
Di pengajian rutin yang kali ini dilaksanakan di kantor Bagus. Seperti biasa mereka berkumpul dan ngobrol setelah pengajian selesai.
"Kenapa wajah kamu?" tanya Riko pada Romi.
"Mungkin dia belum dapat Mama muda hari ini" sahut Refan.
"Mama muda?" tanya Aril terkejut.
"Eh salah maksudku mangga muda" ralat Refan sambil tersenyum.
"Mangga muda? Semakin mencurigakan" timpa Aril.
"Minggu lalu dia ke rumahku memanen mangga ku yang masih belum saatnya untuk di petik" ungkap Refan.
"Kamu makan mangga muda? Ela hamil?" tanya Bagus.
"Belum pasti, kata dokter minggu lalu belum kelihatan janinnya. Masih menunggu dua minggu lagi" jawab Romi.
"Itu berarti tinggal seminggu lagi donk?" tanya Aril.
"Iya" jawab Romi kesal.
"Lah kenapa wajah kamu asem seperti itu?" tanya Aril penasaran.
"Aku kesal karena nasibku harus sama dengan kamu" jawab Romi makin kesal.
"Kamu kesal karena aku atau kamu kesal karena Ela hamil?" tanya Aril tidak mengerti.
"Aku kesal karena aku harus mengalami nasib yang sama dengan kamu" ulang Romi.
"Nasib yang mana bro? Istri kita hamil? harusnya kan kamu senang?" tanya Aril bingung.
"Kalau masalah Ela hamil aku senang banget, malah berharap minggu depan Ela memang benar - benar hamil. Tapi mengapa sih kalau istri lagi hamil muda kita suaminya harus puasa?" tanya Romi kesal.
"Oooh karena itu hahahaaha" tawa Aril dan teman - temannya pecah.
"Aku kira apa Rooom.. Room.. " sahut Bagus.
"Aku kan baru menikah sebulan, honeymoonnya masih kurang udah disuruh puasa" protes Romi.
"Rasakno... dulu kamu ketawain aku kan? Makanya sekarang kamu ketularan getahnya" umpat Aril senang.
"Yang kau tau kalau berhubungan saat hamil muda bisa beresiko pada janin yang ada di dalam karena akan terjadi kontraksi" ungkap Refan.
"Widiiiiih udah pintar dia" sambut Aril.
"Yoi.. anakku udah tiga bro eh salah empat dink. Aku lupa ada Naila" jawab Refan.
"Rom aku boleh tanya gak?" tanya Riko.
"Tanya apa?" Romi balik bertanya.
"Apa Dini tau kalau Ela hamil?" tanya Riko.
"Sepertinya nggak, Ela belum ada mengabari siapapun karena belum jelas juga dia hamil. Walau minggu ini sebenarnya sudah jadwal dia datang bulan tapi bulannya belum juga kunjung tiba" jawab Romi.
"Kenapa emangnya Ko?" tanya Aril.
"Aku khawatir Dini akan kepikiran dan stres sedangkan Dokter melarang dia untuk itu" jawab Riko serius.
"Tenang Ko, nanti aku akan bilang sama Ela untuk merahasiakan sementara kabar ini kepada Dini" ucap Romi sambil menepuk bahu Riko.
"Gak mungkin juga Ko dirahariakan terus. Mereka kan satu kantiry, cepat atau lambat Dini pasti tau" ucap Refan.
"Tapi setidaknya sebulan ini tolong di rahasiakan. Kami kan sedang dalam proses program kehamilan. Aku berharap membuahkan hasil yang baik. Sehingga Dini tidak merasa sedih" ucap Riko dengan wajah sedih.
"Kamu tenang aja Ko. Baru juga dua bulan kalian menikah, jangan terlalu di pikirkan" ujar Bimo.
"Aku sih tenang Bim, tapi Dini yang merasa bersalah karena penyakitnya. Dia yang sibuk mengajakku untuk program kehamilan. Aku tidak mau dia kecewa makanya aku ikutkan apapun yang dia mau" ungkap Riko.
"Aku yakin kok kalian pasti akan segera mendapatkan momongan. Yakinlah, terus berikhtiar dan berdoa kepada Allah. InsyaAllah akan terkabul" sambung Bimo.
"Betul Ko, melihat semangat Dini kemarin waktu kita ke praktek dokter kandungan bareng, aku juga yakin kalian akan segera punya anak. Dini sangat menjaga pola hidup dan makan sehat. Dia benar-benar ingin memberi kamu keturunan" sambung Aril.
Aril menepuk bahu Riko memberi semangat. Tapi seketika tubuh Riko merinding karena ingat ngidamnya Aril yang dulu suka menempel padanya.
"Kamu gak lagi kumat kan Ril? Aku kok merinding ya?" tanya Riko.
"Hahahaha.... " tawa Bagus pecah.
"Maksud kamu aku pengen mesra - mesraan sama kamu? Ih.. udah gak zamannya lagi" jawab Aril langsung melepas tangannya yang masih menempel di bahu Riko.
"Romi gak selera becanda guys.. biasanya dia paling seneng ngebully Aril" goda Bagus.
"Dia kena tulah namanya. Dulu suka melempar senjata, sekarang senjatanya makan tuan hahaha" sambut Aril.
Romi hanya diam karena tidak fokus pada teman - temannya. Dia masih kesal karena belum bisa menerima kenyataan harus puasa selama Ela hamil muda.
"Sepertinya hanya raganya saja yang ada di sini. Jiwanya sedang berada di layar kamera adegan plus dua satu" ledek Refan.
"Hahahaha... " semua tertawa melihat wajah Romi.
"Ha.. apa? Kalian bilang apa tadi?" tanya Romi bingung.
"Tuh bener kan nyawanya belum ngumpul" goda Aril lagi.
"Aah kaliaaan" sambut Romi.
"Udah malam yuk pulang. Malam jumat bro, aku mau jenguk anak kembarku di dalam perut Mamanya" ujar Aril.
"Aku juga, kata dokter agar Reni bisa segera melahirkan dengan normal harus sering - sering jenguk bayinya di dalam" sambut Bimo.
"Widiiih aku juga mau cetak adik baru untuk Bayu" sahut Bagus.
"Sama mungkin si kembar dan Salman pengen punya adek lagi" gumam Refan.
"Kamu juga kan Ko, kan Dini lagi program hamil. Kalau gak di isi - isi kapan hamilnya. Yuk buruan pulang" ajak Aril.
Riko, Refan, Bimo, Aril dan Bagus berdiri dan hendak berangkat pergi.
"Kalian ya bener - bener. Bukannya hibur teman yang lagi gundah gulana malah dipanas - panasin" protes Romi.
"Hahaha... kamu ngaca dulu Rom, wajah kamu itu jelek banget. Lebih jelek dari Aril dulu waktu di suruh puasa" ujar Bagus.
"Benar kah?" tanya Romi polos sambil menatap wajah Aril.
"Bener banget bro" jawab Aril.
Bagus memberikan kaca kecil yang ada di atas meja kerjanya kepada Romi. Sontak Romi langsung melirik ke arah kaca. Benar saja, saat ini wajahnya sangat kacau sekali.
"Udaaaah diasikin aja. Kamu kan bisa berenang di rumah biar lebih cepat tidur karena kecapekan" ujar Refan memberi ide.
"Atau treadmill dua puluh kilo meter" sahut Aril.
"Itu mah bukan capek tapi mati" jawab Romi kesal.
"Hahahaha.. " tawa teman - temannya.
"Udah yuk kita pulang" ajak Bimo.
Mereka semua akhirnya keluar dari ruangan kerja Bagus dan turun ke lantai satu dimana mobil mereka di parkirkan.
Sesampainya di bawah mereka segera masuk ke mobil masing - masing. Bimo dan Refan yang pulanh bareng karena saat ini untuk sementara dia dan istrinya tinggal di rumah Refan menunggu Reni melahirkan.
Riko pulang menuju apartemen mereka, di sepanjang jalan dia terus kepikiran istrinya. Bagaimana kalau nanti Dini tau Ela sudah hamil. Pasti Dini akan sedih, tapi kan semua itu wajar terjadi.
Namanya menikah dan langsung hamil itu pasti akan terjadi. Tapi bagaimana menghibur hati Dini pasti dia akan terluka dan semakin merasa bersalah.
Oh ya Allah.. jika saat itu tiba kuatkanlah perasaan istriku. Aku tidak ingin dia bersedih. Doa Riko dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG