
Riko, Dini dan Rihana kini sudah berada di dufan. Mereka sepakat untuk membawa Rihana ke wahana permainan anak - anak.
Mereka sengaja memilih permaian yang sesuai dengan umur Rihana. Begitu masuk mereka langsung naik ke wahana Turangga - Rangga atau komedi putar.
Karena usia Rihana belum tiga tahun Rihana harus dipegang oleh Riko. Mereka naik keatas komedi putar. Rihana tampak sangat senang sekali.
"Yeeee... putaaaay... " teriak Rihana.
Riko dan Dini tertawa, mereka terlihat seperti keluarga yang sempurna.
Setelah itu mereka masuk ke istana boneka.
"Yucu... " Rihan berteriak sambil menunjuk ke sebuah boneka lucu.
"Iya lucu sayang" sambut Dini.
Setelah itu mereka istirahat untuk menikmati es krim.
"Emmm... diniiiiin" ungkap Rihana dengan wajah lucunya. Panas matahari membuat pipinya memerah.
"Kamu suka main ke sini?" tanya Dini.
"Suka Anta, aku beyum peynah ke cini cama Mama" jawab Rihana polos.
Riko terdiam mendengar perkataan Rihana. Kalau memang Rihana benar - benar anaknya alangkah jahatnya dia membuat anaknya tersiksa selama ini.
Percuma dia punya uang banyak pengusaha sukses tapi menelantarkan darah dagingnya. Dia tidak jauh beda dengan Arga selingkuhan Renita.
Riko kembali teringat sahabatnya, Refan. Refan yang berhati mulia mau mengasuh anak yang bukan darag dagingnya. Anak dari hasil perselingkuhan istrinya dengan pria lain.
Rihana yang memang belum Riko yakini anak kandungnya tapi Hana sudah menunjukkan hasil tes DNA yang hasilnya adalah anak kandung Riko. Riko masih mau membantahnya dan menolaknya. Jahat sekali dia sebagai orang tua.
Riko memeluk Rihana secara spontan.
"Maafkan Om.. Maafkan Om yang tidak tau keberadaan kamu selama ini. Maafkan Om yang sudah menelantarkan kamu" ucap Riko.
Rihana hanya diam karena bingung sedang Dini membelai lembut punggung Riko.
"Maaas" panggil Dini.
"Aku merasa bersalah sayang, Refan saja mau menerima anak yang jelas - jelas bukan anak kandungnya dan berasal dari hasil perselingkuhan istrinya dengan pria lain. Aku.. walau aku belum yakin tapi hasil tes DNA yang diberikan Hana yang mengatakan Rihana memang anakku masih ingin aku pungkiri. Aku sangat brengsek jadi seorang laki - laki. Aku malu.. malu sayang kepada Allah" ucap Riko.
"Kan sudah aku katakan masih ada waktu untuk memperbaikinya Mas" jawab Dini mengingatkan.
"Tapi aku takut kamu tersakiti sayang" sambung Riko.
Dini tersenyum penuh kasih sayang.
"Siapa bilang aku tersakiti. Aku malah bahagia melakukan semua ini bersama kamu Mas. Kita bisa sama - sama menyayangi Rihana. Dia anak yang manis, lucu dan pintar Mas. Aku menyukainya bahkan mulai menyayanginya" jawab Dini.
Riko terdiam.
"Sudah Mas... jangan berkata seperti itu lagi ya.. kalau nanti aku merasa sakit aku akan katakan dengan terbuka pada kamu" sambung Dini.
"Benar ya yank.. jangan tambah dosaku lagi. Ampun.. aku tidak sanggup lagi begini. Maafkan hamba ya Allah" ucap Riko sungguh - sungguh.
"Sudahlah Mas rasa menyesal pasti Mas rasakan tapi tidak bisa juga terus - terusan merasa begitu. Itu akan membuat Mas lemah dan cengeng. Allah tidak suka yang seperti itu. Tapi Menyesal, minta ampun dan perbaiki. Jangan diungkit dan diingat - ingat lagi masa lalu Mas yang buruk " bujuk Dini.
Riko menatap wajah istrinya.
Riko ingat perkataannya dulu saat mereka honeymoon di Ambon. Dia berusaha membuat Dini membangkitkan rasa percaya dirinya. Hingga akhirnya Dini bisa bangkit dan optimis pada masa depan.
Dini menggenggam tangan Riko dengan mesra dan penuh kelembutan.
"Mari sama - sama kita jalani masa depan. Aku yakin kita berdua akan sama - sama bahagia. Aku saja yakin mengapa kamu tidak?" tanya Dini.
"Iya sayang aku juga yakin. Terimakasih sudah memberikan aku semangat sehingga aku optimis menjalani masa depan ini" jawab Riko.
"Apapun hasil tes DNA kamu dan Rihana nanti kamu harus tetap menyayanginya. Kasihan dia Mas gak punya Papa. Kalau dia bukan anak kamu, kita kan masih bisa meminjamnya sesekali pada Mbak Hana. Kita bisa ajak dia makan dan jalan - jalan seperti ini lagi. Mas mau kan?" tanya Dini.
"Mau sayang, aku mau. Apapun yang kamu inginkan aku akan ikuti" jawab Riko lega.
"Nah mari kita lanjutkan lagi permainan kita hari ini" ajak Dini.
"Ayo Rihana kita jalan lagi" Riko sontak menggendong Rihana dan menggandengan tangan Dini berjalan menuju wahana permainan lainnya.
Mereka memasuki semua permainan yang aman untuk Rihana. Rihana terlihat sangat senang dan nyaman, karena Riko sudah bisa menerima keberadaannya dengan tulus dan ikhlas.
Sore harinya mereka memutuskan untuk pulang karena takut melihat Rihana kelelahan. Sebelum pulang mereka mampir di KF* kembali karena ternyata Rihana sangat menyukai ayam goreng.
Tapi kali ini mereka memilih untuk membawa pulang dan memakannya di apartemen saja. Sesampainya di apartemen Riko, Dini dan Rihana langsung bersih - bersih.
Setelah shalat maghrib Dini menyuapi Rihana makan malam karena Dini melihat Rihana sudah kelelahan dan mengantuk. Selesai makan Dini mengajak Rihana sikat gigi dan mengajaknya tidur.
"Om gayuk - gayuk lagi" pinta Rihana manja.
Kali ini Riko sudah tidak merasa berat, dia malah mulai menikmati kegiatan itu. Pelan - pelan Riko mengetahui kebiasaan Rihana sebelum dan setelah bangun tidur.
Dalam waktu singkat Rihana sudah tertidur dengan nyenyaknya. Riko dan Dini memandangi wajah Rihana yang tanpa dosa.
"Anak ini sangat aktif. Apa kamu gak capek yank?" tanya Riko.
Dini tersenyum manis sambil menggelengkan kepalanya.
"Udah biasa Mas, aku kan sering dititipin Yoga sama Mbak Anita. Anak laki - laki lebih aktif lagi" jawab Dini.
"Pantas saja kamu sangat luwes ketika mengurus Rihana" puji Riko.
"Mas besok - besok kalau Mbak Hana mau nitipin Rihana terima saja. Aku suka kok dititipin Rihana. Rumah jadi ramai, apalagi kalau kamu kerja lembur aku hanya di apartemen sendiri" pinta Dini.
"Aku hanya mau Hana titipin Rihana saat hari libur saja yank. Kamu kan juga kerja, aku gak mau kecapekan jadinya nanti" sambut Riko.
"Tidak apa Mas, aku gak capek kok. Aku malah senang. Nanti pulang kerja aku kan bisa jemput Rihana di tempat dia di titipkan kalau Mamanya bekerja. Nanti kalau Mbak Hana pulang kerja baru dia jemput Rihana ke sini" ujar Dini.
"Tidak... aku tidak mau dia mencampuri rumah tangga kita. Biar saja kita yang antar jemput Rihana ke rumahnya. Aku tidak mau Hana datang ke sini. Dia tidak boleh tau dimana alamat apartemen ini" bantah Riko.
Dini menarik nafas panjang. Apa yang dikatakan Mas Riko ada benarnya juga sih. Mbak Hana dan Mas Riko kan tidak ada hubungan apapun kecuali masa lalu mereka. Mungkin Mas Riko ingin membatasi hubungan mereka dan hanya cukup tentang Rihana saja mereka terhubung. Batin Dini.
.
.
BERSAMBUNG
Hai readers.. gimana ceritanya seru kan? tetap setia ya baca novel ku ini sampai selesai. InsyaAllah tidak akan mengecewakan dan tetap mengandung banyak manfaat.
Selamat membaca, lovu you all...