Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Duapuluh



Ela tersentak sore harinya dan sadar bahwa saat ini tubuhnya polos hanya ditutupi oleh selimut. Di sampingnya ada tubuh kekar suaminya yang masih dengan setia memeluk tubuhnya.


Ela kembali teringat aksi panas mereka tadi seketika wajahnya kembali memanas dan merona. Disaat yang bersamaan tangan Romi kembali bergerilya menyentuh bagian - bagian favorit nya.


"Maaaaas" ucap Ela terkejut .


"Kenapa sayang? Kamu gak mau dilanjut?" tanya Romi mulai menggoda.


"Mas sudah sore kita belum shalat ashar" jawab Ela.


"Astaghfirullah aku lupa yank" sambut Romi.


Romi segera bangun dari tempat tidur begitu juga. Ela terlihat meringis dan Romi tau persis apa yang sedang Ela alami saat ini. Semua karena ulahnya


Setelah memakai boxernya dengan penuh kasih sayang Romi mengangkat tubuh Ela yang masih ditutupi selimut dan masih malu - malu.


"Maaas" ucap Ela terkejut.


"Ssst.. aku tau kamu sedang kesulitan berjalan kan karena aku. Perih ya? maaf ya sayang kamu harus mengalami hal seperti ini" ucap Romi tulus dan lembut.


Ela semakin tersipu malu dan semakin jatuh cinta pada suaminya itu. Romi membawanya ke kamar mandi dan mereka melakukan ibadah berdua setelah itu.


(Ibadah mandi bareng, bukan untuk olahraga. Para readers jangan mikir yang berat - berat ya 😁).


Setelah selesai mandi mereka melaksanakan shalat ashar berjamaah dan kemudian mereka duduk di pinggiran teras yang sambil menikmati lautan dan menyambut senja yang cerah.


"Makasih ya Mas kamu sudah mengabulkan keinginanku" ucap Ela.


"Apapun yang kamu suka sayang. InsyaAllah akan aku penuhi" janji Romi.


"Jangan terlalu memanjakanku Mas, aku takut nanti akan serakah pada hidup kamu" ujar Ela.


"Kenapa tidak, aku ini kan milik kamu sayang dan hanya punya kamu. Tidak akan ada yang lain" sambut Romi.


"Tidak Mas, kamu tetap akan menjadi milik orang tua kamu. Setelah honeymoon kan kita langsung pindah dan tinggal di rumah Papa Mama. Aku harus bisa adaptasi hidup di keluarga kamu" ungkap Ela.


"Mama dan Papaku orang yang baik sayang. Kalau mereka sudah merestui pernikahan kita tidak akan ada drama atau sandiwara lagi. Mama sudah bisa menerima kamu secara utuh. Kamu tidak perlu ragu" jawab Romi.


Ela tersenyum lembut kearah Romi.


"Aku tidak ragu Mas tapi yang namanya tinggal bersama mertua kan harus pinter jaga sikap dan cari perhatian mertua biar bisa disayang terus" ujar Ela.


Romi mencubit hidung Ela manja.


"Kalau aku sayang pada kamu, orang tuaku juga akan melakukan hal yang sama sayang. Kamu tidak perlu merasa harus berjuang, lakukan apa adanya saja. Anggap nanti rumah orang tuaku seperti rumah orang tua kamu juga. Mereka adalah orang tua kamu sayang sejak kita menikah" tegas Romi.


Romi memeluk mesra tubuh Ela istrinya sambil menatap lautan senja itu.


"Cuit... cuiit... " terdengar suara dari kamar yang tak jauh di samping kamar mereka.


"Mesra banget ya bro" sapa tetangga mereka yang tak lain adalah Aril.


"Cih.. apa lagi maunya? Awas kalau dia datang ke sini dan mengganggu kita" gumam Romi kesal.


"Maaas, dia sahabat kamu" sambut Ela.


"Masuk aja yuk yank, aku gak mau dia datang dan mengganggu honeymoon kita" Romi berdiri dan menarik tangan istrinya untuk masuk ke kamar.


"Woi bro langsung pergi takut amat diganggu. Aku juga tau bro kalian lagi bulan madu" teriak Aril kesal.


"Maaaas.." panggil Bela dari dalam.


"Ada apa Yank?" tanya Aril masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Ada apa sih teriak - teriak?" tanya Bela.


"Tuh si Romi takut banget aku gangguin. Baru godain dikit aja udah langsung masuk ke kamarnya" jawab Aril.


"Habis kamu kan emang suka iseng Mas. Ngeselin tauuuuk?? Aku takut banget anak - anakku nanti bertingkat seperti kamu" ujar Bela.


"Satu kamu aja aku udah pusing, gimana kalau dua atau tiga. Makin mumet Maaas" jawab Bela kesal.


"Hahaha... tapi ngangeni kan?" ucap Aril sambil memeluk erat tubuh istrinya.


Bela tersipu malu, benar kata Aril walau Aril tingkahnya suka ngeselin tapi Bela sangat mencintai suaminya. Kemarin malam saja rasanya dia hampir mayi melihat tubuh Aril yang diam tak sadarkan diri.


Dengan warna merah di seluruh tubuhny sert wajahnya bengkak. Dunia Bela seperti berhenti seketika. Dan tadi malam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena mengkhawatirkan suaminya itu.


"Nanti malam kita lepas kangen ya" bisik Aril di telinga Bela.


Dengan reflek Bela memukul dada Aril.


"Mas kan belum sembuh, baru juga keluar dari rumah sakit" jawab Bela.


"Siapa bilang aku belum sembuh? suami kamu ini kuat yank, betapa ronde juga aku akan bertahan" goda Aril.


"Tapi kaaaaan" sambut Bela ragu.


"Kan kamu udah janji sebelum kita berangkat. Aku juga akan ingat pesan Refan dan Bimo. Harus dilakukan secara slow motion.. dengan cara seksama tapi tidak dengan tempo yang sesingkat - singkatnya. Pulau cinta, Aril Eka putra" ungkap Aril.


"Apa sih Mas" sambut Bela sambil mencubit pinggang Aril gemas.


Suaminya ini emang paling pintar menggodanya hingga membuat wajahnya selalu merah merona karena malu.


Aril menggenggam tangan istrinya dengan mesra dan mengecupnya.


"Ucap ya yank.. aku kangen kamu" desak Aril sambil mendekatkan wajahnya ke dekat wajah Bela.


Bela hanya sanggup menganggukkan kepalanya sambil tertunduk malu.


"Apa? Mas gak dengar" tanya Aril pura - pura untuk menggoda.


"Iya Maaaaas" jawab Bela akhirnya.


"Nah gitu donk" Aril melanjutkan aksinya mengecup mesra wajah Bela.


Kita bersiap yuk bersih - bersih, sebentar lagi adzan maghrib. Kita shalat, trus pesan makan baru deh kita berpetualang" ajak Aril.


"Tapi gak ada yang namanya gurita lagi ya Mas" sambut Bela.


Aril tersenyum lembut pada istrinya.


"Tidak ada sayang, cukup sekali aku makan makanan itu. Walau enak tapi setelah itu aku hampir mati rasanya. Tubuhku seperti terbakar lalu gatal dan aku mulai kesulitan bernafas" ungkap Aril.


"Aku sangat takut Mas" Bela gantian yang memeluk erat Aril.


Aril kemudian mengecup lembut kening Bela.


"Tenang sayang, tidak akan pernah terulang lagi" balas Aril.


Bela dan Aril memesan makan untuk makan malam mereka kemudian bersiap - siap untuk shalat maghrib berjama'ah.


Setelah selesai shalat makanan mereka juga datang dan mereka melanjutkan acara untuk mengisi perut mereka dulu sebelum bertarung panjang.


Malam ini dua pasang pasutri yang sedang menikmati malam panjang mereka tanpa hambatan. Dua mantan Casanova kini terjebak dan terikat dengan hubungan halal yang ternyata baru mereka sadari indahnya kenikmatan itu.


Sial... benar kata Aril dan Riko. Begitu dahsyat kata halal diatas ranjang ini. Aku selalu ketagihan ingin terus melakukannya lagi. Ucap Romi dalam hati.


Disampingnya Ela sudah tertidur dengan lelapnya karena kecapekan di gembur Romu saat siang dan lanjut malam ini dengan tak cukup satu ronde.


Tapi Romi tak tega membangunkan istri tersayang nya. Dengan penuh kelembutan Romi memeluk Ela sambil menyusulnya kedalam alam mimpi yang sangat indah.


.


.


BERSAMBUNG