Playboy Insaf

Playboy Insaf
Limapuluh Delapan



Riko sudah sampai di depan rumah Dini. Rumah dengan lampu penerangan penuh . Riko melirik jam di tangannya menunjukkan pukul delapan malam. Pasti Dini dan keluarganya sudah selesai makan malam bersama.


Sebenarnya sangat berat untuk masuk ke dalam rumah itu tapi hal ini harus dilakukan demi perjuangannya untuk mendapatkan bidadari surganya.


Tadi sore sepulang dari pengajian Riko sudah memantapkan hatinya. Walau Anita berkata Dini pergi ke Bandungnya minggu depan, Riko ingin berjuang sebelum Dini pergi.


Sekalian mumpung Dini masih di Jakarta dia bisa melihat Dini dan melepaskan kerinduannya.


Riko menarik nafas panjang dan segera mematikan mesin mobilnya.


"Bismillahirrahmanirrahim" ucap Riko.


Riko segera keluar dari mobilnya dan berjalan menuju kedalam rumah Dini. Riko menekan bel dan menunggu pintu di buka.


Tak lama kemudian pintu rumah di buka oleh Papanya Dini.


"Assalamu'alaikum... " ucap Riko sambil mengulurkan tangannya ingin mencium tangan Papanya Dini.


"Wa'alaikumsalam" jawab Papa Dini.


Papa Dini terlihat terkejut ketika melihat tamu yang datang adalah Riko. Dia segera menepis tangan Riko.


"Ngapain kamu datang ke sini lagi?" tanya Papa Dini.


"Maaf Pak, malam - malam mengganggu. Saya hanya ingin menyambung tali silaturahmi" ucap Riko.


"Tapi silaturahmi diantara kita memang tidak pernah terjalin" tolak Papa Dini.


"Maaf Pak, kalau begitu kedatangan saya kali ini kesini akan saya ubah. Saya ingin menjalin tali silaturahmi dengan keluarga Bapak" Riko mengoreksi kata - katanya.


Tiba - tiba muncul Dini dan Mamanya dari arah dalam rumah.


"Mas Riko" ucap Dini tak percaya.


"Kamu masuk ke kamar" perintah Papa Dini.


"Tapi Pa" protes Dini.


"Papa bilang masuk ke dalam" bentak Papa Dini.


Dini tersentak karena terkejut. Dia menatap ke arah Riko kemudian menatap wajah Mamanya. Mama Dini menganggukkan kepalanya.


"Ma... " ucap Dini.


"Kamu masuk ke kamar. Ikuti perintah Papa kamu" sambut Mama Dini.


Dini langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan ruang tamu sambil menangis. Hatinya sangat sedih melihat Riko diperlakukan seperti itu oleh kedua Papanya.


Mama Dini berjalan mendekati suaminya.


"Mas ada apa ini? Mengapa tamunya tidak di suruh masuk?" ucap Mama Dini berusaha menenangkan suaminya.


"Rumah kita sedang tidak terima tamu. Apalagi tamu tak diundang. Saya sudah peringatkan kepada kamu, jangan pernah datang lagi ke rumah saya" ucap Papa Dini kepada Riko.


"Tapi Pak niat saya datang ke sini baik" ujar Riko.


"Kamu tidak perlu kebaikan kamu" tolak Papa Dini.


"Maaf ya Nak Riko, saat ini Bapak sedang tidak enak badan. Mungkin lain waktu Nak Riko bisa datang lagi" ujar Mama Dini.


Riko menatap wajah Mama Dini, wanita itu tampak menundukkan kepala memberi isyarat agar Riko mengikuti perintahnya untuk segera pergi meninggalkan rumahnya.


"Mohon maaf Pak kalau kedatangan saya ke rumah ini mengganggu istirahat Bapak dan Ibu. Saya pamit undur diri. Assalamu'alaikum" ucap Riko mengalah pada akhirnya.


Sebenarnya ingin sekali dia bicara panjang lebar dengan Papa Dini tapi sepertinya saatnya tidak tepat. Riko masih harus berjuang untuk mendapatkan lampu hijau dari Papanya Dini.


"Wa'alaikumsalam" Papa Dini langsung menutup pintu rumahnya dengan sedikit lebih kuat.


Membuat Riko tersentak dan terkejut. Untung jantungnya masih sangat kuat kalau tidak bisa bahaya.


Riko akhirnya pergi meninggalkan rumah Dini dan masuk kembali ke dalam mobilnya.


Dari dalam mobil Riko melihat ke lantai dua rumah Dini. Riko melihat Dini sedang berdiri di balkon lantai atas rumahnya sambil menatapnya sedih.


Riko segera meraih ponselnya dan mengirimkan pesan ke Dini.


Riko


Sabar ya.. Mas akan terus berjuang sampai Papa kamu memberi restu kepada kita.


Bidadari Surga


Maafkan perbuatan Papaku ya Mas 😭😭


Riko


Tidak apa Din, Mas sudah siap kok. Mas akan berjuang sampai Papa kamu mau menerima Mas.


Bidadari Surga


Riko


Demi masa depan kita berdua. Kamu yang sabar ya. Tunggu Mas, Mas akan terus berjuang sekuat tenaga.


Bidadari Surga


Iya Mas. Sudah malam, Mas langsung pulang ya. Hati - hati.. Assalamu'alaikum..


Riko


Wa'alaikumsalam..


Riko melihat Dini menghapus air mata dipipinya kemudian berbalik masuk ke dalam rumah. Riko segera menyalakan mobilnya dan berjalan menuju apartemennya.


Walaupun malam ini dia sudah di tolak tapi Riko sudah menguatkan diri, kali ini dia tidak akan menyerah. Riko yakin niat dia dan Dini baik untuk masa depan yang lebih baik lagi. Allah pasti akan melihat perjuangan mereka dan merestuinya.


Jika Allah sudah merestuinya pasti hati Papa dan Mama Dini juga akan melembut. Tiada kuasa yang biasa melebihi kekuasaan Allah.


****


Seminggu kemudian di kantor Riko.


Bidadari Surga


Assalamu'alaikum...Mas, hari ini aku akan berangkat ke Bandung. Alhamdulillah aku diterima kerja di sana. Jaga diri Mas baik - baik ya, jangan lupa shalat dan teruslah berbuat kebaikan.


Riko


Wa'alaikumsalam... Kamu juga baik - baik di sana. Bersabarlah, Mas pasti akan datang untuk menjemput kamu kembali pulang.


Bidadari Surga


Iya Mas. Aku pamit ya Mas. Assalamu'alaikum...


Rio


Jaga diri kamu ya dan juga jaga kesehatan. Wa'alaikumsalam...


Tak lama Aril sampai di kantor Riko. Hari ini jadwal pengajian mingguan mereka. Dan kali ini pengajian diadakan di kantor Riko.


Aril merasa heran melihat wajah Riko terlihat murung.


"Kamu kenapa Ko, kok sepertinya sendu?" tanya Aril penasaran.


"Hari ini Dini berangkat ke Bandung. Senin dia sudah mulai bekerja di sana" jawab Riko.


"Kamu gak antar dia?" tanya Aril.


"Gimana aku mau ngantar dia. Dia pasti diantar oleh kedua orang tuanya. Minggu lalu saja aku datang ke rumahnya langsung di usir sama Papanya" ungkap Riko.


"Kamu diusir? Serius? Ditolak mentah - mentah sama Papanya Dini?" tanya Aril tak percaya.


Riko menganggukkan kepalanya.


"Iya.. begitu aku sampai langsung diusir tak sempat dipersilahkan masuk" jawab Riko.


"Waaah hebat Papanya Dini" ucap Aril.


Riko melirik tak suka ke arah Aril.


"Ya hebat donk, selama ini banyak relasi bisnis kita yang bahkan ingin menjodohkan anak - anak mereka kepada kamu. Papanya Dini malah menolak" sambung Aril.


"Yah mereka berbeda sudut pandang. Kalau relasi bisnis kita kan mikirnya demi kelancaran bisnis. Kalau Papanya Dini mikirnya kelancaran masa depan anaknya" ucap Riko.


"Lho kurang lancar apa coba kamu kan kaya dan bertanggung jawab pasti putrinya tidak akan hidup susah" jawab Aril.


"Beda donk Ril. Papanya Dini kan mikir dari pandangan agama. Aku ini pria penuh dosa yang tak pantas bersanding dengan anaknya" ucap Riko.


"Ustadz aja bilang dosa - dosa itu bisa dimaafkan dan di hapus. Masak Papa Dini nggak mikir gitu juga sih? Emang Papanya Dini bukan ustadz ya" Aril mencoba membuat candaan agar sahabatnya itu tidak terlalu sedih.


"Papanya Dini seorang Pensiunan Ril" ujar Riko.


"Waaah harus diganti tuh pekerjaannya. Mulai besok kamu ganti aja pekerjaan Papanya Dini di KTP jadi ustadz. Pasti sudut pandangnya jadi berbeda" canda Aril.


"Dasar kamu" umpat Riko sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


.


.


BERSAMBUNG