
Saat - saat yang dinantikan oleh Ela dan Romi akhirnya tiba. Papa dan Mama Romi sudah sampai di Surabaya kemarin. Romi lebih dulu tiba bersama Ela dan Bela untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Romi bersama kedua orang tuanya tiba di rumah orang tua Ela. Merek disambut hangat oleh keluarga Ela dan juga keluarga Bela sebagai undangan dan beberapa tetangga rumah orang tua Ela.
Acara lamaran Ela ini tentu saja membuat gempar kampung dimana Ela tinggal. Para tetangga kasak kusuk dengan kehidupan Ela di Jakarta. Dalam acara ini barulah mereka tau kalau Ela di Jakarta bekerja di Perusahaan besar dan memiliki jabatan yang tinggi.
Pantas saja Pak Budi bisa membeli tanah di samping rumahnya dan membangun Ruko yang sebentar lagi akan dibukakan usaha grosir sembako oleh putri bungsu nya itu.
Seketika pikiran negatif para warga di kampung selama ini terhapus sudah. Mereka kini bangga mempunyai warga yang berprestasi seperti Ela.
Bapak dan Ibu Romi masuk ke dalam ruko yang baru selesai di bangun dan hari ini juga akan dilangsungkan acara syukuran setelah selesai acara lamarannya Romi dan Ela.
"Silahkan masuk Pak" sambut Pak Budi hormat.
Mereka saling berjabat tangan dan berkenalan. Mamanya Romi tampak tersenyum ramah saat berkenalan dengan Bu Budi. Mereka berbincang - bincang sebentar sebelum acara lamaran dimulai.
"Jadi dikampung ini Ela lahir dan dibesarkan?" tanya Mama Romi.
"Iya Bu" jawab Bu Budi.
"Jangan panggil Bu donk Jeng, panggil aja Jeng" sambut Mama Romi.
"Waduh saya jadi gak enak. Kalau begitu saya panggil Mbak aja gimana Bu?" tanya Bu Budi.
"Boleh.. boleh.. Mbak juga boleh. Senyaman Jeng aja deh" jawab Mama Romi.
"Iya Mbak, ini lah desa kami. Maaf kalau seperti ini, pasti Mbak tidak nyaman berada di sini" ucap Bu Budi sungkan.
"Oh tidak.. tidak.. saya suka kok berasa di sini. Desa ini sangat bagus, udaranya bersih dan sepertinya nyaman banget tinggal di sini" ujar Mama Romi.
"Syukurlah kalau Mbak nyaman berada di sini" jawab Bu Budi.
"Baiklah Dek.. bagaimana kalau acara segera kita mulai?" tanya Papa Romi.
"Silahkan Mas.. saya setuju saja" sambut Pak Budi kikuk dan sungkan mengingat keluarga Romi berasal dari keluarga kaya.
"Baiklah Dek Budi maksud kedatangan keluarga kami ke Surabaya ini adalah dalam rangka ingin melamar putri bungsu kalian yang bernama Cishela Budianto" ujar Papa Romi.
"Kami menerima baik kedatangan Mas Hidayat ke rumah kami ini dan juga itikad baik Mas bersama keluarga untuk melamar putri bungsu kami" sambut Pak Budi.
"Alhamdulillah... " sambut semua yang hadir dalam acara tersebut.
Romi menatap intens kepada calon istrinya.
Alhamdulillah ya Allah.. akhirnya kami melalui langkah ini dan semakin mendekati hubungan suci. Ridhoi semua niat baik kami ini ya Allah. Ucap Romi dalam hati.
Ela juga membalas tatapan Romi dengan penuh makna.
Ya Allah... sungguh aku tak menyangka begini jalan pertemuan kami. Dulu saat pertama kali bertemu kamu, sedikitpun tak pernah terbesit olehku kamulah yang akan menjadi imamku kelak Mas. Batin Ela.
Sementara Bela yang duduk di belakang Ela menatap sendu dan tampak tak bersemangat.
Mas.. lagi apa kamu di sana? Andai kamu ada di sini pasti aku akan sangat senang sekali. Batin Bela sendu.
Acara berlangsung dengan hikmat. Setelah acara lamaran maka di tetapkan hari bahagia untuk Ela dan Romi. Kedua keluarga sepakat tiga bulan yang akan datang akan diadakan akad nikah dan syukuran di Surabaya setelah itu resepsi pernikahan mereka akan dilaksanakan di Jakarta karena Ela dan Romi bekerja di sana. Banyak kerabat dan teman - teman mereka di sana.
Setelah acara lamaran berlangsung dilanjutkan doa syukuran atas pembangunan ruko baru orang tua Ela. Tak lama kemudian acara selesai. Para tetangga pun berpulangan. Hanya tinggal keluarga Romi dan keluarga Bela di rumah orang tua Ela.
"Assalamu'alaikum... " ucap seseorang yang datang tiba - tiba
"Wa'alaikumsalam" jawab semua yang ada di ruko Pak Budi.
"Lho Aril kamu datang juga rupanya?" tanya Pak Akarsana.
"Acaranya sudah selesai ya Pak?" tanya Aril sungkan.
"Lho Ril kamu datang?" tanya Pak Hidayat.
"Iya Om, maaf aku datang terlambat" jawab Aril.
Bela sangat shock melihat Bos sekaligus pria yang hampir satu minggu ini membuat dia galau.
"Lho Mas Aril datang kok gak bilang - bilang?" tanya Bela terkejut.
Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Iya, aku gak berani janji karena urusan kantor belum selesai. Hingga tadi sore begitu meeting selesai aku langsung ke Bandara. Tapi sayang acara lamaran Romi dan Ela sudah selesai. Aku datang terlambat" jawab Aril.
Ela yang duduk di samping Bela langsung menanggapi.
"Gak apa - apa Mas, yang penting Mas datang. Kami sudah sangat senang, apalagi kedatangan Mas kali merupakan angin segar untuk seseorang" sambut Ela.
Bela melirik ke arah Ela, tapi Ela pura - pura tidak melihat balik.
Aril melirik ke kanan dan ke kiri seperti mencari seorang sosok yang sejak dari Jakarta tadi sudah sangat dia khawatirkan. Tapi orang tersebut tak juga dia temukan.
Baru dia tersadar akan apa yang sedang terjadi. Aril langsung duduk di samping Romi.
"Sialan, kamu ngerjain aku ya? Mana Rizal?" tanya Aril kesal.
"Ternyata dia gak jadi datang, katanya gak dapat izin dari Riko. Mungkin Riko tau kalau kedatangan Rizal bakal akan membuat kamu kepanasan" jawab Romi tanpa beban.
Dia malah tersenyum menang sudah berhasil mengerjain Aril sampai bela - belain terbang langsung ke Surabaya walaupun tibanya terlambat.
"Dasar kamu sukanya ngerjain orang aja. Apa kamu gak tau kalau urusan kantorku lagi banyak - banyaknya" umpat Aril kesal.
"Lho apakah urusan masa depan kamu gak lebih penting?" tanya Romi.
"Penting, tapi kalau Rizal gak datang kan aku gak perlu buru - buru ke sini Rom" jawab Aril.
"Hahaha.... ternyata takut juga kamu sama pesona Rizal. Apa rasa percaya diri kamu sudah hilang. Masak Aril sang mantan casanova kalah saing dengan anak kemarin sore" ujar Romi.
"Cih kamu" umpat Aril masih kesal.
Bela datang sambil membawakan segelas minuman.
"Nih Mas diminum? Mas sudah makan?" tanya Bela.
Aril terbengong karena perlakuan Bela yang tidak biasanya.
"Be.. belum" jawab Aril.
"Ya sudah aku ambilkan ya" ujar Bela.
Aril hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil melongo.
"Woy bibirnya mingkem entar masuk lalat" Romi menyenggol lengan Aril.
"Ya Allah.. Rom... mimpi apa aku tadi malam. Kalau tau gini, libur satu hari tadi akan aku lakukan demi datang ke sini secepatnya" ungkap Aril.
"Hahahaha.... " Romi hanya bisa tertawa melihat tingkah laku sahabatnya.
.
.
BERSAMBUNG