Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Enampuluh



Liburan di Bali telah selesai. Romi, Aril, Bela dan Ela kembali ke Jakarta dengan hati riang.


"Ril kamu gak kasih kabar gembira sama teman - teman?" tanya Romi saat mereka hendak cek out di Hotel.


"Nanti aja biar jadi kejutan" jawab Aril.


"Halaaaah nanti takutnya kamu yang terkejut" goda Romi.


"Terkejut apaan lagi. Udah santai aja Bro , lagian gak enak sebelum aku minta restu sama Bimo" ujar Aril.


"Gak nyangka kamu bakalan jadi saudara ipar si setan kecil" sambut Romi.


Aril tersenyum membayangkan nanti kalau Reni mendengar kabar gembiranya.


"Si Setan kecil pasti sangat terkejut misiku berhasil" ungkap Aril.


"Pastinya.. kami semua sangat senang akhirnya kamu berhasil" Romi menepuk bahu Aril.


"Terimakasih Rom, kamu yang paling berjasa dalam kesuksesan aku ini" ungkap Aril.


"Apa sih yang nggak buat kamu" goda Romi sambil mengedipkan sebelah matanya dan memberi kecupan jarak jauh.


" Asem lo, geli gua" elak Aril.


"Hahaha... yuk kita turun. Nanti telat lagi sampai bandara" ajak Romi.


"Yoi" sambut Aril.


Aril dan Romi keluar dari kamarnya kemudian menjemput Bela dan Ela kekamar mereka lalu sama - sama turun ke lantai dasar.


Setelah urusan hotel selesai mereka berangkat menuju Bandara lalu terbang ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta Romi dan Aril mengantar Ela dan Bela sampai di rumah Bimo dan Reni.


"Lho kok kamu bisa bareng mereka Mas Aril?" tanya Reni penasaran.


"Iya donk, mana bisa aku menahan rindu ini terlalu lama" jawab Aril dengan mode usilnya.


Duh mulai deh isengnya... Batin Bela.


"Udah semakin berani ya sekarang, gak takut kena tolak Bela lagi" ledek Reni.


"Hahaha.. aku gak takut lagi setan kecil. Kali ini aku tidak akan menerima penolakan lagi" balas Aril dengan sangat percaya diri.


"Cih pede banget" ujar Reni.


"Dia sudah berhasil melamar Bela" potong Romi.


"Apa? Serius? Yang benar ah?" tanya Reni tak percaya.


"Serius donk.. " jawab Aril dengan senyuman kemenangan. Sedangkan Bela hanya tertunduk malu.


"Bener Bel? Kamu kok gak cerita ke aku?" tanya Reni yang masih tidak percaya.


"Aku belum sempat cerita Ren, baru tadi malam Mas Aril lamar aku. Paginya kami langsung sibuk bersiap - siap untuk pulang" jawab Bela.


"Ada apa yank, kok suara kamu gede banget aku dengar dari kamar?" tanya Bimo yang baru saja keluar dari kamar mereka.


"Ini lho Mas, katanya Bela sudah menerima lamaran Mas Aril. Kenapa kamu terima Bel? Biarin aja dia sampai melamar kamu sampai tiga kali" jawab Reni.


"Husss... dasar setan kecil. Emangnya kamu gak kasihan lihat Bela galau terus di Surabaya dan Bali" potong Aril.


"Bukan cuma Bela aja yang galau, kamu juga bro" sambung Romi.


"Yaaah kalau itu mah Reni udah tau dari dulu. Sejak lamaran pertamaku yang di tolak aku kan galau terus" ungkap Aril.


"Jadi emang benar?" tanya Bimo terkejut.


"Benar kakak ipar. Nanti aku akan datang secara resmi dan berbicara serius dengan kakak ipar. Sekarang rasanya waktunya kurang pantas. Kami kan baru pulang bepergian. Oh iya ini ada oleh - oleh untuk Kakak Ipar" jawab Aril ingin mengambil hati Bimo.


"Cih ada maunya pakai sogokan" sindir Reni.


"Aku punya dosa apa sih sama kamu Setan Kecil. Dari tadi kayaknya gak senang banget lihat aku bahagia? Kamu mau aku jadi jomblo terus?" tanya Aril dengan kesal kepada Reni.


Reni jadi tersenyum simpul mendengar pertanyaan Aril yang putus asa.


"Ya Allah Bim.. istri kamu sejak hamil semena - mena ya.. sadar dia kalau aku gak bisa membalas dia karena kondisinya yang sedang hamil" ucap Aril kesal.


Bimo jadi tersenyum melihat wajah kesal Aril.


"Ya sudah Ril sebaiknya kamu pulang saja dulu tenangkan hati kamu. Nanti bisa - bisa kamu makin kesal lihat istriku. Kalau kamu sudah tenang baru kamu datang ke sini lagi dan kita bicara empat mata" ujar Bimo.


"Siap - siap Mas.. kali ini penolakan bukan dari gadis impian kamu. Tapi dari calon Kakak ipar kamu hihihi" ejek Reni.


"Ih bener deh istri kamu ngeselin. Udah yuk Rom kita pulang. Lama - lama aku pengen rukyah si Setan Kecil ini" ajak Aril.


"Hahaha... emangnya dia kemasukan jin" sambut Romi.


"Bukan.. dia bukan kemasukan Jin tapi kemasukan Bimo" jawab Aril sambil pergi meninggalkan Bimo, Kinan, Ela dan Bela.


"Astaga jaga mulut kamu Mas, nanti anakku bisa dengar" Ucap Reni sambil menutup perutnya.


Romi dan yang lainnya tertawa melihat pertengkaran Reni dan Aril. Memang diantara semua sahabat Refan, Aril lah yang paling dekat dengan Reni. Tapi dengan Aril juga Reni paling sering bertengkar.


Mungkin karena pertengkaran mereka membuat mereka semakin dekat atau karena kedekatan mereka yang membuat mereka sering bertengkar. Entah siapa yang bisa memecahkan misteri itu.


"Aku pulang ya Bim, Ren, Bel dan Ela.. sampai ketemu besok" ucap Romi kepada mereka semua.


"Hati - hati Rom" sahut Bimo.


"Jagain Airin Mas, darah manis tuh. Kasihan dia belum menikah" ujar Reni


"Oke Ren" jawab Romi.


Romi dan Aril segera masuk ke dalam mobil kemudian berlalu meninggalkan rumah Bimo.


Ela dan Bela duduk di ruang keluarga bersama Bimo dan Reni.


"Gimana acara lamaran kamu El?" tanya Bimo.


"Alhamdulillah sukses Mas, semua berjalan dengan baik" jawab Ela sopan.


"Syukurlah" sambut Bimo.


"Kapal tanggal pernikahannya?" tanya Reni tak sabar.


"InsyaAllah tiga bulan lagi" jawab Ela.


"Waaah... dua bulan dan tiga bulan lagi kita akan pesta terus Mas" ujar Reni.


"Iya sayang.. karena itu kamu harus lebih kuat dan sehat kalau mau hadir dalam pernikahan sahabat kamu" jawab Bimo.


"Iya, aku akan menjaga kesehatanku dan anak kita" jawab Reni.


"Terus, apa Ibu dan Bapak sudah tau mengenai lamaran Aril Bel?" giliran Bela yang ditanya.


"Belum Mas.. Mas dan Reni yang pertama kami kasih tau. Maksud Mas Aril, dia mau minta izin Mas dulu baru setelah itu ketemu sama Bapak dan Ibu" jawab Bela.


Bimo menatap dalam wajah adik bungsunya.


"Kalau Mas pada dasarnya mendukung apapun keputusan kamu. Sekarang Mas tanya kepada kamu. Apa kamu memang sudah menerima Aril dengan tulus? Tidak ada keraguan lagi? Kamu tau kan masa lalu Aril sebagai mantan Casanova. Apa kamu sudah siap akan semua itu?" tanya Bimo.


Bela menarik nafas panjang.


"InsyaAllah aku sudah siap Mas" jawab Bela.


"Apa kamu bahagia dengan keputusan kamu?" tanya Bimo lagi untuk meyakinkan Bela pada perasaannya.


"InsyaAllah aku bahagia Mas" jawab Bela yakin.


"Alhamdulillah... " sambut Reni.


.


.


BERSAMBUNG