
"Apa kabar Nit?" tanya Riko.
"Alhamdulillah sehat Mas" jawab Anita salah tingkah. Dia merasa sungkan bertemu dengan Riko setelah peristiwa Riko di tolak oleh orang tuanya.
"Kabarnya Dini?" pancing Romi.
Riko melirik ke arah Romi jujur sebenarnya ia sangat penasaran dengan jawaban Anita.
"Dini Alhamdulillah sehat, lagi sibuk persiapan pergi ke Bandung" jawab Anita.
"Persiapan ke Bandung, ngapain Nit?" tanya Riko semakin penasaran.
Refan, Kinan dan Romi saling lirik. Mereka tau dan mengerti gimana penasarannya Riko dengan semua informasi tentang Dini.
"Dini diterima kerja disana Mas. Minggu depan dia sudah mulai bekerja disana" jawab Anita.
Riko menarik nafas panjang. Ada yang berat mengganjal di dadanya. Tak lama hidangan makan siang mereka sudah datang dan mereka mulai menyantap makan siang mereka.
Hampir satu jam berlalu, akhirnya mereka selesai makan siang. Romi, Refan dan Kinan tau kalau Riko butuh waktu untuk bicara dengan Anita.
Romi pura - pura pergi ke kamar mandi begitu juga Kinan yang ditemani oleh Refan. Kini hanya tinggal Riko dan Anita berdua yang ada di meja makan mereka.
"Mas maaf ya atas perlakuan Papa dan Mamaku. Dini sudah menceritakan semuanya padaku tentang kejadian malam itu saat Mas datang ke rumah kami" ungkap Dini.
Riko tersenyum sedih, rasanya masih sakit ketika mengingat cintanya harus putus di tengah jalan karena restu orang tua.
"Gak apa Nit, aku mengerti kok dengan apa yang dipikirkan oleh kedua orang tua kamu. Bagaimanapun mereka kan menginginkan yang terbaik untuk Dini. Mungkin bagi mereka aku ini kurang baik dan kurang pantas untuk Dini" jawab Riko.
"Sebenarnya aku dan Dini sangat malu Mas atas pola pikir Papa dan Mama. Mereka salah menilai tentang Mas Riko. Aku dan Dini percaya dan sangat mengerti kalau Mas Riko benar - benar sudah berubah sekarang. Aku juga sudah diskusi dengan Kinan dan Ayu. Merek juga banyak memberikan informasi tentang Mas Riko padaku dan Dini. Sebenarnya Dini masih menunggu Mas Riko, tapi yah kalau Mas Rikonya sudah menyerah dan mundur mau gimana lagi" ungkap Anita.
Riko terkejut mendengar ucapan Anita barusan.
"Di.. Dini masih menunggu kedatanganku Nit?" tanya Riko.
Benarkah? Aaah jadi kangen Dini... Batin Riko.
Anita tersenyum membalas tatapan Riko.
"Iya Mas, Dini masih menunggu kedatangan Mas Riko untuk berjuang mendapatkan restu Papa dan Mama" jawab Anita.
"Ta.. tapi gimana caranya Nit? Aku seperti mati langkah saat berhadapan dengan orang tua kamu. Karena apa yang mereka lakukan tujuannya adalah untuk kebaikan Dini" ungkap Riko.
"Terbaik bagi mereka belum tentu itu terbaik bagi Dini dan juga Allah Mas. Kalau Allah sudah berkata Mas adalah jodohnya Dini, pasti Papa dan Mama akan merestui hubungan kalian" balas Anita.
"Kali ini aku bingung Nit harus berbuat apa lagi" ucap Riko pasrah.
Anita tersenyum melihat sikap putus asa Riko. Lelaki playboy bisa kehilangan ide untuk mendekati wanita yang dia cintai. Anita sampai menyangsikan cerita kepiawaian Riko dalam menaklukkan hati banyak wanita.
Masak gak bisa meluluhkan hati kedua orang tuanya dan Dini, pikir Anita.
"Minggu depan kan Dini sudah berangkat ke Bandung Mas. Mas sudah bisa mulai datang ke rumah kami untuk mendekati Papa dan Mama. Mereka kan bisa menilai niat tulus Mas yang memang benar - benar serius pada Dini. Walau Dini tidak ada di rumah Mas tetap mau datang meminta restu mereka. Aku yakin cepat atau lambat prinsip kedua orang tuaku akan berubah Mas" ujar Anita meyakinkan.
Ada binar - binar harapan terpancar dari tatapan Riko. Walau harapan itu hanya kecil sekali tapi setidaknya Riko sudah mendapatkan cahaya untuk masa depannya.
"Baiklah Nit, aku akan melakukan apa yang kamu ucapkan tadi. Aku akan berjuang untuk mendapatkan restu kedua orang tua kamu. Tolong sampaikan pada Dini, aku tidak akan menyerah. Aku serius ingin menikah dengannya" tegas Riko penuh semangat.
Prok.. prok.. prok..
"Nah gitu donk semangat jangan putus asa dan patah semangat gitu, yang ada kamu akan tambah patah hati Ko. Berjuang aja dulu, perjuangan tidak akan mengkhianati hasil" ujar Romi.
Refan dan Kinan tersenyum menatap Riko. Mereka menunjukkan dukungan mereka kepada Riko.
"Aku akan sampaikan pesan kamu pada Dini Mas, selamat berjuang dan semoga istiqomah. Aku pribadi sangat mendukung niat baik Mas Riko. Pelan - pelan aku juga akan bantuin bilang ke Papa Mama" ungkap Anita.
"Terimakasih Nit, terimakasih banyak" ucap Riko.
"Naaah udah lebih tenang kan Bro... semangat" Romi merangkul bahu sahabatnya itu.
Romi sendiri saja masih sering bulak balik terpleset. Kalau Riko targetnya sudah jelas sedangkan Romi sudah dua tahun dia penasaran dengan gadis bernama Cici yang dia temui dulu.
Tapi rasa penasarannya lambat laun memang sudah mulai hilang. Romi hanya pasrah dan berdoa kepada Allah semoga diberi pengganti yang lebih baik dari Cici.
Pelan - pelan Romi juga sudah mulai meninggalkan dunia malamnya. Apalagi para sahabatnya Riko dan Aril juga sudah jarang sekali ke diskotik. Mereka sudah mulai menemukan target bidadari surga mereka.
Sedangkan Romi merasa sepi kehilangan dua sahabat yang selalu asik di ajak havefun. Tapi semakin lama Romi memang menyadari apa yang mereka lakukan dulu salah dan dia juga sudah berjanji akan berubah.
"Kita pulang yuk Nit, jam istirahat sudah selesai" ajak Kinan.
"Yuk Nan. Mas Riko, Mas Refan dan Mas Romi kami pamit ya" ucap Anita.
"Iya Nit. Hati - hati di jalan. Titip istriku tercinta ya" sambut Refan tersenyum lembut ke arah Kinan.
"Kalau aku titip salam sama Dini ya Nit. Tolong katakan padanya untuk bersabar. Aku akan berjuang" ucap Riko.
"Cie.... " goda Refan dan Romi.
"Aku kalau begitu titip salam sama Papa dan Mama kamu deh Nit" sambut Romi.
"Lho kok pada Papa dan Mamaku Mas?" tanya Anita bingung.
"Iya gak apa - apa. Titip salam Romi teman seperjuangannya Riko. Bilang sama Papa dan Mama kamu untuk segera menerima lamaran sahabat aku ini. Dia sudah sangat tidak sabar naik ke pelaminan" jawab Romi dengan senyum jahilnya.
"Ah Mas Romi ini ada - ada saja" balas Anita.
"Hahaha... Mas Romiii... Mas Romi... " sambut Kinan tertawa lebar.
"Bukan depan kita kumpul di rumah kami ya. Kami mau syukuran tujuh bulanan anak kami" pinta Refan.
"Waaah makan - makan nih" sambut Romi senang.
"Tolong aja Dini ya Nit" pinta Riko malu - malu.
"InsyaAllah Mas kalau Dininya pulang ke Jakarta. Dia kan sudah mulai kerja di Bandung minggu depan" jawab Anita.
"Iya, kalau Dininya ke Jakarta aja" balas Riko.
"Ya sudah Nit cepetan balik" ajak Kinan.
Kinan dan Anita lebih dahulu keluar dari Restoran karena jam istirahat kantor mereka sudah hampir habis sedangkan Refan, Riko dan Romi masih santai di dalam Restoran.
"Gimana perasaan kamu setelah bertemu dengan Anita?" tanya Refan penasaran.
"Agak lega, ternyata Dini masih menungguku dan Anita juga mendukung niat kami" jawab Riko.
"Sabar Ko dan tetap semangat berjuang. Tiap - tiap orang memang beda - beda jalan hidupnya. Beda - beda cobaan dan masalah yang dihadapi. Tapi intinya tetap sama. Kita harus kuat, sabar dan semangat. Jangan mudah putus asa" pesan Refan.
"Benar tuh Fan, setuju banget" sambut Romi.
"Iya Fan, Rom. Makasih kalian sudah mau mendukungku penuh" balas Riko.
"Ya sudah bro balik ke kantor yuk. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Aku gak bisa pulang telat karena harus jemput Kinan nanti di kantornya" ajak Refan.
Mereka bertiga melangkah meninggalkan Restoran menuju kantor Refan. Di dalam mobil Riko segera meriah ponselnya dan mencari nama yang sebenarnya sering dia buka.
Riko
Sabar ya menungguku.. aku akan berjuang untuk mendapatkan restu Papa dan Mamamu.
.
.
BERSAMBUNG