
"Ko lihat anak ini, tidak kah kamu merasa wajah kalian mirip?" ucap wanita itu.
Jedddddaaaaaaar....
Bagaikan suara petir, kata - kata wanita itu langsung menusuk kebagian paling dalam di hati Dini. Dia langsung menatap gadis mungil dihadapannya.
"Apakah anak ini....?" tanya Dini terputus.
"Apa maksud kamu Hana?" tanya Riko dengan suara yang keras.
Sontak anak yang ada di dalam gendongan Hana menangis karena terkejut mendengar suara Riko.
"Maaaas jangan terlalu keras bicaranya. Gadis kecil itu jadi takut" cegah Dini.
"Ka.. kamu perhatikan anak ini Ko. Dia sangat mirip dengan kamu. Dia anak kamu Ko" jawab Hana mulai manangis.
Prang.... tas yang ada dalam genggaman Dini jatuh ke lantai.
"Hati - hati kamu bicara Hana. Jangan sembarang bicara tanpa bukti yang nyata" ancam Riko.
"Ini buktinya Riko, ini bukti nyata. Anak ini... anak ini adalah anak kita" ungkap Hana mulai menangis.
Kini Hana dan putrinya sama - sama menangis.
Dini tidak nyaman dengan keadaan ini, apalagi di restoran ini sangat ramai. Semua orang menatap kearah mereka.
"Maas.. kita bicarakan di luar saja. Disini banyak orang Mas" Ajak Dini.
Riko segera meninggalkan Hana.
"Ayo Mbak" ucap Dini pada Hana.
Dini berjalan cepat menyusul Riko. Mereka berjalan ke arah parkiran mobil. Riko menatap gadis kecil dalam gendongan Hana. Dia benar - benar memperhatikan wajah anak kecil itu.
Benarkah dia anakku? Bagaimana bisa? Selama ini aku selalu berbuat aman. Batin Riko.
"Cepat katakan apa yang kamu mau?" tanya Riko dengan tegas.
"Aku mau kamu mengakui Rihana sebagai anak kamu Ko, hanya itu" jawab Hana sedih.
"Jangan gila kamu Han" ucap Riko.
"Aku memang gila Ko, gila mencari - cari kamu demi masa depan anak ini. Anak kamu, anak kita" sambut Hana.
Dini hanya bisa diam terpaku. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan. Hatinya sangat sakit tapi Dini bisa mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Ini adalah dampak masa lalu Riko.
Dia sudah pernah memikirkan hal ini terjadi tapi sungguh Dini tidak menyangka semua ini nyata.
"Kamu pikir aku akan percaya dengan semua omong kosong kamu?" tanya Riko.
"Kamu harus percaya Ko, harus! Rihana memang putri kamu. Putri kita" ulang Hana meyakinkan.
Riko sangat panik sekaligus bingung. Dia tidak bisa berpikiran jernih. Dia tidak yakin lagi pada keteguhan hatinya.
"Buktikan kalau dia memang anakku. Kalau tidak bersiaplah kita akan bertemu di pengadilan. Aku tidak mau kamu mencemarkan nama baikku. Jangan ganggu hidupku dan enyalah dari hadapanku. Aku sudah hidup dengan tenang bersama istriku" ancam Riko.
"Baik Ko.. baik.. aku akan membuktikan Rihana memang anak kamu" ucap Hana dengan tegas.
Hana pergi bersama putri kecilnya dan berjalan menuju sebuah mobil yang tak masih berada di parkiran restoran.
Lihatlah Riko aku akan membuktikan dengan segala cara. Kamu pasti akan sangat terkejut mengetahui anak ini adalah anak kamu. Batin Hana.
"Maaas" ucap Dini lembut.
"Saa.. yaaaang.. ma.. maaf kan aku. Kamu jangan percaya ya pada wanita itu. Aku yakin anak kecil itu bukan anakku" ucap Riko berusaha meyakinkan.
Walau hati Dini sangat sakit dia tau Riko tidak berniat untuk menyakitinya. Dia melihat secara nyata bagaimana hancurnya tampilan Riko saat ini.
"Kita harus berpikir dengan tenang. Kita pulang aja yuk. Sini kunci mobilnya biar aku saja yang bawa mobilnya" pinta Dini.
"Jangan sayang... biar aku saja" cegah Riko cepat.
Riko dan Dini segera masuk ke dalam mobil setelah itu mereka langsung pulang menuju apartemen. Sepanjang jalan Riko terus memukul - mukul setir mobil dengan kesal.
"Mas hati - hati" ucap Dini mengingatkan.
"Yank kamu percaya padaku kan? Aku yakin anak itu bukan anakku. Aku tidak pernah bertindak ceroboh. Aku selalu bermain aman" ucap Riko.
Dini meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat. Mencoba membuat Riko nyaman dan tenang.
"Aku percaya pada kamu Mas, mari kita hadapi semua ini bersama - sama" sambut Dini.
"I... iya yank" jawab Riko mulai tenang.
Akhirnya mereka sampai di apartemen. Riko dan Dini langsung membersihkan tubuh mereka dan istirahat di atas tempat tidur.
"Yank" panggil Riko.
"Maaas kita istirahat saja dulu. Besok lagi insyaallah Mas sudah lebih tenang dan bisa berpikiran lebih baik lagi. Kalau dicari jalan keluarnya sekarang kita tidak akan bisa menemukannya. Pertama kita saat ini sedang letih setelah perjalanan panjang. Kedua saat ini sudah malam kita tidak bisa berbuat apapun. Ketiga besok kita coba tanya - tanya pada teman - teman Mas siapa tau mereka punya solusi" tegas Dini.
Riko terdiam mendengar ucapan istrinya . Dini menarik tangan Riko, kini Dini tidur dalam pelukan Riko.
"Saat menikah dengan kamu aku sudah memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi. Termasuk masalah ini sudah pernah aku pikirkan sebelumnya. Jika hasilnya kelak gadis kecil itu memang anak kamu, aku akan terima Mas. Kita akan asuh anak itu bersama - sama. Kita kan bisa komunikasi dengan Mbak Hana mengenai pengasuhan yang adil untuk gadis kecil itu. Walau begitu aku tetap berdoa semoga anak itu memang bukan anak kamu Mas" ungkap Dini.
"Sayang.." ucap Riko.
Bibirnya terasa kaku, Dini bukannya marah kepadanya malah bicara seperti ini.
Terbuat dari apa hati kamu sayang? Begitu sabar dan tenangnya kamu menghadapi semua ini? Aku saja sudah sangat gelisah bahkan hampir gila memikirkannya kamu malah mau menerima anak itu jika dia terbukti anakku. Aku masih sangat yakin sayang anak itu bukan anakku. Batin Riko.
"Mas kita sudah sepakat kan untuk menganggap rumah tangga ini sebagai ibadah. Mungkin dengan menerima dan mengasuh anak itu bisa menjadi ladang ibadah untuk kita berdua Mas" ujar Dini.
"Kamu tidak marah padaku sayang?" tanya Riko.
"Itu akibat dari masa lalu kamu Mas yang sudah aku terima sejak awal sebelum kita menikah. Kalau kamu bermain wanita setelah kita menikah baru aku berhak marah. Kamu tidak berbohong padaku karena aku tau kamu juga pasti terkejut dengan ucapan Mbak Hama tadi. Jadi apa aku pantas untuk marah pada kamu? Tidak kan?" tanya Dini.
"Yank.. kamu memang wanita spesial yang diutus Allah untuk berada di sampingku. Tetaplah di sisiku sayang, kuatkan aku di saat lemah. Ingatkan aku di saat aku lalai dan hukum aku disaat aku salah. Bantu aku disaat terlemah dalam hidupku. Walau aku pria, aku juga butuh sandaran hidup untuk saat ini sayang" pinta Riko dengan mata yang berkaca - kaca.
Dini mengecup lembut tangan Riko.
"InsyaAllah kita akan saling menguatkan ya Mas. Aku juga tidak bisa jauh dari kamu. Aku akan selalu berada di sisi kamu dan terus menemani kamu dalam keadaan apapun" balas Dini.
"Terimakasih sayang.. terimakasih" jawab Riko penuh harapan.
.
.
BERSAMBUNG