Playboy Insaf

Playboy Insaf
Enampuluh Tiga



"Sa.. saya Cishela Budianto datang melapor dihadapan Bapak" ucap Ela dengan nada takut.


"Kamu tau kesalahan kamu?" tanya Romi dengan nada dingin dan tatapan tajam.


Oh Ya Tuhan.. Tatapannya sungguh menakutkan. Mending aku bertarung sekalian deh sama penjahat, aku lebih berani dari pada harus seperti ini. Batin Ela.


"Sa.. saya telat melapor kepada Bapak. Maaf Pak dan terimakasih Bapak sudah memberi saya pekerjaan di perusahaan Bapak ini" jawab Ela memberanikan diri.


"Ya memang itu salah satu kesalahan kamu. Tapi ada kesalahan kamu yang lebih besar dari itu" ujar Romi.


"Sa.. saya ada salah apa lagi Pak?" tanya Ela.


Salah kamu sudah mengunci hatiku selama dua tahun ini. Batin Romi.


"Saya masih tidak terima dengan pertemuan kita pertama. Mengapa kamu mengatakan kalau nama kamu adalah Cici. Padahal kan nama kamu Ela dan kamu memberikan alamat palsu padamu" ungkap Romi dengan tatapan menusuk.


Ya ampun itu lagi... Aku kira sudah selesai kemarin. Batin Ela.


"Lho kemarin kan saya udah bilang Pak kalau nama saya disekolah adalah Cici. Hanya keluarga dan orang - orang terdekat saja yang yang memanggil saya Ela atau Shela" jawab Ela.


"Shela.. berarti kamu juga mahasiswi yang membawa para preman kampus ke kantor polisi dua tahun yang lalu?" tanya Romi.


"Iya tapi mengapa Bapak kok bisa tau?" tanya Ela penasaran.


"Ya karena saya mencari kamu sampai ke kampus kamu di Surabaya" jawab Romi tanpa sadar.


"Bapak mencari saya sampai ke Surabaya?" tanya Ela terkejut.


"Enak saja kamu. Ngapain aku cari kamu sampai ke Surabaya. Aku pas tugas ke sana dan tanpa sengaja lewat kampus kamu. Pada saat itu ada keributan di kampus kamu dan kata para mahasiswa di sana ada mahasiswi bernama Shela yang membawa para preman kampus ke kantor polisi" jawab Romi berbohong.


Hampir saja... aku keceplosan. Bisa - bisa dia besar kepala kalau tau aku mencarinya sampai ke Surabaya. Batin Romi lega.


"Ooo.. tapi mengapa bisa kebetulan sekali ya?" tanya Ela bingung.


"Itu gak perlu di bahas lagi yang penting kamu harus di hukum karena kesalahan kamu di masa lalu" tegas Romi.


"Tapi Pak saya kan gak salah apa - apa di masa lalu. Saya gak bohongi Bapak. Nama saya memang Cici kalau di kampus. Alamat rumah tempat Bapak antar saya dua tahun yang lalu adalah rumah majikan bude saya. Semua hanya kesalahan pahaman saja Pak. Bude saya ingatnya nama saya Ela bukan Cici. Tapi saya kan gak bohong Pak" bela Ela.


Kesalahan kamu itu karena kamu sudah sukses membuat aku penasaran selama bertahun-tahun bahkan aku sampai bela - belain cari kamu di Surabaya selama satu minggu. Batin Romi.


"Baik kalau kamu gak terima atas kesalahan kamu di masa lalu ya sudah kalau begitu kamu akan di hukum karena telat melapor kepada saya. Dasar gak tau terima kasih, sudah dibantu masuk ke Perusahaan ini bukannya langsung menghadap saya. Ini malah enak - enakan asik kerja sendiri. Emangnya tanpa saya kamu bisa diterima di sini " tekan Romi.


Nyali Ela langsung menciut. Kalau soal itu dia memang salah. Tapi tetap saja Ela tidak terima begitu saja.


"Apa? Kamu ngatain saya kejam?" bentak Romi.


Ela langsung tersentak karena terkejut.


"Ma.. maaf Pak, saya tidak bermaksud berkata begitu. Sa.. saya hanya takut bertemu dengan Bapak" jawab Ela gugup.


Duh mending Bapak smackdown saya aja deh Pak dari pada Bapak tusuk saya dengan tatapan tajam Bapak itu. Sakit Pak, tapi tak berdarah. Mending bertarung deh.. patah.. patah daah.. tapi setidaknya aku bisa melawan pakai tangkisan, pukulan dan tendangan. Dari pada seperti ini aku tertekan Pak. Sumpah deh gak enak banget lihat tatapan Bapak itu. Udah setajam silet mengoyak - koyak harga diriku. Untung kamu Bosku Pak. Kalau tidak udah aku smackdown duluan kamu Pak. Umpat Ela dalam hati.


Ela menundukkan wajahnya karena takut kelewat batas. Lama - lama diintimidasi seperti ini bisa ngelawan juga dia. Dulu waktu ospek di kampus Ela paling benci dengan senior yang sok berkuasa seperti Romi saat ini. Setelah ospek tuh senior habis di hajar Ela sampai babak belur karena suka menindas dan semena - mena.


"Kamu sepertinya pinter banget cari alasan ya. Sudah.. sekarang kamu aku hukum. Siapkan laporan keuangan untuk rapat tahunan bulan depan. Kamu akan ditugaskan menemani Bu Monic Manajer Keuangan mengikuti rapat tahunan yang akan diadakan bulan depan. Bersiaplah, kalau sampai ada kesalahan kamu akan aku pecat dari perusahaan ini" tantang Romi.


Tuh kan main kekuasaan. Mentang - mentang dia yang punya perusahaan ini, seenak udelnya saja mengancam bawahan seperti ini. Tapi dipecat adalah kelemahanku Pak. Apapun akan kulakukan asalkan Bapak tidak memecatku. Untung cuma kerja di kantor Pak, tapi seandainya Bapak menghukumku jadi pembantu Bapak di rumah mungkin aku akan menerimanya Pak. Batin Ela.


"Kenapa kamu diam saja? Kamu keberatan aku hukum seperti itu? Mau aku hukum jadi pembantu di rumahku?" ancam Romi.


"Ti.. tidak Pak. Saya siap Pak mengerjakan laporan keuangan tahunan dan siap juga untuk menemani Bu Monic dalam rapat tahunan bulan depan" jawab Ela sigap.


Sial.. kok bisa dia baca hatiku ya.. Apa dia keturunan orang pintar? Berati dia saudaranya Agnes Monica donk yang gak pernah masuk angin. Kan orang pintar minum tolak angin. Hahaha... apa sih isi kepalaku ini. Bisa - bisanya saat - saat genting seperti ini mikir yang begituan. Umpat Ela dalam hati.


"Ya sudah mulai hari ini kerjakan semua tugas kamu. Selesaikan laporan keuangan tahunan perusahaan ini. Ingat jangan ada satu kesalahan pun. Kalau tidak... " Romi memberi isyarat untuk menyembelih leher Ela.


"I.. Iya Pak, saya mengerti. Kalau begitu boleh saya kembali ke ruangan saya sekarang Pak" pinta Ela.


"Silahkan" jawab Romi puas. Dia sudah mengerjain Ela habis - habisan.


Romi juga ingin tau sampai mana kepintaran Ela karena menurut Pak Agus nilai kuliah Ela sangat bagus. Dia mendapatkan beasiswa selama kuliah dan lulus dengan nilai yang sangat bagus. Bu Monic juga mengatakan kalau Ela adalah anak yang pintar dan cepat menguasai pekerjaannya. Makanya masa percobaannya sebagai karyawan hanya satu bulan setelah itu Ela diangkat menjadi karyawan tetap.


"Baik Pak, kalau begitu saya pamit undur diri dulu. Terimakasih Pak atas bimbingannya dan selamat pagi" ucap Ela sambil berdiri dan pamit balik ke kantornya.


Setelah Ela pergi Romi segera menghubungi Pak Agus bagian HRD.


"Pak Agus tolong hubungi bagian IT, saya ingin CCTV lantai delapan di Departemen Keuangan disambungkan ke komputer saya saat ini juga" perintah Romi.


"Baik Pak" sambut Pak Agus sigap.


.


.


BERSAMBUNG