Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Limapuluh Dua



Keesokan harinya Riko dan Dini hanya menghabiskan waktu bersama Rihana di rumah saja. Mereka bermain sepuasnya di rumah.


Semua makanan yang Rihana inginkan mereka pesan secara online. Mereka tidak ingin Rihana terlalu capek jika diajak jalan - jalan lagi.


Mereka menunggu kabar dari Hana jam berapa Rihana akan dipulangkan. Ternyata sore hari Hana sudah mengirim pesan kepada Riko.


Hana


Ko.. aku sudah sampai rumah.


Riko


Baiklah aku dan Dini akan antar Rihana.


Hana


Terimakasih Ko


Riko memandang Rihana dan Dini yang sedang asik bermain jilbab - jilbaban. Rihana merengek kepada Dini untuk dipakaikan jilbab.


Tentu saja dengan senang hati dan penuh kesabaran Dini memakaikan Rihana jilbab. Wajah Rihana tampak semakin gembul dan menggemaskan. Karena kedua pipinya semakin kelihatan gembul dan memerah.


"Kamu cantik sekali sayang" puji Dini.


"Maacih Ante" sambut Rihana.


"Yank waktunya sudah habis. Hana sudah pulang ke rumahnya, kita harus antar Rihana" ucap Riko kepada Dini.


Dini tersenyum menatap Rihana.


"Kamu dengar apa yang Om katakan? Kamu harus pulang sayang, Mama kamu pasti sangat merindukan kamu" ucap Dini.


"Linana juga yindu Mama" sambut Rihana.


"Kalau begitu ayuk kita pulang. Om dan Tante akan antar kamu pulang untuk bertemu dengan Mama kamu" ujar Dini.


"Oce Ante" jawab Rihana.


Dini membuka kembali jilbab yang dia pasangkan di wajah Rihana. Dia tidak ingin Hana tersinggung karena Dini sudah memperngaruhi anaknya hanya dalam waktu dua hari.


Setelah semua selesai Riko dan Dini keluar apartemen membawa Rihana. Mereka turun ke basement dan masuk ke mobil. Kemudian mobil melaju menuju rumah kontrakan Hana.


"Assalamu'alaikum" ucap Dini sambil mengetuk pintu rumah Hana.


"Mama.. Mama... " panggil Rihana.


Tak lama Hana membuka pintu, tapi ada yang berbeda dengan tampilan Hana. Kini dia sudah memakai jilbab untuk menutup kepadanya.


"Mama kok samaan sama Ante Dini? Pakai jiblab uga?" tanya Rihana terkejut.


"Jilbab sayang" sambut Hana mengoreksi ucapan Rihana.


"Iya jil.... bab" ulang Rihana.


"Karena ini wajib untuk perempuan yang sudah dewasa. Selama ini Mama masih nakal dan sekarang Mama sudah sadar" jawab Hana.


"Mama cantik, sama cepeyti ante Dini" puji Rihana.


"Makasih sayang... gimana liburan kamu. Apakah kamu senang jalan - jalan bersama Tante dan Om?" tanya Hana sambil memeluk putrinya.


"Aku ce.. nang sekayi" jawab Rihana ceria.


Hana menatap Dini dan Riko berganti.


"Mari masuk" ajak Hana.


"Maaf Han sudah hampri maghrit, kami tidak bisa berlama - lama. Kami langsung pamit ya" tolak Riko.


Hana mengerti sikap Riko yang masih jaga jarak padanya. Riko mau menerima Rihana saja sudah membuatnya sangat bersyukur.


"Terimakasih ya Ko, Mbak Dini udah repot ngurusin Rihana dua hari ini" ucap Hana dengan sungguh - sungguh.


"Sama - sama Mbak. Rihana anak yang baik dan pintar kok. Tidak sulit untuk menjaganya" sambut Dini.


Hana tersenyum membalas ucapan Dini.


"Kami pulang dulu Ha. Dah Rihana Om pulang dulu ya" ucap Riko kepada Rihana.


"Dada oom.. Anteeee... " Rihana melambaikan kedua tangannya dengan ceria.


Riko dan Dini kembali menuju mobil mereka dan langsung pergi meninggalkan rumah kontrakan Hana.


"Mas aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan Mbak Hana" ungkap Dini.


"Apa?" tanya Riko penasaran.


"Aku belum tau apa itu, tapi aku merasa ada yang aneh dengannya. Walau dia memakai makeup tadi tapi aku merasa dia sangat pucat. Dan Rihana pernah cerita padaku kalau Mbak Hana itu pakai rambut palsu. Rihana melihatnya sendiri, rambut Mbak Hana sangat pendek" ungkap Dini.


"Aku akan menyelidikinya sayang. Aku akan cari tau kemana dia pergi dua hari ini" sambut Riko cepat.


"Halo" sapa seorang pria di seberang.


"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Riko langsung.


"Ibu Hana pergi ke Bandung Pak. Dia mengunjungi sebuah rumah sakit tapi saya tidak bisa mendapatkan informasi apapun disana. Penjagaan di sana sangat ketat" lapor Pria itu.


"Rumah Sakit? Siapa yang sakit? Bukankah dia tidak punya keluarga lagi?" tanya Riko.


"Benar Pak, tapi Bandung adalah kota tempat dia kuliah. Bisa saja dia sedang mengunjungi temannya yang lagi sakit" jawab Pria dari seberang.


"Kalau hanya ke Bandung mengapa dua harus menginap selama dua hari? dan dimana dia menginap selama dua hari ini?" tanya Riko.


"Kami kehilangan jejak begitu dia masuk Rumah Sakit Pak. Sepertinya dia mengetahui kalau kami sedang mengikutinya" jawab pria itu.


"Bodoh kalian. Mengerjakan pekerjaan seperti itu saja bisa gagal. Apalagi hanya memata - matai seorang wanita" umpat Riko.


"Maaf Pak" sahut pria itu.


"Saya tidak mau tau, kamu harus terus ikuti kemanapun Hana pergi. Aku tidak mau kamu gagal lagi. Atau aku tidak akan pernah mengirim uang lagi kepada kamu" ancam Riko.


"Baik Pak" sahut pria itu tegas.


Riko memukul meja kerjanya karena kesal.


"Brengse*.. apa yang sedang kamu sembunyikan Hana? Apa yang sedang kamu rencanakan?" gumam Riko kesal


****


Akhir pekan berikutnya Hana kembali mengirim pesan kepada Riko.


Hana


Ko aku bisa minta tolong titip Rihana lagi gak sama kamu? Aku harus pergi lagi ke luar kota. Tiba - tiba saja ada tugas dadakan dari kantor


Riko


Baiklah, kapan kamu pergi? Dan kapan aku harus jemput Rihana?


Hana


Sore ini ya Ko. Sama seperti minggu lalu. Aku tunggu kamu dan Mbak Dini di rumah.


Riko


Oke.


Riko langsung menghubungi Dini.


"Assalamu'alaikum Mas" sapa Dini dengan ceria.


"Wa'alaikumsalam sayang" sahut Riko.


"Ada apa Mas kamu telepon aku sepagi ini. Kamu pasti sudah di kantor kan?" tanya Riko penasaran.


"Iya sayang, aku sudah sampai kantor. Barusan Hana mengirim pesan padaku. Dia mau titipin Rihana lagi pada kita" jawab Riko.


"Boleh, jam berapa kita jemput Rihana Mas?" tanya Dini senang.


"Sama seperti minggu lalu. Sore pulang kerja aku akan jemput kamu ke kantor baru setelah itu kita jemput Rihana di rumah Mamanya" jawab Riko.


"Oke, aku tunggu kamu di kantor ya" balas Dini.


"Iya sayang, udah dulu ya.. Assalamu'alaikum" ucap Riko mengakhiri telepon.


"Wa'alaikumsalam" jawab Dini.


Sore harinya Riko sedang dalam perjalanan menuju kantor Dini. Sesampainya di sana ternyata Dini sudah menunggunya di loby kantor.


Begitu melihat mobil Riko, Dini langsung keluar gedung dan masuk ke dalam mobil Riko. Mobil melaju menuju rumah kontrakan Hana.


Seperti minggu sebelumnya Hana dan putrinya sudah menunggu kedatangan Riko dan Dini. Kali ini Rihana sudah tidak takut dan malu - malu lagi. Dia menyambut kedatangan Riko dan Dini dengan sukacita.


"Om Yiko... Ante Dini... " teriak Rihana begitu melihat Riko dan Dini keluar dari mobilnya.


Riko dan Dini tidak berlama - lama lagi. Mereka langsung mengambil Rihana dan membawanya pergi.


"Dah Mama, aku peygi duyu ya.. ati - ati Mama" ucap Rihana sambil melambaikan tangannya kearah Hana.


Hana terlihat menatap kepergian putrinya dengan tatapan sendu. Hal itu menjadi perhatian Dini dan dia semakin bertanya - tanya di dalam hati.


Mengapa aku merasa Mbak Hana semakin aneh ya? Minggu lalu saja dia tidak sesedih ini melepas putrinya. Tapi mengapa kini menjadi sedih? tanya Dini dalam hati.


.


.


BERSAMBUNG