
"Astaghfirullah ya Allah.. Mas Romi.... " ucap Bela.
Ela dan Dini sontak melihat ke arah Bela.
"Ada apa Bel? Ada apa dengan Mas Rom" tanya Ela khawatir.
"Eeel.. kamu.. kamu harus lihat ini El" ujar Bela.
Bela menyerahkan ponselnya kepada Ela. Dini segera merapat dekat dengan Ela. Mereka berdua melihat ke arah layar monitor ponsel Bela.
Pengusaha muda yang sukses berinisial R ternyata mempunyai hubungan terlarang dengan seorang wanita bahkan telah mempunyai anak dari hubungannya tersebut.
Terlihat foto Romi sedang bersama dengan Klara yang sedang menggendong anaknya. Satu foto lagi Romi gantian Romi yang menggendong anak Klara.
"Astaghfirullah... " ucap Ela dan Dini bersamaan.
Mata Ela berkaca - kaca melihat berita yang dia lihat dan baca dari ponsel Bela.
"El jangan percaya, Mas Romi kan udah jelaskan semua dengan jujur kepada kamu" hibur Bela.
"Aku juga percaya Mas Romi tidak akan melakukan hal buruk seperti itu El" sambut Dini.
"Aku.. aku percaya Bel, Din. Tapi berita ini sampai seperti ini, bagaimana dengan rencana pernikahan kami. Kalau Mas Romi dijebak bagaimana?" tanya Ela.
Bela dan Dini menggenggam tangan Ela dan memberik kekuatan.
"Mas Romi tidak sendiri El, ada teman - temannya yang juga hebat - hebat" ujar Bela menenangkan.
Tak lama ponsel Ela berdering, Ela meraih ponselnya dan tertera nama Romi. Ela langsung mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum Mas" sapa Ela.
"Wa'alaikumsalam. Cishela.. ada yang ingin Mas sampaikan pada kamu" ujar Romi.
"Tentang apa Mas? Tentang berita kamu menjalin hubungan dengan Klara?" tanya Ela.
"Ka.. kamu sudah mengetahuinya?" tanya Romi terkejut.
"Sudah, aku sudah membaca beritanya dan juga melihat foto kamu" jawab Ela.
"Tidak seperti yang kamu kira El. Aku menggendong anak Klara karena saat itu Klara sedang membuat susu anaknya. Kasihan dia kerepotan makanya aku gendong anak itu" ungkap Romi.
"Aku percaya Mas tapi hubungan kita bukan hanya antara kamu dan aku saja. Ada keluarga dibelakang kita. Aku orang desa Mas, gimana kalau orang - orang di Desaku tau berita ini sedangkan tak sampai dua bulan lagi acara pernikahan kita. Apa yang akan mereka katakan pada orang tuaku?" ucap Ela khawatir.
"Tolong bersabar ya El.. aku minta maaf sama Bapak Ibu di Desa. Tolong kamu jelaskan pada mereka bagimana cerita sebenarnya agar mereka tidak terhasut oleh berita ini. Aku akan mengurus ini secepatnya" janji Romi.
"Baik Mas aku akan menjelaskan semuanya pada Bapak dan Ibu" sambut Ela.
"Untuk sementara kamu pulang bareng Ela ya. Aku tidak bisa antar jemput kamu. Aku tidak mau melibatkan kamu dalam masalah ini. Sepertinya ada yang ingin menjebakku El. Aku tidak mau kamu dalam bahaya" perintah Romi.
"Iya Mas, aku mengerti" jawab Ela.
"Kamu baik - baik ya dan tolong bersabar" pesan Romi.
"Baik Mas. Hati - hati ya" balas Ela.
"Iyam dah dulu. Mas mau ketemu pengacara untuk mengurus berita ini. Assalamu'alaikum" Romi menutup teleponnya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Ela.
Ela menarik nafas panjang. Mendengar cerita Romi, dia semakin khawatir.
"Mas Romi bilang dia dijebak dan takut membahayakan aku. Untuk sementara aku disuruh pulang sendiri" jawab Ela.
"Kalau begitu hati - hari El. Benar itu pesan Mas Romi" sambut Dini.
"Dia mungkin tidak ingin melibatkan kamu" ujar Bela khawatir.
"Kamu lupa kalau aku bisa beladiri Bel?" ucap Ela mengingatkan.
"Aku bukan lupa El tapi kita tidak tau siapa lawan kita saat ini. Bisa jadi memang orang yang sangat berbahaya" balas Bela.
Ela terdiam mendengar ucapan Bela.
Sore harinya seperti pesan Romi, Ela pulang sendiri ke rumah Bimo. Romi lupa kalau Bela sudah tidak tinggal bersama Ela lagi di rumah Bimo. Padahal tadi Romi berpesan agar Ela pulang bersama sahabatnya itu.
Sesampainya di rumah Reni dan Bimo yang sedang duduk santai di ruang keluarga langsung menahan Ela untuk menanyakan sesuatu.
"El bagaima keadaan kamu?" tanya Bimo khawatir.
"Aku baik - baik saja Mas" jawab Ela tak bersemangat.
"El kamu yang kuat ya.. berita itu tidak benar. Aku sangat mengenal semua sahabat Kakakku. Mas Romi, Mas Aril dan Mas Riko dulu memang playboy tapi mereka mempunyai aturan dan komitmen. Mereka tidak akan bertindak gegabah seperti itu. Apalagi menyangkut masa depannya" ucap Reni mencoba memberi ketenangan pada Ela.
"Aku percaya Ren, Mas Romi sudah menjelaskan padaku bagaimana kejadiannya. Dan saat kami masih di Surabaya dia sudah menjelaskan hubungannya dengan Klara. Klara adalah anak dari rekan bisnisnya. Klara menikah dengan suaminya yang hanya orang biasa dan orang tuanya tidak setuju. Saat Klara hamil orangtuanya menariknya dan memisahkan dia dengan suaminya. Tapi setelah Klara melahirkan dia melarikan diri dan pergi mencari suaminya. Kemarin Mas Romi membantunya mencari suaminya di Surabaya Mas" ungkap Reni.
"Apakah ini jebakan oleh orang tua Klara? Bisa jadi ada mereka saingan bisnis?" tanya Bimo.
"Gak mungkin Mas, masak saingan bisnis mengorbankan anaknya sendiri. Kecuali dia mengumpankan anaknya untuk mencapai sesuatu. Misalnya dia ingin menikahkan Mas Romi dan anaknya dengan menggiring opini publik kalau Mas Romi sudah lama berhubungan dengan anaknya dan sudah memiliki anak" potong Reni.
Bimo dan Ela terdiam.
"Benar juga pemikiran kamu yank. Kok bisa sampai ke situ mikirnya?" tanya Bimo.
"Dunia bisniskan biasa begitu Mas. Menikahkan anak mereka dengan rekan bisnis dengan tujuan ingin memperluas jaringan bisnis mereka dan menambah kekayaan. Apalagi tadi kata Ela orang tuanya Klara tidak setuju dia menikah dengan suaminya yang hanya orang biasa. Mungkin orang tua Klara berharap Mas Romi lah yang layak jadi menantunya sehingga dia menyebarkan gosip miring tentang Mas Romi kepada publik" jawab Reni.
"Iya ya yank, benar juga penjelasan kamu itu. Sepertinya kita harus segera menyuruh Romi berhati - hati dalam melangkah" sambut Bimo.
"El nanti kalau Mas Romi telepon kamu bisa sampaikan apa yang dibilang Reni tadi. Karena dunia bisnis ini sangat kejam. Orang bisa menghalalkan segala cara demi untuk meraih apa yang dia inginkan" pesan Bimo.
"Iya Mas nanti akan aku sampaikan pada Mas Romi" jawab Ela.
Ela meraih tasnya dan berdiri dari duduknya.
"Mas, Ren.. aku ke kamar dulu ya. Mau bersih - bersih dan istirahat" pamit Ela.
"Iya El, kamu sebaiknya istirahat yang cukup" sambut Reni.
"Benar, jangan pikirkan yang berat - berat. Kita semua akan membantu Romi keluar dari masalah ini secepatnya. Jangan sampai masalah ini malah menganggu rencana pernikahan kalian" ujar Bimo.
"Terimakasih Mas atas perhatian dan dukungan kalian semua. Aku tidak tau lagi bagaimana harus membalasnya" jawab Ela.
"Kita kan sudah menjadi keluarga El, jangan sungkan untuk meminta bantuan kami" balas Reni.
Ela melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumah Bimo dan Reni.
.
.
BERSAMBUNG