pusing. Aril langsung tiduran di sofa. Tak lama berselang Aril sudah terlelap.
Bela masuk dengan pelan - pelan takut Aril terganggu. Dia melihat Aril tertidur dengan nyenyak. Dengan perlahan - lahan Bela menyentuh kepala Aril untuk mengukur suhu tubuhnya.
Tidak panas. Mungkin Mas Aril cuma pusing saja. Batin Bela.
Bela segera mematikan beberapa lampu di ruangan Aril sehingga sedikit remang agar Aril lebih nyaman untuk istirahat. Bela juga mengatur suhu ruangan kerja Aril tidak begitu dingin. Setelah memastikan Aril nyaman baru Bela keluar dari ruangan tersebut.
Aril membuka matanya dan menatap bayang - bayang Bela menjauh. Saat tangan Bela menyentuh keningnya tadi, Aril terbangun. Aril bisa merasakan perhatian Bela pada dirinya. Hatinya terasa semakin sedih.
Mengapa kamu berbuat seperti ini Bel. Kamu sangat baik sekali sebagai seorang sekretaris kepada atasannya. Sementara aku ingin hubungan kita lebih dari itu tapi kamu selalu saja membangun benteng yang tinggi diantara kita. Batin Aril.
Aril kembali memejamkan matanya lagi dan kembali tertidur.
Jam setengah empat Bela masuk kembali ke ruangan Aril dan melihat Aril masih tidur dengan nyenyaknya. Bela membawa teh hangat untuk Aril dan meletakkannya di meja tepat di depan sofa Aril tidur.
"Paaak... " panggil Bela.
"Paaak... " Bela menggoyang - goyangkan tubuh Aril dengan lembut untuk membangunkan Aril tapi Aril masih tetap tidur.
"Maaaas... Mas Ariiil... " panggil Bela.
Aril yang sudah terbangun saat panggilan kedua Bela saat dengan lembutnya tangan Bela menyentuh tubuhnya langsung membuka matanya.
"Apa Bel... barusan kamu panggil aku dengan sebutan apa?" tanya Aril.
"Bapak" jawab Bela berbohong.
Wajah Bela sudah merah merona. Batin Aril sudah bersorak senang sekali.
"Tidak.. aku tidak mendengar kata itu tadi yang kamu sebut" protes Aril.
"Berarti Mas udah bangun donk dari tadi?" tanya Bela.
Aril tersenyum mendengar Bela sudah dua kali memanggilnya dengan sebutan Mas. Dia langsung duduk dengan semangat.
"Nah gitu donk panggil aku Mas seperti saat di rumah. Aku kan jadi kembali muda. Setiap kamu panggil aku Pak.. Paak.. rasanya umurku bertambah satu tahun dan aku merasa sangat tua sekali" ujar Aril.
Bela hanya bisa tersenyum malu dengar perkataan Aril. Benar tebakan Bela pasti karena masalah ini Aril diam sejak makan siang mereka.
Setelah berpikir panjang dan mempertimbanhkannya Bela memutuskan untuk sedikit memberi kelonggaran pada hubungan dia dengan atasannya di kantor.
Kalau sedang berdua saja, Bela akan memanggil Aril dengan sebutan Mas saja.
.
.
BERSAMBUNG