
Dua minggu kemudian di kantor Riko.
"Pak ada tamu datang ingin bertemu dengan Bapak" ucap sekretaris Riko.
"Siapa? Laki - laki atau perempuan?" tanya Riko.
"Perempuan" jawab sang sekretaris.
Riko mengerutkan dahinya dan mencoba memikirkan siapa tamunya itu.
"Namanya Ibu Hana" sambung sekretaris Riko.
"Hana?" tanya Riko terkejut.
"Iya Pak, katanya sangat penting" jawab Sekretaris.
"Baik, suruh dia masuk" perintah Riko.
"Baik Pak" jawab sang sekretaris sigap.
Riko segera merapikan meja kerjanya. Tak lama kemudian Hana datang dengan pakaian seperti wanita kantoran membawa map besar berwarna coklat.
"Pagi Ko" sapa Hana lembut.
"Pagi, silahkan duduk Han" sambut Riko.
Hana sekilas menatap ruang kerja Riko kemudian berjalan menuju sofa yang ada di ruangan Riko. Kemudian dia duduk dengan nyaman.
Riko keluar dari meja kerjanya dan berjalan menghampiri Hana yang sudah duduk di sofa lebih dulu. Riko duduk dan mengambil posisi tepat di depan Hana.
"Ada apa kamu datang kemari? Bukankah di awal pertemuan kita kamu katakan kalau kamu sudah lama mencari - cariku tapi tidak ketemu? Kini dengan mudahnya kamu bisa menemukan keberadaanku?" tanya Riko curiga.
Ada yang aneh di sini. Batin Riko.
"Seperti yang aku katakan terkahir kali dengan kamu Ko. Sudah dua tahun aku mengalami perang batin untuk menemui kamu. Hingga akhirnya aku memutuskan kalau aku memang harus bertemu dengan kamu untuk menyelesaikan masalah kita" jawab Hana.
"Lantas apa maksud kedatangan kamu kali ini?" tanya Riko.
Hana langsung menyodorkan amplop coklat ke hadapan Riko.
"Apa ini?" tanya Riko bingung.
"Bukalah" sambut Hana.
Dengan penasaran akhirnya Riko mengambil amplop yang diberikan Hana dan membukanya. Riko melihat ada selembar kertas dan membacanya.
"Hasil tes DNA aku dan Ri.. Hana?" tanya Riko tak percaya.
"Ya" jawab Hana singkat.
"Bagaimana kamu melakukan ini semua Hana? Hasil tes yang aku lakukan saja belum keluar?" tanya Riko terkejut.
Emosi Riko mulai naik, apalagi saat dia membaca bagian kesimpulan dari hasil pemeriksaan itu.
"Sembilan puluh sembilan persen Rihana adalah anak kamu Ko. Aku bisa membuktikannya bukan? Kamu lupa saat kamu datang ke rumahku kamu meninggalkan jejak. Gelas teh yang kamu minum meninggalkan jejak. Dan aku membawanya untuk memeriksakan DNA kamu dan Rihan. Inilah hasilnya, Rihana memang anak kandung kamu" ucap Hana dengan penuh keyakinan.
"Ba.. bagaimana ini bisa?" tanya Riko.
"Ya tentu saja bisa. Ada air liur kamu di gelas teh itu dan itu bisa dijadikan sampel yang akurat untuk melakukan tes DNA" jawab Hana.
Riko terdiam tak percaya.
"Kamu bisa lakukan pengecekan ke rumah sakit. Aku bisa jamin itu asli dan benar. Tidak ada penipuan di sana" ungkap Hana.
Riko terdiam sambil terus menatap selembar kertas yang ada di tangannya.
"Kamu mau membawa kertas ini ke pengacara, silahkan kalau kamu tidak percaya" ujar Hana.
"Mau bawa ke pengadilan juga tidak apa toh kamu yang akan malu karena nama baik kamu akan tercoreng. Kamu pengusaha yang sukses punya anak diluar nikah" ancam Hana.
"Tapi aku tidak bisa percaya begitu saja dengan ini Hana. Aku harus menunggu hasil tes ku keluar" bantah Riko.
Riko menatap wajah Hana dengan seksama dia mencoba mencari kebenaran di sana. Tapi sepertinya Hana sangat percaya diri sekali. Membuat keyakinan Riko runtuh saat itu juga.
"Sudah aku katakan pada kamu. Aku tidak akan meminta lebih. Aku hanya ingin kita sama - sama membesarkan Rihana bersama - sama dengan cara yang baik. Kalau kamu menunggu hasil DNA kamu silahkan tapi aku pastikan hasilnya akan sama. Aku hanya butuh bantuan kamu saat ini. Lusa aku akan pergi dua hari keluar kota. Tempatnya tidak memungkinkan untuk membawa Rihana. Aku butuh kamu untuk menjaganya. Aku mohon bantuan kamu kali ini Ko. Tapi kalau kamu menolaknya dengan sangat menyesal besok kertas itu akan aku bawa ke pengacara ku dan itu artinya bersiaplah nama baik kamu akan hancur" ancam Hana.
Riko hanya bisa menelan salivanya. Ini bagaikan buah simalakama baginya. Tapi melihat keseriusan Hana Riko merasa yakin kalau dia telah kalah.
"Sudah aku katakan sejak awal Han, aku tidak bisa memutuskan semua ini sendiri. Aku harus membicarakannya dengan istriku" jawab Riko.
"Baik aku tunggu kabar dari kamu sampai besok hari. Ini kartu namaku. Kalau istri kamu setuju segera hubungi aku biar aku siapkan barang - barang Rihana selama aku pergi dua hari" sambut Hana.
Riko kembali diam, tidak tau harus berbuat apa. Tiba - tiba saja pikirannya buntu dan kosong. Seketika akal sehatnya tak berfungsi karena sabgat shock.
Hana bangkit dari tempat duduknya.
"Sepertinya tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Aku pamit pulang Ko. Selamat pagi" ucap Hana.
Hana melangkah meninggalkan ruangan Riko. Sementara Riko hanya bisa duduk terpaku sambil tetap memegang selembar kertas yang diberikan Hana.
Setelah Hana pergi baru kesadaran Riko mulai kembali. Dia segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Cepat kamu cari informasi keabsahan hasil tes ini. Aku ingin hasilnya hari ini juga aku dapatkan" perintah Riko.
Riko tidak bisa tenang bekerja hari ini hingga sore hari Riko mendapatkan kabar berita dari orang suruhannya. Riko segera pulang ke rumahnya.
Dini ternyata sudah pulang lebih dulu dan sedang memasak hidangan makan malam untuk mereka.
"Lho sudah pulang Mas? Tumben hari ini cepat pulangnya?" sambut Dini ceria saat melihat Riko pulang.
Riko langsung duduk disofa dengan wajah lesu dan sedih. Dini segera menghampiri Riko karena keadaan Riko saat ini tidak seperti biasanya.
"Ada apa Mas? Mas sakit?" tanya Dini.
Dini menyentuh kening Riko.
"Gak panas kok. Kamu kenapa Mas?" tanya Dini lagi.
Riko langsung memeluk Dini dan dadanya mulai naik turun dengan kencang. Riko menahan tangisannya. Tangisan penyesalan atas masa lalunya.
"Dia.. dia memang anakku sayang" ucap Riko.
Seketika tubuh Dini membeku.
"Ya Allah... apa hasil tersnya sudah keluar?" tanya Dini.
"Belum tapi ternyata Hana melakukan tes DNA diam - diam. Saat aku ke rumah Hana dia menyajikan minuman untukku. Ternyata dia menggunakan gelas yang aku pakai untuk melakukan tes DNA. Tadi pagi dia datang ke kantorku dengan membawa hasil tesnya. Aku sudah memastikan hasil tesnya dan itu benar sayang. Dia memang putriku" ungkap Riko sambil menangis.
Dini tidak tau harus berbuat apa. Hatinya memang sakit tapi melihat sikap Riko saat ini dia tidak tau harus berbuat apa. Riko tampak kacau.
"Apa yang diinginkan Mbak Hana Mas?" tanya Dini.
"Dia janji tidak akan menuntut apapun. Dia ingin berdamai dan hanya meminta kita sama - sama saling menjaga Anak itu. Lusa dia akan ke luar kota, dia meminta tolong kepada kita untuk menjaga anak itu selama dia pergi. Kalau kita menolak Hana akan membawa permasalahan ini ke media dan ranah hukum. A.. aku tidak tau harus berbuat apa sayang. Jujur aku sangat bingung saat ini" jawab Riko.
Dini membelai lembut kepala Riko.
"Kalau Mbak Hana cuma meminta itu ya sudah Mas turuti saja apa mau Mbak Hana. Bawa gadis kecil itu ke sini biar kita berdua yang jaga" ucap Dini.
"Tapi sayang aku sudah minta tempo sampai hasil tes DNA ku keluar hanya saja Hana tidak bisa menunggu" sambung Riko.
"Mungkin Mbak Hana memang sangat butuh bantuan kita Mas. Kita kan sudah sepakat kalau memang anak itu terbukti anak kamu, aku mau mengasuhnya. Aku akan menganggap ini sebagai ibadah" ujar Dini dengan tulus.
Riko memegang wajah Dini dengan lembut. Dini berusaha memberikan senyumannya untuk membuat Riko tenang.
"Kamu wanita yang hebat sayang... terimakasih" ujar Riko sambil menciumi wajah Dini penuh kasih sayang.
.
.
BERSAMBUNG