Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Enampuluh Dua



Akhirnya Aril pergi meeting bersama Dedi asisten pribadinya setelah menjalani rayuan panjangnya pada Bela sebelumnya. Bela tetap pada pendiriannya untuk tinggal di kantor dan menyiapkan semua pekerjaan yang telah dia tinggalkan selama satu minggu.


Sore harinya karena Aril belum juga pulang sampai jam kerja selesai akhirnya Bela memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Aril.


Bidadari Surgaku


Mas, aku pulang naik taxi aja ya.. Mas masih lama kan pulangnya.


Aril


Sorry Bel, kita gak bisa pulang bareng. Nanti begitu urusan di sini selesai aku akan langsung ke rumah kamu dan bertemu Bimo.


Bidadari Surgaku


Iya Mas, aku ngerti. Hati - hati ya..


Aril


Kamu yang harus hati - hati. Kamu kan pulang pakai taxi.


Bidadari Surgaku


Iya Mas.. Udah ya Assalamu'alaikum.


Aril


Wa'alaikumsalam


Bela tersenyum membaca pesan Aril. Kalau pembicaraan seperti ini kan dia lebih lega dari pada terus - terusan di gombalin Aril, rasanya gimana gitu. Geli, lucu tapi mual juga kalau kebanyakan.


Tapi mau gimana lagi, sifat Aril memang begitu. Suka iseng dan emang suka lebay. Karena itu juga mungkin yang menyebabkan dia dan Reni sering bertengkar.


Walau begitu memang Aril yang paling perhatian dan pengertian diantara para sahabatnya. Mungkin karena sifatnya itu yang membuat dia mudah disukai oleh banyak wanita. Apalagi dia adalah pengusaha sukses.


Tanpa harus cari - cari para wanita yang datang sendiri menyerahkan dirinya kepada Aril. Namanya buaya pantang banget nolak daging suegeer..


Itu mah dulu saat Aril dan para sahabatnya masih jauh dan dangkal ilmu agamanya. Aril, Romi dan Riko terherat pergaulan bebas kota metropolitan.


Untung saja saat usia mereka masih muda mereka segera mendapat hidayah. Walau hidayah harus lebih dulu menghampiri kehidupan sahabat mereka Refan.


Rumah tangga Refan menyadarkan mereka bahwa pergaulan bebas sangat berat dosanya dan dampaknya pada kehidupan masa depan mereka.


Beruntung mereka tulus bersahabat, saling mengingatkan dan mengajak dalam kebaikan. Walau dulunya juga saling mengajak untuk berbuat buruk. Bukti nyata adalah Aril yang ikut menarik Romi dan Riko dalam pergaulan bebasnya.


Taxi pesanan Bela sudah datang, Bela segera keluar kantor dan pulang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah Bela melihat Reni dan Bimo duduk santai sambil menikmati cemilan sore hari di ruang keluarga.


Kehamilan pertama Reni ini adalah pengalaman pertama bagi keduanya. Oleh sebab itu baik Bimo dan Reni sangat menikmati masa - masa ini dan tidak mau melewatkannya.


"Lho Bel kok pulang sendiri. Mas Aril mana?" tanya Reni.


"Mas Aril masih ada meeting diluar. Nanti setelah selesai baru dia mampir ke sini" jawab Bela yang baru saja duduk dan ikut bergabung dengan Kakak dan Kakak Iparnya.


"Ngapain?" tanya Bimo.


"Ya mau ketemu Mas, kan kemarin Mas Aril udah cerita" balas Reni.


"Cepat amat, kayak gak ada waktu lain aja. Baru juga kemarin pulang dari Balinya" ujar Bimo.


"Kata Mas Aril lebih cepat lebih baik biar clear semuanya. Belum lagi mau susun jadwal ketemu Bapak dan Ibu" sambut Reni.


"Bapak Ibu mau datang besok katanya" ujar Bimo.


"Lho ngapain? Kok gak ada kabari aku?" tanya Bela terkejut.


"Katanya kangen Salman. Salman telepon mereka pengen ketemu" jawab Bimo.


"Ooo" sambut Bela.


Kebetulan banget ya, Mas Aril jadi bisa sekalian ngobrolin masalah lamaran sama Bapak dan Ibu. Apa ini jalan jodoh ya, kok lancar banget. Baru aja direncanain eh udah langsung terkabul. Batin Bela.


"Aku ke kamar dulu ya, mau mandi" ujar Bela.


"Ela belum kasih kabar kamu jam berapa dia pulang?" tanya Bimo.


"Belum Mas" jawab Bela sambil berlalu dari hadapan Bimo dan Reni.


"Ela pasti nanti diantarin Mas Romi Mas" ujar Reni.


"Iya, aku kan hanya mengecek adik - adikku. Bagaimanapun mereka tinggal di sini, sudah menjadi kewajiban dan tanggungjawabku menjaga mereka" jawab Bimo.


Malam harinya setelah selesai shalat Isya Bimo, Reni dan Bela bersiap - siap hendak makan malam tiba - tiba bel rumah berbunyi. Asisten rumah tangga Bimo langsung melihat ke depan rumah.


Tak lama kemudian muncul Aril dengan membawa bungkusan.


"Assalamu'alaikum" ucap Aril menghampiri mereka.


"Wa'alaikumsalam, Ril yuk gabung makan bareng kami" sambut Bimo.


Tanpa malu - malu Aril langsung duduk disamping Bela.


"Bawa apaan Mas?" tanya Bela.


"Nih sate maranggi kesukaan bumil" jawab Aril.


"Waaah enak banget tuh Mas. Tau aja makanan kesukaanku. Siapin alat makan untuk Mas Aril Bel" perintah Reni.


Bela langsung berdiri dan berjalan ke dapur. Dibantu bibik di rumah menyiapkan piring dan gelas untuk Aril. Mereka akhirnya makan malam bersama. Setelah selesai makan malam mereka pindah duduk di ruang keluarga.


"Kata Bela kamu mau ngomong sesuatu?" tanya Bimo memulai pembicaraan.


"Iya, secara garis besar kalian kan sudah tau kalau lamaran keduaku sudah diterima Bela. Aku bukan ingin melangkahin Bapak dan Ibu tapi aku menghargai kamu sebagai Kakak tertua Bela. Karena kalian juga tinggal di Jakarta jadi ada baiknya aku meminta restu kalian lebih dulu sebelum nanti aku menemui Bapak dan Ibu" ungkap Aril.


Kali ini Aril terlihat serius. Aril yang seperti inilah yang paling Bela suka. Dia terlihat lebih tampan dan dewasa dari biasanya. Bela juga sering melihat Aril seperti ini saat dikantor atau bertemu dengan para clientnya.


"Bela sudah cerita pada kami tadi malam. Pada dasarnya aku sangat mendukung niat kalian. Selama itu baik dan untuk kebahagiaan kalian berdua. Walau kamu adalah sahabatku tapi Bela adalah adikku Ril. Jangan karena hubungan kalian yang tidak baik nantinya akan merusak persahabatan kita. Kamu mengertikan tanggung jawab aku sebagai saudara laki - laki. Siapapun orang yang menyakiti keluargaku aku tidak akan segan - segan, walau itu kamu sahabat aku" sambut Bimo dengan suara yang tegas.


"Iya Bim aku mengerti. Aku tidak bisa menjanjikan Bela untuk tidak bersedih dan menangis. Karena dalam berumah tangga pasti selalu ada masalah. Tapi aku berjanji akan menjaga, menyayangi dan membahagiakan Bela" jawab Aril.


"Besok Bapak dan Ibu akan datang. Ketepatan sekali bukan? Kamu bisa langsung bicara pada mereka mengenai niat baik kalian ini" ucap Bimo.


"Benarkah? Waaah beruntung sekali ya kami. Kini aku sangat yakin, niat baik pasti akan mendapatkan kebaikan juga" sambut Aril senang.


Bibik menghidangkan minuman untuk mereka semua.


"Tapi ada hal penting yang ingin aku katakan pada kalian. Aku ingin meminta bantuan kalian" ungkap Aril sangat serius sehingga Reni tak tega untuk berbuat iseng kepada Aril.


"Apa Mas?" tanya Reni penasaran.


"Tolong bantu kami membujuk Bapak dan Ibu. Kalau bisa pernikahan kami diselenggarakan bulan depan" jawab Aril.


"Buru - buru banget Ril? Belum juga bicara sama Bapak?" tanya Bimo.


"Tolonglah Bim.. kamu kan dulu pernah berada di posisiku. Kalau ditanya hati ini, rasanya ingin banget akad nikahnya malam ini Bim. Tapi aku bisa menahannya hanya saja jangan terlalu lama. Aku rasa satu bulan sudah bisa, toh kalian juga dulu kan sama. Dalam waktu satu bulan pernikahan kalian bisa diselenggarakan" jawab Aril.


Bimo dan Reni saling pandang.


"Mas Aril tidak akan pernah berada di posisi Mas. Dia kan bukan duda Mas?" Reni bingung dan bertanya pada suaminya.


"Aku kan duda tanpa sertifikat Ren... yah.. you know laaah" sambut Aril kelepasan.


Pluuuuuk $#&@_#+(


"Aaaaw... sakit Beeel" teriak Aril.


.


.


BERSAMBUNG