Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Tigapuluh Empat



Sepeninggal Reni, Bela dan Ela, kini hanya Aril dan Sintia yang ada di meja makan. Mereka juga sudah selesai makan.


"Sin ada yang ingin aku katakan pada kamu" ujar Aril.


"Apa tu Ril?" tanya Sintia penasaran.


"Aku mohon maaf atas kata - kataku saat bersama Reni, Bela dan Ela tadi" ungkap Aril.


"Kata - kata yang mana? Sepertinya gak ada yang salah deh" tanya Sintia.


"Aku akan jujur pada kamu. Aku menyukai Bela sejak pertama kali kami bertemu. Bela itu adiknya temanku, suaminya Reni. Saat aku datang ke rumah orang tuanya aku melihat Bela untuk pertama kali. Dan pada saat itu aku langsung jatuh hati. Setelah itu Bela tamat kuliah dan aku menawarkan padanya untuk bekerja di kantorku sebagai sekretaris. Karena pada saat itu sekretarisku akan mengundurkan diri karena akan melahirkan" ungkap Aril.


"Oh begitu.. hahaha.. gak apa - apa kok, aku bisa mengerti candaan kamu tadi. Kalau begitu mengapa kamu tidak utarakan saja langsung perasaan kamu padanya?" tanya Sintia semakin penasaran.


"Sudah Sin tapi di tolak" jawab Aril sedih.


"Ah masak? Kamu di tolak sama cewek? waaaah hebat banget tuh Bela bisa nolak pesona sang mantan casanova" komentar Sintia.


"Ish kamu Sin... sakit banget rasanya" ungkap Aril.


"Hahaha.. kena batunya kamu" balas Sintia.


Aril menarik nafas panjang.


"Aku menyesal atas perbuatanku dulu. Aku sadar itu sangat salah dan dosaku sangat besar Sin. Mungkin Allah sedang menghukumku dengan cara seperti ini. Aku suka dengan sifat Bela yang sopan dan baik, ibadahnya yang bagus dan keluarganya yang sangat baik. Aku sudah sangat nyaman sekali dengan mereka. Tapi sayang ternyata Bela tak bisa menerima cintaku. Dia bilang, dia tidak ada rasa padaku" ungkap Aril.


"Mmm... kalau aku perhatikan sepertinya tidak begitu. Tatapannya seperti tidak suka padaku. Aku rasa dia pasti cemburu karena melihat aku dekat dengan kamu" ujar Sintia.


"Aku tidak mau berharap Sin, karena rasanya masih sakit saat Bela menolak cintaku" jawab Aril.


"Ih kamu kok jadi lembek gitu. Mana donk jiwa penakluk kamu yang dulu. Kalau ada cewek yang jadi terget pasti di pepet terus lengket kayak prangko" komentar Sintia.


"Aku udah tua Sin, semangatku tak sekuat dulu lagi. Pesonaku sudah luntur"balas Aril.


"Hahaha segitunya kamu patah hati sampai gak percaya diri lagi" ledek Sintia.


"Terserah deh kalau kamu mau ngetawain aku" sambut Aril.


"Ahaaaa.. aku punya ide nih Ril buat bantuin kamu. Aku sangat yakin kalau cara ini akan berhasil" ujar Sintia penuh semangat.


"Apaan Sin? Aku jadi penasaran?" tanya Aril tak kalah semangat.


"Gini.... " Sintia membisikkan sebuah rencana kepada Aril.


"Kamu yakin Sin, ide kamu itu akan berhasil?" tanya Aril.


"InsyaAllah, percaya pada sebuah usaha dan doa, InsyaAllah akan dikabulkan Allah. Yakin aja Ril" jawab Sintia untuk meyakinkan Aril.


"Terserah kamu aja deh Sin. Aku ngikut aja, tapi kalau gak berhasil gimana?" tanya Aril.


"Berarti bukan Bela jodoh kamu" jawab Sintia santai.


"Yaah jangan gitu donk Sin. Aku mau cari siapa lagi yang seperti Bela itu?" tanya Aril.


"Hahaha... langsung mewek lo. Takut ya jadi jomblo sampai mati?" balas Sinta.


"Bukan takut yang anunya, jujur udah gak penasaran lagi soal begituan. Sekarang kan pengen serius menikah dan punya keturunan. Tujuan hidupnya sudah beda dan berubah" jawab Aril.


"Iya deh yang sudah tua. Aku aja masih santai kok" ujar Sintia.


"Kamu juga harus serius Sin, umur kita sudah semakin bertambah. Refan aja sudah punya empat anak lho" sambut Aril.


"Oh ya? Dari Renita? Istrinya Renita bukan?" tanya Sintia.


Aril berhenti sejenak.


"Renita sudah meninggal Sin. Dan Refan sudah menikah lagi dan mempunyai empat orang anak" jawab Aril.


"Innalillahi.. kapan Renita meninggalnya Ril?" tanya Sintia kaget.


"Lebih dua tahun yang lalu" jawab Aril.


"Refan menikah lagi dengan janda. Dari pernikahan keduanya dia mendapatkan anak kembar. Saat menikah dengan Renita, Refan tidak punya anak dengannya" ungkap Aril.


"Ooh begitu ceritanya" sambut Sintia.


"Kamu masih mencintai Refan?" tanya Aril.


"Apa, aku? Ah kamu ada saja?" tangan Sintia kaget akan pertanyaan Aril.


"Sudahlah Sin kamu gak perlu berbohong, aku tau kok dulu kamu suka sama Refan. Tapi karena Refan sudah punya pacar makanya kamu mundur. Ya kan?" tanya Aril.


Gantian Sintia yang menarik nafas panjang.


"Ya.. kamu benar Ril. Aku dulu menyukai Refan, sejak tamat kuliah aku tak penah bertemu dengannya lagi. Yang aku dengar Refan menikah dengan Renita. Aku sadar aku tidak ada bandingannya dengan Renita. Refan sangat mencintainya" jawab Sintia.


Ya kamu benar Sin. Refan memang sangat mencintai Renita tapi karena cintanya juga Refan jadi tersesat sangat dalam. Batin Aril.


"Ya sudah Fan, kita sudah sangat lama ngobrolnya. Ingat pesan aku tadi ya, lain kali kita akan buat kejutan untuk kamu dan Bela" ucap Sintia sambil melirik jam tangannya.


"Oke Sin, aku tunggu secepatnya kejutan kamu itu" sambut Aril.


Sintia hendak memanggil seorang pelayan dan ingin membayar tagihan makanan siang mereka tapi Aril mencegahnya.


"Udah Sin, biar aku saja yang bayar semua" ucap Aril.


Sintia menatap wajah Aril dan menarik nafas panjang.


"Ya sudah Ril, kalau begitu aku pergi dulu ya.. sampai ketemu lagi" sambut Sintia.


"Sama - sama Sintia. Senang sudah bertemu kamu hari ini" balas Aril.


Sintia pergi meninggalkan meja Aril dan melangkah jauh dari meja Aril. Aril segera menyelesaikan tagihan makan mereka kemudian pergi meninggalkan parkiran Restoran.


Sementara di mobil Reni.


"Beeeeel.. kamu kok diam aja dari tadi sih?" tanya Reni penasaran.


"A.. aku..? Ah biasa aja Ren" bantah Bela.


Bela berusaha bersikap biasa saja kepada kakak iparnya sekaligua sahabatnya.


"Kamu jangan bohong Bel. Sejak kita bertemu Mas Aril tanpa sengaja, kamu diam terus dan lebih banyak menundukkan wajah. Kenapa? Desak Reni.


"Ga.. gak kenapa - kenapa Ren. Aku baik - baik saja" elak Bela dan berbohong.


"Kamu yakin?" tanya Reni.


"Ya.. yakin" jawab Bela.


"Beeel.. kami ini sahabat kamu lho. Cerita aja, InsyaAllah kami akan bantu kamu" sambut Ela.


Bela menatap wajah Reni dan Ela secara bergantian.


"A.. aku bingung Ren, Eeel. Aku tidak tau apa yang akan aku katakan pada kalian" jawab Bela.


"Katakan saja apa yang kamu rasakan. InsyaAllah kamu akan mengerti" bujuk Reni.


"A.. aku merasa sangat sedih tadi saat bertemu dengan Mas Aril di Restoran" ungkap Bela.


Reni dan Ela saling pandang ketika mendengar jawaban jujur Bela.


"Kamu sedang jatuh cinta Bel"...


.


.


BERSAMBUNG