Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Tigapuluh Sembilan



Akhirnya hari yang sudah direncanakan dua keluarga Ekaputra dan Dharmawan tiba. Seluruh keluarga sepakat kalau hari ini akan melaksanakan lamaran resmi dan setelah itu akan membicarakan waktu yang tepat untuk melangsungkan akad nikah Riko dan Dini.


Seluruh keluarga inti dan teman - teman Riko dan Dini turut diundang. Semua hadir untuk memberikan dukungan mereka dan turut senang atas kebahagiaan sahabat mereka.


Refan, Bimo, Bagus datang bersama istri mereka. Sedangkan Romi dan Aril datang sendiri - sendiri. Bela dan Ela juga turut hadir, mereka datang bersama Bimo dan Reni karena mereka tinggal satu rumah.


Acara formal berjalan dengan lancar, secara resmi Dini sudah dilamar oleh keluarga Riko dan hari bahagia juga sudah ditetapkan tiga bulan dihitung sejak acara lamaran.


Kini seluruh keluarga dan para sahabat sedang duduk santai sambil menikmati hidangan malam itu dan berkumpul bersama sambil berbincang - bincang.


Anita dan suaminya juga sudah berkumpul bersama Refan dan para sahabatnya.


"Alhamdulillah Nit akhirnya comblangan kita berhasil ya" ucap Kinan.


"Iya Alhamdulillah... " sambut Anita.


Dini tersipu malu.


"Kalau ingat awal pertemuan Mas Riko dan Dini jadi lucu ya. Mas Riko mengira Dini sudah menikah dan punya anak" ujar Kinan.


"Padahal dianya udah cinta pada pandangan pertama tuh" sambut Refan.


"Jodoh siapa yang tau bro.. semua rahasia Allah. Aku hanya mengikuti instingku sebagai mantan Casanova. Ilmuku selama ini harus aku gunakan untuk menyarinh wanita mana yang layak menjadi pendamping hidupku" ungkap Riko.


"Bukan seperti teman kita yang atu lagi kan? Ilmu mantan Casanovanya melemah" sindir Romi.


"Halaaah gak usah nyindir. Mungkin memang belum jodoh" sambut Aril santai tanpa melirik ke arah Bela.


Giliran Bela yang menunduk dan kembali merasa sedih karena sikap Aril sekarang sudah santai menanggapi penolakan yang Bela berikan. Bahkan walau sudah diledekin dan disindir teman - temannya Aril sudah bisa bersikap biasa saja.


Entah mengapa hal itu membuat hati Bela semakin sakit tapi dia sangat malu menunjukkan kekecewaannya karena semua karena salahnya sendiri yang sudah menolak lamaran Aril.


"Oh iya gimana hubungan kamu dengan Sintia? Masih tetap jalan?" tanya Romi.


"Alhamdulillah do'ain aja lancar terus" jawab Aril.


"Siapa Sintia Mas?" tanya Kinan pada suaminya.


"Teman kampus kami dulu. Dia juga kelihatannya solehah, sudah menutup aurat sekarang" jawab Refan sambil melirik ke arah Bela yang masih menundukkan kepalanya sambil memainkan ponselnya.


"Ooo... " jawab Kinan mengerti.


"Jadi Mas Aril udah bisa move on nih?" tanya Kinan pada Aril sambil melirik ke arah Bela.


"Hidupkan harus begitu kan Nan? Masak harus terus menangisi kegagalan masa lalu. Itu namanya aku gak maju - maju donk. Jodoh rahasia Allah siapa tau ternyata memang begitu jalannya" jawab Aril.


"Eh Din mana kamar mandinya? Aku mau pipi*" bisik Bela kepada Dini.


Dini dan Bela berdiri dari kursi mereka dan berjalan meninggalkan yang lainnya. Semua langsung melirik ke arah Bela. Setelah Bela pergi baru yang lainnya kembali berbincang - bincang.


"Maaf ya Mas Bima, bukan maksud ingin menyakiti perasaan Bela. Mungkin dengan cara seperti ini Bela bisa menyadari perasaannya kepada Mas Aril" ucap Kinan sopan kepada mantan kakak iparnya.


Sebenarnya akhir - akhir ini Bimo sendiri juga melihat perubahan sikap adiknya. Beberapa kali Reni istrinya juga mengingatkan Bimo kalau Bela sekarang sering melamun dan lebih pendiam.


Apa Bela sudah merasa kehilangan Aril dan menyadari perasaannya? Tidak ada yang tau. Reni dan Ela sudah berulang kali bertanya kepada Bela tentang perasaannya kepada Aril tapi Bela seperti menutup diri dan tidak mau terbuka atau jujur dengan perasaannya.


"Maaf Bim, ini jalan terkahir yang harus aku ambil. Kalau dengan begini Bela juga tidak bisa menerimaku sepertinya dia memang bukan jodohku. Aku harus mempersiapkan semuanya. Walau aku juga sakit tapi aku harus melakukannya. Aku tidak mungkin terus menunggu Bela dalam waktu yang lama, aku juga ingin menikah secepatnya seperti kalian. Usia kita sudah tidak bisa main - main lagi" ungkap Aril.


"Iya Ril, aku sangat mengerti. Aku setuju dengan pemikiran kamu. Maaf kalau mungkin adikku sudah menyakiti kamu" sambut Bimo.


"Kalau soal itu tidak masalah Bim. Bela tidak salah, cinta tidak bisa dipaksakan. Aku sangat mengerti akan hal itu. Kalau aku memang harus tersakiti semua karena diriku sendiri bukan karena Bela. Dia wanita yang baik, walau dia tidak bisa menerima perasaanku tapi dia tetap bekerja profesional di kantor" ungkap Aril dengan wajah pasrah.


"Santai bro.. semua memang harus butuh perjuangan yang besar tapi yakinlah balasannya akan lebih indah" ucap Riko memberi semangat.


"Aku harap akhir kisahku akan sama dengan kisah kamu dan Dini. Berakhir bahagia" sambung Aril.


"Aamiin.. aku do'akan kamu juga akan mendapatkan kebahagiaan juga" balas Riko.


Bela dan Dini kembali dari dalam dan ikut duduk kembali bergabung bersama yang lainnya.


"Jadi Perusahaan Sintia sekarang menjalin kerjasama dengan perusahaan kamu Ril?" tanya Romi kembali memulai percakapan.


Ya Allah masih membahas Mbak Sintia lagi? Kenapa sih diacara begini harus ada namanya disebut? Tanya Bela dalam hati. Dia sangat marah, iri dan jengkel mendengar nama Sintia disebut - sebut.


Bela tidak tau mengapa dia sampai sejengkel ini dengan wanita lain yang tidak berbuat jahat padanya. Malah wanita itu sangat baik dan ramah padanya. Tapi mengapa dia jadi marah ya.


Apa yang terjadi padaku? Apakah aku cemburu? Mengapa aku cemburu? Bukankah aku tidak menyukai Mas Aril? Bukankah aku sudah menolak lamaran Mas Aril. Dan Mas Aril bebas berhubungan dengan wanita manapun, termasuk Mbak Sintia. Mengapa aku harus marah akan hal itu? Bela mengalami perang batin.


Bela tak ingin ada orang yang menyadari apa yang sedang dia rasakan saat ini. Bela kembali mempermainkan ponselnya. Membuka aplikasi apa saja yang bisa mengalihkan pikirannya dari pembicaraan Aril dan teman - temannya.


Reni dan Ela saling lirik dan mereka tersenyum menang. Mereka berdua bisa melihat jelas kalau saat ini Bela sedang salah tingkah. Wajah Bela juga terlihat kesal tapi Bela menutupinya dengan cara bermain ponsel.


"Kapan - kapan ajak donk Mas Aril waktu ketemuan dengan Mbak Sintia. Aku, Ela dan Bela mau kok diajak makan bareng lagi, ya kan El, Bel?" tanya Reni sambil melirik ke arah Bela dan Ela.


"Iya boleh" sambut Ela ringan.


Sontak Bela terkejut dan gugup dengan pertanyaan Reni barusan.


"Gimana Bel? Kamu gak keberatan kan? Kamu pasti udah mengenal Mbak Sintia dengan baik. Kan udah ketemu beberapa kali dikantor sama Mbak Sintia?" tanya Reni kepada Bela.


"I.. Iya.. aku gak keberatan" jawab Bela sambil menutupi kegugupannya.


"Baiklah.. karena permintaan ibu hamil. Nanti ya aku tanya Sintia kapan dia bisa meluangkan waktu. Aku akan ajak kalian makan bareng dia lagi" sambut Aril tersenyum sambil memainkan sebelah matanya kearah Reni.


.


.


BERSAMBUNG