
Pagi ini Riko mendapat kabar dari Galuh suaminya Anita kalau Papanya Dini sakit. Mungkin karena tadi malam masuk angin karena kehujanan. Usia mereka juga sudah tidak muda lagi sehingga tubuhnya tidak kuat lagi basah - basahan seperti tadi malam.
Rencananya setelah selesai mandi dan sarapan Riko akan datang ke rumah orang tua Dini untuk menjenguk Papanya yang sedang sakit.
Riko sudah tampak sangat rapi dengan pakaian kasualnya. Untung hari ini masih libur jadi dia punya waktu untuk berkunjung ke rumah orang tua Dini.
Setelah sarapan pagi Riko segera turun dari apartemen menuju basement. Riko masuk ke dalam mobilnya kemudian menyalakan mobilnya. Tak lama kemudian Riko mulai melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Dini.
Di tengah perjalanan Riko singgah sebentar ke supermarket untuk membeli buah dan cake. Tak lupa Riko juga membeli coklat dan permen untuk Yoga anaknya Galuh dan Anita.
Setelah selesai berbelanja Riko kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah orang tua Dini. Tak lama kemudian Riko sudah sampai di rumah orang tua Dini.
"Om Rikooooo.... " teriak Yoga menyambut kedatangan Riko.
"Yogaaa" sambut Riko dan memeluk anak kecil itu.
"Assalamu'alaikum... " Ucap Riko ketika memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam" jawab semua yang ada di dalam rumah Dini.
Anita melirik Papanya dengan wajah takut tapi ternyata Papanya diam saja. Itu artinya dia tidak marah. Biasanya setiap melihat Riko dia langsung mengusirnya.
Anita melirik suaminya lagi dan Galuh tersenyum. Kemudian Galuh berjalan menghampiri Riko yang masih bercanda di teras depan bersama Yoga.
"Masuk Ko" panggil Galuh.
Riko menurunkan Yoga dan berjalan dibelakang Galuh masuk ke dalam rumah. Riko mencium tangan Mamanya Dini kemudian baru Papanya Dini.
Tapi Papanya Dini langsung berdiri dan pergi meninggalkan mereka tanpa menerima sambutan tangan dari Riko. Riko menatap Galuh, Anita dan Mamanya Dini.
"Duduk Ko" perintah Galuh.
"Tapi Mas... " ucap Riko takut.
"Bapak gak marah kok Nak Riko. Buktinya dia tidak langsung mengusir kamu. Tapi maaf mungkin Bapak belum bisa menerima kehadiran kamu. Mungkin perlahan - lahan InsyaAllah bisa" sambut Mamanya Dini.
"Iya Bu, gak apa - apa. Aku mengerti kok. Ah ini Bu, ada sedikit buah tangan untuk Bapak. Kata Mas Galuh Bapak sakit jadi aku bawain ini. Siapa tau Bapak suka. Dan ini untuk Ibu" ucap Riko menyerahkan bungkusan yang berisi buah dan Cake yang dia beli tadi.
"Terimakasih Nak Riko. Kamu gak perlu repot - repot begini" sambut Mamanya Dini.
"Gak repot kok bu" balas Riko.
Riko duduk di ruang keluarga rumah orang tua Dini.
"Kata Mas Galuh Bapak demam ya Bu?" tanya Riko.
"Iya, maklum udah tua. Badannya udah gak kuat kena angin malam dan hujan - hujanan" jawab Mamanya Dini.
"Sudah ke dokter?" tanya Riko.
"Belum, Bapak sudah minum obat kok. Mudah - mudahan sembuh" balas Mamanya Dini.
"Sebentar ya Nak Riko, Ibu mau ke belakang" ucap Mamanya Dini pamit.
Kini hanya tinggal Galuh, Anita dan Riko yang ada di ruang tamu sedangkan Bayu sedang asik makan coklat pemberian Riko di dekat kolam.
"Makasih ya Mas Riko udah bantuin Papaku tadi malam" ucap Anita.
"Ah biasa aja Nit. Sudah sewajarnya kan aku bantuin Bapak dan Ibu. Kasihan mereka berdua hujan - hujanan malam - malam" balas Riko.
"Dan maaf kalau perlakukan Papa masih dingin sama Mas Riko" sambung Anita.
"Aku ngerti kok Nit. Mungkin itu adalah ujian untukku agar lebih serius dan bersungguh-sungguh lagi berjuang untuk masa depan" sambut Riko.
Galuh menepuk bahu Riko.
"Kamu yang sabar ya.. InsyaAllah Allah akan melihat perjuangan kamu" ucap Galuh memberi semangat.
Tak lama Mamanya Dini datang kembali dengan membawa minuman dan cake yang tadi Riko bawa.
"Di minum Nak Riko" ucap Mama Dini mempersilahkan Riko minum.
"Nak Riko tinggal di mana?" tanya Mama Riko.
"Di jalan XXX Bu" jawab Riko.
"Oh pantas saja tadi malam kita ketemu ya, searah rupanya. Kamu tadi malam baru dari rumah mantan kakak iparnya Kinan kan?" tanya Mamanya Riko.
"Iya Bu, Mas Galuh dan Anita lebih duluan pulang. Kalau saya sampai malam baru pulang dari sana" jawab Riko dengan sopan.
Tak lama mereka ngobrol bersama tiba - tiba Papanya Dini memanggil dari dalam kamar.
"Ma.. Mamaaaa" teriak Papanya Dini.
"Iya Pak" sahut Mamanya Dini.
"Sebentar ya Nak Riko. Bapak memanggil Ibu, mungkin Bapak butuh sesuatu" ucap Mama Dini kepada Riko.
"Iya Bu, silahkan saja" sahut Riko.
Tak lama Mamanya Dini beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamarnya. Tiba - tiba terdengar lagi suara dari dalam kamar Orang tua Dini.
"Ngapain dia lama - lama di rumah kita? Apa kalian tidak bosan? Bertamu kok lama banget" ucap Papa Dini.
Sontak wajah Anita memerah karena malu kepada Riko yang sudah mendengar ucapan dari Papanya.
"Duh Mas Riko maaf banget ya... Aku benar - benar malu sama Mas Riko. Biasa Papa gak pernah lho begini sama tamu" ucap Anita sungkan.
"Gak apa - apa Nit. Aku ngerti kenapa Bapak sampai berkata seperti itu. Sepertinya memang sudah waktunya aku pulang. Mungkin Bapak tidak nyaman di rumah karena keberadaanku di sini" ujar Riko.
"Jangan kapok ya Ko datang ke sini lagi" sambut Galuh.
"Iya Mas, InsyaAllah aku tidak akan menyerah" sahut Riko.
Riko berdiri dari tempat duduknya.
"Aku pamit pulang dulu ya Mas, Nit. Salam sama Bapak dan Ibu. Semoga Bapak lekas sembuh" doa Riko tulus.
"Aamiin... Makasih ya Mas Riko" ujar Anita merasa sangat tidak enak dengan tingkah laku Papanya.
"Sama - sama Nit" balas Riko.
"Yog... Om pulang ya" ucap Riko kepada Yoga putranya Galuh dan Anita yang sedang bermain.
Yoga langsung berlari menghampiri Riko dan mencium tangan Riko.
"Makasih ya Om coklatnya. Kapan - kapan datang lagi" ucap Yoga sopan.
Riko mengusap lembut kepala Yoga.
"InsyaAllah Om akan datang lagi. Yuk semuanya.. Assalamu'alaikum... " ucap Riko pamit.
"Wa'alaikumsalam... " sahut Galuh, Anita dan Yoga.
Riko meninggalkan rumah orang tua Dini dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan. Di satu sisi Riko masih merasa sakit mendengar perkataan Papa Dini. Tapi disisi lain Riko tak henti mengucapkan syukur. Walau Papa Dini belum bisa menerima kehadirannya di rumah ini tapi hari ini dia sudah mendapatkan kemajuan.
Di mulai hanya dari teras depan kini dia sudah bisa masuk ke dalam rumah itu dan berbincang-bincang yaaah hampir satu jam. Walau akhirnya memang sedikit menyakitkan tapi tak mengapalah.
Besok - besok Riko akan mencoba datang kembali. Mudah - mudahan lama kelamaan Papa Dini akan bisa menerima kedatangannya dengan senang hati.
Riko masuk ke dam mobil dan menyalakan mobilnya kemudian secara lerlt keluar dari area rumah orang tua Dini.
Lihatlah Pak, suatu saat kamu pasti akan menerima aku sebagai menantu di rumah ini. Aku yakin itu. Tekad Riko di dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG