Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Empatpuluh Tiga



Keesokan harinya, Romi sudah sampai di rumah Bimo dan Reni sore hari. Romi sedang duduk bersama Bimo, Reni dan Bela di ruang TV sambil menunggu Ela turun dari kamarnya.


"Jadi ceritanya malam ini Mas Romi dan Ela mau makan malam bersama Papa dan Mamanya Mas Romi?" tanya Reni.


"Iya Ren, kemarin siang Mama datang ke kantor dan tiba - tiba suruh aku ajak Ela main ke rumah dan makan malam bersama" jawab Romi sambil tersenyum bahagia.


"Wah sepertinya sebentar lagi kira akan mendengar kabar gembira yank?" sambut Bimo.


"Mudah - mudahan, do'ain aja ya" balas Romi.


Reni menyenggol Bela, sontak Bela terkejut.


"Ada apa Ren?" tanya Bela bingung.


"Tuh sebentar lagi Ela akan menyusul aku, menikah. Kamu tinggal sendirian lho.. Buruan gak usah kelamaan mikir. Kalau emang yang ada saat ini memang tidak ada dalam hati kamu ya sudah cari donk calon suami yang benar - benar kamu inginkan saat ini" sindir Reni.


Bimo dan Romi melirik ke arah Bela yang terlihat serba salah.


"Benar Bel, tidak ada yang memaksa kamu dengan Aril. Kamu bebas mencari calon imam kamu sendiri" sambut Bimo.


"Lagian Aril juga sudah punya calon sepertinya" sindir Romi sambil melirik ke arah Reni.


"Ah gak apa - apa Mas, gak usah buru - buru. Aku belum memikirkannya. Ataaau... kalian keberatan kalau aku tinggal lama serumah dengan kalian?" tanya Bela.


"Bukan begitu. Mas sangat senang sekali kalau kamu mau tinggal disini. Rumah jadi ramai dan Reni juga ada teman kalau di rumah. Tapi kamu kan punya masa depan sendiri Bel. Jangan sampai kamu santai dan lupa dengan masa depan kamu" jawab Bimo.


"Beeel, aku senang banget kamu tinggal di sini. Tapi akan lebih senang lagi kalau kamu berhasil menemukan pendamping hidup yang akan menemani dan menjaga kamu di masa depan. Ingat Bel, kita tidak bisa selamanya hidup sendiri. Kelak masing - masing dari kami akan mengurus rumah tangga kami. Aku takut pada saat kami sibuk akan hal itu kamu merasa tersisihkan dan merasa sendiri. Aku ingin kamu juga merasakan kebahagian berumah tangga seperti yang kami rasakan saat ini" sambut Reni.


"Maaf dek, mungkin karena aku juga kamu jadi seperti ini. Karena masa laluku, Bapak dan Ibu juga almarhum Bima menjaga pergaulan kamu dengan ketat. Sehingga kamu belum pernah mengenal arti cinta sampai seusia ini. Mulailah serius mencari calon imam kamu sejak sekarang. Seperti yang Reni katakan. Mas takut tidak bisa menjaga kamu karena disibukkan dengan keluarga Mas nantinya. Mas tidak ingin kamu merasa disisihkan" sambung Bimo.


"Mas tenang aja, aku sudah mulai memikirkannya kok, hanya saja memang belum ketemu orangnya. Do'ain aja ya, InsyaAllah secepatnya bisa menyusul kalian" jawab Bela.


Tak lama Ela turun dari lantai dua dengan pakaian santai namun menawan. Tidak bisa dipungkiri aura Ela sekarang memang sudah berubah perlahan demi perlahan. Maklum sekarang jabatan Ela kan sudah jadi CEO di sebuah perusahaan pasti seiring sejalan dari segi penampilan ikut menyesuaikan.


Namun walaupun begitu Ela tetaplah seorang gadis sederhana. Fasilitas seperti mobil dia dapatkan dari kantor. Walau pendapatan yang dia dapatkan saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan dulu tidak membuat Ela hidup secara berlebihan.


"Maaf ya Mas aku lama" ucap Ela saat dia melihat Romi sudah duduk bersama penghuni rumah ini.


"Tidak apa, aku masih sabar menunggu kok" jawab Romi dengan penuh kesabaran.


"El jangan lupa bawaan kamu" ucap Bela mengingatkan.


"Oh iya hampir lupa. Untung kamu ingatkan Bel" jawab Ela.


Ela langsung berjalan kearah dapur dan tak lama kemudian Ela membawa sebuah bungkusan.


"Yuk Mas kita berangkat, nanti terjebak macet" ajak Ela.


"Oke kalau begitu kami pergi dulu ya Bim, Ren dan Bela. Do'ain ya malam ini kami akan memberikan kabar gembira pada kalian" ucap Romi.


"Iya Rom, hati - hati ya" jawab Bimo.


"Mas, Ren, Bela. Aku pergi dulu ya" pamit Ela.


"Semoga berhasil ya El" sambut Bela.


Bela menatap wajah sahabatnya dengan tatapan sedih. Sebenarnya dia sangat bahagia dengan kebahagiaan yang sedang Ela rasakan saat ini. Tapi dia sedih karena sebentar lagi satu lagi sahabatnya akan menikah.


Benar kata Reni tadi, dia sudah mulai merasa kesepian ketika Ela dan Reni sibuk dengan masa depan mereka masing-masing. Tapi Bela bingung harus bersikap seperti apa.


Dia juga masih sangat dibingungkan dengan perasaannya sendiri kepada Aril. Dan akhir - akhir ini Bela sering memiliki mood sedih setiap memikirkan sikap Aril di kantor.


Romi dan Ela berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobil Romi. Kemudian Romi segera menyalakan mobilnya dan melaju menuju rumah orang tuanya.


"Apa yang kamu bawa itu?" tanya Romi yang sudah penasaran dari tadi.


"Kamu masak cake ini sendiri?" tanya Romu takjub.


"Iya, kenapa? Kamu gak yakin aku bisa membuat cake?" tanya Ela.


"Sejujurnya iya.. melihat sifat kamu yang tomboi, pintar beladiri aku sampai tak pernah membayangkan kamu berada di dapur" jawab Romi jujur.


"Setinggi apapun jabatan seorang wanita di luar, di dalam rumah ruang kerjanya tak akan jauh dari dapur Mas. Ibu selalu berpesan agar aku bisa menjadi istri dan ibu yang baik kelak untuk anak - anakku. Dengan cara bisa menyajikan makanan - makanan yang enak dan sehat untuk keluargaku" ungkap Ela.


Hati Romi semakin bahagia mendengar jawaban Ela sepet itu.


"Aku sangat bahagia mendengarnya dan ingat bukan anak - anak kamu tapi anak - anak kita. Aku pastikan, aku akan makan masakan kamu setiap harinya nanti" ujar Romi.


Ela tersenyum malu mendengar ucapan Romi.


Tak lama kemudian Romi dan Ela sudah sampai di rumah orang tua Romi. Sikap Ela mulai terlihat tegang saat dia turun dari mobil. Romi sangat bisa merasakan perubahan sikap Ela itu.


"Kamu santai saja ya.. walau usaha kedua kita kali ini tetap gagal. Aku akan tetap berjuang bersama kamu. Kita berjalan bersama menuju masa depan kita" ucap Romi memberikan semangat.


"I.. iya Mas" jawab Ela.


Romi dan Ela berjalan masuk ke dalam rumah orang tua Romi.


"Assalamu'alaikum" ucap mereka saat memasuki rumah. Mereka langsung masuk ke dalam rumah dan mendapati kedua orang tua Romi sedang duduk santai di teras belakang rumahnya.


"Wa'alaikumsalam.. kalian sudah sampai" sambut Papa Romi ramah.


Romi dan Ela menjabat tangan kedua orang tua Romi dengan sangat sopan dan santun.


"Papa sangat senang ketika dapat kabar dari Mama kalau malam ini kalian akan datang" sambung Pak Hidayat.


"Tante, ini ada sedikit buah tangan" ucap Ela sambil menyerahkan bingkisan yang dia bawa dari rumah.


"Itu Ela sendiri lho Ma yang buat" potong Romi.


Mama Romi menyambutnya dengan datar. Membuat hati Ela semakin berdebar - debar.


"Terimakasih. Kamu tidak perlu repot membuatnya. Biiiik... " Mama Romi memanggil asisten rumah tangganya kemudian menyuruh membawa makanan yang Ela bawa ke dapur kemudian dihidangkan untuk mereka.


"Yuk kita pindah ke dalam" ajak Papa Romi.


Mereka semua berjalan masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga. Tak lama kemudian Bibik datang dengan membawa cake yang tadi Ela bawa dan menghidangkannya untuk mereka.


"Mmmm... enak sekali cakenya. Beneran ini buatan kamu sendiri?" tanya Papa Romi kepada Ela setelah mencicipi cake yang Ela buat.


Ela menganggukkan kepalanya.


"Iya Om" jawab Ela.


Mama Romi juga mulai ikutan menyicipi cake buatan Ela.


"Gimana Ma?" tanya Romi penasaran dengan penilaian Mamanya.


"Enaaak iya Papa benar, cake ini enak. Lembut banget" jawab Mama Romi dengan senyuman.


Seketika Ela dan Romi berwajah lega melihat wajah Mama Romi yang sudah mulai ramah.


.


.


BERSAMBUNG