Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Tujuhpuluh Tiga



"Apaaaaa? Jadi kamu masih perawaaaaa*?" tanya Reni terkejut.


Seketika Bela tersadar kalau dia sudah menikah dan harus menjaga rahasia rumah tangganya.


Aduh gawat. Batin Bela.


"Reeeen.. please... tolong jagain rahasia ini ya. Ini kan rahasia rumah tanggaku. Kalau sampai yang lainnya pada tau pasti deh mereka ledekin Mas Aril habis - habisan. Kasihan suamiku Reeeen... Mana dia pasti saat ini lagi pusing banget pabriknya kebakaran" pinta Bela memelas


"Hahahaha... cinta banget ya kamu sama Mas Aril. Sampai kamu gak tega Mas Aril di Bully" ledek Reni.


"Ya Mas Aril kan sekarang sudah jadi suamiku Reen.. Jadi apapun rahasianya akan menjadi rahasiaku. Tadi aku keceplosan karena kesal dengan keadaan yang ada" ungkap Bela menyesal.


"Hahaha... iya deh iya... tapi aku gak bisa berhenti tertawa. Aku merasa lucu ngebayangin wajah merananya Mas Aril karena gagal terjun bebas hahahaa" Reni tertawa sambil memegangi perutnya.


"Ngetawain apa sih yank sampai segitunya tertawa. Aku pulang saja sampai kalian gak sadar?" tanya Bimo yang baru saja sampai di rumah.


"Ini Mas, Bela dan Mas Aril.. " jawab Reni.


Bela langsung menyenggol kaki Kakak ipar sekaligus sahabatnya itu.


"Mereka harus berpisah setelah lima hari menikah. Jadi Bela udah kangen kayanya, padahal baru aja berpisah sama Mas Aril" jawab Reni mengalihkan pembicaraan.


"Lho kenapa berpisah. Emangnya Aril kemana?" tanya Bimo terkejut.


"Mas Aril ke Singapore Mas. Pabriknya di sana kebakaran. Jadi dia langsung berangkat ke Singapore begitu sampai di Bandara. Aku numpang di sini dulu ya Mas selama Mas Aril di Singapore" jawab Bela.


"Ya sudah kami tinggal di sini saja selama Aril pergi. Lagian ngapain kamu sendirian di apartemen kalau Aril gak ada" jawab Bimo.


"Kalai begitu aku ke kamar ya. Mau mandi, badanku udah gerah banget dan. mau istirahat" ujar Bela.


Bela langsung meninggalkan Kakak dan Kakak iparnya berdua. Dia segera berjalan menuju kamarnya. Sementara Reni masih tersenyum karena lucu membayangkan wajah Aril yang kecewa karena gagal malam pertama.


"Kamu kenapa sih yank senyum - senyum terus?" tanya Bimo penasaran.


Reni langsung melirik ke arah kamar Bela.


"Sssst... Mas jangan ribut ya. Aku mau cerita sesuatu yang lucu. Tapi janji cuma Mas aja yang tau. Jangan sampai Mas Refan dan yang lainnya tau. Kalau sampai bocor Mas Aku hukum" jawab Reni.


"Hukum apaan?" tanya Bimo.


"Mas gak aku bolehin jenguk si adek dalam perutku" jawab Reni.


"Aduh hukumannya serem banget. Gak ada hukuman yang lain yank? Mana sanggup aku gak menjenguk si adek sampai dia lahir" protes Bimo.


"Makanya janji dulu jangan sampai ada yang tau. Cukup Mas saja yang tau" ancam Reni.


"Iya.. iya... Mas janji" jawab Bimo pasrah.


Reni langsung mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Bimo. Walau di ruangan ini hanya ada mereka berdua tapi Reni tidak mau kalau informasi ini sampai bocor pada yang lain.


"Mas Aril gagal malam pertama. Bela datang bulan" bisik Reni.


Bimo tersenyum juga akhirnya setelah mendengar cerita Reni.


"Apes banget nasib tuh anak, udah bela - belain selesai akad nikah pergi ke kota yang tak seorang pun kita tau kemana mereka pergi. Eeh gak taunya apa yang dia inginkan selama ini gagal. Hahaha.. Allah sedang menguji kesabarannya ditambah lagi dia harus ke Singapore mengurus pabriknya yang terbakar. Benar - benar perjuangan yang panjang. Kasihan banget kamu Ril" Bimo jadi ikut tertawa.


"Sudah.. sudah Mas nanti Bela lihat kita dia jadi curiga. Udahan ketawanya" ucap Reni.


*****


Malam harinya selesai makan malam Bela langsung masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian Aril melakukan panggilan video call.


Bela duduk ditepian tempat tidur dan menerima panggilan dari Aril.


"Assalamu'alaikum sayang" ucap Aril.


Wajahnya tampak sangat kusut sekali.


"Mas dimana? Jam berapa tadi sampainya?" tanya Bela.


"Sampai pabrik jam empat aku langsung mengecek lokasi. Kebakarannya parah yank. Walau sudah bisa dihentikan tapi sepertinya banyak kerusakan" jawab Aril.


"Terus gimana donk? Apa perusahaan mengalami banyak kerugian?" tanya Bela.


"Belum di hitung, tapi pabrik kan ada asuransinya yank. Memang tidak bisa langsung cair. Aku harus membuat laporan polisi, penyelidikan, ricek ke lokasi dan banyak yang lainnya.


"Alhamdulillah tidak ada. Kejadiannya ka malam, seluruh karyawan sudah pulang" ungkap Aril.


"Apa penyebab terjadinya kebakaran?" selidik Bela.


"Masih diselidiki polisi setempat yank. Pusing banget, nih aku baru sampai di apartemen, capek banget. Mungkin kalau aku melihat kamu jadi lebih segar" jawab Aril.


Bela merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.


"Apa tuh bungkusan yang ada disamping kamu?" tanya Aril ketika melihat ada beberapa bungkusan di atas tempat tidur Bela.


"Oh ini kado dari Reni, Dini dan Ela" jawab Bela.


"Buka donk, Mas pengen tau si Setan Kecil itu kasih apaan buat kamu?" perintah Aril.


Bela meletakkan teleponnya di tenoat yang aman dan Aril bisa melihat dengan jelas. Bela langsung membuka kado dari para sahabatnya. Setelah bungkus kadonya lepas Bela langsung mengeluarkan beberapa kain halus dan lembut. Bela mengangkatnya tinggi.


"O... Ooooo" gumam Bela, dia langsung menutup dan menyembunyikan kadonya.


Tapi sayang Aril sudah sempat melihatnya.


"Yank kenapa disembunyikan. Aku mau lihat lebih jelas" pinta Aril.


"Udah ah Mas, aku malu" jawab Bela.


"Emangnya apaan sih?" tanya Aril pura - pura penasaran. Padahal dia sudah melihatnya tadi.


"Lingerie Mas" jawab Bela malu.


"Lingerie? Baju tidur maksud kamu?" tanya Aril senang.


Bela menganggukkan kepalanya malu.


"Coba lihat yank.. eh tidak - tidak, Mas pengen melihat kamu memakainya" pinta Aril. Seketika pikirannya langsung melanglang buana.


"Malu Maaas" elak Bela.


"Yank kepalaku berat banget, mau pecah rasanya. Mungkin kalau lihat istriku yang cantik itu pakai baju dinasnya bisa membuat aku merasa lebih segar. Masak kamu gak mau sih memenuhi keinginan suamimu ini?" pinta Aril memelas.


Bela hanya diam karena malu.


"Ayo donk yaaank di pakai. Aku pengen lihat" rengek Aril.


Bela menarik nafas panjang. Dia merasa berdosa menolak permintaan suaminya. Walaupun jarak jauh tapi dia harus memenuhi semua keinginan suaminya.


"Janji ya Mas jangan ketawa" pinta Bela.


"Mas janji, Mas tidak akan ketawa. Lagian kamu pasti cantik banget pakai pakaian itu, ngapat Mas malah ketawa, emangnya kamu lucu kayak badut" janji Aril.


"Ya sudah, tutup mata aku mau buka baju" pinta Bela lagi.


"Ngapain tutup mata yank, kamu kan istri aku. Aku boleh melihat dan menyentuh semua tubuh kamu" jawab Aril.


"Ih Mas Aril jangan vulgar gitu donk bahasanya. aku malu nih" ujar Bela.


Demi menjalankan misinya, Aril memilih mengalah. Dia akan membujuk istrinya dengan sabar.


"Oke Mas tidak akan ngomong begitu lagi" balas Aril.


Bela membuka bajunya tepat dihadapan ponselnya sehingga Aril bisa melihat semuanya. Seketika Aril merasa panas dan menelan salivanya.


Bela kemudian memakai lingerie hitam kado dari teman - temannya. Wajah mulus dan putih milik Bela terlihat lebih bersinar karena sangat kontras dengan warna lingerie yang dia pakai.


"Ya Tuhaaan.. aku akan sangat berterima kasih pada si Setan Kecil. Pasti dia yang punya ide seperti ini, tidak mungkin Ela apalagi Dini" gumam Aril tanpa sadar.


Tubuhnya seketika panas dingin..


.


.


BERSAMBUNG