
Papa Dini sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap. Riko meminta pihak rumah sakit untuk memberikan fasilitas terbaik untuk calon mertuanya.
Walau pria itu belum bisa menerimanya tapi Riko tau pria itu punya peranan penting dalam hubungannya dengan Dini bidadari surganya.
Pak Dharmawan di bawa ke ruangan Super VIP dengan kamar yang besar dan fasilitas lengkap. Kondisi Pak Dharmawan masih lemah dan masih tertidur karena lemas.
Tak lama kemudian Anita bersama suami dan anak mereka tiba di rumah sakit. Sebelumnya Riko sudah mengabari kepada suami Anita letak kamar rawat inap Pak Dharmawan.
Begitu sampai di kamar Pak Dharmawan Anita dan keluarga kecilnya langsung menghampiri orang tuanya dan melihat keadaan Papanya.
"Bagaimana keadan Papa, Ma?" tanya Anita pelan.
"Papa lagi tidur tadi sudah sadar tapi kondisinya maih lemah" jawab Mama Dini.
Anita dan Galuh menatap Riko.
"Makasih ya Ko kamu sudah dua kali menyelamatkan Papa" ucap Galuh tulus.
"Itu sudah jadi kewajiban saya Mas apalagi tentang kesehatan dan keselamatan Bapak" sahut Riko.
"Benar Mas Riko, kami sangat berterimakasih kepada Mas Riko karena sudah menolong Papa kami" Anita mengulang ucapan suaminya.
"Sudahlah yang penting Bapak cepat sembuh" balas Riko.
Galuh dan Riko duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Ko ruangan ini terlalu besar, apakah ini tidak berlebihan?" tanya Galuh merasa sungkan pada Riko.
"Tidak apa Mas, aku yang memintanya pada pihak Rumah Sakit, biar nanti aku yang urus semuanya" balas Riko.
"Jangan Ko, Bapak adalah tanggung jawab saya sebagai menantu di keluarga ini" cegah Galuh.
"Tidak apa Mas, tolong doakan saja aku juga bisa seperti Mas Galuh menjadi menantu di keluarga ini" sambung Riko.
"Aamiin.. aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan Dini" sambut Galuh.
"Mas Galuh sudah banyak membantu dalam hubungan aku dan Dini. Aku sangat berterimakasih pada Mas dan juga Anita" ucap Riko.
"Kamu orang yang baik Ko, ego Papa sebagai orang tua mungkin belum bisa dia hilangkan. Mudah - mudahan dengan kejadian ini hati Papa terbuka" balas Galuh.
"Aamiin... semoga seperti itu Mas" jawab Riko.
"Eh Dini belum kita kabar Ma, aku lupa" ujar Anita.
"Iya, Mama juga lupa sangkin paniknya" sambut Mama Dini.
"Sudah Bu, sudah aku kabari. Saat ini Dini sedang dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta. Dia berangkat sekitar satu jam yang lalu naik travel dan nanti akan langsung di antar ke sini" potong Riko.
"Oh syukurlah ada Nak Riko" sambut Mama Dini.
"Iya Ma, alhamdulillah sekali. Aku gak bisa membayangkan kalau Mama tadi sendirian di rumah menghadapi Papa sendiri" ujar Anita.
"Mama saja tadi panik sekali Nit, untung ada Riko. Dia yang gendong Papa sampai ke mobil dan langsung membawa ke Rumah Sakit" jawab Mama Dini.
"Untunglah kamu sigap Ko. Kalau tidak aku juga tidak tau apa yang akan terjadi dengan Papa saat ini" ujar Galuh.
"Semua sudah rencana Allah Mas, dia yang menggerakkan hati dan langkahku untuk main tadi ke rumah Bapak dan Ibu. Tak lama aku sampai aku mendengar Ibu menjerit minta tolong karena Bapak pingsan di kamar. Aku dan Ibu segera membawa Bapak ke Rumah Sakit" jawab Riko.
"Yah kamu benar Ko. Kita tidak tau rencana Allah. Mari kita serahkan semua hanya kepadaNYA" sambut Galuh.
Satu jam kemudian..
"Mas saya keluar sebentar ya.. " ucap Riko.
"Iya Ko, silahkan" jawab Galuh.
Riko sedang mencari makan malam untuk mereka di rumah sakit. Mungkin keluarga Dini masih shock dengan apa yang terjadi sehingga mereka pasti lupa untuk memikirkan isi perut mereka.
Riko segera mencari Restoran mewah yang tau jauh dari Rumah Sakit setelah itu Riko singgah ke supermarket untuk membeli cemilan, beberapa vitamin dan buah untuk Papa Dini dan keluarganya nanti yang akan menjaganya di Rumah Sakit.
Satu jam kemudian di kamar rawat inap Bapak Dharmawan.
"Assalamu'alaikum.. " Ucap Dini yang baru sampai dari Bandung.
"Wa'alaikumsalam.. Dini.. kamu sudah sampai?" sambut Mama Dini.
Dini mencium tangan Mamanya dan juga kakaknya setelah itu baru menghampiri Papanya yang sedang terbaring lemah.
"Papa... " sapa Dini.
"Ka.. kamu da.. tang? Si.. siapa yang kasih ka.. bar sama ka.. mu?" tanya Papa Dini.
"Mas Riko Pa, saat Papa tadi sedang diperiksa Mas Riko kabari aku dan suruh aku pulang karena Papa sakit" jawab Dini.
"Ri.. ko? Mengapa dia bisa tau kalau aku di sini?" tanya Papa Dini yang baru saja terbangun dari tidurnya sehingga dia tidak tau apa yang terjadi dengannya.
"Tadi Papa pingsan di kamar saat, ketepatan Nak Riko baru saja datang. Mama panik dan menjerit melihat Papa pingsan, Nak Riko langsung menggendong Papa dan membawa Papa ke Rumah Sakit" jawab Mama Dini.
"Ri.. ko menggendongku?" tanya Papa Dini tak percaya.
"Iya, dia tadi juga panik tapi mungkin karena dia masih muda sehingga dia sigap dan sangat kuat bisa menggendong Papa dari kamar sampai ke mobilnya tanpa sadar mungkin itu karena panik" ungkap Mama Dini.
"Sekarang mana dia?" tanya Papa Dini.
"Dia lagi keluar Pa. Mungkin sebentar lagi akan sampai" jawab Galuh.
"Dia janjian sama kamu untuk datang ke sini agar kalian bisa bertemu?" tanya Papa Dini curiga.
"Astaghfirullah Pa.. aku gak janjian. Mas Riko kan bantuin Papa ke Rumah Sakit, trus aku.. aku kan anak Papa jadi wajah Mas Riko kabari aku dan aku pulang. Kami tidak janjian untuk bertemu Pa. Kalau niatnya cuma itu, dengan mudah dia bisa sering menghampiriku di Bandung Pa. Mas Riko sering ke Bandung untuk urusan bisnis. Jarak Jakarta - Bandung sangat dekat sekarang lewat tol jadi dengan cepat dia bisa sampai. Tapi hal itu tidak dia lakukan Pa sebelum mendapat restu dari Papa" jawab Dini sedih.
"Astaghfirullah Pa... dalam keadaan sakit Papa masih berpikiran seperti itu. Mas Riko udah baik banget lho Pa selamatkan Papa, dua kali lagi. Masak Papa masig suudzon dengan niat baiknya" protes Anita.
"Ya siapa tau, seribu cara kan bisa dia lakukan. Dia kan sudah sangat berpengalaman akan hal itu. Papa tidak mau anak Papa rusak" ujar Papa Dini.
"Ya Allah Pa... " ucap Mama Dini, Dini dan Anita berbarengan.
Sedangkan Galuh hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kerasnya hati mertuanya. Dia kira dengan bantua Riko yang baru saja menyelamatkan hidup mertuanya itu bisa melembt hati mertuanya tapi ternyata tidak.
"Pa.. aku mohon saat Riko ada di sini jangan Papa ucapkan kata - kata yang bisa membuatnya terluka. Dia sudah banyak menolong kita" pinta Mama Dini.
Dini tampak sangat sedih melihat sikap Papanya.
"Kalian semua bekerjasama untuk melawanku" jawab Papa Dini.
"Pa bukan seperti itu. Ingat janji Papa padaku seminggu yang lalu. Papa akan beri kesempatan pada Riko untuk dekat dengan keluarga kita. Tolong lihat sikap tulusnya Pa, biarkan dia berjuang dulu. Setelah itu baru Papa kasih keputusan" ucap Galuh mengingatkan.
"Aku sudah punya keputusan" jawab Papa Dini.
"Tapi itu terlalu cepat Pa. Papa belum benar - benar melihat hati Riko. Tolong kasih dia kesempatan Pa" pinta Galuh.
Tiba - tiba pintu kamar Pak Dharmawan di ketuk dan muncullah Riko.
"Assalamu'alaikum... " ucapnya saat masuk.
.
.
BERSAMBUNG