Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Limapuluh



Benar apa yang Dini katakan begitu Dini selesai membuat susu Rihana pun terbangun dan merengek meminta susu. Dengan sigap Dini langsung memberikan botol susu Rihana.


Dengan mata yang masih terpejam Rihana meminum susunya sampai habis setelah itu dia kembali tidur. Riko terlihat sangat takjub dengan apa yang Dini lakukan.


"Kamu benar yank, dia terbangun karena minta susu" ucap Riko merasa terkejut.


"Itu memang sudah kebiasaan anak - anak Mas. Anak - anak dibawah dua tahun masih harus rutin minum susu. Apalagi sepertinya Rihana tidak minum Asi hanya susu formula" ungkap Dini.


"Iya ya.. Hana tidak ada menitipkan Asinya kepada kita untuk Rihana" sambut Riko.


"Mungkin air asinya Mbak Hana sedikit dan sudah kering. Tidak semua wanita memang bisa menyusui anaknya sampai dua tahun" jawab Dini.


Setelah selesai memberikan susu kepada Rihana Dini kembali menuju dapur.


"Kamu mau ngapain lagi sih yank. Di sini aja kita tiduran lagi. Ini kan hari libur?" tanya Riko.


"Aku harus menyiapkan sarapan Mas, nanti kalau Rihana bangun bisa langsung mandi terus kita sarapan bersama" jawab Dini.


"Tapi aku kasihan lihat kamu. Biasanya kan kalau hari libur kita santai yank" ujar Riko merasa bersalah.


"Tidak apa Mas sekali - sekali" jawab Dini.


Dini melanjutkan aktivitasnya di dapur sedangkan Riko menyusulnya ke dapur. Riko duduk di meja makan yang ada di dapur apartemen mereka sambil membaca koran ditemabi secangkir kopi. Sedangkan Dini sudah memulai masaknya.


"Masak apa yank?" tanya Riko.


"Nasi goreng Mas, tapi kali ini aku buat seperti biasa ya. Gak pakai cabe, takut Rihana kepedasan" jawab Dini.


"Terserah kamu saja yang penting buatan kamu semuanya enak" puji Riko.


Dini tersenyum lembut membalas perkataan Riko.


Tak lama terdengar suara tangisan dari kamar mereka.


"Mamaaaaaa.... Mamaaaaaa.... atuuuuut" teriak Rihana.


"Mas Rihana nangis Mas. Kamu lihat dulu sana gih dan bujuk dia biar gak nangis. Kerjaanku nanggung nih, nanti nasi gorengnya gosong" perintah Dini.


Riko menarik nafas panjang dan mulai berjalan menuju kamar mereka.


"Mammaaa.. hiks.. hiks.. " tangis Rihana.


"Lho anak cantik kenapa nangis?" tanya Riko.


"Atuut oooom.. aku ada di nana cekayang?" tanya Rihana sambil masih terisak.


"Kamu lupa ya.. malam ini kan kamu tidur di rumah Om. Masak lupa? Kan tadi malam sebelum tidur Om garuk - garuk punggungnya" jawab Riko membujuk.


Rihana mulai tenang dan terdiam.


"Ante nana?" tanya Rihana.


"Lagi masak nasi goreng untuk sarapan. Kamu suka nasi goreng?" tanya Riko.


Rihana mengangguk cepat.


"Kalau begitu bangun donk biar kita makan nasi goreng di dapur" ajak Riko.


Rihana berdiri dan berjalan di atas tempat tidur sampai kepinggirannya.


"Endong Om" pinta Rihana yang masih belum seratus persen sadar. Matanya masih terlihat mengantuk.


"Uh udah besar masih minta gendong. Mana kuat Om gendong anak segendut kamu" tolak Riko.


Wajah Rihana kembali sendu dan berusaha mau turun sendiri.


"Udah.. udah.. jangan nangis. Sini Om gendong kamu. Kita gendong di belakang ya" bujuk Riko, dia takut Rihana menangis kembali.


Riko duduk dipinggir temot tidur lalu Rihana naik di punggung nya dan memeluk Riko dari belakang. Rihana mengalungkan lengannya di leher Riko.


"Jangan kencang - kencang donk nanti Om gak bisa nafas" ucap Riko.


"Nanti Om mati?" tanya Rihana polos.


"Iya nanti kalau Om mati siapa donk temannya Tante lagi?" tanya Riko.


"Ada Linana" jawabnya.


"Hahaha.. kamu mau sabotase kedudukanku ya" gumam Riko gemas dan mulai berjalan keluar kamar menuju dapur tentu dengan Rihana yang menempel di punggungnya.


"Tante lihat siapa yang datang... tolong Om sangat keberatan" ucap Riko pura - pura.


"Eeeh Rihana udah bangun rupanya" sambut Dini.


Riko meletakkan Rihana pelan - pelan dan duduk di kursi makan. Setelah itu diapun duduk di dlhadapan Rihana. Sedangkan Dini sedang menyiapkan sarapan pagi mereka.


"Naah udah siap sarapannya tapiiiiii... Rihana harus mandi dulu, ya kan Om? Rihana bau pesing, pempers kena ompol" bujuk Dini.


"Iya bauuuuk" sambut Riko.


"Mandi dulu yuk sayang" ajak Dini.


"Yuk.. yuk... " sambut Rihana.


Dini dan Rihana berjalan menuju kamar dan segera memandikan Rihana. Tak lama kemudian mereka kembali tentu saja dengan penampilan berbeda. Rihana sudah hanti baju dan sangat wangi.


"Ayo kiss omnya dulu sayang" perintah Dini.


Kini tampak wajah segar Rihana membuat Riko semakin gemas melihatnya.


"Mana.. mana.. kissnya" sambut Riko.


Rihana mengecup kedua pipi Riko.


"Cup... cup... "


"Waaaah wangi sekali.. " puji Riko.


Rihana tampak malu - malu mendengar pujian Riko. Setelah itu Rihana duduk disamping Dini.


"Bisa makan sendiri?" tanya Dini.


"Bisa Ante, di yumah aku mamam cendiyi kok" jawab Rihana polos.


"Anak pintar" puji Dini sambil mengelus lembut kepala Rihana.


Dini memberikan makanan dan sendok untuk Rihana. Tentu saja Rihana menyambutnya dengan sukacita dan langsung memakannya.


"emmm... enyaaak" ucap Rihana.


"Kalau enak makanannya harus habis ya sayang" ucap Dini.


"Oce ante" jawab Rihana.


Riko dan Dini tersenyum saling pandang melihat antusiasnya Rihana makan nasi goreng buatan Dini. Setelah memastikan Rihana makan dengan baik dan nyaman baru Riko dan Dini mulai makan.


Tak lama kemudian sarapan pagi mereka telah selesai. Riko dan Rihana duduk diruang TV untuk menonton sedangkan Dini berberes dapur. Setelah selesai baru Dini ikut bergabung bersama Riko dan Rihana.


"Ante aku bocan" ucap Rihana.


Riko dan Dini saling pandang.


"Anak - anak udah ngerti arti bosan?" tanya Riko tak percaya.


Dini tersenyum menatap suaminya.


"Dia anak pintar Mas" ucap Dini.


"Kalau bosan kamu maunya apa?" tanya Dini pada Rihana.


"Jayan - jayan yuk Ante" ajak Rihana.


Dini melirik Riko meminta persetujuan.


"Terserah kamu deh yank" ucap Riko.


"Baiklah kalau begitu kita jalan - jalan ya" ungkap Dini.


"Hoyeeee.... " teriak Rihana senang.


"Kalau begitu Tante siap - siap dulu ya" ujar Dini.


Dini langsung menuju kamar untuk berganti pakaian dan memakai jilbab. Ternyata Rihana mengikutinya dari belakang dan memperhatikan semua gerak - gerik Dini.


"Ante kenapa pakai ini?" tanya Rihana sambil menarik hijab Dini.


"Ini harus dipakai untuk perempuan yang sudah besar sayang" jawab Dini.


"Mama dak pakai" ucap Rihana.


"Mama kamu mungkin belum siap" sambut Dini.


"Tapi Mama pakai yambut boongan.. aku peynah liat Mama yepas yambutnya. Yambut Mama pendek" ungkap Rihana.


Dini terdiam sesaat, seingat dia rambut Hana kan panjang kenapa Rihana bilang pendek?


"Mungkin kamu salah lihat sayang. Rambut Mama kamu kan panjang?" tanya Dini lagi.


"Ndak.. aku dak sayah.. yambut mama pendek banget" jawab Rihana yakin.


Dini terdiam.. Ada yang aneh kalau begitu dengan Mbak Hana? Apa yang sedang terjadi saat ini? Apakah Mbak Hana menyembunyikan sesuatu? tanya Dini dalam hati.


.


.


BERSAMBUNG