
Saat di dalam mobil menuju rumah.
"Kamu kok diam aja yank?" tanya Romi heran.
"Mas gak punya hutang gitu?" Jawab Ela.
"Hutang apa yank?" tanya Romi bingung.
"Hutang penjelasan?" Ela balik bertanya.
Ela melempar pandangannya ke luar jendela. Seketika Romi tersadar, pasti ini cerita tentang Shelly.
"Penjelasan tentang Shelly? Tadi kan aku udah jelasin dia itu teman dari salah satu mantan temanku dulu" jawab Romi.
"Yakin cuma itu aja?" tanya Ela memastikan.
"Iya yakin donk yank. Mana ada yang aku sembunyikan lagi dari kamu" jawab Romi.
"Tapi kok Dokter itu senang banget waktu ketemu Mas tadi?" tanya Ela.
"Ya gak tau, aku kan gak bisa baca pikirannya yank. Aku hanya kenal dia itu teman dari teman dekat aku dulu. Itu saja, dan aku tidak punya hubungan apapun dengan Shelly" jelas Romi.
"Awas ya kalau Mas bohong" ancam Ela.
"Kamu cemburu?" tanya Romi sambil tersenyum.
"Nggak" jawab Ela cepat.
"Iya nih cemburu kan?" desak Romi.
"Wajarkan aku cemburu. Mas lupa kejadian terakhir sebelum kita menikah. Orang dari masa lalu kamu muncul dan hampir menggagalkan pernikahan kita. Aku gak mau ada orang yang ingin merusak rumah tangga kita Mas yang baru berumur sebulan lebih" jawab Ela.
Romi semakin tersenyum lebar.
"Kok malah ketawa?" tanya Ela kesal.
"Aku suka lihat kamu yang cemburuan. Aku merasa kalau kamu sangat mencintaiku. Selama ini rasanya hanya aku saja yang sangat mencintai kamu" ungkap Romi.
"Apaan sih Mas Romi. Kalau aku mau menikah dengan kamu itu artinya aku mencintai kamu. Mana mau aku menikah dengan pria yang tidak aku cintai" bela Ela.
Romi langsung meraih tangan Ela dan menggenggamnya kemudian dia menarik tangan Ela dan menciumnya dengan lembut.
"Makasih sayang sudah mencintai aku sebesar itu. Percayalah hanya kamu yang aku cintai dan berhak menjadi istri dan Ibu dari anak - anakku kelak. Aku tidak pernah memikirkan orang lain selain kamu" ungkap Romi.
"Ini bukan gombal kan?" tanya Ela.
"Kamu gak percaya yank? Setelah perjuangan panjangku untuk menikahi kamu?" tanya Romi.
"Siapa tau sesudah dapat rasa cinta kamu hilang begitu saja" jawab Ela masih cemberut.
"Uluh.. uluuuh... istriku gemesin deh kalau lagi ngambek dan cemburu. Jadi makin cinta deh sama kamu" rayu Romi.
"Modus" protes Ela.
"Tau aja, nanti malam minta jatah ya" pinta Romi.
"Tuh kan Mas Romiiiii" teriak Ela.
"Hahahaha.... " tawa Romi pecah.
Akhirnya Romi dan Ela pulang ke rumah. Mereka disambut oleh Mama dan Papanya Romi.
"Cari mangga muda kok lama banget? Dapat mangga nya?" tanya Mama Romi penasaran.
"Dapat Ma di rumah Mbak Kinan tapi setelah selesai makan mangga Mas Romi kembali muntah - muntah" jawab Ela.
"Kamu sakit apa sih Rom kok aneh gitu?" tanya Papa Romi bingung.
"Do'ain ya Pa sakit ngidam" jawab Romi sambil tersenyum.
"Maksud kamu?" tanya Mama Romi tak percaya.
"Kami baru saja dari Dokter kandungan Ma. Tadi Kinan dan Reni juga bilang hal yang sama seperti yang Mama katakan jadi kami langsung memeriksakan Ela ke Dokter" jawab Romi.
"Trus apa kata dokter?" tanya Papa Romi tak sabar.
"Belum kelihatan jelas Ela hamil atau tidak tapi tanda - tandanya ada dan dokter memberikan resep vitamin dan penguat kandungan Ma. Kata dokter tunggu dua minggu lagi, mudah - mudahan ada kabar gembira" jawab Romi.
"Belum pasti Ma.. " sambut Ela sungkan.
"Mama yakin kamu hamil El. Lihat gelagat Romi tadi pagi Mama udah curiga kan. Feeling Mama kamu pasti hamil. Sudah.. sudah... jangan capek - capek dulu ya. Romi puasa dulu jangan ajak Ela begadang malam lagi" pesan Mama Romi.
Ela menatap wajah Romi. Romi begitu terkejut mendengar pesan Mamanya. Tadi di mobil baru saja dia minta jatah nanti malam.
"Lho kok puasa Ma?" tanya Romi tidak terima.
"Kalau hamil muda tidak boleh olahraga raga ranjang dulu nanti bisa berbahaya. Apalagi ini kan kehamilan pertama Ela, kita gak tau kekuatan kandungan Ela. Dari pada menyesal sebaiknya dari sekarang mulai dijaga. Kamu jangan buat Ela capek dulu ya. Awas" ancam Mama Romi.
Romi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Iya Rom, dengerin pesan Mama kamu. Kamu mau segera jadi seorang Papa kan?" tanya Papa Romi.
"Ya mau banget donk Pa" jawab Romi cepat.
"Nah ikuti pesan Mama. Mama kan lebih berpengalaman, lagian Mama itu kan orang tua kamu pasti ingin yang terbaik buat kamu" sambut Papa Romi.
"Papa kok dukung Mama sih" ucap Romi kecewa.
"Karena Papa tau gimana anak Papa ini. Kamu harus melatih kesabaran kamu Rom. Sebentar lagi kamu akan jadi orang tua. Harus belajar bersabar dari sekarang. Mendidik anak - anak itu bukan hal yang mudah lho" ucap Pak Hidayat.
"Iya Pa" jawab Romi.
"Ya sudah El, kamu istirahat di kamar gih. Nanti kalau sudah waktu makan malam Mama akan panggil kalian. Ingat Romi harus puasa" pesan Mama Romi lagi kali ini kepada Ela.
"Iya Ma" jawab Ela.
Ela berjalan menuju kamar dan di susul Romi di belakangnya.
Kenapa nasibku jadi sama seperti Aril ya? Apa iya kalau istri hamil muda harus puasa? Tanya Romi dalam hati.
Ela langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah selesai dia keluar kamar mandi dan melihat Romi sedang uring - uringan di kamar mereka.
"Mas kenapa? Mual lagi?" tanya Ela.
Romi menggelengkan kepalanya.
"Nggak" jawab Romi.
"Terus kenapa wajahnya seperti itu?" tanya Ela lagi.
"Yank aku emang harus puasa ya?" tanya Romi.
"Pesan Mama begitu kan? Aku ingat Mas Aril juga kan begitu waktu Bela hamil muda" jawab Ela.
"Tapi yank kita kan udah janji tadi, nanti malam aku akan dapat jatah" desak Romi.
"Itu kan sebelum kita tau Mas dan sebelum Mama mengingatkan. Sekarang beda donk" balas Ela.
Romi menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal.
"Apa aku kuat yank?" tanyanya tak yakin.
"Ya harus kuat donk Mas. Katanya pengen cepat punya anak masak gak mau berkorban demi anaknya" jawab Ela.
"Ya Tuhaaan.. apa aku berdosa ya udah ketawain Aril dulu makanya aku punya nasib yang sama seperti dia" gumam Romi.
Ela jadi tersenyum lebar.
"Bisa jadi Mas, kan Mas emang fans beratnya Mas Aril sejak dulu. Makanya apa yang Mas Aril lakukan Mas selalu ikutin. Sekarang ya dinikmati aja donk, itu namanya senasib sepenanggungan Mas. Lebih tepatnya sahabat sejati" ungkap Ela sambil tersenyum.
"Tapi jangan yang ininya donk yank harus samaan juga. Mas kan masih pengen honeymoon terus sama kamu" protes Romi.
"Ingat pesan Papa, harus belajar bersabar. Mas Aril aja bisa masak Mas nggak. Katanya fans berat Mas Aril? Ikuti jejak perjuangannya donk" jawab Ela masih sambil tersenyum.
"Apes deeeh" gumam Romi sambil berjalan menuju kamar mandi.
.
.
BERSAMBUNG